Miles Sterling hanyalah seorang menantu miskin yang dihina dan direndahkan oleh istri dan keluarganya. Saat ibunya sakit parah dan butuh biaya operasi $250.000, istrinya justru menghabiskan $300.000 untuk pesta mantan kekasihnya.
Namun takdir berkata lain. Miles ternyata adalah satu-satunya pemilik 50 koin NexaChain—mata uang kripto yang nilainya kini melonjak menjadi $40 miliar. Dalam semalam, ia berubah dari pengemis menjadi miliarder sekaligus CEO NexaChain Global. , perusahaan raksasa di balik koin tersebut.
Kini, dengan kekayaan dan kekuasaan yang tak terbayangkan, Miles siap membalas semua penghinaan. Tapi akankah ia mampu mempertahankan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Teman Lama
Miles langsung terbangun dari tempat tidurnya. Jantungnya berdebar kencang ketika getaran tajam ponselnya membangunkannya dari tidur.
Tangannya sedikit gemetar saat meraih ponsel dari laci di samping tempat tidur.
Layar ponsel menyala, menampilkan nama penelepon: Dr. Tyler.
Tanpa berpikir panjang, ia segera mengangkatnya.
"Halo? Dokter?" Suara Miles sedikit bergetar karena mulai diliputi kecemasan. "A... apa ada yang salah? Apakah... apakah ini tentang ibuku?”
Hening sejenak.
Tiba-tiba, terdengar tawa kecil yang ceria dari seberang telepon.
"Tenanglah, Tuan Sterling. Ini kabar baik," kata Dr. Tyler. "Operasinya berhasil. Ibumu selamat."
Miles terengah keras. Dadanya naik turun saat ia memejamkan mata sejenak.
Perlahan ia menjatuhkan diri ke tepi tempat tidur, satu tangan menempel di dadanya.
"Terima kasih," bisiknya lirih. "Terima kasih banyak, Dokter Tyler. Aku akan segera ke sana."
"Aku akan menunggumu," jawab sang dokter dengan ramah sebelum mengakhiri panggilan.
Miles langsung berdiri. Tiba-tiba tubuhnya yang kelelahan dipenuhi energi. Matanya menyapu seluruh ruangan.
Pakaian-pakaian mahal tergantung rapi di dalam lemari, sepatu-sepatu mengilap memenuhi rak sepatu, dan jam tangan mewah berkilauan tersusun di dalam kotak kacanya.
"Aku harus ke rumah sakit. Ibu harus tahu betapa hidup kami sudah berubah," gumamnya kepada diri sendiri sambil menatap langit-langit rumah besar itu.
Ia bahkan tidak sempat berganti pakaian. Masih mengenakan kaus sederhana yang kusut dan celana jins dari malam sebelumnya, Miles segera memakai sepatu sneakernya tanpa sempat mengikat talinya dengan benar. Ia meraih ponselnya lalu berlari keluar dari kamar.
Sesampainya di garasi, Miles melihat Maybach hitam serta semua mobil sport supermahal miliknya. Ia sempat berpikir untuk pergi ke rumah sakit dengan salah satunya agar lebih cepat, tetapi kemudian ia menggelengkan kepalanya.
"Aku sama sekali tidak bisa mengemudi," gumamnya sambil mengangkat bahu.
Ia memang belum tahu cara mengemudi, dan Laura mungkin masih tertidur di lantai atas.
Tak ada waktu untuk disia-siakan.
Tanpa ragu, ia melangkah keluar, lalu berjalan cepat menuju halte bus terdekat.
Ketika membelok di tikungan tajam dengan tergesa-gesa tanpa melihat ke depan, ia menabrak seseorang.
"Ugh!" seru mereka berdua bersamaan ketika berkas-berkas kertas beterbangan ke udara.
Miles terhuyung mundur dengan mata membelalak. Pria yang ditabraknya mengenakan setelan jas biru tua dan sepatu hitam mengilap. Seorang wanita bergelayut erat di lengannya, mengenakan gaun merah ketat serta sepatu hak tinggi yang tampak tidak nyaman dipakai.
"Lihat jalan kalau berjalan!" bentak pria itu dengan nada kesal.
"Maafkan aku," kata Miles cepat sambil langsung membungkuk untuk membantu mengumpulkan kertas-kertas yang berserakan. "Aku tidak melihat—"
"Masih saja ceroboh, ya?" sela pria itu. Nada suaranya kini berubah menjadi ejekan.
Miles berhenti sejenak. Tangannya masih terulur hendak mengambil sebuah map. Suara itu. Bukan hanya terdengar familiar—suara itu mustahil ia lupakan. Ia pernah mendengarnya pada masa paling kelam dalam hidupnya, saat masih kuliah.
Perlahan ia mendongak untuk memastikan, dan seketika perutnya terasa melilit.
Itu Valerie Cordelia. Valerie yang sama, mantan pacarnya semasa kuliah.
Dan di sampingnya berdiri Alvaro, berpakaian seperti pebisnis yang baru keluar dari majalah mewah, memegang sebuah map di satu tangan.
Sudut bibir Valerie terangkat membentuk senyum saat matanya mengamati Miles dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia tertawa pelan, tampak geli dengan apa yang dilihatnya.
"Ya ampun," katanya dengan nada mengejek. "Bukankah kau Miles, si miskin yang malang. Masih berkeliaran seperti anjing gelandangan?”
