Devita Bina Dheandita, gadis biasa yang berusia tujuh belas tahun, tiba-tiba terbangun di tubuh Sirena Stylanie Asthropel, seorang Putri yang terasing di Kerajaan Willamette. Sirena adalah tokoh antagonis dinovel yang berjudul Hiraeth. Parahnya, Devita terbangun di tubuh Sirena saat hendak dieksekusi mati, ending dari novel Hiraeth. Tidak ada alur yang bisa dia ubah agar dirinya tak dihukum mati.
Akhirnya Devita yang berada di tubuh Sirena itu terbebas dari hukuman mati. Disinilah perjuangannya untuk bertahan hidup serta mencari tahu alasan dia masuk ke tubuh Sirena. Hidup Devita sebagai Sirena rumit tatkala semua orang menyalahkan dirinya atas bangkitnya Raja Iblis Canopus karena simbol mawar hitam di keningnya yang merupakan simbol kutukan. Kutukan yang membuat dirinya menjadi target sang Raja Iblis. Dirinya dipaksa untuk menemukan Zifgrid, sang pengendali untuk mengendalikan Iblis Canopus yang terus membuat kekacauan di Vulcan, nama dunia yang dihuni oleh Sirena.
Semuanya semakin rumit bagi Sirena tatkala dia menerima surat lamaran dari seorang Pangeran dari Kekaisaran Alioth yang dia anggap 'psikopat ganteng'.
Mampukah Devita menjalani kehidupannya sebagai Sirena? Mampukah dia meraih impiannya juga impian Sirena untuk bisa menemukan arti kebahagiaan?
***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pipit_vie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15: Bertemu Kembali
...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...
... Selamat Membaca...
...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...
Dalam novel Hiraeth, tidak diceritakan tentang kematian ibunda Sirena. Hingga akhirnya, Sirena mengetahui sendiri setelah mendapat ingatan dari Sirena asli.
"Ibunda Agalia adalah sosok ibu yang selama ini gue idam-idamkan, tapi sayang banget gue nggak bisa ketemu ibunda Agalia. Sirena benar-benar kehilangan cahayanya ..." Gumam Sirena setelah terbangun dari tidurnya.
Sirena baru saja terbangun dari tidurnya setelah mendapatkan ingatan milik Sirena asli dalam mimpinya. Di dalam mimpi, Sirena asli masih berumur lima tahun, umur yang masih kecil untuk anak kehilangan seorang ibu.
Agalia Xi Asthropel, adalah sosok ibu yang penyayang terhadap anaknya. Kematiannya begitu tragis karena dituduh hendak membunuh Ratu Amanita hingga membuatnya dijatuhi hukuman mati, yaitu hukuman gantung.
"Anakku, tidakkah kau mengerti sekarang tentang keadaan kita? Ibunda berharap kau tumbuh menjadi seorang Putri yang kuat! Ibunda bangga memilikimu, Sirena ..." Ibunda Agalia mengusap pipi Sirena kecil yang masih terisak-isak melihat wajah sang ibu yang pucat.
"Hiks ... I-ibunda j-jangan tinggalkan Sirena s-sendirian hiks ..." Sirena kecil menggenggam tangan ibunda begitu erat.
Ibunda Agalia tersenyum tipis, "Ibunda tidak pernah meninggalkan Sirena sendirian. Ingat kalung pemberian ibunda?" Sirena mengangguk terpatah-patah, "Jaga kalung steorra seperti kau menjaga ibunda ... Anggap kalung itu adalah pelukan ibunda, mengerti?"
Itu adalah kata-kata terakhir dari ibunda Agalia sebelum akhirnya diseret paksa oleh para legion atas perintah Raja menuju alun-alun peradilan.
Sirena yang diisi oleh Devita sekarang benar-benar mengerti bagaimana rasanya hidup sebagai Putri Sirena. Entah kenapa seorang antagonis tak pernah mendapatkan kesempatan untuk berbahagia barang sejenak saja. Hidupnya penuh kebencian dari orang-orang sekitar.
