Malam itu, Alya mendapat pesan dari pacarnya yang memberitahukan jika ayahnya mabuk.
Sebagai Seorang anak, Alya berniat untuk pergi menjemput Ayahnya, tapi siapa sangka di balik itu semua, pacar yang begitu ia percaya dan sangat dia cintai ternyata membohonginya.
Dia di jebak sampai tak sadarkan diri, rupanya Alya di bawa ke sebuah hotel, disana dia kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.
Dan yang lebih sialnya lagi, sadar ia sudah sadar, laki-laki yang bersamanya semalam sudah menghilang entah kemana.
Beberapa bulan kemudian Alya di nyatakan positif hamil, ada dua janin di dalam perutnya, hal itu membuat Alya harus menanggung gunjingan dari orang-orang Sekitar karena kehamilannya.
Bagaimana kisah selanjutnya? akankah Alya bahagia dengan anak kembarnya? lalu siapa ayah dari kedua anaknya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon israningsa 08., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nino terusik
Nino dan Nina plonga-plongo menatapnya, mereka berdua saling memandang, "Kakak, dia mencari mama! Apa yang harus kita katakan?" bisik Nina.
"Memangnya om ini siapa?"
"Kalian tidak perlu tau! Cepat katakan saja di mana Alya? Aku datang mencarinya! Suruh dia keluar!"
Bibir Nino berkatub seakan enggan untuk menjawab, Nina selangkah maju di depan kakaknya sambil menggenggam kerupuk, dengan berani ia membalas tatapan tajam dari pria berkumis itu, "Kalau begitu kami juga tidak akan menjawab pertanyaan om!!" ucap Nina
"Dasar anak nakal! Sebenarnya kalian itu siapa?" decak pria itu.
Si kembar tetap tidak mau menjawab.
"Ahh oke... Aku adalah teman Alya!" pria itu mengalah tapi tidak menyebut namanya.
"Ohh Ada apa om mencari mamaku?" cerocos Nina tanpa sadar.
"Mama? Jangan bilang kalau kalian berdua anak Alya? Tapi sejak kapan Alya menikah? Jadi Alya di mana sekarang? Cepat panggil dia aku mau bicara dengannya!"
Orang itu masuk begitu saja dan duduk di sofa ruang tamu, Nino dan Nina tak tau harus bagaimana.
"Kenapa kau langsung menjawab tadi?" bisik Nino.
"Maaf kakak! Aku kecoplosan!"
Nino mendengus, ia ikut duduk didepan orang itu dengan menyilang tangan, begitupun Nina yang masih sibuk memakan sisa kerupuk yang ada di tangannya sampai habis.
"Kenapa kalian malah duduk? Cepat panggil Alya!"
"Mamaku tidak ada!" ujar Nino dingin.
"Kalian itu masih kecil! Kenapa sudah pintar berbohong! Apa Alya mengajari kalian seperti itu?" bentaknya.
"Justru kami ini anak kecil, hati kami masih suci, jadi kami masih tidak tau berbohong, kalau om tidak percaya, silahkan om pergi saja!" Nina yang kali ini menjawabnya.
"Kalian!!"
"Mamaku memang tidak ada!" sambung Nino tegas.
"Oke... Kalau begitu aku akan menunggunya! Ohh iya, ayahmu di mana?"
"Tidak ada!" jawab Nina Dan Nino bersamaan.
Pria itu melongo, "Ha? Kalian ini sedang mengerjaiku atau bagaimana? Mana mungkin kalian ada kalau ayah kalian tidak ada!"
"Sudah meninggal!" ucap Nino.
"Yah... Papa kami sudah meninggal!" lanjut Nina.
"Ohh! Kalau begitu kapan papa dan mama kalian menikah?"
"Om ini bodoh ya? Kami pasti belum ada waktu itu, jadi bagaimana kami bisa tau!" sindir Nina dengan wajah polosnya.
Dia mengepalkan tangan menggertakkan gigi, "Kalian ini kenapa menyebalkan sekali, maksudku apa mamamu tidak pernah bercerita soal pernikahannya sebelumnya?"
"Tidak!!" sahut Nino.
"Ahh Terserahlah... Aku tidak akan pulang sebelum mamamu pulang!" Dengan tidak sopan pria itu menyenderkan tubuhnya di sofa, mengangkat kaki di atas meja.
"Om!" Nina memanggil.
"Apa?"
"Om sangat tidak sopan, kenapa om menaikkan kaki di atas meja? Kalau kata mama om ini bagusnya di pukul pakai sapu!" ulas Nina.
"Itu kata mamamu! Kalau kataku ya terserah yang penting aku nyaman!"
"Tapi ini bukan rumah om!"
"Kalian! Pergilah... Aku lelah mendengar kalian bicara terus! Yang jelas aku akan menunggu mamamu sampai dia kembali!"
"Tidak! Kami akan tetap disini, mama bilang tidak sopan meninggalkan tamu sendirian diruang tamu!" Nina melanjutkan.
"Ahh baiklah... Baiklah... Terserah kalian saja!"
Tak ada lagi pembicaraan, Nina dan Nino saling menatap kemudian memberi tatapan tajam pada orang itu.
Hampir satu jam mereka berdua menunggu orang itu untuk pulang, tapi siapa sangka orang di hadapan mereka malah tertidur pulas sambil duduk di sofa.
"Kakak! Kapan orang ini pergi? Aku sudah menahan lapar sejak tadi!" Nina mengeluh.
"Kau pergi saja makan! Biar kakakmu yang berjaga disini, kakak takut jika dia ini adalah orang jahat!"
