Alysia percaya pernikahannya adalah jawaban atas doa setelah bertahun-tahun hidup sendiri. Saat Demian datang melamarnya, dia mengira akhirnya menemukan laki-laki yang memilih dirinya, bukan karena belas kasih, bukan karena keadaan, melainkan karena cinta.
Namun kenyataan yang menunggunya jauh lebih menyakitkan. Demian adalah duda muda dengan seorang anak kecil yang kehilangan sosok ibu. Dan Alysia baru menyadari satu hal setelah resmi menjadi istrinya. Dia tidak pernah benar-benar hadir sebagai perempuan yang dicintai. Dia hanya dipilih karena dianggap paling tepat menjadi ibu bagi anak Demian. Arkhasa.
“Aku menikahimu supaya anakku punya ibu.”
Kalimat itu mengubah segalanya.
Untuk pertama kalinya, Alysia memilih berhenti menunggu dicintai. Dia memutuskan pergi, meski harus meninggalkan anak yang sudah dia sayangi seperti darah daging sendiri.
Namun saat Alysia benar-benar menjauh, Demian mulai menyadari sesuatu yang terlambat dia pahami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alysia 28
Cahaya lampu ruang kerja Damian yang temaram menjadi saksi bisu kegigihan pria itu. Malam semakin larut, namun pikirannya justru semakin ta-jam. Dokumen-dokumen yang tadi dia amankan di dalam flashdisk terenkripsi kini tersaji di layar laptopnya. Ini adalah amunisi, tapi juga surat kematian bagi posisinya jika dia tidak bergerak dengan perhitungan yang matang.
Damian telah mengirimkan pesan terenkripsi ke firma hukum yang telah dia tunjuk secara rahasia. Dia tidak bisa lagi mempercayai siapapun di kantor ini. Ibunya, Berlian, Pak Kuncoro, telah menanamkan pengaruh terlalu dalam, seolah-olah perusahaan ini adalah papan catur miliknya pribadi, dan Damian hanyalah boneka yang seharusnya menuruti setiap perintahnya.
Damian teringat kembali percakapan dengan mertuanya tadi.
“Membangun kembali kepercayaannya dari reruntuhan bukanlah hal yang mudah! Perlu perjuangan lebih besar lagi”
Damian membuka file laporan keuangan fiktif yang selama ini disembunyikan oleh orang-orang kepercayaan ibunya. Tangannya sedikit gemetar saat melihat angka-angka yang dimanipulasi untuk menutupi kerugian perusahaan demi membiayai ambisi pribadi ibunya.
Selama ini, dirinya terlalu takut untuk melihat ini, terlalu takut jika harus mengakui bahwa darah dagingnya sendiri adalah musuh utama dari integritas yang dimiliki.
Ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah pesan masuk dari Rian.
“Pak, pertemuan dengan firma hukum sudah dikonfirmasi. Mereka akan datang pukul 07.00 pagi ini ke lokasi yang Bapak minta, bukan di kantor. Kita harus sangat berhati-hati, Pak Kuncoro sudah mulai memantau pergerakan Bapak.”
Damian membalas singkat,
“Pastikan tidak ada yang mengikuti. Saya akan sampai di sana tepat waktu.”
Damian menatap foto Alysia dan Arkhasa yang terpasang sebagai wallpaper di ponselnya. Wajah hancur dan kecewa Alysia yang terbayang dalam ingatannya tadi malam terasa seperti cambuk. Dia tidak hanya sedang melawan ibunya, dia sedang melawan kelemahan dirinya sendiri yang selama ini membiarkan orang-orang yang di cintai menjadi tumbal kenyamanan hidupnya.
Damian menutup laptopnya dengan keras. dia berdiri, meregangkan otot-ototnya yang kaku. Di luar, langit mulai berubah warna, perlahan menyambut fajar yang dingin.
"Ini bukan lagi tentang mempertahankan kursi jabatan," gumam Damian pada kesunyian ruang kerjanya.
"Ini tentang mendapatkan kembali hak untuk menyebut diriku sebagai suami dan ayah yang layak."
Dia berjalan keluar dari ruang kerjanya, melewati koridor yang sunyi. Setiap langkahnya terasa lebih ringan, meski beban di pundaknya belum berkurang sedikit pun. Ia tahu hari ini akan menjadi awal dari perang yang sesungguhnya. Pertemuan nanti pagi bukan hanya tentang hukum, melainkan tentang bagaimana ia akan memutus rantai kendali ibunya selamanya.
Damian masuk ke dalam mobilnya, menyalakan mesin, dan memacu kendaraan itu menuju titik pertemuan. Dia tidak lagi melihat ke belakang ke arah gedung perusahaan dengan rasa takut. Untuk pertama kalinya, ia menatap ke depan dengan satu tujuan yang jelas. Menghancurkan segala bentuk manipulasi yang mengikat keluarganya, meski dia harus kehilangan segalanya di perusahaan itu sendiri.
Dia siap jika harus kehilangan harta, namun dia tidak akan membiarkan dirinya kehilangan Alysia untuk kedua kalinya.
Saat mobilnya berhenti di sebuah kafe terpencil di pinggiran kota, dia melihat pengacara yang di sewa sudah menunggu. Damian menarik napas panjang, merapikan dasinya, dan melangkah turun. Perang itu telah dimulai, dan kali ini, Damian tidak akan menjadi boneka yang diam saja saat orang yang dia lindungi selama ini Alysia dan Arkhasa terancam.
