Tiga tahun lalu, Sony kehilangan segalanya dalam satu malam akibat pengkhianatan sahabatnya dan mantan kekasihnya, Dimas dan Rina. Perusahaan keluarganya direbut, kedua orang tuanya dibunuh secara tragis, dan Sony dijebloskan ke dalam penjara paling kejam dengan tuduhan palsu. Namun, di tempat yang seharusnya menjadi akhir hidupnya itu, Sony justru bertemu dengan seorang guru misterius yang mewariskan ilmu bela diri tingkat dewa dan keterampilan medis kuno kepadanya. Setelah menghabiskan waktu di luar negeri, membantai para petarung terkuat hingga dijuluki Dewa Kematian, Sony kini menginjakkan kakinya kembali di tanah kelahirannya. Dengan kekuatan mutlak di tangannya, Sony bersiap untuk memberikan mimpi buruk dan membalas dendam kepada siapa saja yang telah menghancurkan hidupnya tanpa sisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
"Ini... ini tidak mungkin terjadi."
"Si Kembar Hitam tidak pernah kalah oleh satu orang pun di seluruh wilayah Jakarta ini."
Suara Viktor terdengar sangat bergetar karena rasa terkejut dan ketakutan yang mulai menjalar.
Pria bertopeng kanan yang lututnya bergeser berusaha bangkit berdiri menggunakan sisa kekuatannya.
Dia mencabut sebuah pisau belati kecil dari balik pinggangnya dengan tangan yang bergetar hebat.
"A-aku tidak akan membiarkanmu menang begitu saja dari kami."
Pria itu menerjang maju secara kalap menargetkan dada Sony dengan belati kecilnya.
Sony hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat perlawanan sia-sia dari musuhnya itu.
Plak.
Sony menepis tangan pria itu dengan sangat mudah hingga belati tersebut terlempar jauh.
Sebelum pria itu sempat merespons, Sony mencengkeram topeng bajanya dan menariknya ke atas dengan kasar.
Srek.
Topeng baja itu terlepas memperlihatkan wajah seorang pria paruh baya dengan luka parut di pipinya.
"Katakan padaku, berapa banyak orang yang sudah kalian bunuh menggunakan racun dari organisasi ini?"
Sony bertanya sambil menatap lurus ke dalam mata pria tersebut dengan tatapan dingin.
Pria berwajah parut itu meludah ke samping sambil tertawa sinis.
"Kami tidak pernah mencatat jumlah sampah yang sudah kami bersihkan di kota ini."
"Dan kau hanyalah salah satu sampah berikutnya yang akan diburu oleh markas pusat kami."
Sony memejamkan matanya sejenak mendengarkan jawaban menyebalkan itu.
Bugh.
Sony mendaratkan satu pukulan keras tepat di bagian tengah wajah pria berwajah parut tersebut.
Pria itu langsung pingsan seketika dengan hidung yang patah dan darah mengalir deras.
Bruk.
Tubuh pria itu ambruk tidak berdaya di sebelah saudaranya yang juga sudah pingsan karena menahan sakit di bahu.
Sony mengusap kepalan tangannya yang sedikit kotor menggunakan sapu tangan putih dari saku jasnya.
Dia kemudian mengalihkan pandangannya ke atas balkon tempat Viktor sedang berdiri mematung.
Merekam setiap gerakan Viktor dengan Mata Dewanya yang masih menyala redup.
"Sekarang tinggal kau sendirian yang tersisa di ruangan ini, Viktor."
Sony melangkah perlahan menaiki tangga besi menuju ke arah balkon tempat pria tua itu berada.
Tap tap tap.
Suara langkah kaki Sony bergema sangat nyaring menghantam anak tangga besi yang dingin.
Viktor panik luar biasa dan langsung merogoh saku jas merah marunnya untuk mengambil senjata api.
Dia mengeluarkan sebuah pistol perak kaliber tinggi dan menodongkannya lurus ke arah kepala Sony.
"Jangan mendekat lagi, bocah keparat."
"Satu langkah lagi kau maju, aku akan membolongi kepalamu dengan peluru ini."
Tangan Viktor bergetar sangat hebat saat memegang pistol mahal tersebut.
Sony tidak menghentikan langkah kakinya sama sekali dan terus berjalan naik dengan tenang.
"Kau pikir pistol kecil itu bisa menyelamatkan nyawamu malam ini?"
Sony bertanya dengan nada mengejek yang sangat jelas.
"Mati kau, Sony."
Viktor menarik pelatuk pistolnya tanpa ragu-ragu karena sudah terdesak rasa takut yang luar biasa.
Dor.
Suara tembakan nyaring menggema memenuhi seluruh area ruangan bawah tanah tersebut.
Peluru timah panas melesat cepat keluar dari laras pistol perak milik Viktor.
Namun sebelum peluru itu sampai di sasaran, Sony sudah memiringkan kepalanya ke arah kanan.
Wush.
Peluru panas itu melintas tipis di samping telinga Sony dan menghantam dinding beton di belakangnya.
Brak.
Serpihan semen berhamburan saat peluru itu menancap dalam di dinding beton tersebut.
Viktor membeku di tempatnya saat melihat tembakan jarak dekatnya berhasil dihindari dengan mudah.