"Humph... Kalau begitu aku akan mengurus perutku dulu!" Nina pergi meninggalkan kakaknya
Sementara Nino masih stay di tempat duduknya, ia terus memandangi pria yang terlelap di hadapannya.
"Om! Om bangunlah...." dia memanggil.
"Hm... " orang itu bangun, "Ada apa? Apa ibumu sudah kembali? Tanya orang itu.
"Tidak, ibuku belum kembali!" jawabnya.
Nino sekilas menatap jam dinding, "Bukankah om sebaiknya pulang saja sekarang! Mamaku mungkin akan pulang saat malam, om sudah berada di sini sekitar 56 menit, itu sudah sangat lama! Otomatis om menyita waktuku yang berharga selama 3360 detik aku mungkin sudah selesai membaca buku dongengku saat ini juga!" tutur Nino mulai kesal, dahinya berkerut ingin mengusir orang itu.
Dia tercengang, mulutnya sedikit menganga tak percaya jika seorang anak kecil bisa menghitung waktu, "Nak! Umurmu berapa?"
"6 Tahun!" jawabnya singkat.
"Om juga sudah lama duduk disitu, terlalu lama duduk bisa membuat tulang belakang bisa bermasalah om, om bisa terkena...."
"Su-sudah cukup! Om akan pergi! Bukankah itu yang kau ingin! Om akan pergi oke.... " Potongnya tak ingin mendengar ocehan Nino lagi.
Orang itu berdiri, tapi pandangannya terus tertuju pada Nino, "Pintu ada di sana! Bukan disini! Kalau om terus menatapku, tulang leher om bisa sakit!" tegur Nino tanpa ekspresi dengan kedua tangan tetap menyilang didepan dada.
"Ahh o-oke, Om tau! Kau anak kecil tidak perlu memberitahuku!"
Brumm... Krekk....
Tiba-tiba terdengar suara motor berhenti didepan rumah, Pria itu terkesiap, "Itu pasti Alya!" dengan cepat dia berlari keluar melihatnya.
Berbeda dengan Nino, anak itu dengan santainya perlahan menuruni sofa, berjalan Pelan keluar dari rumahnya.
"Alya!!" memang benar Alya kembali, rauk wajahnya tampak kaget melihat pria itu keluar dari rumahnya
"Rio? Kenapa kau ada disini?
Ternyata pria berkumis itu adalah Rio, mantan kekasihnya yang dulu menjebak Alya sampai hamil tanpa tau siapa laki-laki yang menghamilinya.
"Aku kembali Al... Aku merindukanmu, beberapa tahun tidak melihatmu aku benar-benar sangat merindukanmu! Aku tidak bisa melupakanmu walau sedetikpun Al.... " lirih Rio dengan wajah yang terlihat tidak ada ketulusan sama sekali.
"Ohh Benarkah?"
Alya tidak sebodoh itu sampai harus percaya dengan kata-katanya, dia tau itu hanya alasan padahal di tempat kerjanya, Alya pernah mendengar kabar kalau Rio ternyata sudah menikah beberapa tahun lalu tapi melihat kondisinya sekarang mungkin saja istrinya meninggalkan dia.
"Benar Al... Tolong terima aku kembali, aku mohon! Aku tidak bisa hidup tanpamu!"
"Kau benar-benar menjijikkan Rio, bukankah aku dulu sudah pernah bilang, kita sudah putus berarti tidak punya hubungan apa-apa lagi" tegas Alya.
"Pergilah... Aku tidak ingin kau berada di sekitarku lagi!" Alya hendak melangkah, tapi Rio meraih dan menggenggam tangannya.
"Alya, dengarkan aku dulu! Aku minta maaf sama kamu, tidak bisakah kau memberiku kesempatan kedua?"
"Kesempatan kedua kau bilang? Heh bahkan jika aku memiliki itu, aku juga tidak akan pernah memberikannya padamu! Lepaskan tanganku!!" Alya menghempaskan tangan Rio.
"Al... Aku harus bagaimana agar kau memaafkanku!"
"Kau hanya perlu menjauh dari hidupku itu saja!"
"Tapi aku tidak bisa!"
"Itu urusanmu!"
Alya berbalik meninggalkan Rio didepan rumahnya, " Al... Siapa ayah dari anak-anakmu?"
Alya berhenti, kembali menghadap Rio, "Kenapa kau bertanya soal itu? Apa hutang-hutangmu membuat otakmu jadi bermasalah? Apa kau lupa apa yang kau lakukan padaku 6 tahun lalu?"
Luka lama yang hampir saja sembuh dalam hati Alya kini kembali di ungkit oleh mantan kekasihnya.
Dia ingin lupa kejadian itu, kejadian yang membuatnya merasakan penghinaan dari orang-orang sekitar.
Sakit yang hanya Alya rasakan seorang diri tapi oranglain menghakiminya tanpa rasa ampun, padahal dia sama sekali tak bersalah.
nggak sanggup beli peredam suara 🤣🤣🤣🤣
tapi Lo*** atau Pe**c**
pemuas dahaga situan besar..
kayak sprite.. ilangin dahaga tapi bikin candu 🤣🤣🤣
emang perempuan yang tidak memakai cincin emas itu pasti belum nikah ya?🤣🤣🤣
ada korban, pelaku nggak langsung di tangkap dan beri pertolongan pertama kepada korban.. malah dialog panjang n pergi tanpa berikan pertolongan 🤣🤣🤣
😁
👕👍Great!
👖
melapor dulu dgn kirim pesan ini malah bantu maling