Tok tok tok
"Sirena, ini aku Adelphie, apa kau sudah bangun?"
Tok tok tok
"Ya, aku sudah bangun!" Sahut Sirena dengan sedikit berteriak agar Adelphie mendengarnya.
Cklek
Adelphie membuka pintu kamar Sirena sedikit lebar. Adelphie terkejut saat melihat wajah Sirena yang sembab, segera dia mendekati Sirena, "Apa yang terjadi denganmu? Apa kau baik-baik saja? Matamu membengkak!" Adelphie menunjuk kedua mata Sirena.
"Apa aku terlihat menyedihkan?"
Adelphie mengangguk, "Sangat! Kau ingin bercerita? Aku siap mendengar keluh kesahmu."
Sirena menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis, "Tidak perlu. Aku hanya teringat tentang ibunda, aku merindukannya."
"Begitu, ya? Hm, aku pernah mendengar ibuku bercerita tentang seorang selir yang dihukum gantung di alun-alun peradilan. Saat aku tahu, ternyata selir itu adalah ibumu. Aku turut berduka, Sirena." Adelphie memeluk Sirena erat sembari mengusap punggung Sirena.
"Kalau kau begitu merindukan ibumu, kau bisa bertemu dengan ibuku. Sekarang, ibuku adalah ibumu juga." Lanjut Adelphie.
"Terimakasih, Adelphie ..." Sirena membalas pelukan Adelphie.
Adelphie mengurai pelukannya, dia memandang Sirena yang masih terlihat pucat, "Apa kau masih sakit? Wajahmu masih terlihat pucat seperti tak dialiri darah."
Sirena menggeleng, "Aku sudah merasa lebih baik sekarang. Yang perlu dikhawatirkan adalah cacing-cacing di perutku. Mereka sudah berdemo meminta jatah makanan." Sirena mengusap perutnya berkali-kali sambil nyengir lebar. Semalam setelah pembicaraan menguras emosi itu, Sirena kembali tertidur dan melupakan niatnya untuk makan.
"Kebetulan Agda sudah memasak sup ayam andalannya. Sup ayam buatan Agda sangat enak, Sirena! Kau harus mencobanya!"
"Kalau begitu, ayo kita ke ruang makan!!" Ucap Sirena dengan semangat. Namun Adelphie langsung mencegahnya, sehingga membuat Sirena menatap bertanya pada Adelphie.
"Kebiasaan sekali kau, Sirena! Mandi dahulu sebelum makan! Lihatlah dirimu sekarang, benar-benar kacau seperti kucing jalanan."
Sirena dibuat tercengang mendengar ucapan Adelphie, "Kejam sekali mulutmu, Adelphie!"
Adelphie bersidekap dada sembari menyeringai, "Apa kau baru tahu betapa kejamnya mulutku, hm?"
"Anjir! Songong banget ni anak!" Sirena mencibir Adelphie sembari bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju kamar mandi.
"Kau berbicara apa, Sirena?"
"Lupakan! Aku akan mandi, jangan lupa tutup pintunya!"
"Ya ya ya, aku akan menunggumu di ruang makan bersama Agda." Adelphie yang paham usiran halus Sirena pun segera melenggang pergi.
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
Suasana ruang makan diisi oleh tawa ketiga wanita yang saling meledek satu sama lain.
"Sirena, kau harus tahu, hahaha ... Agda, dia pernah menggaruk pantatnya karena gatal dihadapan Pangeran Elanus! Astaga! Aku tidak pernah tidak tertawa setiap ingat kejadian itu, hahaha ..."
Sirena tertawa meledek ke arah Agda yang tengah menahan malu, "Ya ampun, Agda! Kau memalukan sekali, hahaha ... Kapan kejadian itu?"
"Saat mempersiapkan pesta ulang tahun untukmu, Sirena."
"Tutup mulut sampahmu itu, Adelphie! Kau benar-benar membuatku tak punya muka lagi!" Agda begitu geram kepada Adelphie.