"M-monster macam apa kau ini sebenarnya?"
Viktor mencoba menarik pelatuk pistolnya sekali lagi secara histeris.
Dor dor.
Dua tembakan susulan kembali dilepaskan oleh Viktor ke arah tubuh Sony.
Sony melangkah ke samping secara luwes menghindari jalur lintasan dua peluru tersebut.
Brak brak.
Dua peluru itu kembali menghantam udara kosong tanpa mengenai baju Sony sedikit pun.
Kini Sony sudah berdiri tepat di depan Viktor di atas balkon kaca tersebut.
Jarak antara mereka berdua hanya tersisa kurang dari satu meter saja saat ini.
Sony menjangkau pergelangan tangan Viktor yang sedang memegang pistol perak itu.
Grep.
Sony memutar pergelangan tangan pria tua itu ke arah belakang dengan gerakan melingkar.
Krak.
"Arghhh tangan saya."
Viktor menjerit histeris saat tulang pergelangan tangannya dipaksa berputar melebihi batas normal.
Pistol perak kesayangannya terlepas dari genggaman dan jatuh meluncur ke lantai bawah.
Prang.
Sony melepaskan cengkeramannya dan langsung mencengkeram kerah jas merah marun milik Viktor.
Dia menyeret pria tua itu dan menghantamkan tubuhnya ke pagar kaca balkon dengan sangat keras.
Brak.
Kaca tebal balkon itu sampai bergetar hebat menerima hantaman tubuh pria buncit tersebut.
Viktor meringis kesakitan sambil memegangi dadanya yang terasa sangat sesak.
"T-tolong jangan bunuh saya, Tuan Sony."
"Saya bisa berikan semua uang dan aset milik cabang Sindikat Bayangan di kota ini untuk Anda."
Viktor memohon dengan suara yang sangat memelas dan wajah yang sudah sangat pucat pasi.
Rasa bangga dan kesombongannya sebagai bos mafia langsung hilang tidak berbekas sama sekali.
Sony menatap pria tua di depannya itu dengan pandangan yang sangat jijik dan dingin.
"Aku tidak butuh uang harammu yang berdarah itu, Viktor."
"Aku hanya butuh informasi tentang siapa yang memproduksi racun saraf sepuluh tahun lalu."
Sony mempererat cengkeramannya pada kerah baju Viktor hingga pria tua itu kesulitan bernapas.
"Bicara sekarang juga sebelum aku melemparmu turun dari balkon ini."
clear dan tegas perintah dari Sony tanpa ada celah untuk bantahan.
Viktor terbatuk-batuk kecil sambil berusaha meraup udara ke dalam paru-parunya.
"S-saya tidak tahu siapa nama asli pembuat racun itu, Tuan."
"Kami hanya menyebutnya dengan julukan Sang Racun dari cabang utama di ibu kota pusat."
Viktor menjawab cepat dengan air mata yang mulai menetes di pipinya karena ketakutan.
"Sang Racun?" Sony merapatkan alisnya mendengar nama julukan asing tersebut.
"Ya, dia adalah ahli kimia utama milik Sindikat Bayangan yang berada di bawah perintah langsung ketua pusat."
"Semua racun tingkat tinggi yang dijual oleh organisasi kami berasal dari laboratorium rahasia miliknya."
Viktor menjelaskan semua hal yang dia ketahui tanpa ada yang disembunyikan lagi.
Ting.
[Sistem Pemberitahuan: Informasi Penting Target Utama Berhasil Didapatkan]
[Target Baru Dikonfirmasi: Sang Racun - Ahli Kimia Utama Sindikat Bayangan]
[Misi Pembalasan Dendam Diperbarui: Lacak Lokasi Laboratorium Rahasia Sang Racun]
Layar transparan biru berkedip cepat di depan mata Sony mengonfirmasi kebenaran ucapan Viktor.
Sony tersenyum sinis melihat pembaharuan target dari sistemnya tersebut.
"Jadi ada ahli kimia khusus yang membuat barang haram itu ya," batin Sony pelan.
Dia kemudian melirik ke arah pintu keluar bawah tanah di mana suara sirene mulai terdengar samar.
Ninu ninu ninu.
Rupanya Nadhira di atas telah menjalankan bagian tugasnya untuk menghubungi kepolisian pusat.
"Sepertinya polisi sudah datang untuk menjemputmu dan anak buahmu, Viktor."
Sony melepaskan cengkeramannya dari kerah baju Viktor hingga pria tua itu tersungkur ke lantai.
"Kau akan menghabiskan sisa umurmu di sel penjara bersama Dimas."
Sony membalikkan badannya dan melangkah pergi meninggalkan Viktor yang menangis lemas di lantai.
Dia melompat turun dari balkon dengan sangat ringan dan mendarat mulus di lantai bawah.
Wush.
Sony berjalan santai melewati tubuh Si Kembar Hitam yang masih tidak sadarkan diri.
Dia melangkah keluar menuju lorong gelap untuk kembali ke area klub malam di atas.
Malam ini, cabang Sindikat Bayangan di kota ini telah runtuh sepenuhnya di tangan Sony.
Namun petualangan sebenarnya untuk memburu pembuat racun di markas pusat baru saja akan dimulai.