Nexus Academy bukan sekolah biasa. Hanya 1% siswa terbaik yang berhasil diterima setiap tahun. Dari lebih dari 120.000 pendaftar, hanya 600 siswa yang lolos melewati serangkaian tes yang hampir mustahil: tes logika ekstrem, simulasi kepemimpinan, wawancara psikologi, ujian ketahanan mental, hingga permainan strategi yang membuat ribuan peserta menyerah sebelum mencapai gerbang sekolah.
Mereka yang diterima disebut sebagai Elite One.
Namun tidak semua yang masuk mampu bertahan.
Setiap semester, siswa dengan nilai, etika, atau mental terburuk akan dikeluarkan tanpa kesempatan kedua. Di sekolah ini, tidak ada teman yang benar-benar bisa dipercaya. Tidak ada kemenangan tanpa pengorbanan dan tidak semua siswa jenius adalah orang baik. Sebuah rahasia yang membuat beberapa alumni menghilang tanpa jejak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Jawaban yang Salah
Papan pengumuman digital di langit-langit Gedung Kompetisi mendadak berubah. Jadwal yang tertera di kartu perak peserta bergeser secara sepihak oleh sistem. Tahap kelompok akademik ditangguhkan; sebagai gantinya, papan skor memunculkan tulisan besar: Tahap Empat — Wawancara Psikologi Terintegrasi.
Seratus delapan puluh peserta yang tersisa segera dipecah dan diarahkan menuju bilik-bilik kaca kedap suara yang berjejer di sepanjang koridor Lantai 3. Tidak ada panel penguji yang tersenyum ramah. Di dalam setiap bilik, hanya ada sebuah meja logam, dua kursi yang saling berhadapan, dan seorang pewawancara bersetelan formal kelabu yang tatapannya sekeras dinding beton.
Keisya Aurellia Wibisono masuk ke Bilik 14. Begitu pintu mekanis di belakangnya terkunci, dingin langsung menyergap. Di seberang meja, seorang wanita paruh baya dengan rambut disanggul ketat sedang menatap layar tabletnya, bahkan tidak mendongak saat Keisya duduk.
"Keisya Aurellia Wibisono. Peringkat dua nasional," wanita itu membuka suara dengan nada monoton yang sengaja dirancang untuk menekan. "Kita langsung mulai. Skenario pertama: Jika kamu harus memilih antara membocorkan kecurangan sahabat terdekatmu demi mempertahankan beasiswamu sendiri, atau diam dan membiarkan kalian berdua dikeluarkan karena sistem sanksi kolektif Nexus, apa yang kamu lakukan?"
Keisya menata posisi duduknya, punggungnya tegak lurus. "Saya akan melaporkannya sebelum sistem mendeteksinya secara kolektif. Itu pilihan paling logis untuk menyelamatkan aset yang tidak bersalah."
Wanita itu tidak mencatat apa pun. Matanya yang tajam menatap lurus ke manik mata Keisya. "Jawaban yang sangat pragmatis. Tapi bagaimana jika sahabatmu melakukan itu karena dipaksa oleh pihak yayasan untuk menguji loyalitasmu? Maka laporanmu justru membuktikan bahwa kamu tidak memiliki loyalitas pada faksi internal."
Keisya tertegun satu detik. Pertanyaan ini sengaja dirancang tanpa jalan keluar yang bersih. Jika ia memilih moral, ia melanggar logika kompetisi. Jika ia memilih ambisi, ia masuk ke dalam jebakan loyalitas.
"Pertanyaan Anda tidak memiliki parameter yang valid," cetus Keisya, mencoba menarik kendali kendali percakapan. "Itu adalah paradoks yang sengaja dibuat untuk menyudutkan pilihan."
Wanita di depannya tidak membantah. Ia justru mengetuk layar tabletnya, dan detik itu juga, layar di atas meja Keisya menampilkan grafik fluktuasi pupil mata dan ritme detak jantung Keisya yang diambil secara real-time oleh sensor di bawah meja.