Sirena mencoba meredakan tawanya, setelah mereda Sirena berdehem, dua orang dihadapannya pun mengerti kalau ada yang ingin dibicarakan oleh Sirena.
"Aku ingin pergi ke perpustakaan Kekaisaran."
Adelphie dan Agda membulatkan matanya, "Perpustakaan Kekaisaran sangatlah jauh, Sirena! Dengan apa kita kesana? Kalau menggunakan kereta kuda, akan membutuhkan waktu dua hari, sedangkan kau sendiri sedang dihukum oleh Raja dilarang keluar istana."
Sirena lupa, dia sedang dalam masa hukuman. Tepat setelah pulang dari Kekaisaran Alhena, Raja dan para dewan istana membuat hukuman untuk Sirena. Hukuman itu adalah berupa larangan untuk keluar istana kerajaan selama satu bulan mendekati hari pernikahan Elephas dan Nervilia. Raja takut, Sirena memiliki rencana jahat untuk menggagalkan acara pernikahan Nervilia bila dia dibiarkan berkeliaran bebas. Alasan itulah Manor Chysanthemum dijaga ketat oleh para legion.
"Kenapa kita tidak menggunakan portal saja? Sebelum itu kita harus menyamar. Bagaimana ideku?"
Kepala Sirena sontak dijitak oleh Agda, "Apa kau kehilangan akal, Sirena? Kau tak ingat yaa, portal kerajaan dijaga ketat oleh legion istimewa. Akan sulit bagi kita menembus keamanannya."
Portal kerajaan terletak di taman depan istana utama. Portal kerajaan dijaga ketat oleh legion istimewa, legion yang memiliki sihir. Tentunya akan membuat Sirena kesusahan, mengingat dia tak memiliki sihir yang sama seperti saudara-saudaranya. Bahkan anak sekecil Tamarinda saja memiliki sihir.
"Ayolah bantu aku ... Kalau menunggu hukumanku selesai, akan sangat lama!"
Adelphie menjentikkan jarinya, "Begini saja. Aku dan Agda akan membantumu menggunakan portal kerajaan. Tetapi, aku dan Agda tak bisa menemanimu menuju perpustakaan Kekaisaran. Kau akan kesana sendiri ..."
Ketiga wanita semakin merapatkan kepala mereka untuk berdiskusi. Adelphie menjelaskan rencana dadakan miliknya kepada Agda dan Sirena.
"Jadi, bagaimana, Sirena? Apa kau setuju dengan ideku?"
Sirena menatap takjub Adelphie, "Kau memang teman yang bermanfaat untukku, Adelphie!"
"Kapan kita akan memulai rencananya?"
"Malam ini, lebih cepat lebih baik." Ucap Sirena dengan yakin.
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
Sirena menatap sekeliling dengan waspada. Sirena akan pergi ke taman depan istana lewat jalan tikus yang diberitahu oleh Adelphie. Lorong yang tengah dilewati Sirena tak dijaga ketat oleh legion, hanya ada dua sampai tiga legion yang berpatroli.
Setelah melewati lorong sepi dari Manor miliknya, akhirnya dia sampai di samping bangunan istana utama, dimana saudara-saudaranya, Raja dan Ratu berada.
Sirena merapatkan jubah yang dia kenakan. Dia merapatkan tubuhnya ke pohon mangga di sebelahnya tatkala melihat dua legion akan melewatinya.
"Adelphie kemana sih? Lama banget!" Sirena menggerutu, sudah hampir lima belas menitan dia menunggu, tapi sosok Adelphie belum terlihat untuk menjalankan aksinya.
"ASTAGA ADELPHIE!"
Sirena menyunggingkan senyumnya kala mendengar pekikan Agda. Adelphie sudah memulai aksinya. Sirena mengintip, disana Adelphie nampak terjatuh dan membuat beberapa barang bawaannya jatuh berserakan.
Para legion yang melihat itu sontak membantu Adelphie. Saat itulah Agda melihat Sirena, kemudian memberi isyarat. Sirena mengacungkan jempolnya ke arah Agda, lalu secepat kilat Sirena berlari tanpa suara menuju taman depan istana utama.
