Tiga tahun Davira bertahan dalam pernikahan perjodohan yang dingin dengan Arka. Baginya, Arka adalah satu-satunya tempat bersandar setelah ayahnya meninggal karena bangkrut dan adik laki-lakinya hilang tanpa kabar di luar negeri. Davira terus bertahan, berharap kehadiran seorang anak kelak bisa melunakkan hati suaminya.
Namun, takdir justru merenggut segalanya dalam semalam. Di saat dokter memvonisnya menderita kanker rahim stadium 3 dan harus mengangkat rahimnya.
Bukannya mendapat perlindungan, Davira malah dihujat mandul oleh ibu mertua dan adik iparnya. Arka yang tega bahkan memberinya ultimatum: menerima Sheila sebagai istri kedua, atau pergi dari rumah tanpa membawa sepeser pun uang.
Di titik terendah hidupnya, hati Davira mati. Dia memilih pergi membawa luka dan penyakitnya. Davira bersumpah akan sembuh, bangkit, dan kembali untuk membuat Arka beserta keluarganya membayar mahal setiap tetes air mata dan penghianatan keji ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almesha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Undangan dari Sang Kaisar Bisnis
Penandatanganan kontrak itu mengirimkan gelombang kejut seketika ke seluruh penjuru lantai bursa. Begitu V-Tech Investment merilis pernyataan resmi bahwa mereka telah menyuntikkan dana dan mengambil alih 55% kepemilikan saham Narendra Group, kurva grafik saham yang tadinya terjun bebas mendadak melonjak naik secara drastis dalam hitungan menit. Sentimen pasar berbalik arah. Narendra Group selamat dari jurang kebangkrutan, namun harga yang harus dibayar Arka terlalu mahal. Dia kini hanyalah seorang CEO boneka di perusahaan yang didirikan oleh ayahnya sendiri.
Sore itu, Vira kembali ke apartemen penthouse pribadinya di kawasan SCBD dengan tubuh yang lelah namun pikiran yang jernih. Dia melepas sepatu hak tingginya, menggantinya dengan selop rumah yang nyaman, lalu menuangkan secangkir teh kamomil hangat.
Baru saja dia ingin mengistirahatkan punggungnya di sofa, Reno melangkah masuk dari ruang depan dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan. Di tangannya, terdapat sebuah kotak beludru hitam berukuran sedang dengan pita emas yang diikat rapi.
"Kak, ada kiriman khusus untukmu. Baru saja diantarkan oleh kurir pribadi yang mengenakan seragam Atmadja Group," ucap Reno seraya meletakkan kotak itu di atas meja kopi di hadapan Vira.
Vira menaikkan sebelah alisnya. "Atmadja Group? Adrian?"
"Siapa lagi kalau bukan pria berkuasa itu," mendengus Reno, meskipun ada sedikit nada segan di dalam suaranya. "Dia tidak menggunakan jalur formal kantor. Kurirnya bilang, ini adalah pesan pribadi dari Tuan Adrian Atmadja untuk Vira Mahendra."
Vira mengulurkan tangan, membuka simpul pita emas dan mengangkat tutup kotak beludru tersebut. Di dalamnya, tidak ada perhiasan berkilau atau barang mewah yang biasa dikirimkan oleh para pria yang mencoba merayunya. Di dalam kotak itu justru terdapat selembar kertas gambar tebal berukuran A4 dan sebuah kartu undangan resmi berlapis emas.
Vira mengambil kertas gambar itu terlebih dahulu. Begitu melihat isinya, sudut bibirnya tanpa sadar melunak. Itu adalah coretan krayon khas anak-anak. Gambar tiga sosok manusia yang saling bergandengan tangan di bawah matahari berbentuk lingkaran kuning besar. Di bawah gambar itu, terdapat tulisan dengan huruf kapital yang agak miring dan kaku:
“PAPA, EL, TANTE CANTIK.” Di sudut kanan bawah, ada cap jempol kecil berwarna merah milik Elvano.
Vira merasakan kehangatan yang asing perlahan menjalar di dadanya. Sentuhan kecil dari kelingking anak itu semalam ternyata berbuntut pada sebuah gambar polos yang begitu tulus. Dia kemudian mengambil kartu undangan berlapis emas yang berada di bawah kertas gambar dan membaca isinya:
“Untuk Vira Mahendra.
Elvano tidak berhenti merengek sejak semalam karena merindukan 'Tante Cantik' yang ditemuinya di bandara. Aku mengundangmu untuk menghadiri jamuan makan siang pribadi di kediaman Atmadja pada hari Sabtu ini pukul dua siang. Tidak ada kamera, tidak ada urusan bisnis, tidak ada tekanan. Hanya ada aku, Elvano, dan sekeranjang makanan yang ia pilihkan sendiri untukmu. Aku berharap kamu tidak menolak harapan kecil dari putraku.
- Adrian Atmadja.”
Reno yang ikut membaca surat itu dari balik bahu Vira langsung berdeham kecil. "Taktik pria itu benar-benar cerdas, Kak. Dia tahu persis bahwa jika dia mengundangmu atas nama bisnis, kamu pasti akan mencari seribu alasan untuk menolak atau melemparkannya ke sekretaris. Tapi dia menggunakan anak kecil itu sebagai tamengnya. Benar-benar licik."
