NovelToon NovelToon
Bad Boy X Good Girl (Musuh Jadi Cinta)

Bad Boy X Good Girl (Musuh Jadi Cinta)

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Scrpn

Bagi Aura, mahasiswa tingkat akhir penerima beasiswa penuh, hidup ini sederhana: belajar keras, lulus cepat, dan dapat kerja bagus demi menyembuhkan ibunya yang sakit. Dunia Aura diatur oleh jadwal kuliah yang ketat dan nilai IPK yang sempurna. Ia menjauhi segala bentuk masalah, termasuk Devan, mahasiswa jurusan hukum yang terkenal arogan, kerap bolos, dan selalu dikelilingi aura berbahaya. Devan adalah definisi nyata dari bad boy kampus yang harus dihindari.

Permusuhan mereka dimulai dari hal sepele—rebutan buku referensi langka di perpustakaan dan insiden kopi tumpah yang membuat Devan bersumpah akan membuat hidup Aura di kampus seperti neraka. Aura menganggap Devan tak lebih dari berandalan kaya yang manja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Kelumpuhan The Scorpion’s Tail di Distrik Otomasi Pelabuhan Utara seolah menjadi titik balik bagi pergerakan vertikal klan Bratadikara. Namun, dalam hukum fisika kekuasaan, setiap aksi pembersihan massal selalu menyisakan energi kinetik yang mencari celah pelepasan baru. Ketika korporasi global seperti Vanguard Maritim telah didekonstruksi hingga ke sel-sel terkecilnya, riak konflik tidak serta-merta menguap; ia menyusut, memadat, dan mengkristal menjadi bentuk yang paling murni sekaligus paling mematikan: balas dendam personal yang terarah.

Malam itu, Jakarta dibungkus oleh suhu udara yang tidak biasa dinginnya untuk bulan Juli. Di lantai paling atas Menara Bratadikara, keheningan kembali bertahta seperti sebuah draf perjanjian damai yang rapuh. Devanandra duduk di ruang kerjanya, menatap keluar dinding kaca ke arah kelap-kelip lampu pelabuhan di kejauhan. Di atas meja marmernya, sebuah belati komando berbilah hitam—sitaan dari Alexei Volkov—tergeletak di samping cangkir kopi yang sudah tak lagi mengepul.

Sret... Sret...

Suara langkah kaki yang halus di atas karpet beludru membuat Devan tidak perlu berbalik untuk tahu siapa yang datang. Aroma cendana yang familier langsung menenangkan sisa-sisa ketegangan saraf taktisnya.

Aura Kirana melangkah mendekat, masih mengenakan kemeja sutra putih yang kini dipadukan dengan celana panjang formal. Di tangannya, ia membawa sebuah map dokumen fisik berlapis segel lilin merah—sebuah metode komunikasi kuno yang sengaja mereka gunakan jika jaringan digital dianggap terlalu berisiko untuk disentuh.

"Ada celah baru yang belum tertutup, Dev," ucap Aura, suaranya terdengar jernih namun memiliki vibrasi rendah yang menandakan urgensi hukum yang serius. Ia meletakkan map tersebut tepat di atas meja, di samping belati Volkov.

Devan menegakkan punggungnya, sepasang mata elangnya mengunci pandangan mata cokelat Aura. "Dari mana asalnya, Good Girl? Apakah ada sisa rekening Vanguard yang lolos dari pembekuan Kenzo?"

"Bukan keuangan, melainkan draf yurisdiksi ekstradisi," Aura membuka segel lilin tersebut secara perlahan, memperlihatkan selembar surat berkepala surat resmi dari Mahkamah Internasional yang baru diterbitkan tiga jam lalu. "Pengadilan Tinggi di Jenewa baru saja menerima pengajuan banding darurat dari firma hukum bayangan yang mewakili sisa-saika direksi Vanguard. Mereka menggunakan celah Konvensi Wina pasal tiga puluh dua mengenai imunitas diplomatik korporasi konsorsium asing."

Aura menjeda kalimatnya, menunjuk pada satu klausul khusus dalam dokumen tersebut. "Mereka menuntut balik Bratadikara Group atas tindakan agresi militer ilegal di perairan internasional saat kamu mencegat helikopter Volkov kemarin. Jika draf gugatan ini divalidasi oleh dewan pengawas PBB besok pagi, seluruh draf penahanan aset Vanguard yang kita sita di Singapura akan dibatalkan demi hukum. Kita akan dipaksa mengembalikan dana tiga triliun rupiah tersebut, dan kamu... akan menghadapi surat perintah penangkapan internasional sebagai kombatan ilegal."

