NovelToon NovelToon
BERMAIN API DENGAN CINTA

BERMAIN API DENGAN CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir / Obsesi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Park ha

Bagi Cinta (24 tahun), moralitas tidak ada harganya jika dibandingkan dengan uang. Menggunakan paras cantik dan tubuh indahnya, penipu ulung ini selalu berhasil meloloskan diri setelah mengeruk harta korbannya.

Hingga suatu hari, sebuah tawaran senilai 10 Miliar Rupiah datang dari Nyonya Valen, seorang wanita kalangan elit. Misinya terdengar mudah: goda Tuan Maxim, jadilah selingkuhannya, dan buat pria itu setuju untuk bercerai.

Cinta mengira ini hanyalah pekerjaan biasa di mana dia yang memegang kendali penuh sebagai pemburu. Namun, dia keliru. Begitu terjebak di dalam mansion mewah Maxim, Cinta baru menyadari bahwa dia bukan sedang memburu, melainkan sedang masuk ke dalam sangkar emas. Nyonya Valen tidak sedang menyewanya, melainkan menumbalkannya untuk melepaskan diri dari jeratan seorang pria posesif yang sangat berbahaya.

Ketika semua jalan keluar telah tertutup, akankah Cinta berhasil meloloskan diri, atau justru terbakar oleh api permainan yang dia nyalakan sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BERMAIN API DENGAN CINTA Bab 28: Amarah Sang Serigala

BERMAIN API DENGAN CINTA

Bab 28: Amarah Sang Serigala

"Lihat wanita ini! Dia adalah wanita penggoda! Wanita murahan yang suka menghancurkan hubungan orang lain demi uang!"

Suara melengking itu seketika memotong alunan musik jazz yang mengalir lambat di dalam kafe lounge mewah tersebut. Keheningan yang canggung langsung menyergap. Puluhan pasang mata pengunjung kini tertuju lurus ke sudut meja tempat Cinta duduk dengan kondisi wajah dan kemeja sutranya yang basah kuyup akibat siraman anggur.

Wanita di hadapan Cinta tidak berhenti di situ. Dengan wajah merah padam dipenuhi dendam, dia sengaja melangkah maju satu kali lagi, memukul permukaan meja kaca Cinta dengan keras agar perhatian seluruh isi ruangan benar-benar tersedot pada mereka.

"Dulu dia berpura-pura menjadi pacar bayaran untuk merebut kekasihku! Menggunakan tubuh dan wajahnya yang sok suci ini untuk menggoda pria lain hingga pertunangan kami batal!" maki wanita itu berapi-api, jarinya menunjuk-nunjuk tepat di depan hidung Cinta dengan tatapan menghina. "Dia tidak lebih dari sekadar jalang pemeras yang menjual harga dirinya demi uang. Kamu pikir dengan memakai kemeja mahal seperti ini, asal-usulmu yang kotor bisa hilang, hm?!"

Mendengar makian beruntun yang merendahkan itu, harga diri Cinta rasanya diinjak-injak di depan umum. Bisik-bisik miring dari meja-meja sekitar mulai terdengar, menghakimi Cinta yang hanya diam menatap tajam.

Namun, Cinta bukan wanita lemah yang akan diam meratapi nasib atau menangis saat disudutkan. Alih-alih gemetar ketakutan, Cinta justru menegakkan punggungnya. Tatapan matanya berubah sedingin es. Dengan gerakan yang anggun namun sarat akan ketegasan, dia menyeka sisa cairan anggur yang menetes di dagunya menggunakan selembar tisu kain.

"Jaga mulutmu," suara Cinta terdengar sangat tenang, namun memiliki intonasi tajam yang mampu menusuk pendengaran. "Jika mantan tunanganmu memilih untuk membatalkan pernikahan karena wanita lain, itu artinya kamu yang tidak punya kemampuan untuk menahannya. Kamu dicampakkan karena pria itu memang tidak pernah menginginkanmu sejak awal, bukan karena aku. Aku hanya seorang profesional yang menyelesaikan pekerjaan. Menyalahkanku di depan umum tidak akan membuat harga dirimu yang murah itu kembali naik!"