Vira meletakkan kembali surat itu ke atas meja, lalu bersandar di sofa sambil menatap gambar coretan tangan Elvano. "Ini bukan sekadar taktik, Reno. Adrian Atmadja adalah pria yang memegang kendali atas sepertiga perekonomian negara ini. Dia tidak perlu merendahkan diri menggunakan anaknya hanya untuk menjebak seorang wanita."
"Jadi... Kakak akan datang?" tanya Reno penasaran.
Vira terdiam sejenak. Pikiran logisnya memperingatkan bahwa terlibat terlalu dalam dengan keluarga Atmadja bisa menjadi bumerang bagi rencana balas dendamnya yang sedang berjalan. Adrian terlalu peka, terlalu kuat, dan terlalu berbahaya untuk didekati. Namun, ingatan tentang mata bulat Elvano yang menatapnya penuh harap membuat pertahanan es di hatinya goyah.
"Aku akan datang," jawab Vira akhirnya dengan nada suara yang mantap. "Bagaimanapun, aku berutang penjelasan pada anak itu. Dan... aku juga ingin tahu, pria seperti apa Adrian Atmadja di balik dinding istananya yang tertutup."
Hari Sabtu tiba dengan langit Jakarta yang bersih tanpa awan. Sebuah mobil Rolls-Royce hitam milik keluarga Atmadja sudah menjemput Vira di lobi apartemennya sejak pukul satu siang.
Vira memilih untuk tampil sederhana namun tetap memancarkan kelasnya. Dia mengenakan midi dress berwarna sage green dengan potongan minimalis, dipadukan dengan flat shoes putih dan rambut yang dikuncir kuda dengan rapi. Dia sengaja tidak mengenakan riasan tebal, hanya sedikit sapuan lipstik berwarna natural.
Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, mobil mewah itu memasuki sebuah kawasan privat di daerah Menteng. Gerbang besi raksasa yang dijaga oleh beberapa petugas keamanan berseragam hitam terbuka perlahan, menampilkan sebuah kompleks kediaman yang lebih mirip dengan istana modern di tengah kota.
Halaman rumput hijau yang luas membentang, dikelilingi oleh pohon-pohon pelindung yang rimbun. Di tengah-tengah halaman, terdapat sebuah bangunan megah bergaya arsitektur kolonial modern yang didominasi warna putih dan kaca-kaca besar.
Begitu mobil berhenti di depan teras utama, pintu mobil langsung dibukakan oleh pelayan senior. Namun, sebelum Vira sempat melangkah turun sepenuhnya, sebuah seruan melengking yang riang sudah terdengar dari arah pintu utama rumah.
"Tante Cantiiik!"
Sosok kecil Elvano berlari kencang keluar dari dalam rumah, mengabaikan seruan panik dari pengasuhnya yang mencoba mengejarnya. Bocah itu mengenakan kemeja kodok denim yang senada dengan kaos putihnya, tampak sangat menggemaskan.
Vira langsung berjongkok, merentangkan kedua tangannya dengan senyuman lebar yang tulus. Detik berikutnya, tubuh mungil Elvano menubruknya erat, memeluk leher Vira seolah-olah mereka adalah ibu dan anak yang sudah terpisah bertahun-tahun.
"El kangen banget sama Tante! Papa bohong, Papa bilang Tante sibuk nggak bisa datang!" adu Elvano dengan suara cadelnya, memajukan bibirnya dengan manja di ceruk leher Vira.
Vira terkekeh geli, mengusap punggung bocah itu dengan penuh kasih sayang. Rasa hangat yang luar biasa memenuhi dadanya, menghalau segala sisa trauma dan kekosongan yang selama ini dia rasakan akibat kehilangan kesempatannya untuk menjadi seorang ibu. "Tante kan sudah janji akan datang bertemu El. El sudah makan siang belum?"
"Belum! El nungguin Tante!" jawab Elvano riang, melepaskan pelukannya lalu menggenggam erat jemari tangan kiri Vira dengan tangan mungilnya yang hangat.
"Dia benar-benar tidak mau menyentuh makanannya sejak pagi karena menunggumu."
Sebuah suara bariton yang berat dan maskulin terdengar dari arah teras. Vira mendongak dan mendapati Adrian Atmadja sedang berdiri di sana, bersandar pada pilar marmer dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya.
Mencopot setelan jas formalnya yang kaku, Adrian siang itu hanya mengenakan kemeja linen putih dengan lengan yang digulung hingga ke siku dan celana kain abu-abu. Penampilannya yang kasual justru membuat aura ketampanan dan kematangannya sebagai seorang pria dewasa terpancar berkali-kali lipat lebih kuat.
Adrian melangkah mendekat, sepasang mata elangnya menatap Vira yang masih berjongkok memeluk putranya dengan pandangan yang teramat dalam dan penuh kelembutan.Tatapan yang tidak akan pernah bisa dilihat oleh rekan bisnis atau musuh-musuhnya di luar sana.
"Terima kasih sudah datang, Vira," ucap Adrian, mengulurkan tangannya untuk membantu Vira berdiri kembali. "Selamat datang di rumah kami."