Konflik panjang ini tampaknya menolak untuk mati. Ia terus berganti kulit, bertransformasi dari sabotase fisik di Selat Malaka, manipulasi siber di pasar modal, hingga kini menyerang langsung ke dalam episentrum hukum formal tertinggi yang menjadi perisai utama Aura.

"Mereka tahu mereka tidak bisa mengalahkan kita di lapangan, Dev," Aura berjalan ke belakang kursi Devan, meletakkan kedua tangannya di atas pundak tegap suaminya, meremasnya lembut untuk menyalurkan kekuatan. "Jadi mereka mencoba menggunakan hukum dunia atas untuk mengikat tanganmu, membuatmu tidak bisa bergerak sementara mereka menyusun ulang faksi mereka dari luar negeri."

Devanandra meraih salah satu tangan Aura, membawanya ke depan bibirnya untuk mengecup punggung tangan istrinya dengan kelembutan yang dalam namun sarat akan ketegasan mutlak.

"Gue gak akan membiarkan ada satu pun institusi asing yang mendikte bagaimana gue melindungi tanah ini, Ra," suara berat Devan terdengar seperti deru mesin yang siap beroperasi. "Kenzo!"

Melalui speaker internal yang tersembunyi di sudut ruangan, suara Kenzo langsung menyahut dengan nada yang tidak kalah tegang. "Gue di sini, Bos. Gue udah memantau pergerakan draf gugatan itu di server Mahkamah Internasional. Sistem pertahanan siber mereka terlalu kokoh untuk ditembus secara instan tanpa memicu alarm proteksi global. Ini bukan masalah kode digital lagi, ini masalah validitas dokumen fisik di lapangan."

"Di mana dokumen asli dari pengajuan banding mereka disimpan saat ini, Ken?" tanya Aura, matanya menatap tajam ke arah layar sekunder di meja kerja Devan.

"Dokumen itu dibawa oleh utusan hukum khusus Vanguard, seorang pengacara hitam legam bernama Valeri Rostov. Radar intelijen darat Bram mendeteksi keberadaannya di dalam kompleks Kedutaan Besar negara sekutu mereka di kawasan Menteng—hanya dua blok dari rumah aman tempat Gavin dan Ibu Rahma diungsikan kemarin," jawab Kenzo.

Mendengar lokasi yang begitu dekat dengan perimeter perlindungan putranya, atmosfer di dalam ruang kerja Devan seketika anjlok ke titik beku. Aura merasakan cengkeraman tangan Devan pada jemarinya menegang keras. Jaringan laba-laba musuh ternyata belum sepenuhnya bersih; mereka sengaja menempatkan episentrum serangan hukum mereka di halaman belakang klan Bratadikara.

Pukul empat subuh, ketegangan bergeser ke area taktis di luar kompleks kedutaan asing di Jakarta Pusat. Hujan kabut tipis mulai turun, menyamarkan pergerakan tiga siluet hitam yang bergerak di antara bayang-bayang pohon tanjung di tepi jalan protokol.

Bram memimpin tim taktis penyusupan senyap, sementara Devanandra mengawasi dari dalam mobil komando tersembunyi yang terparkir lima ratus meter dari lokasi. Di samping Devan, Aura duduk dengan laptop militer yang terhubung langsung dengan sistem forensik dokumen siber milik klan.

"Tuan Muda, perimeter luar kedutaan sangat ketat. Ada protokol diplomatik yang melarang kita melakukan penggeledahan fisik di dalam tanah asing ini," lapor Bram melalui radio taktis frekuensi rendah. "Jika kita memaksa masuk untuk merebut dokumen Rostov, kita akan memicu insiden internasional yang bisa menghancurkan reputasi legalitas Nyonya Aura."

Aura mengambil alih mikrofon komando. "Bram, jangan lewati garis batas pagar. Kita tidak perlu merampas dokumen itu secara fisik. Sesuai dengan Hukum Acara Perdata Internasional Pasal 8, sebuah draf gugatan banding dinyatakan cacat hukum seketika jika tanda tangan digital dari notaris publik yang mengesahkannya terbukti dilakukan di bawah tekanan atau menggunakan identitas palsu."