"Kami tidak sedang menilai validitas jawabanmu, Keisya," kata wanita itu dengan senyum tipis yang dingin. "Kami sedang mengukur berapa milidetik otakmu ragu sebelum berbohong, dan bagaimana tekanan darahmu naik saat ambisimu berbenturan dengan moralitas yang kamu agungkan. Di Nexus, tidak ada jawaban yang benar. Yang ada hanyalah jawaban yang salah, dan bagaimana caramu mengelola kesalahan itu."
Keisya merasakan tenggorokannya kering. Ia menyadari realitas menakutkan dari tahap ini: para pewawancara ini adalah predator psikologis yang sedang membedah isi kepala mereka, mencari celah emosional terkecil untuk bisa digunakan sebagai alat kendali di kemudian hari.
Di Bilik 01, Atharva menghadapi seorang pria paruh baya berkacamata tebal yang sejak tadi terus membolak-balik berkas riwayat hidupnya yang kosong.
"Atharva. Kamu tidak memiliki rekam jejak yang jelas, namun skormu sempurna," pria itu meletakkan tabletnya. "Pertanyaan saya sederhana: Jika untuk mencapai posisi Top 1% di sekolah ini kamu harus menghapus ingatan masa lalumu tentang keluarga yang menahan potensimu, apakah kamu bersedia?"
Pertanyaan itu jelas merupakan umpan yang sengaja dilemparkan untuk memancing reaksi Atharva terkait kakaknya.
Atharva menatap pria di hadapannya dengan pandangan yang benar-benar datar, tanpa riak emosi sedikit pun. Di layar monitoring ruang kontrol, grafik detak jantung Atharva berada di angka 65 bpm sangat stabil, seolah ia hanya sedang ditanya tentang cuaca hari ini.
"Masa lalu bukan variabel yang mengurangi nilai potensi," jawab Atharva tenang. "Itu hanyalah data konstan yang sudah terjadi. Menghapusnya adalah tindakan tidak efisien yang merusak fungsi analisis otak."
Pewawancara itu menyipitkan mata, mencoba menekan lebih dalam. "Bagaimana jika data konstan itu adalah alasan utama yang akan membuatmu dihancurkan oleh yayasan ini di kemudian hari?"
"Maka saya akan mengubah sistem yang mencoba menghancurkannya," balas Atharva, suaranya sangat rendah namun sarat dengan ketegasan yang mutlak. "Bukan menghapus datanya."
Di bilik lain, tekanan psikologis ini mulai memakan korban. Nabila di Bilik 45 tampak menunduk dengan air mata yang mulai mengenang saat dicecar pertanyaan tentang apakah keluarganya yang miskin layak menerima hasil jerih payahnya jika ia gagal mempertahankan peringkatnya. Dimas di Bilik 32 berulang kali meremas jemarinya, mencoba menyembunyikan rasa rendah dirinya saat pewawancara membandingkan potensinya dengan profil sang kakak secara terang-terangan.
Tahap wawancara ini tidak menguji kecerdasan akademik. Ini adalah proses interogasi mental yang kejam, di mana setiap pilihan yang diambil peserta baik atas nama kejujuran, ambisi, maupun moral akan selalu dinilai sebagai jawaban yang salah oleh sistem. Nexus Academy sedang menguliti topeng para jenius ini, menyisakan ego mentah mereka yang siap diadu pada tahap eliminasi berikutnya.
...****************...
Di Bilik 22, Gavin Arsenio Mahardika menatap lurus ke arah pewawancara di depannya tanpa berkedip. Pertanyaan yang diajukan kepadanya adalah tentang pilihan ekstrem: mengorbankan proyek riset seumur hidupnya demi menyelamatkan karier seorang mentor yang bersalah.
"Saya tidak akan menyelamatkan mentor tersebut," jawab Gavin, suaranya sedingin es. "Karier seseorang adalah tanggung jawab pribadinya. Jika dia membuat kesalahan fatal, dia adalah variabel cacat dalam sistem. Mempertahankannya hanya akan merusak akurasi hasil akhir."
