NovelToon NovelToon
Under The Autumn Canopy

Under The Autumn Canopy

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: air sungai

​Di bawah langit kelabu Inggris yang selalu basah oleh gerimis, Aurora "Rory" Vance melangkah masuk ke kampus paling bergengsi di Britania Raya hanya berbekal koper tua, beasiswa penuh, dan keteguhan hati. Sebagai gadis dari kalangan menengah ke bawah yang realistis dan tak punya waktu untuk urusan cinta, prioritas Rory hanya satu: bertahan hidup dan mempertahankan IPK-nya.
​Namun, tradisi Freshers' Week (PKKMB) di kampus elit ini jauh dari kata ramah. Para senior panitia yang keras dan disiplin tanpa ampun siap menyaring siapa yang pantas berada di sana. Di tengah tekanan fisik dan mental itu, Rory bertabrakan dengan Julian Edward Radcliffe senior tingkat tiga sekaligus ketua panitia kedisiplinan yang berasal dari salah satu dinasti bangsawan terpandang di Inggris.
Julian adalah definisi kesempurnaan yang dingin, tampan, cerdas, kaya, dan tak tersentuh. Namun, di balik tatapan tajam dan wibawanya yang mendominasi, Julian menyimpan beban ekspektasi keluarga yang mencekik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon air sungai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Diatas Puing-Puing Dinasti dan Langkah Pertama Menuju Kebebasan

Gemuruh di Hall Agung St. Jude’s College belum surut bahkan ketika pintu kayu raksasa berukir itu tertutup di belakang punggung Julian dan Rory. Suara kilatan kamera, teriakan para jurnalis yang mencecar Arthur Radcliffe, serta histeria tertahan dari Victoria Montgomery perlahan memudar, tergantikan oleh ketenangan dingin lorong-lorong batu Oxford di bawah naungan langit malam yang bertabur bintang.

Gerimis yang tadinya mengguyur kota sejak sore telah berhenti sepenuhnya. Udara malam terasa sangat bersih, menusuk tulang, tetapi untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, setiap helatan napas yang ditarik Julian terasa begitu ringan.

Jemari mereka tetap bertautan erat. Julian tidak melepaskan genggaman tangannya pada Rory sejenak pun, seolah takut jika ia melonggarkannya sedikit saja, seluruh momen kebebasan ini akan menguap bagaikan mimpi.

"Kamu melihat wajah Victoria tadi?" Gemma berlari kecil menyusul mereka dari belakang, gaun malam hijau zamrudnya terangkat sedikit agar tidak menyapu lantai granit. Wajahnya merah padam karena terlalu banyak tertawa dan bersemangat. "Rory! Julian! Itu...itu adalah eksekusi skenario paling brutal sekaligus paling memuaskan yang pernah disaksikan seluruh alumni Oxford! Arthur Radcliffe bahkan tidak sempat menyelesaikan wiskinya!"

Rory menghentikan langkahnya di bawah pendar lampu taman yang remang, menoleh ke arah sahabatnya dengan senyuman lelah namun amat lega. "Terima kasih sudah menjaga saluran data dari Jenewa tetap terhubung tepat waktu, Gem."

"Jangan berterima kasih padaku," Gemma mengibaskan tangannya riang. "Ucapkan terima kasih pada konsistensi kalkulasi kalian berdua. Aku cuma menekan tombol enter di momen yang paling dramatis!" Gemma melirik jam tangannya, lalu menatap Julian dan Rory bergantian dengan kedipan mata jenaka. "Baiklah, pahlawan sains kita. Aku tahu kalian butuh ruang tanpa ada pengganggu seperti aku. Aku mau bergabung dengan anak-anak di pub St. Jude's untuk merayakan kehancuran tirani Radcliffe Corp!"

Tanpa menunggu balasan, Gemma melambaikan tangan dan berlari riang kembali menuju area kampus yang riuh, menyisakan Julian dan Rory dalam keheningan malam yang menenangkan.

Julian menatap Rory. Di bawah pendar lampu taman yang keemasan, gaun biru malam yang dikenakan Rory memantulkan cahaya lembut. Rambut cokelatnya bergelombang diterpa angin malam yang berembus pelan.

"Apakah kamu lelah, Miss Vance?" bisik Julian, suaranya kembali dalam, hangat, dan penuh kelembutan yang hanya diperuntukkan bagi wanita di depannya.