Aura menoleh ke arah Devan, matanya memancarkan kilat kecerdasan hukum yang tajam. "Valeri Rostov mengira dia aman di dalam kedutaan, tapi dia harus melegalkan dokumen itu melalui server notaris lokal di Jakarta sebelum jam kerja dimulai agar draf gugatannya memiliki kekuatan eksekusi di Mahkamah Internasional."

"Gue tahu apa yang harus dilakukan," Devan berdiri, membetulkan letak rompi taktis di balik jas formalnya. "Gue akan memancing Rostov keluar dari zona nyamannya tanpa perlu melanggar hukum diplomatik."

Sepuluh menit kemudian, di dalam lobi kedutaan asing yang sunyi, Valeri Rostov—seorang pria paruh baya dengan setelan jas mahal dan tas kerja baja terikat di pergelangan tangannya—sedang menunggu proses sinkronisasi data di komputer tabletnya. Wajahnya yang dingin memancarkan kepuasan dari seorang birokrat yang merasa telah berhasil mengunci pergerakan mangsanya.

Kring... Kring...

Telepon internal di meja resepsionis kedutaan berdering. Petugas keamanan yang berjaga mengangkatnya, mendengarkan selama beberapa detik sebelum wajahnya berubah tegang. Ia menoleh ke arah Rostov.

"Tuan Rostov, ada seorang perwakilan dari Bratadikara Group di luar gerbang utama. Beliau membawa sebuah dokumen tanggapan resmi yang harus Anda tanda tangani secara fisik agar proses banding Anda tidak ditolak oleh sistem pabean domestik," kata petugas tersebut.

Rostov mengernyitkan dahi, senyuman miring yang meremehkan terukir di bibirnya. "Mereka mencoba bernegosiasi di menit-menit terakhir? Sangat khas bagi orang-orang daerah yang ketakutan hukum internasional."

Dengan rasa percaya diri yang tinggi karena berada di bawah perlindungan hukum diplomatik, Rostov melangkah keluar menuju gerbang besi kedutaan, dikawal oleh dua penjaga bersenjata internal.

Namun, begitu ia melangkah melewati garis batas gerbang luar—tepat di atas trotoar publik Jakarta—sosok Devanandra Bratadikara telah berdiri di sana, menjulang tinggi di bawah temaram lampu jalan subuh. Kehadiran Devan yang begitu intimidatif seketika membuat dua pengawal Rostov menghentikan langkah mereka dengan tangan reflek memegang sarung senjata.

"Tuan Bratadikara," Rostov menyapa dengan nada angkuh, mengangkat tas kerjanya. "Kehadiran Anda di sini tidak akan mengubah fakta bahwa besok pagi, seluruh aset Anda akan dibekukan oleh perintah Jenewa. Anda tidak punya yurisdiksi di sini."

Gisela Aura melangkah keluar dari balik bayangan mobil komando, berjalan dengan keanggunan seorang penguasa tertinggi hukum. Di tangannya, ia memegang sabak digital yang memancarkan cahaya biru, menampilkan draf forensik data transaksi yang baru saja diselesaikan Kenzo.

"Tuan Rostov," suara Aura yang jernih memotong angin subuh yang dingin. "Anda salah menilai batas yurisdiksi kami. Detik ini, saat Anda melangkah keluar dari gerbang untuk menemui kami, tablet digital Anda baru saja menyelesaikan sinkronisasi data melalui jaringan menara telekomunikasi lokal yang berada di bawah konsesi Bratadikara Group."

Aura menunjukkan layar sabaknya kepada Rostov. "Asisten taktis kami telah mendeteksi bahwa sertifikat notaris digital yang Anda gunakan untuk mengesahkan draf gugatan banding tersebut diterbitkan oleh sebuah perusahaan cangkang di Swiss yang kepemilikannya telah resmi dialihkan kepada klan Bratadikara sejak dua jam yang lalu melalui proses penyitaan aset Bank Artha Wijaya."

Wajah Rostov yang tadinya angkuh seketika berubah menjadi pucat pasi. Ia menatap layar tabletnya sendiri, di mana barisan kode enkripsi pengesahan dokumennya mendadak berubah warna dari hijau menjadi merah menyala dengan status: ACCESS DENIED - FRAUDULENT CERTIFICATE.

"Dengan kata lain," Aura melangkah maju satu langkah, menatap langsung ke dalam mata Rostov dengan pandangan dingin yang menghancurkan. "Dokumen yang Anda bawa tidak lebih dari sekadar kertas kosong tanpa nilai hukum. Anda tidak sedang mengajukan banding; Anda baru saja melakukan tindakan pemalsuan dokumen otentik di wilayah hukum Indonesia. Dan karena Anda berada di atas trotoar publik Jakarta saat ini... Tuan Devanandra memiliki hak penuh untuk menyerahkan Anda kepada pihak berwajib."

