Katanya Paris adalah kota paling romantis di dunia.
Entahlah.
Aku belum pernah punya waktu untuk jatuh cinta.
Namaku Maël. Enam belas tahun. Pagi menjual koran, siang berlari dari polisi, malam mencari tempat tidur yang tidak terlalu dingin. Kadang hidup memaksaku mencopet, tapi percayalah, itu bukan bagian yang paling berbahaya dari kota ini.
Kalau kalian ingin melihat Paris dari balik jendela hotel, kalian salah memilih buku.
Tapi kalau kalian berani menyusuri lorong-lorong sempit, stasiun métro yang penuh sesak, dan jalanan tempat orang-orang seperti kami belajar bertahan hidup...
Bienvenue à Paris.
Aku akan menjadi pemandu kalian.
Oh, dan satu lagi...
Jaga dompet kalian. Aku mungkin sudah berubah. Teman-temanku belum. 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yossi anugrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 Orang-Orang yang Tidak Pernah Tercatat
Hujan berhenti.
Namun udara pagi Paris masih dipenuhi aroma aspal basah dan kopi yang baru diseduh.
Kotak kecil itu masih berada di atas meja.
Seekor burung layang-layang dari kertas.
Dan sebuah kartu bergambar rubah hitam.
Tak ada nama.
Tak ada sidik jari.
Tak ada petunjuk siapa pengirimnya.
Henri mengenakan sarung tangan kulit sebelum mengambil kartu itu.
"Kebiasaan lama."
gumamnya.
"Jangan pernah menyentuh barang dari musuh tanpa perlindungan."
Aku mengangkat sebelah alis.
"Kita sedang menghadapi pembunuh profesional..."
"...atau guru laboratorium?"
Léo tertawa.
"Kalau guru laboratorium lebih menyeramkan."
"Aku pernah gagal pelajaran kimia."
"Itu karena kau mencoba meminum percobaannya."
"Itu terlihat seperti jus apel."
"Itu alkohol murni."
"Aku masih hidup."
"Itu keajaiban."
── Maël kepada kalian ──
Orang bilang...
Sekolah itu penting.
Mungkin benar.
Aku sendiri belajar membaca dari koran bekas.
Belajar berhitung dari uang receh.
Dan belajar berlari...
Dari polisi.
Setiap orang punya sekolahnya masing-masing.
Jalanan...
Adalah sekolahku.
── Kembali ke cerita ──
Henri membalik kartu itu beberapa kali.
"Tidak ada apa-apa."
bisiknya.
Étienne mendekat.
"Tunggu."
Ia mengambil korek api dari sakunya.
Aku langsung mundur.
"Hei!"
"Mau dibakar?"
Étienne menggeleng.
"Kadang tinta rahasia baru muncul kalau dipanaskan."
Léo langsung berbisik kepadaku.
"Keren."
Aku mengangguk.
"Film detektif ternyata tidak bohong."
Api kecil didekatkan ke bagian belakang kartu.
Perlahan...
Tulisan berwarna cokelat mulai muncul.
Camille membacanya pelan.
Les Enfants Invisibles.
Aku mengernyit.
"Itu apa?"
Madame Odette menjawab pelan.
"Anak-anak yang Tak Terlihat."
Ruangan kembali sunyi.
Henri menutup mata.
"Aku berharap nama itu tidak pernah muncul lagi."
Aku menatapnya.
"Siapa mereka?"
Henri menarik sebuah kursi.
Duduk.
Lalu memandang ke luar jendela.
"Paris..."
katanya pelan.
"...memiliki ribuan anak jalanan."
"Sebagian kehilangan orang tua."
"Sebagian kabur dari rumah."
"Sebagian..."
"...bahkan tidak pernah memiliki akta kelahiran."
Aku mengangguk.
"Aku kenal banyak anak seperti itu."
Henri melanjutkan.
"Pemerintah hanya mengenal anak-anak yang tercatat."
"Lalu yang tidak tercatat?"
"Mereka..."
"...tidak pernah benar-benar ada."
Kalimat itu membuatku membeku.
Aku tahu persis maksudnya.
Kalau seseorang tidak punya identitas...
Tidak ada yang akan mencarinya saat menghilang.
Tidak ada berita.
Tidak ada laporan.
Tidak ada pencarian.
Hanya...
Hilang.
Seolah tidak pernah lahir.
Étienne membuka sebuah peta tua Paris.
Di atasnya terdapat puluhan titik merah.
"Apa ini?"
tanyaku.
"Tempat anak-anak jalanan biasa berkumpul."
jawabnya.
Aku memperhatikan peta itu.
Stasiun metro.
Jembatan.
Lorong.
Pasar.
Gudang tua.
Beberapa tempat bahkan pernah kutiduri.
"Tunggu."
kataku.
"Yang ini..."
Aku menunjuk sebuah titik di dekat Sungai Seine.
"Aku kenal tempat ini."
Henri mengangguk.
"Itu sebabnya kami membutuhkanmu."
Aku tertawa kecil.