"Kau—!" Wanita itu terperangah, wajahnya semakin merah padam karena tidak menyangka korban yang dia permalukan justru berani membalas dengan kalimat yang begitu menohok ego pribadinya.

Sebelum wanita itu sempat melayangkan makian baru, Cinta bangkit berdiri dengan hentakan cepat.

Plak!

Suara tamparan yang sangat keras dan nyaring menggema di sudut kafe lounge yang temaram. Ayunan tangan Cinta mendarat telak di pipi mulus wanita itu hingga wajahnya terlempar ke samping. Wanita itu terhuyung mundur satu langkah, memegangi pipinya yang seketika memerah dengan tatapan mata yang tidak percaya.

"Itu pelajaran karena kamu sudah mengotori kemejaku," desis Cinta dengan senyuman miring yang penuh ancaman. Rambutnya yang basah kuyup oleh cairan manis justru membuatnya tampak seperti dewi kematian yang luar biasa mengerikan.

"Kurang ajar! Pegang dia! Jangan biarkan jalang ini lolos!" jerit wanita itu histeris, benar-benar kehilangan akal sehat karena merasa dipermalukan secara telak di depan seluruh pengunjung kafe.

Mendengar perintah tersebut, tiga orang teman wanita yang berbadan cukup besar yang sejak awal berdiri di belakangnya langsung merangsek maju secara bersamaan. Mereka mengepalkan tangan dan melayangkan tatapan mengancam. Cinta mencoba untuk berkelit dan mengambil langkah mundur, namun ruang geraknya di sudut meja terlalu sempit.

Sebelum Cinta sempat melayangkan pukulan pertahanan berikutnya, dua pasang tangan kekar dari teman-teman wanita itu mendadak mencengkeram kasar kedua bahu dan lengannya dari arah samping. Mereka mengunci pergerakan Cinta dengan kuat, membuat kemeja sutra putih gadingnya yang basah sedikit terkoyak di bagian bahu akibat tarikan paksa.

"Malam ini, kami akan memberikanmu pelajaran yang tidak akan pernah kamu lupakan, dasar pelacur rendah—"

Brak!!

Pintu kaca depan kafe lounge mewah itu mendadak terbuka dengan hantaman yang begitu keras hingga hampir saja engsel-engsel besinya terlepas dari dinding. Suara benturan itu seketika membekukan gerakan semua orang. Kalimat makian wanita itu terputus di udara.

Suhu di dalam ruangan rasanya turun drastis ke titik sakaratul maut saat sesosok pria bertubuh tinggi tegap melangkah masuk dengan aura membunuh yang luar biasa pekat. Jas biru dongkernya sengaja dibiarkan terbuka, mengekspos dadanya yang naik turun dengan cepat karena amarah yang tidak lagi terbendung. Di belakang pria itu, delapan orang pria berbadan tegap berpakaian hitam-hitam masuk dengan formasi barikade, menutup seluruh akses keluar kafe.

Itu Maxim. Dan sepasang mata hitamnya benar-benar telah menggelap total bagai iblis gila kendali yang sedang mengamuk.

Melihat kedatangan Maxim yang begitu mendadak dan tak terduga, jantung Cinta seketika mencelos ke dasar perut. Rasa panik yang teramat sangat langsung menyerang seluruh rongga dadanya hingga dia merasa kesulitan untuk bernapas. Tubuh Cinta membeku kaku di bawah cengkeraman orang-orang yang menahannya.

Ketakutan hebat yang membuat seluruh persendian Cinta bergetar saat ini murni karena satu hal yang mengerikan: Apakah Maxim mendengar semuanya? Apakah pria itu yang sejak tadi menguntitnya lewat pengawal sudah mendengar saat wanita tadi berteriak lantang bahwa dirinya adalah seorang penipu, jalang pemeras, dan mantan pacar bayaran?

Jika Maxim mendengar bagian itu, maka seluruh penyamarannya, misinya yang bernilai sepuluh milyar dari Valen, dan semua rencana intrik psikologis yang sudah dia bangun dengan susah payah sejak awal akan hancur berantakan malam ini juga. Kedoknya sebagai sekretaris polos akan terbongkar sepenuhnya di hadapan sang penguasa bisnis.