Rostov mencoba berbalik untuk berlari kembali ke dalam gerbang kedutaan, namun sebelum ia sempat mengambil satu langkah, sebuah cengan tangan sekeras baja dari Devanandra telah mengunci pundaknya. Devan memutar tubuh Rostov dengan satu gerakan taktis yang efisien, menekan pria itu ke arah kap mobil komando dengan kekuatan yang membuat tas baja di tangannya terlepas ke atas aspal.

"Permainan draf hukum kalian sudah berakhir, Rostov," bisik Devan tepat di dekat telinga pria asing itu, suaranya yang berat memancarkan ancaman kematian yang nyata tanpa perlu melepaskan satu peluru pun. "Sampaikan pada sisa-sisa direksi lo di Eropa: jika ada satu lagi dokumen atau orang asing yang mencoba mendekati wilayah anak gue, gue tidak akan lagi menggunakan ruang sidang Aura untuk menyelesaikan ini. Gue akan datang langsung ke Jenewa untuk menghapus nama Vanguard dari peta dunia."

Bram dan tim taktisnya langsung bergerak maju, memasangkan borgol besi pada pergelangan tangan Rostov sebelum memasukkannya ke dalam kendaraan kepolisian domestik yang telah menunggu di ujung jalan di bawah pengaturan tim hukum Aura.

Pukul enam pagi, cahaya matahari yang bersih dan hangat akhirnya menerobos kabut subuh, menyinari Menara Bratadikara dengan kemegahan yang utuh. Di dalam kamar rahasia di rumah Menteng, Gavinandra kecil tampak tertidur lelap dengan memeluk mainan lego arsitekturnya, tidak pernah tahu bahwa beberapa blok dari tempat tidurnya, sebuah pertempuran hukum dan fisik tingkat tinggi baru saja dimenangkan oleh orang tuanya.

Devanandra dan Aura berdiri di ambang pintu kamar putranya, menatap wajah damai Gavin dengan rasa lega yang tak terhingga. Devan melingkarkan lengan kokohnya di pundak Aura, menarik istrinya rapat-rapat ke dalam pelukannya.

"Konflik panjang ini benar-benar menguras segalanya, Ra," bisik Devan lembut, mengecup pelipis Aura dengan kelembutan yang dalam. "Tapi melihat dia bisa tidur seaman ini... semua darah dan ketegangan di lapangan rasanya tidak ada artinya."

Aura tersenyum, menyandarkan kepalanya di dada bidang Devan, menikmati detak jantung suaminya yang kembali teratur dan memberikan rasa damai yang mutlak. "Karena kita adalah perisai dan arsiteknya, Dev. Selama kita berdiri bersama, tidak ada satu pun celah hukum atau serangan siber yang bisa meretakkan fondasi masa depan yang kita bangun untuk Gavinandra."

Di bawah siraman cahaya fajar yang baru, klan Bratadikara sekali lagi membuktikan bahwa dinasti mereka tidak dibangun di atas pasir yang mudah longsor oleh konspirasi asing. Dengan kekuatan fisik perlindungan mutlak milik Devan dan kecerdasan manifes hukum yang agung milik Aura, mereka telah menutup draf konflik panjang tersebut dengan sebuah kemenangan bersih yang absolut—mengukuhkan posisi mereka sebagai penguasa sejati yang tidak akan pernah bisa digoyahkan oleh badai mana pun di semesta ini.

1
Ical Habib
lnjut thor
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
aaaa sosweet nyaa, ihh salting Mulu bacanya nihh aaa baguss kali ceritanya tapi kok gak rame ya.. padahal seru gini loh/Scowl/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
owhhh ternyata udahh nikahh, kukira pacaran loh tapi bagus lah langsung nikahh, ahhh bagusss dan seruu tauu ceritanya.. semangat!/Determined/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
aaaa akhirnya jadii pasangan benerann, ihhh salting Mulu Weh liatnyaa.. lanjut terus Ampe tamat ya thorr, semangatt!/Determined/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
awww lucuu mereka berduuaa, sosweet ihh akhirnyaaa Devan sadar sama perasaan nyaa /Grin/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
aaaa seruu banget ceritanya/Scream/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!