Satu jalan keluar dari balik jeruji besi, namun berujung pada labirin tanpa pintu keluar.
Ketika Dorris Gate menawarkan kunci kebebasan, La Bonna De Luca tidak pernah menduga bahwa harga yang harus dibayar adalah jiwanya sendiri.
Terlempar ke dalam gemerlap remang Velvet Noir, Bonna dipaksa menari di atas benang tipis antara penyamaran dan kehancuran. Targetnya adalah Ezequiel Nolan Ashford—pria dingin bernapas racun yang tak pernah terpeleset oleh hukum.
Bonna menyadari satu hal: ini bukanlah misi penyelidikan, ini adalah eksekusi yang tertunda.
Ezequiel tidak hanya sulit dibaca; ia memegang kendali atas hidup dan mati siapa pun di wilayah kekuasaannya. Bagi Ezequiel, Bonna hanyalah mainan baru yang sewaktu-waktu bisa dihancurkan.
Untuk bertahan hidup di tangan pria yang memperlakukan manusia tak ubahnya properti, Bonna hanya punya satu senjata tersisa: memainkan sandiwara paling berbahaya. Berpura-pura menyerahkan hatinya pada sang iblis, atau menjadi bidak yang ditumbalkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#8
Sudut bibir Pria Didepan Bonna tertarik ke atas, membentuk sebuah seringai tipis yang culas dan arogan. Bonna yakin, laki-laki bernama Nolan ini sangat menikmati rasa takut yang merayapi seluruh pembuluh darah Bonna saat ini.
Bonna menahan napas, berpikir bahwa sekarang adalah gilirannya untuk ditembak. Berdasarkan posisi mereka di atas lantai dingin itu, Bonna berada tepat di tengah.
Bodyguard yang telah tertembak berada di sisi kanannya, dan Nyonya Elizabeth berada di sisi kirinya. Logikanya berbisik bahwa Bonna yang akan dieksekusi selanjutnya, dan Nyonya Elizabeth yang terakhir.
Bonna tidak tahu ia harus merasa lega atau tidak saat Tuan Nolan justru beralih melangkah mendekati Nyonya Elizabeth, bukan mendekat ke arahnya. Namun, tetap saja, pada akhirnya nasib Bonna akan serupa dengan mereka—mati dengan kepala tertembak dan otaknya yang hancur berceceran di lantai semen.
Tiba-tiba, suara Nyonya Elizabeth berteriak ketakutan, pecah di udara. "Aku terpaksa melakukan ini, Nolan! Dorris mengancamku!" jerit Nyonya Elizabeth, mencoba membela dirinya yang terdesak di sudut lantai.
Satu alis Nolan terangkat tinggi. "Jadi kau lebih takut pada Dorris dibandingkan denganku?" tanya Nolan dingin. "Apa selama ini aku terlalu lunak padamu sampai kau berani mengkhianatiku? Kau melihat sendiri dengan mata kepalamu, setiap kali Dorris berusaha menyelundupkan manusia ke tempat ini hanya untuk memata-mataiku... mereka semua mati di tanganku dan anak buahku."
Nolan mengambil jeda sejenak, mengamati Elizabeth yang menggigil hebat.
"Kau salah satu orang yang kuhargai di sini, Elizabeth. Pekerjaanmu memuaskan, bisnis hiburan ini berjalan cukup lancar berkat bantuanmu. Kau pintar mengelola para pekerja di sini, mengajari mereka dengan sangat baik. Tapi kurasa cukup sampai di sini. Sudah saatnya tempatmu digantikan oleh orang lain."
Nolan kembali menggerakkan cerutunya di udara—sebuah Isyarat kematian yang sama.
Dengan cepat, Lucifer mengangkat pistol berkaliber tinggi di tangannya. Sekali lagi, suara bising tembakan kembali menggelegar memekakkan telinga Bonna.
DORRRRRR!
Satu kepala lagi telah dihancurkan dalam sekejap mata.
Kini, di dalam ruangan yang amis dan berbau mesiu itu, tersisa Bonna seorang diri. Pistol yang telah mencabut nyawa dua orang di sisinya seakan-akan sedang menertawakan Bonna yang bergetar hebat di atas kursi kayu.
Moncong pistol yang masih berasap tipis itu kemudian kembali diarahkan tepat ke pelipis kepala Bonna.
Napas Bonna tertahan seketika. Ia menatap pistol tersebut dengan mata membelalak, seolah berharap jika ia tidak bergerak, tidak bernapas, dan tidak berkedip sama sekali, maka pistol tersebut tidak akan melepaskan pelurunya yang siap melubangi kepalanya.