Pertemuan di kafe terpencil itu berlangsung singkat namun intens. Pengacara yang disewa Damian, seorang pria paruh baya bernama Baskara yang dikenal tanpa kompromi, menatap tumpukan dokumen digital itu dengan alis terangkat.
"Ini akan menjadi gempa bumi bagi perusahaan Anda, Damian," ujar Baskara datar setelah meninjau isi flashdisk tersebut.
"Jika dokumen ini dibuka, bukan hanya Pak Kuncoro yang akan terseret, tapi juga Bu Berlian. Dan yang pasti ibunda Anda sendiri Bu Chintya. Anda yakin siap menanggung konsekuensinya? Ini adalah sesuatu yang besar untuk karier Anda."
Damian tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya, namun terlihat sangat tegas.
"Karier saya sudah hancur sejak saya membiarkan istri saya menangis di sudut kamar sendirian selama bertahun-tahun, Pak Baskara. Lakukan yang harus dilakukan. Saya ingin mereka semua menerima konsekuensi hukum atas apa yang mereka lakukan."
"Baiklah jika memang keputusan anda sudah bulat, Pak Damian. Sebagai seorang profesional, saya akan melakukan pekerjaan yang terbaik!" jawabnya yang di angguki oleh Damian.
Setelah memberikan instruksi detail, Damian meninggalkan kafe tersebut. Ponselnya bergetar hebat saat dia baru saja duduk di balik kemudi. Panggilan masuk dari Berlian bergantian dengan ibunya, Chyntia.
Damian membiarkannya berdering. Dia mematikan ponselnya dan memasukkannya kembali ke dalam saku jasnya.
Tujuannya sekarang bukan kantor, melainkan rumah mertuanya. Dia tahu Alysia masih di sana.
Sesampainya di sana, suasana pagi terasa jauh lebih tenang daripada malam sebelumnya. Dari teras, dia bisa mendengar suara tawa kecil Arkhasa. Hatinya menghangat, namun juga mencelos. Dia adalah orang asing di sana, dan sadar betul bahwa untuk masuk kembali ke kehidupan mereka, harus melewati ujian yang panjang.
Saat pintu rumah terbuka, sang ayah mertua berdiri di sana. Pria itu tidak terkejut melihat kehadiran Damian yang begitu cepat kembali.
"Sudah selesai?" tanya pria itu.
"Belum, baru permulaan, Ayah," jawab Damian rendah.
"Alysia ada di dapur. Dia tidak tahu kamu datang. Saya hanya bisa memberi tahu satu hal, Damian, dia sudah berhenti menunggu. Jika kamu ingin dia kembali, jangan minta dia untuk memaafkanmu karena kamu adalah suaminya. Minta maaf karena kamu adalah manusia yang telah berbuat salah."
Damian mengangguk, melangkah masuk ke dalam rumah yang hangat itu. Dia melihat Alysia sedang membantu Arkhasa mengenakan sepatunya. Sosok Alysia terlihat jauh lebih tenang, namun ada tatapan kosong di matanya yang membuat Damian merasa sangat bersalah.
"Alysia," panggilnya lembut.
Alysia membeku. Tangannya yang sedang mengikat tali sepatu Arkhasa berhenti. Arkhasa menoleh, matanya berbinar melihat ayahnya, namun dia tetap diam, seolah menunggu reaksi sang ibu.
"Papa..." Panggil Arkhasa pelan tak bisa menyembunyikan binar bahagia di matanya.
Walau dia tak tahu apa yang terjadi kepada ayah dan ibunya. Namun yang pasti anak kecil itu merasa bahagia karena ayahnya kini lebih perhatian.
"Pagi jagoan papa..." sapa Damian.
Alysia berdiri perlahan. Dia tidak menatap Damian dengan kemarahan yang meledak-ledak, melainkan dengan ketenangan yang jauh lebih menakutkan. Ketenangan orang yang telah sampai di titik lelah maksimal. Dan Damian merasakan dadanya sesak melihat tatapan istri yang dia abaikan selama ini.
biar dy juga merasakan apa yg km rasakan Selama 6th Alysia ,,
cowok yg kayak gini nich...yg berpotensi menghancurkan rumah tangga sendiri,usia boleh dewasa tapi sifatnya yg masih belum dewasa....cerai aja sich alysia,di luar sana masih banyak laki-laki yg lebih dari si Damian,ngapain kamu masih mempertahankan laki laki yg masih belum selesai sama masa lalunya...cuman buang waktu juga nyakitin dirimu sendiri aja.
bukti kan dg tindakan mu
6th sia sia buang waktu.
cerai trus upgrade diri ntar semoga dpt jodoh yg lebih Dr Damian. yg penting gk di setir ortu plus laki yg terbuka dng masa lalu serta yg sdh moveon.
jika km tlah melihat kesungguhan serta bukti bahwa Damian bnr2 berubah ,, baru deh kesempatan mau km kasih atau gx ,,
terlalu takut kehilangan harta Dunia ,,
skraaang yg perlu km lakuin hanya memperbaiki semua ny Damian sblm bnr2 terlambaat