Zahira Aulia Utami menikah dengan Galang Putra Hadian. Mereke sudah menikah selama delapan tahun dan di karuniai seorang putri cantik bernama Cantika Alya Putri Hadian, berusia enam tahun. Namun putri mereka memiliki hal yang berbeda dengan putri orang lain pada umumnya. Dia memiliki sesuatu yang spesial.
Rumah tangga mereka sebeanrnya baik-baik saja. Hanya memang satu tahun terakhir Aulia dan Galang sering bertengkar. Dan inti dari masalahnya adalah Cantika, Galang merasa malu memiliki anak yang dia pikir ga-gu. Dan itu semua karena Aulia. Dia menyalahkan Aulia sehingga membuatnya malu saat membawa mereka dalam pertemuan keluarga atau saat acara di kantor.
Semenjak itu, hubungan mereka terasa hambar, Galang seing pulang telat ke rumah.
pertengkaran terus berlanjut, apalagi keluarga Galang juga ikut campur hingga akhirnya Aulia dan Cantika melihat Galang bersama dengan seorang wanita bergandengan mesra. Hati Aulia rasanya semakin membeku. Tak ada lagi alasan untuk bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aulia 30
"Baiklah, hati-hati. Kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk minta tolong pada saya atau tetanga dan keamanan di rumah. Cantika biar saya yang jemput dan bawa main ke rumah dulu. Jangan sampai dia melihat pertengkaran orang tuanya!"
"Terima kasih Pak Ghani. Saya titip Cantika dulu!"
"Sama-sama, Aulia. Fokus saja pada urusanmu di rumah. Cantika aman bersamaku," jawab Ghani menenangkan, memberikan senyuman hangat yang menguatkan.
Aulia segera merapikan kembali tas kerjanya dan bergegas meninggalkan kantor hukum Pak Yuda. Rasa cemas yang sempat membayangi masa lalunya kini telah menjelma menjadi keberanian yang dingin. Di dalam taksi menuju rumah, dia menarik napas dalam-dalam, mempersiapkan mental untuk menghadapi badai yang sudah menunggu di depan pintu.
Begitu taksi berbelok masuk ke area perumahannya, Aulia langsung bisa melihat mobil Galang terparkir di depan pagar, sepertinya suaminya itu hari iini tidak pergi ke kantor. Di sana berdiri tiga orang yang sangat di kenal juga, Bu Ratna, dan adik Rika dan juga Pak Hendra. Wajah keempatnya tampak merah padam oleh emosi dan teriknya matahari. Dia juga melihat Galang beberapa kali mencoba memasukkan kunci pintu rumah mereka namun tak berhasil. Dan beberapa kali pula dia menendang pintu itu karena kesal.
Aulia turun dari taksi dengan langkah tenang namun anggun. Kehadirannya yang memang di tunggu langsung menyedot perhatian keempat orang itu.
"Nah, ini dia perempuan sombong dan tak tahu diri datang juga!" seru Bu Ratna begitu melihat Aulia berjalan mendekat.
"Berani-beraninya kamu membuat kami menunggu seperti pengemis di depan rumah anakku sendiri! Kenapa kamu bahkan mengganti kunci rumah ini, Aulia?"
Aulia tidak membalas makian itu. Dia menghentikan langkahnya beberapa meter di depan mereka, menatap ketiganya satu per satu dengan tatapan datar tanpa ekspresi.
"Di mana Belinda, Mas?" tanya Aulia langsung pada inti masalah, suaranya terdengar sangat tenang namun mematikan.
"Bukannya aku sudah bilang untuk membawanya juga? Kenapa hanya membawa Ibu, bapak dan Rika untuk menjadi tamengmu?"
Galang terkejut, wajahnya seketika pucat mendengar nama selingkuhannya disebut dengan begitu lugas di depan keluarganya. Bahkan dia melihat sendiri perubahan ekspresi dari Aulia. Dingin, dan tegas. Bahkan lebih dari yang dia lihat semlam. Kemana perginya Aulia yang selama ini penuh cinta dan selalu mengalah padanya?
"Aulia, jaga ya bicaramu! Jangan memfitnah yang tidak-tidak hanya karena kamu emosi! Sudah aku jelaskan jika semua yang kamu lihat tak seperti yang ada dalam bayanganmu! Satu malam aku rasa cukup untuk meladeni sikap cemburu buta dan kekanak-kanakanmu ini!"
"Fitnah? Cemburu buta? Dan kekanak-kanakan?" cibir Aulia yang sudah muak dengan kebohongan suaminya.
Aulia tersenyum sinis, lalu mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan beberpa foto-foto suami dan selingkuhannya ke nomor mereka.