Sirena menghembuskan nafas lega setelah berhasil memasuki taman istana. Sirena berjalan lebih dalam lagi hingga akhirnya dia sampai di tengah taman yang luas namun sepi, hanya terdengar suara air dari patung air mancur yang ada ditengah taman.
Sirena bingung, "Dimana portalnya? Kok nggak ada sih?"
Sirena benar-benar bingung sekarang. Dia tak tahu ternyata portalnya disembunyikan. Sirena pun memutari taman yang luas itu hingga setengah jam lamanya.
"Huahhh!!" Sirena terduduk lemas, "Apa usaha gue ini bakal sia-sia? Kenapa nggak ada petunjuk sama sekali, sih?"
Tanpa sengaja tatapan Sirena tertuju pada patung air mancur yang sedikit aneh. Sirena berdiri dari duduknya lalu berlari kecil menuju patung air mancur. Sirena memperhatikan sebuah lingkaran yang ada diatas patung. Sirena mengulurkan tangannya menyentuh air mancur itu sembari berharap portalnya muncul.
Sring
Saat Sirena berbalik, dia dikejutkan dengan lingkaran berukuran sedang yang dikelilingi cahaya ungu di depannya.
"Wow! It's amazing!"
Sirena pun mendekati lingkaran itu, seketika tubuhnya tertarik begitu kuat masuk ke dalam lingkaran itu.
"ARGHH!" Sirena merasakan tubuhnya seperti diputar-putar dengan begitu kencang.
Brugh
"ADOHHH!!!" Sirena terjatuh ke tanah.
Sirena pun bangkit, mengusap pantatnya yang sedikit nyeri sembari melihat sekeliling. Sirena merasa tak asing dengan tempat dimana dia berada sekarang.
"Hutan Lafayetii ..." Sirena akhirnya mengingat, "Kenapa nggak langsung sampe di perpustakaan aja sih? Kenapa kudu mangkir di hutan? Nyeremin anjir!" Sirena bergidik ngeri.
Sirena mulai berjalan menyusuri hutan Lafayetii. Sirena harus keluar dari hutan Lafayetii dahulu agar bisa sampai di Kekaisaran Alhena. Baru setengah jalan, Sirena menghentikan langkahnya kala didepannya, dia dihadang oleh bandit hutan.
"Seorang diri ditengah hutan, hendak kemanakah, Nona cantik ini?" Salah satu bandit bertubuh gemuk memutari tubuh Sirena.
Seumur-umur, Sirena tak pernah menghadapi seorang bandit. Dia ketakutan sekarang.
'Gue lupa mempersiapkan batin kalau tiba-tiba ketemu dedemit manusia macem mereka, hiks ...' batin Sirena tersenyum kecut.
"B-bukan urusan kalian! Sekarang kalian minggir! Aku hendak lewat!"
Bandit lain kini ikut maju menghalangi Sirena, "Jangan terburu-buru, Nona ... Tidakkah Nona ini ingin bersenang-senang dengan kami terlebih dahulu?"
"*I*n your dream!" Bentak Sirena tanpa sadar. Setelahnya Sirena menepuk jidatnya, "Duh, cari mati namanya ini mah,"
"Wah wah! Ternyata Nona cantik orang terpelajar, ya?" Bandit bertubuh gemuk itu mencolek dagu Sirena yang langsung ditepis oleh Sirena.
'Udah kepalang tanggung, TROBOS AE LAH!!'
"Jangan macam-macam ya kalian! Berani menyentuhku, kalian akan dapat akibatnya!"
Lima bandit itu tertawa mengejek ke arah Sirena. Pimpinan bandit yang sedari tadi diam kini maju, "Akibat? Seperti apa akibatnya, Nona? Aku ingin tahu sekali!"
"BANGSAT!!! JANGAN SENTUH GUE, KAMPREET!!!!" pekik Sirena saat pimpinan bandit itu tiba-tiba memeluknya.