Miles berdiri perlahan. Kini kedua tangannya memegang dua map milik Alvaro. Ia berkedip dengan wajah terkejut, tenggorokannya terasa kering.
"Aku tidak menyangka itu kalian," katanya pelan tanpa menatap mata Valerie.
Alvaro tertawa kecil, sambil membenarkan kancing jasnya. "Oh, begitu? Atau mungkin kau memang tidak berani menatap mata kami?"
Valerie melipat kedua tangannya di dada lalu melangkah mendekat. "Kau tahu, aku masih ingat bagaimana dulu kau bilang aku akan menyesal meninggalkanmu demi Alvaro," katanya dengan nada penuh sindiran. "Tapi lihatlah dirimu sekarang, Miles. Dulu saja penampilanmu masih lebih baik. Setidaknya kau punya ponsel yang lumayan. Apa itu yang ada di tanganmu sekarang? iPhone 7 tua yang sudah usang? Ya Tuhan, kau sadar tidak sekarang sudah tahun 2026?"
Ia mendengus lalu membungkuk sedikit ke arah Miles, seolah sedang mengamatinya lebih dekat. "Astaga, bahkan celana jinsmu sudah pudar. Sepatu sneakermu itu juga barang palsu, ya?"
Miles tetap diam. Tatapannya jatuh ke trotoar, tetapi pikirannya tidak berada di sana. Pikirannya melayang kembali ke masa kuliah—ke hari saat Valerie mempermalukannya di depan seluruh kelas. Ke saat Valerie mengunggah kabar putusnya hubungan mereka di halaman publik kampus, sambil menertawakan bagaimana ia telah naik kelas dari ‘seorang pengemis menjadi pacar putra orang kaya, Alvaro.’ Semua orang menertawakannya dan mengejeknya selama berminggu-minggu.
Map-map di tangannya sedikit bergetar, tetapi ia tetap berusaha tenang.
Alvaro melangkah maju lalu merebut map-map itu dari tangannya. "Coba aku tebak," katanya sambil menyeringai. "Sampai sekarang hidupmu masih tidak ke mana-mana? Masih berkeliaran membawa mimpi-mimpi palsu dan kantong kosong?"
Valerie tertawa sinis. "Apakah kau pernah mendapatkan pekerjaan? Atau sampai sekarang kau masih hidup dari belas kasihan dan rasa iba murahan dari para wanita?"
Miles mendongak menatap mereka. Saat berbicara, suaranya tetap tenang. "Aku tidak punya waktu untuk menjawab setiap pertanyaan kalian. Aku sedang menuju tempat yang penting."
Ia melangkah melewati mereka, tetapi keduanya terus mengikuti dari belakang.
"Penting?" ulang Valerie sambil mendengus. "Maksudmu halte bus? Atau sekarang kau sudah mulai bekerja sebagai penyapu jalanan?" Ia tertawa terbahak-bahak.
Alvaro menyeringai. "Lima tahun, Miles! Sudah lima tahun sejak kita lulus kuliah, dan beginilah jadinya dirimu? Seorang pecundang miskin yang berkeliaran di jalanan?"
Miles mengatupkan rahangnya rapat-rapat, memaksa dirinya untuk tidak bereaksi. Tatapannya tetap lurus ke depan. Setiap kata yang mereka lontarkan terus terngiang di telinganya, tetapi ia menguburnya jauh di dalam hati.
Namun, saat ia mendekati halte bus, ia melewati sebuah lubang besar yang dipenuhi air lumpur. Tepat pada saat itu, ia mendengar suara sebuah mobil melaju dari belakang. Sebelum sempat bereaksi—
BYUR!
Gelombang besar air lumpur menyembur dari lubang itu dan membasahi seluruh bagian bawah celananya.
Cairan coklat yang berbau busuk menempel pada celana jinsnya dan memercik ke seluruh sepatu sepatunya. Baunya seperti air selokan yang tersumbat.
Orang-orang di sekitar spontan terkesiap. Sebagian tertawa. Beberapa menggelengkan kepala karena iba. Bahkan ada yang mengeluarkan ponsel untuk merekam kejadian itu.
Miles berdiri membeku, kedua tangannya mengepal di samping tubuhnya. Wajahnya memerah karena malu, tetapi ia tidak bergerak sedikit pun.
Mobil itu melambat lalu berhenti beberapa meter di depannya.
Kaca jendelanya yang gelap turun perlahan.
Dan disanalah Valerie. Wajah angkuhnya muncul dari balik jendela mobil dengan senyum lebar yang membentang dari telinga ke telinga.
"Ups," katanya manis, tetapi suaranya dipenuhi kepura-puraan. "Aku tidak melihatmu di sana. Kami sudah tidak tahu lagi rasanya berjalan kaki seperti ini."
Alvaro mencondongkan tubuh dari kursi pengemudi, kacamata hitamnya bertengger di hidung. "Hidup benar-benar baik kepada kita, ya, Sayang?" katanya sambil tersenyum. "Aku punya Honda City seharga lebih dari 17.000 dolar. Kau sendiri pernah punya seribu dolar tidak? Sementara Miles masih berkeliaran di jalan seperti anjing liar yang tidak punya rumah."
Mereka berdua tertawa terbahak-bahak.
miles ceo dingin dn kejam,agar lebih menarik membacanya thorr👍👍