"Foto ini diambil kemarin, Mas. Dan tebak apa? Aku punya puluhan foto lainnya, lengkap dengan rincian tempat dan tanggal sejak kalian memulai hubungan menjijikkan itu. Sudah aku bilang jangan berani remehkan aku! Kau jangan lupakan siapa aku sebelum menikah dan akhirnya memutuskan menjadi ibu rumah tangga!"
Bu Ratna dan Rika spontan melotot melihat layar ponsel Aulia. Suasana mendadak hening seketika. Bu Ratna menoleh ke arah anak laki-lakinya dengan tatapan tidak percaya, sementara Galang hanya bisa terpaku dengan rahang yang mengeras, tak mampu lagi mengelak dari bukti yang begitu nyata di depan matanya.
"Jadi... ini alasanmu mengusirku semalam?" bisik Galang dengan suara bergetar, menyadari bahwa posisinya kini benar-benar terpojok.
"Bukan cuma mengusirmu, Mas. Ini adalah alasan kenapa aku akan menghapus namamu dari hidupku dan hidup Cantika," jawab Aulia dengan penekanan di setiap kata.
Bu Ratna yang sempat terkejut, dengan cepat berusaha menguasai diri. Ego dan rasa tidak mau kalahnya kembali mengambil alih.
"Halah! Cuma gara-gara foto begitu saja kamu mau menghancurkan rumah tangga? Laki-laki itu wajar kalau khilaf, Aulia! Lagipula Galang itu bekerja keras siang malam cari uang, wajar kalau dia butuh hiburan. Kamu sebagai istri harusnya introspeksi diri, kenapa suamimu sampai melirik wanita lain!"
Aulia hampir saja tertawa mendengar pembelaan sarat kepalsuan dari mantan mertuanya itu.
"Khilaf Ibu bilang? Menelantarkan biaya terapi anak kandungnya sendiri demi membiayai perempuan lain, Ibu sebut itu khilaf? Bahkan kalian juga sempat datang dan mengamuk karena uang jatah dari suamiku berkurang dan mengira aku yang menghabiskannya. Mencaci maki aku bahkan menghina anakku yang tak lain adalah darah daging kalian sendiri. Setelah tahu anak kesayanganmu ini menghabiskan uang tabungan dan kartu kredit ratusan juta kenapa tidak mendatangi jalang itu?"
Aulia menatap lurus ke arah Bu Ratna yang seketika bungkam, wajah wanita tua itu memerah padam antara malu dan tertahan malu.
"Kenapa diam, Bu?" lanjut Aulia dengan suara tenang namun menusuk.
"Kenapa tidak bentak wanita itu seperti Ibu biasa membentakku? Karena Ibu takut? Atau karena Ibu baru sadar kalau anak kesayangan Ibu ini bukan cuma pengkhianat, tapi juga laki-laki bodoh yang rela membiarkan anaknya menderita demi memanjakan wanita simpanan?"
"Aulia! Cukup!" bentak Pak Hendra yang akhirnya bersuara, mencoba menyelamatkan harga diri keluarganya.
"Jaga sopan santunmu! Kami ini orang tua Galang!" Aulia menoleh lambat ke arah Pak Hendra. Senyum tipisnya melenyapkan sisa-sisa rasa hormat yang pernah ada.
"Sopan santun hanya berlaku untuk orang tua yang tahu cara menghargai orang lain, Pak," potong Aulia tanpa ragu.
"Selama ini aku diam, mengalah, dan menelan semua hinaan kalian karena aku menghormati Mas Galang sebagai suamiku. Tapi sekarang? Mas Galang cuma sampah di mata saya. Dan kalian tidak punya hak lagi menuntut sopan santun dari saya."
Rika, yang biasanya paling nyaring menyindir Aulia, kini melangkah mundur di belakang ibunya. Aura Aulia hari ini benar-benar berbeda, bukan lagi sosok menantu penurut yang bisa mereka intimidasi sesuka hati. Galang memegang kepalanya, frustrasi meluap dari raut wajahnya.
"Aulia... tolong, jangan seperti ini. Kita bisa bicarakan ini baik-baik di dalam. Kasihan tetangga lihat..."
"Kasihan tetangga?" Aulia tertawa sumbang.
"Waktu kamu pakai uang terapi Cantika buat beliin dia tas bermerek, kamu mikirin Cantika, Mas? Waktu kamu tidur di apartemen wanita itu, kamu ingat punya anak dan istri di rumah?"
Galang membeku seketika di tempatnya. Sejauh mana Aulia mengetahui hubungannya dengan Belinda? Jangan sampai Aulia meminta cerai darinya dan membuat ulah. Apalagi sampai melaporkan hal ini ke perusahaan tempatnya bekerja.