Rory mendongak, menyunggingkan senyum yang melunakkan seluruh sisa emosi dari ketegangan di dalam Hall Agung tadi. "Secara fisik? Sangat. Tapi secara jiwa aku belum pernah merasa sehidup ini, Julian."

Julian tersenyum sebuah senyuman murni tanpa beban yang terukir begitu tampan di wajah tegasnya. Pria itu melepaskan jas tuksedo hitam mewahnya, lalu menyampirkan kain mahal itu di atas bahu Rory untuk menghalau dinginnya udara malam.

"Ayo kita pulang," bisik Julian pelan. "Ke tempat di mana kita tidak perlu berpura-pura menjadi siapa pun."

Pukul 01.00 dini hari.

Flat sederhana empat kali lima meter itu menyambut mereka dengan aroma kayu tua yang biasa. Tidak ada lampu kristal raksasa, tidak ada karpet merah, dan tidak ada pilar-pilar batu megah. Namun di dalam ruangan kecil inilah seluruh kebenaran dan cinta mereka ditempa.

Julian melepas dasi kupu-kupunya dan membuka dua kancing teratas kemeja putihnya. Ia duduk di tepi meja kerja, menatap Rory yang sedang menyeduh dua cangkir teh chamomile di dapur mini.

Ponsel Julian yang tergeletak di meja bergetar tanpa henti. Puluhan panggilan masuk dan pesan singkat terus berdatangan dari dewan direksi Radcliffe Corp, pengacara pribadi keluarga, rekan-rekan bisnis internasional, hingga belasan panggilan langsung dari nomor pribadi Arthur Radcliffe.

Julian menatap layar ponsel itu dengan tatapan dingin tanpa gejolak emosi. Tanpa keraguan sedikit pun, ia menggeser tombol power, mematikan daya ponsel tersebut sepenuhnya, lalu meletakkannya tertelungkup di atas meja.

Rory melangkah mendekat, membawa dua cangkir teh hangat. Ia meletakkan satu cangkir di samping Julian, lalu berdiri di antara kedua kaki Julian yang terbuka.

"Ayahmu tidak akan tinggal diam setelah malam ini, Julian," kata Rory pelan, menatap mata hazel di depannya. "Saham anak perusahaan Radcliffe Corp di bursa London pasti merosot drastis esok pagi akibat rilis resmi dari Dewan Etik Jenewa."

Julian meraih kedua pinggang Rory, menarik tubuh gadis itu perlahan hingga merapat pada tubuhnya. Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Rory, mendengarkan detak jantung gadis itu yang tenang dan teratur.

"Biarkan saham itu jatuh, Rory," bisik Julian, suaranya tenggelam dalam lipatan kain gaun Rory. "Selama puluhan tahun, Ayah membangun dinasti itu dengan cara menginjak kebebasan orang lain, termasuk ibuku dan aku. Malam ini, aku hanya mengembalikan kebenaran ke tempat yang seharusnya."

Rory menyusupkan jemarinya ke dalam helai rambut hitam Julian, mengusap kepalanya dengan kehangatan yang amat dalam. Ia tahu betul betapa besarnya luka batin yang dipikul Julian selama tumbuh besar di bawah bayang-bayang sosok ayah yang otoriter dan manipulatif.

"Kamu sudah bebas sekarang, Julian," bisik Rory lembut. "Kamu bukan lagi instrumen bisnis Radcliffe Corp. Kamu adalah Julian Radcliffe ilmuwan independen yang berdiri di atas kakinya sendiri."

Julian mengadah, menatap mata cokelat jernih Rory. Ada binar rasa syukur yang tak terhitung jumlahnya di dalam mata pria itu.

"Aku bebas hanya karena kamu ada di sisiku, Aurora," kata Julian tulus.

Julian berdiri, mengikis seluruh jarak di antara mereka. Ia merengkuh wajah Rory dengan kedua telapak tangannya yang hangat, menatap bibir manis gadis itu sebelum menundukkan kepala dan menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang lambat, dalam, dan penuh penghayatan.

Ciuman itu tidak lagi membawa ketakutan akan perpisahan atau bayang-bayang ancaman pertunangan paksa. Ini adalah ciuman penegasan atas kemenangan, cinta, dan masa depan yang telah mereka rebut kembali dengan darah dan air mata. Rory melingkarkan tangannya di leher tegap Julian, membalas ciuman itu dengan seluruh kepasrahan dan ketulusan jiwanya.