"Hebat."
"Akhirnya ada juga yang membutuhkan keahlianku."
Léo menyikut bahuku.
"Bangga jadi tunawisma?"
"Bukan."
"Profesional jalanan."
Camille tiba-tiba mengeluarkan sebuah map tipis.
Di dalamnya terdapat puluhan foto anak-anak.
Usia mereka berbeda-beda.
Ada yang masih lima tahun.
Ada yang mungkin enam belas.
Semuanya tersenyum.
Namun...
Di sudut setiap foto terdapat cap merah bertuliskan:
DISPARU
"Hilang."
Aku membuka foto demi foto.
Jumlahnya terlalu banyak.
"Tidak mungkin..."
gumamku.
"Sebanyak ini?"
Camille mengangguk.
"Dalam lima belas tahun terakhir."
"Tak ada yang menemukan mereka?"
"Sebagian ditemukan."
"Lalu?"
"Dalam keadaan sudah meninggal."
Ruangan mendadak terasa jauh lebih dingin.
Aku menatap foto-foto itu lebih lama.
Mereka bukan tokoh berita.
Bukan anak pejabat.
Bukan anak orang kaya.
Hanya anak jalanan.
Orang-orang yang sering dilewati tanpa dipedulikan.
Dadaku terasa sesak.
Karena...
Aku bisa saja menjadi salah satu dari mereka.
── Maël kepada kalian ──
Kalian pernah berjalan melewati seorang anak yang sedang meminta uang?
Pernah.
Aku juga.
Karena dulu...
Aku adalah anak itu.
Orang-orang sering berpikir kami tidak punya mimpi.
Padahal...
Kami hanya terlalu sibuk bertahan hidup untuk sempat memikirkannya.
── Kembali ke cerita ──
Henri berdiri.
"Lambang rubah hitam..."
katanya.
"...berhubungan dengan hilangnya anak-anak ini."
Aku mengangkat kepala.
"Jadi mereka penculik?"
Étienne menggeleng.
"Belum tentu."
"Lalu?"
"Mereka lebih pintar."
"Mereka membuat anak-anak itu..."
"...menghilang tanpa jejak."
Aku mengepalkan tangan.
"Kenapa?"
"Tidak ada yang tahu."
Marcel akhirnya berbicara setelah lama diam.
"Aku tahu."
Semua orang menoleh kepadanya.
Marcel tampak jauh lebih tua pagi itu.
Sorot matanya kosong.
"Aku pernah melihat mereka."
katanya lirih.
"Dua belas tahun lalu."
Henri langsung menatapnya.
"Marcel..."
"Sudah saatnya."
Marcel mengangguk pelan.
Ia memandangku.
Lama.
Sangat lama.
"Lima belas tahun lalu..."
"...aku bukan menemukanmu."
"Aku..."
"...mencurimu."
Aku merasa seluruh ruangan berhenti bergerak.
"Apa?"
Suaraku hampir tidak keluar.
Marcel menundukkan kepala.
"Aku mengambilmu..."
"...dari tangan mereka."
Tak ada seorang pun berbicara.
Léo bahkan lupa bercanda.
Camille memejamkan mata.
Madame Odette menggenggam rosario kecil di tangannya.
Aku hanya berdiri.
Mencoba memahami kalimat itu.
"Kau..."
"...menculikku?"
Marcel menggeleng cepat.
"Tidak."
"Aku menyelamatkanmu."
"Tapi..."
"...aku tidak pernah punya kesempatan menjelaskan."
Aku mundur satu langkah.
Dua langkah.
Pikiranku kacau.
Selama ini...
Aku menganggap Marcel adalah orang yang menemukanku.
Ternyata...
Ia justru membawa lari seorang anak yang bahkan belum bisa berbicara.
"Lalu..."
kataku dengan suara bergetar.
"...siapa yang mengejarmu waktu itu?"
Marcel perlahan mengangkat wajahnya.
Matanya merah.
"Pencipta Rubah Hitam."
"Siapa dia?"
Marcel menatap Henri.
Henri menutup matanya sejenak sebelum akhirnya menjawab.
"Namanya..."
"...Lucien Vallois."
Nama itu terasa asing.
Namun reaksi semua orang di ruangan membuatku tahu satu hal.
Orang itu...
Bukan sekadar penjahat.
Ia adalah awal dari seluruh mimpi buruk yang selama ini mengejarku.
Di luar toko buku...
Langit Paris mulai kembali cerah.
Orang-orang tertawa.
Kereta metro terus berjalan.
Turis sibuk mengambil foto.
Tak ada yang sadar...
Bahwa di sebuah toko buku tua di Rue des Martyrs...
Rahasia yang terkubur selama lima belas tahun...
Baru saja mulai terbuka.
── Maël kepada kalian ──
Kadang kita berpikir hidup kita berubah karena satu keputusan besar.
Nyatanya...
Hidupku berubah...
Karena seseorang memutuskan menggendong seorang bayi dan berlari.
Dan bayi itu...
Adalah aku.