Bugh bugh
Dengan kekuatan penuh, Sirena menendang alat vital pria bandit itu hingga membuatnya kesakitan.
Melihat ada kesempatan, Sirena segera berlari kencang. Namun, karena para bandit itu memiliki sihir, Sirena terjatuh karena mendapat serangan.
Serangan sihir itu seperti menyetrum tubuh Sirena, hingga membuat kakinya terasa kaku tak bisa digerakkan.
"HAHAHAHA!" tawa para bandit itu menggelegar. Para bandit mulai mengelilingi Sirena yang tak bisa apa-apa sekarang.
"JANGAN MENDEKAT! TOLONGGG!!" Sirena mencoba berteriak minta tolong, dia berharap sekali ada seorang pangeran berkuda putih yang akan menyelamatkannya. Imajinasi yang terlalu mainstream.
"Jangan harap kau bisa kabur, Nona! Kau sudah melukai adik kecilku ... Kau harus mendapat akibatnya." Pimpinan itu maju dan Sirena segera menutup matanya. Dia pasrah. Dia tak bisa apa-apa sekarang.
'Sirena ... Maafin gue hiks ... Maaf kalau lo bakal kehilangan kepera-'
Jleb
"ARGHHH!!!"
Sirena merasakan wajahnya terkena cipratan air. Sontak Sirena segera membuka matanya dan betapa terkejutnya kala melihat pimpinan bandit itu memekik kesakitan dengan sebuah lubang di dada sebelah kirinya. Yang paling mengejutkan adalah ada pedang yang menembus di dada pimpinan bandit itu.
Sirena meraba wajahnya yang terkena cipratan tadi kemudian melihatnya. Sirena merasakan tubuhnya semakin lemas saat melihat tangannya yang berwarna merah, "D-darah ..."
Sirena kembali memandang ke depan, dimana para bandit tadi mati mengenaskan dengan dada kiri yang berlubang. Di tengah mayat para bandit itu, ada sosok berpakaian hitam bercadar yang merupakan sang pelaku pembunuhan para bandit itu. Dari penampilannya, Sirena menduga dia adalah seorang laki-laki.
Lelaki itu berjalan mendekat hingga berdiri di depan Sirena yang masih memandang terkejut dengan mulut menganga lebar.
"Sudah kuduga, kita akan bertemu lagi."
Deg.
'Suaranya ... Mirip banget sama milik psikopat ganteng!'
"PSIKOPAT GANTENG!"
Dibalik cadar hitam yang lelaki itu kenakan, sebuah seringai muncul. Lelaki itu jongkok, mengambil jarak dekat dengan Sirena, tangan lelaki itu menyentuh dagu Sirena.
"Ingat denganku, hm?"
...•───────•°•❀•°•───────•...
Terimakasih sudah membaca.
Ini cerita kedua saya, mohon dukungannya ya:)
Saya menerima kritik dan saran. Apakah cerita ini menarik?
makasih thor udh menghibur kami...tetap semangat untuk berkarya/Good//Good//Good//Heart//Heart//Heart//Heart/
cuma ada beberapa keadaan yg ga sinkron jadi membuat pembaca sedikit males untuk lanjut/mencari tahu lebih banyak. contohnya adalah ketika di satu pihak sedang darurat dan pihak lain meminta bantuan tapi masih terselip lelucon jadi rasa serius membaca puncak cerita jadi hilang.
terus fokus utama atau pemeran wanita utama lebih bagus memiliki cukup banyak andil pas puncak menegangkan dari cerita.
karna jika kelamaan itu menyebab emosi pembaca terkuras dan berakhir tidak tertarik untuk sekedar memberi like.
its real ya dari aku
terlepas dari itu aku suka ceritanya
slamat berkarya Author
untuk cerita ketiga sudah the best!
stay focus ya
awal baca sempet ga connect dengan alurnya ditambah nama tokoh yg panjang dan agak susah di eja 😁 tp aku tetap baca akhirnya nyambung juga🤭
good job thor🤗