Sejak awal, ia sudah tahu kalau pekerjaan ini sangat berbahaya. Sejak Dorris datang ke penjara dan menawarkan janji manis kebebasan itu, tidak mungkin misi yang harus Bonna jalankan akan berjalan mudah. Imbalan yang besar tentu menuntut risiko yang mematikan. Bonna bahkan sudah siap mati sebelum melangkahkan kaki kemari, karena mendekam di lapas pun ia bisa mati dipukuli oleh para napi lainnya.
Tapi... mengapa? Mengapa tubuh Bonna justru gemetar sangat hebat saat ini? Apa jauh di dalam lubuk hati Bonna yang terdalam, ia sebenarnya tidak ingin mati? Atau mungkin ia hanya teramat takut dengan rasa sakit dari timah panas yang menghancurkan kepalanya?
Saat ini, Bonna benar-benar tidak mengerti dengan dirinya sendiri.
Nolan melangkah mendekati Bonna. Ia menghisap cerutunya dalam-dalam, lalu sengaja menghembuskan asap pekatnya tepat ke wajah Bonna, membuat gadis itu terbatuk pelan dengan mata berair.
"Kau bukan orang pertama yang dikirim oleh Dorris kemari," ujar Nolan dengan nada datar tanpa beban. "Sudah banyak orang yang Dorris kirim kemari... dan semuanya mati di tanganku. Tapi apakah kau tahu kalau Dorris itu menipumu?"
Tanpa peringatan, Nolan menggerakkan tangannya, menekan ujung cerutunya yang membara tepat ke kulit leher Bonna!
Sssshhh.
"Aaaargh!" Bonna meringis dan mengerang kesakitan saat rasa panas yang membakar menggerogoti lehernya. Pria itu menyiksanya tanpa berkedip.
Nolan melepaskan tekanan cerutunya dan kembali berkata, "Dorris pasti dengan mulut busuknya itu mengatakan kalau kau hanya perlu mencari bukti dan datang kemari. Menyelinap, cari bukti penting yang bisa menyeretku ke dalam penjara, dan selesai, bukan? Tapi kenyataannya, bukti seperti itu tidak pernah ada di sini. Kau dengan bodohnya mencari bukti tersebut di ruangan ini. Bukti yang Dorris maksud itu bukan benda... tapi kau. Kaulah buktinya."
Bonna mengerutkan keningnya di tengah rasa sakit, sama sekali tidak mengerti arah pembicaraan pria itu.
Namun, Nolan kembali bersuara, "Sejak awal, Dorris mengirimmu kemari untuk mati. Dorris tidak bisa menemukan bukti apa pun untuk memberatkanku, jadi dia mulai membuat buktinya sendiri. Dia kirim orang kemari untuk mati agar dia bisa menjebloskanku ke penjara. Tapi tiap kali dia mengirim orang kemari, Dorris tetap tidak bisa membuktikan kalau aku yang membunuh semua orang itu. Tidak ada rekaman video, tidak akan ada rekaman suara yang bisa menunjukkan dan membuktikan kalau mereka semua mati karenaku."
Nolan melirik ke arah serpihan earpiece milik Bonna yang sudah ia hancurkan dengan tangan kosong. Serpihannya tergeletak tak jauh dari mayat bodyguard yang kaku.
"Dorris memberikan alat itu padamu bukan untuk berkomunikasi denganmu, melainkan untuk merekam setiap jeritan kesakitanmu saat kau mati di tempat ini, lalu menjadikan rekaman suaramu sebagai bukti untuk memasukkanku ke dalam penjara," Nolan berdecih jijik.
"Pria itu masih juga belum belajar dari kesalahannya. Alat seperti itu tidak akan berguna di tempatku. Kamera, handphone, perekam suara, dan sejenisnya tidak berfungsi di bangunan ini."
Dalam hati, Bonna membatin. Pantas saja... pantas saja suara Dorris tidak terdengar lagi di earpiece itu sejak aku melangkahkan kaki ke koridor dan masuk ke dalam ruangan ini.
Tiba-tiba, rahang Bonna dicengkeram oleh Nolan. Pria itu mencengkeramnya dengan teramat kuat hingga Bonna merasa jika Nolan menambah sedikit saja kekuatannya, rahangnya bisa saja remuk dalam hitungan satu detik.
Nolan menatap tajam manik mata Bonna. "Tapi kuakui, Dorris cukup gila. Dia merasa aku begitu berdosa karena sudah melakukan banyak kejahatan, tapi dia sendiri mengirim banyak orang kemari hanya untuk menjemput kematian mereka. Dorris begitu putus asa... sampai-sampai dia mencari wanita yang mirip dengan mendiang adiknya sendiri dan mengirimnya kemari, berharap itu bisa membuatku goyah."