Di dalam flat remang yang sepi itu, dunia luar dengan segala skandal dan kekacauannya seolah sirna secara total. Yang ada hanyalah dua jiwa yang akhirnya menemukan muara kedamaian mereka.

Keesokan harinya, pendar sinar matahari pagi yang cerah menerobos masuk melalui celah gorden flat, menimpa lembar-lembar koran pagi yang tergeletak di ambang pintu.

Headline utama The Financial Times dan London Daily menampilkan foto raksasa Arthur Radcliffe yang tampak terpukul di panggung St. Jude’s, berdampingan dengan foto dokumen resmi Komite Etik Helios.

SKANDAL BAZAR ETIKA DI ST. JUDE'S: RADCLIFFE CORP TERBUKTI MELAKUKAN PEMERASAN MEDIS DEMI MENCURI PATEN HELIOS FOUNDATION.

Rory menyusuri garis-garis berita itu sambil menyesap kopi paginya di meja makan. Di seberangnya, Julian sedang membaca dokumen surel yang baru saja masuk ke dalam laptop barunya melalui jaringan terenkripsi.

"Ibu baru saja menelepon dari Zurich," kata Rory dengan binar kebahagiaan yang cerah di wajahnya. "Dokter Helene mengonfirmasi bahwa respon sel motorik Ethan terhadap terapi generasi pertama menunjukkan grafik yang sangat positif. Dalam dua minggu, Ethan sudah diperbolehkan melakukan latihan jalan di area rehabilitasi."

Julian mengangkat wajahnya dari monitor, senyuman hangat terukir di bibirnya. "Itu kabar terbaik yang kita dengar minggu ini. Pengorbanan apa pun yang kita lalui tidak ada artinya dibandingkan dengan kesembuhan adikmu, Rory."

"Lalu bagaimana dengan surel dari Jenewa?" tanya Rory, melirik layar laptop Julian.

Julian memutarkan posisi laptopnya agar Rory bisa membaca isi pesan di layarnya.

Surel resmi tersebut dikirim langsung oleh Dr. Harrison Vance (tidak ada hubungan keluarga dengan Rory) Direktur Utama Helios Foundation di Swiss.

Yth. Mr. Julian Radcliffe & Miss Aurora Vance,

Menindaklanjuti keputusan Sidang Istimewa Komite Etik Akademis di Jenewa atas kasus pelanggaran hak cipta independen yang melibatkan Radcliffe Corp, Dewan Direksi Helios Foundation dengan ini menyatakan:

1. Seluruh hak paten penuh atas formulasi sintesis senyawa organik molekul kiral secara penuh diakui atas nama Aurora Vance dan Julian Radcliffe sebagai peneliti independen.

2. Dana hibah pengembangan tingkat lanjut sebesar 1,5 juta franc Swiss telah disetujui untuk dialokasikan secara langsung ke rekening pusat laboratorium independen baru yang kalian ajukan.

3. Fasilitas Pusat Riset Kuantum Zurich secara resmi dibuka untuk kalian gunakan mulai bulan depan.

Rory menahan napasnya saat membaca angka dan klausul di layar tersebut. Jemarinya bergetar pelan oleh rasa haru yang luar biasa.

"Satu koma lima juta franc Swiss dan laboratorium independen di Zurich" bisik Rory tak percaya.

Julian berdiri, melangkah mengitari meja dan berdiri di belakang kursi Rory. Pria itu merangkul bahu Rory dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu gadis itu sambil menatap layar yang sama.

"Mimpi kita bukan lagi sekadar draf di atas kertas, Miss Vance," bisik Julian dengan suara baritonnya yang mantap. "Kita memulainya dari laboratorium kecil yang dingin di St. Jude's, dan sekarang kita akan memiliki panggung ilmiah kita sendiri di Switzerland."

Rory menggenggam tangan Julian yang melingkar di dadanya, menyandarkan kepalanya pada pipi Julian. "Dekat dengan Ethan dekat dengan Ibu dan bebas dari gangguan dinasti Radcliffe."

"Bebas sepenuhnya," tambah Julian lembut.