Sementara Cinta tenggelam dalam kepanikan mentalnya, pandangan tajam Maxim langsung mengunci ke sudut kafe. Begitu melihat kemeja putih Cinta yang basah kuyup memeluk tubuhnya, robek di bagian bahu, dan tangan-tangan kasar orang asing yang masih menempel mencengkeram tubuh sekretarisnya, sekat kewarasan terakhir di dalam kepala sang penguasa bisnis hancur lebur tanpa sisa.

"Lepaskan. Tangan. Kotor. Itu. Dari. Milikku," kata Maxim.

Suara baritonnya diucapkan dengan jeda yang pelan namun gaungnya begitu mengerikan hingga membuat tiga wanita yang sedang mencengkeram Cinta refleks menarik tangan mereka kembali karena ketakutan yang teramat sangat.

Maxim melangkah maju. Setiap ketukan sepatu pantofel mahalnya di atas lantai kayu kafe terdengar seperti jam hitung mundur menuju kematian. Pria itu mengabaikan pandangan semua orang di dalam kafe. Dia berjalan lurus ke arah Cinta dengan tatapan mata yang tidak bergeser sedikit pun.

Dengan gerakan yang sangat posesif, dominan, dan protektif, Maxim melepas jas biru dongkernya yang mahal, lalu menyampirkannya ke atas bahu Cinta yang terbuka. Dia membungkus tubuh sekretaris pribadinya yang basah kuyup dari pandangan luar.

"Kamu terluka?" tanya Maxim. Suaranya mendadak melembut hanya untuk Cinta, sementara jemari kasarnya bergerak perlahan mengusap sisa cairan anggur di pipi Cinta dengan kelembutan yang sangat kontras dengan amarah yang bergejolak di matanya.

Cinta mengerjapkan matanya yang masih dipenuhi ketakutan akan rahasianya yang terancam bocor, bibirnya mendadak kelu untuk bersuara. Tatapannya mencari-cari kilat kecurigaan di mata Maxim, mencoba membaca seberapa banyak informasi yang sudah didengar oleh bosnya itu. "Saya... saya tidak apa-apa, Tuan Maxim. Tapi baju saya—"

Sebelum Cinta sempat menyelesaikan kalimatnya, Maxim tiba-tiba menyelipkan satu tangan kekarnya di bawah lutut Cinta dan tangan lainnya di punggung wanita itu. Dengan satu sentakan dominan yang sangat mudah, Maxim langsung mengangkat dan menggendong Cinta ke dalam dekapan dadanya (bridal style).

Cinta terpekik tertahan karena terkejut, refleks mengalungkan kedua tangannya ke leher kokoh Maxim untuk menjaga keseimbangan. Kemeja sutranya yang basah dan dingin langsung menempel erat pada kemeja kerja Maxim, menyalurkan desiran panas yang aneh di antara kulit mereka.

Sambil terus menggendong Cinta dengan erat seolah wanita itu adalah barang berharga yang rapuh, Maxim berbalik perlahan. Dia menghadap ke arah empat wanita yang kini wajahnya sudah pucat pasi bagai mayat. Maxim dengan ingatan fotografisnya segera mengenali wanita yang menjadi dalang keributan ini—dia adalah anak dari salah satu pemilik perusahaan mitra bisnis skala kecil Kencana Property Group.

"T-Tuan Maxim..." cicit wanita itu dengan suara yang gemetar hebat, menyadari dengan siapa dia sedang berhadapan sekarang. "W-wanita ini... dia penipu... dia—"

"Siapa yang memberikanmu izin untuk menyentuhnya?" tanya Maxim dengan nada datar yang teramat dingin dan mematikan. Pandangannya dari atas saat menggendong Cinta terlihat begitu merendahkan lawan di hadapannya. "Siapa yang memberimu keberanian untuk mengotori seujung kuku dari wanita yang berada di bawah perlindungan mutlakku?"