Sekali lagi, laki-laki di hadapan Bonna itu mengatakan sesuatu yang tidak bisa Bonna pahami.
Nolan melepaskan cengkeraman pada wajah Bonna dengan kasar hingga kepala gadis itu terhentak ke samping. Pria itu kemudian berbalik membelakangi Bonna dan berjalan melangkah melewati bawahannya. Nolan memberikan tepukan pelan di bahu Lucifer sebanyak dua kali.
"Lucifer, bunuh dia. Setelah itu, bawa semua mayat ini ke ruang operasi. Organ dalam mereka cukup berharga untuk dibuang begitu saja."
Tanpa menoleh lagi, Nolan pergi melangkah keluar dari ruangan itu, meninggalkan Bonna dan laki-laki yang kartu aksesnya ia curi tadi hanya berdua saja di dalam ruangan berdarah ini.
Pintu tertutup rapat. Lucifer menatap Bonna yang terikat pasrah di atas kursi.
"Kau suka kejutannya?" tanya pria bernama Lucifer itu pelan.
"Rupanya... kau sejak awal sudah tahu kalau aku mencuri sesuatu dari sakumu," suara itu pecah dari mulut Bonna, parau dan bergetar. Ia menatap laki-laki yang baru saja membunuh dua nyawa di sisi kanan dan kirinya tanpa rasa bersalah.
Lucifer menggelengkan kepalanya pelan. Tangannya masih berdiri tegak, menodongkan moncong pistolnya lurus ke arah kening Bonna.
"Sejak awal aku sudah tahu kau wanita yang dikirim oleh Dorris, bahkan sejak kau menari di atas panggung utama," jawab Lucifer.
Bonna mendecih pelan, mendongakkan kakinya walau lehernya terasa terbakar. "Kalau kau sudah tahu soal aku sejak aku berada di atas panggung, lalu kenapa kau biarkan aku mencuri kartu itu? Kenapa kau biarkan aku masuk ke dalam ruangan ini? Kenapa kau tidak tembak kepalaku tepat di atas panggung? Apa karena kau tidak ingin membuat keributan di depan para pelanggan setia kalian itu?"
Lucifer menganggukkan kepalanya pelan. "Itu salah satu alasannya. Tapi alasan terbesar adalah agar Tuan Nolan melihatmu... karena aku berpikir Tuan Nolan mungkin tidak ingin kau mati, sebab kau berbeda dari orang-orang kiriman Dorris yang sebelumnya."
"Berbeda?" ulang Bonna bingung.
Lucifer menjawab datar, "Kau tidak mendengar apa yang Tuan Nolan katakan padamu sebelumnya? Dorris itu gila. Dia mencari wanita yang mirip dengan mendiang adiknya dan mengirim orangnya kemari untuk mati. Orang yang Tuan Nolan maksud itu adalah dirimu. Kau sangat mirip dengan mendiang adik Dorris... yang juga adalah mendiang kekasih Tuan Nolan sendiri."
Deg.
Jantung Bonna serasa berhenti berdetak seketika.
Lucifer melangkah mendekati Bonna, sengaja menekan kuat ujung pistol logam yang dingin itu tepat di tengah kening Bonna.
"Kupikir Tuan Nolan akan membiarkanmu hidup karena wajahmu mirip dengan mendiang kekasihnya," bisik Lucifer dingin. "Tapi ternyata tidak. Ada kata-kata terakhir?"
Lucifer bersiap menarik pelatuk pistolnya, memberikan Bonna jeda beberapa detik untuk menyampaikan permintaan terakhirnya.
Namun, Bonna menggelengkan kepalanya dengan cepat. Memangnya apa yang ingin ia katakan? Meminta pertolongan pun rasanya Tidak Mungkin.
Nyawanya kini berada seutuhnya di tangan pria ini.
Dua orang di sampingnya saja tidak diberikan kesempatan sedikit pun untuk berbicara, apalagi dirinya yang memang sedari awal menjadi pemicu dari kematian dua orang di sisi kanan dan kirinya.
Detik kemudian, Bonna memejamkan matanya rapat-rapat. Pasrah membiarkan kegelapan menyelimuti pandangannya–Bersiap Menerima nasibnya yang akan mati dengan Cara Seperti ini. Dia tidak lagi perlu Khawatir dengan Ibunya. Ia tersenyum, Ya...ini Jalan Terbaik Dari Pada mati mengenaskan Didalam Tahanan.
Dalam bayangan gelap itu, ia hanya bergumam lirih di dalam hatinya:
Maafkan aku, Ibu. Kuharap kau baik-baik saja...