Pewawancara itu mencatat sesuatu di tabletnya. Grafik emosi Gavin di layar monitor tidak bergeser satu milimeter pun. Bagi Gavin, moralitas adalah hukum sebab-akibat yang kaku. Tidak ada ruang untuk sentimen emosional.
Kontras dengan Gavin, Nareswara di Bilik 28 justru memperlakukan wawancara ini sebagai permainan catur psikologis. Ketika ditanya apakah dia bersedia meretas basis data sekolah saingan jika diperintahkan oleh direktur Nexus, Nareswara menyandarkan punggungnya ke kursi dengan santai.
"Tergantung pada sistem perlindungan yang mereka punya," Nareswara tersenyum tipis. "Jika proteksinya lemah, itu bukan tantangan. Tapi jika Anda bertanya tentang loyalitas, saya hanya loyal pada kode yang ditulis dengan benar. Perintah direktur atau bukan, tidak akan mengubah fakta apakah sistem itu layak ditembus atau tidak."
Pewawancara di depannya tidak tersenyum. "Kamu menganggap remeh otoritas, Nareswara. Di Nexus, pembangkangan seperti ini bisa membuatmu tereliminasi sebelum semester pertama berakhir."
"Atau, itu membuat saya menjadi satu-satunya orang yang bisa memperbaiki sistem kalian saat semuanya berantakan," balas Nareswara penuh percaya diri.
Satu per satu peserta keluar dari bilik kaca dengan ekspresi yang jauh lebih kacau dibanding saat mereka masuk. Bahkan Raka Elang, yang biasanya pandai memanipulasi kata-kata, keluar dengan rahang yang mengencang dan napas yang agak berat. Ia menyadari bahwa seluruh teknik retorika debatnya tidak berguna di hadapan mesin pemindai biologis yang membaca ketakutan di balik kata-katanya.
Keisya melangkah keluar dari Bilik 14 dan langsung menyandarkan punggungnya pada dinding lorong yang dingin. Ia bisa merasakan detak jantungnya masih bekerja lebih cepat dari biasanya. Ia melihat ke sekeliling lorong; tempat ini kini sepenuhnya dipenuhi oleh aura kekalahan dan ketidakpastian.
Sistem Nexus tidak menghargai jawaban apa pun. Jujur dianggap lemah, ambisius dianggap berbahaya, dan bermoral dianggap tidak realistis.
Atharva keluar dari Bilik 01 beberapa saat kemudian. Langkah kakinya tetap konstan, wajahnya tidak menunjukkan beban sedikit pun setelah dicecar pertanyaan interogatif tadi. Saat ia berjalan melewati Keisya, gadis itu menegurnya tanpa mengubah posisinya yang masih bersandar di dinding.
"Mereka mencari titik lemah kita, Atharva," bisik Keisya, matanya menatap lantai lorong. "Setiap pertanyaan tadi... mereka sedang memetakan di bagian mana mereka bisa menghancurkan kita jika suatu saat kita berbalik melawan mereka."
Atharva menghentikan langkahnya sejenak, namun tidak menoleh ke arah Keisya. "Mereka hanya bisa memetakan apa yang kita biarkan untuk mereka lihat."
"Kamu tidak membiarkan mereka melihat apa pun?" tanya Keisya, mendongak menatap punggung pemuda itu.
"Aku memberi mereka apa yang ingin mereka lihat: sebuah robot yang hanya peduli pada angka," jawab Atharva datar sebelum kembali melangkah maju. "Dengan begitu, mereka tidak akan pernah memeriksa apa yang ada di balik cangkangnya."
Keisya tertegun, menatap punggung Atharva yang perlahan menjauh di antara kerumunan peserta lain. Di atas kepala mereka, layar digital raksasa kembali berkedip, bersiap menampilkan hasil penyaringan dari tahap wawancara psikologis yang kejam ini. Angka seratus delapan puluh akan kembali dipangkas, menyisakan mereka yang cukup dingin atau cukup kuat untuk menyembunyikan retakan di dalam jiwa mereka.