Sore harinya, Julian dan Rory berjalan menyusuri padang rumput hijau di sepanjang tepi Sungai Cherdwell. Angin musim panas yang hangat menggoyangkan dahan-dahan pohon willow yang menjuntai di atas permukaan air yang tenang.

Di kejauhan, menara-menara batu universitas berdiri megah, mengabadikan masa-masa tersulit sekaligus terindah dalam hidup mereka. Tempat di mana seorang rival akademis yang angkuh dan seorang gadis beasiswa yang pantang menyerah dipertemukan oleh takdir riset yang rumit.

Julian menghentikan langkahnya di bawah naungan pohon willow tua. Ia merogoh saku mentalnya, mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna biru tua.

Rory tertegun, langkah kakinya terhenti seketika. "Julian, apa ini?"

Julian menatap mata cokelat jernih Rory dengan seluruh kedalaman rasa cinta dan penghormatan yang ia miliki di dunia ini. Pria itu tidak berlutut secara dramatis seperti tradisi aristokrat bangsawan yang dibencinya, melainkan berdiri tegap, sejajar, sebagai seorang mitra hidup yang setara di hadapan wanita impiannya.

Julian membuka kotak beludru tersebut.

Di dalamnya, tidak ada berlian raksasa berharga puluhan ribu poundsterling seperti yang dikenakan Victoria Montgomery. Yang terbaring anggun di sana adalah sebuah cincin platinum polos berseni simpel, dengan ukiran grafir kecil di bagian dalamnya: A & J - Helios 14:3.

"Cincin ini dibeli dari hasil honorarium pertamaku sebagai peneliti independen di Cambridge," kata Julian, suaranya bergetar pelan oleh emosi yang tulus. "Tidak ada uang keluarga Radcliffe di dalamnya. Tidak ada ikatan bisnis. Tidak ada syarat politis."

Julian mengambil cincin itu, menatap Rory lurus-lurus.

"Aurora Vance kamu telah mengajarkanku arti keberanian yang sesungguhnya. Kamu menyelamatkanku dari sangkar emas yang membunuh jiwaku, dan kamu berdiri di sampingku saat seluruh dunia meragukan kita. Maukah kamu melangkah bersamaku ke Zurich, membangun masa depan kita, dan menjadi pendamping hidupku untuk selamanya?"

Air mata kebahagiaan perlahan menetes membasahi pipi Rory. Senyuman paling murni dan indah terukir di wajahnya. Rory tidak membutuhkan waktu satu detik pun untuk berpikir.

Rory mengulurkan tangan kirinya, membiarkan jemarinya disambut oleh tangan tegap Julian.

"Ya, Julian," bisik Rory, suaranya penuh keteguhan dan cinta yang tak tergoyahkan. "Aku mau. Sejak hari pertama kita membagi draf riset di laboratorium itu jawabanku selalu ya."

Julian tersenyum lebar, menyusupkan cincin platinum itu ke jari manis Rory sebuah lingkaran sempurna yang mengunci takdir dua jiwa yang brilian tersebut. Julian menarik Rory ke dalam pelukannya, mengangkat tubuh gadis itu dan memutarnya kecil di bawah naungan dedaunan willow, diiringi gelak tawa kebahagiaan mereka yang menggema manis di atas aliran Sungai Cherdwell.

Babak pertarungan mereka melawan bayang-bayang masa lalu telah usai dengan kemenangan mutlak. Dan kini, di bawah pendar matahari sore Oxford yang keemasan, babak baru dalam lembaran hidup Julian Radcliffe dan Aurora Vance baru saja dimulai sebuah perjalanan panjang menuju kebebasan, cinta sejati, dan puncak karya ilmiah yang akan menerangi dunia.

1
stevany indri
maya sang cucu sj usianya sdh 50thn,,,, bgmn mgkn kejadian antara kakek Julian&nenek aurora terjd 50thn yg lalu... ada2 sj
stevany indri
aurora lahir thn 1969....kejadiannya thn 1968, bgmn mgkn terjd.... 😳
stevany indri
u maya... kakek&nenek tp u Julian junior mestinya uyut deh
Forta Wahyuni
maya tapi cucu, koq manggil ayah dan ibu n bingung thor. Julian cicit krn anak maya, hadeh suka2 thor lah. 🙏🙏🙏
Maya Elvin
siap kk👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!