"Kami hanya... kami punya urusan masa lalu dengan dia, Tuan—"

"Mulai detik ini, urusan masa lalumu adalah urusan kematian bisnis keluargamu," potong Maxim tanpa ampun, suaranya mutlak bagai vonis hakim.

Pria itu menoleh sedikit ke arah komandan pengawal pribadinya yang berdiri tegap di dekat pintu masuk. "Hancurkan seluruh saham perusahaan ayahnya besok pagi sebelum bursa efek dibuka. Buat mereka bangkrut tanpa sisa."

Maxim menjeda kalimatnya sejenak, melirik tajam ke arah botol-botol dan gelas-gelas anggur yang berjejer di meja bar kafe. "Dan untuk mereka berempat... pastikan mereka merasakan bagaimana rasanya mandi dengan anggur berkualitas, dari malam ini sampai subuh menjelang. Jangan biarkan mereka beranjak pulang sebelum seluruh botol di tempat ini kosong di atas kepala mereka."

"Baik, Tuan!" jawab sang komandan dengan tegas tanpa ragu.

Tanpa memedulikan tangisan atau jeritan permohonan maaf yang mulai pecah, Maxim membawa Cinta dalam gendongannya, melangkah lebar keluar dari kafe menuju mobil Rolls-Royce hitam mewah yang sudah siap di depan lobi.

Maxim mendudukkan Cinta ke dalam kabin mobil yang luas dengan hati-hati namun tetap posesif, sebelum dia sendiri ikut masuk dan menutup pintu dengan sentakan keras. Pengawal di luar langsung mengunci pintu dari luar, mengisolasi mereka berdua dalam keheningan yang amat mencekam.

Aroma parfum maskulin kayu cendana milik Maxim yang kuat kini bercampur baur dengan aroma manis dari anggur merah yang membasahi kemeja sutra Cinta, memenuhi seluruh sudut kabin mobil yang kedap suara.

Maxim tidak langsung menyuruh sopir pribadi untuk menjalankan kemudi mobil. Dia berbalik, mengungkung tubuh Cinta di kursi belakang dengan kedua tangan kekarnya menjepit kuat di sisi kiri dan kanan kepala Cinta, menempel pada sandaran kursi kulit. Jarak wajah mereka hanya tersisa beberapa sentimeter, membuat napas Maxim yang memburu hangat menerpa langsung di atas bibir Cinta.

"Janji penting dengan seseorang malam ini, hm?" bisik Maxim tepat di depan wajah Cinta. Matanya berkilat tajam, penuh dengan gejolak tuntutan, obsesi, dan rasa kepemilikan yang sangat berbahaya.

Cinta menahan napasnya, jantungnya bertalu-talu dengan sangat cepat. Ketakutan bahwa kebohongannya telah terbongkar kini berada di titik tertinggi. Dia bisa merasakan tatapan Maxim seperti sedang menelanjangi seluruh rahasia yang dia sembunyikan di dalam kepalanya.

"Kebohonganmu hampir saja membuatmu celaka, Sekretaris Cinta," lanjut Maxim dengan suara bariton yang rendah, serak, dan bergetar menahan emosi yang pekat. "Sekarang, katakan padaku dengan jujur... bagaimana caramu menebus kesalahan karena telah membuatku hampir gila sepanjang malam ini?"

1
Lea
bagus GK ngebosenin ceritanya
Lea
lanjut
Lea
bagus..lanjut
Meysha Talitha Putri
bagus
Park ha: makasih 😍🙏🙏
total 1 replies
Fauzianurul 08
cepat² up yaaa
Park ha: 🤭🤭 aku usahain 2 bab sehari kak... gimnaa pendapat ceritanya? kalau berkenan kasih pendapat...
total 1 replies
the virtuso
izin mampir
Park ha: makasih udah mampir🙏🙏😍
total 1 replies
Abid Din
kak CPT update
Park ha: ok siap...tbw jangan lupa like kasih ulasan kritik saran... makasih😍🙏
total 1 replies
falea sezi
q kirim hadiah lanjut banyak thor
falea sezi
lanjutt
Park ha
moga suka wkkwkwk
falea sezi
nyimakk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!