NovelToon NovelToon
Putri Kesayangan Raja Iblis

Putri Kesayangan Raja Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Iblis / Fantasi Wanita / Menjadi bayi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Enzelynn

Semua orang menyebut Aelora anak kutukan. Ia dibuang, diburu, dan dibiarkan mati di hutan iblis. Tapi nasib berkata lain: Raja Iblis sendiri memungutnya dan menjadikannya putri kecil Nocthara. Kini Aelora harus menyembunyikan dua rahasia: ia pernah hidup di masa depan yang hancur, dan ia adalah anak malaikat yang dicari oleh Surga. Demi menyelamatkan ayah angkatnya dan mencegah perang tiga dunia, Aelora kecil harus mengubah takdir sebelum orang-orang yang ia cintai mati untuk kedua kalinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Anak Kutukan Menyentuh Luka

“Putri Solumbra telah kembali.”

Bisikan itu merambat ke seluruh sudut Istana Bulan Merah, kemudian lenyap secepat datangnya.

Lampu-lampu rune yang sempat menyala putih kembali berwarna ungu. Bayangan para penjaga berhenti membungkuk dan menempel lagi pada kaki pemiliknya. Di ruang takhta utama, suara mahkota yang terbelah tidak terdengar sampai aula penerimaan, tetapi Kael menoleh ke arah ruangan itu seolah dapat merasakan kerusakannya.

Aelora masih berada dalam pelukannya.

“Kenapa semua orang diam?” tanyanya.

Tidak ada yang menjawab.

Elianor sedang dibantu berdiri oleh malaikat pembawa dokumen. Salah satu sayap bawahnya terkulai dan meninggalkan bulu keemasan di lantai. Eirna sibuk memeriksa luka pada punggung perempuan itu. Para penjaga Nocthara menatap Aelora dengan campuran lega dan takut.

Mereka tidak melihat anak tujuh tahun yang kelelahan.

Mereka melihat sosok yang baru saja membuat bayangan seluruh istana berlutut.

Kael menyentuh bagian belakang kepala Aelora, lalu memalingkan wajahnya dari tatapan orang-orang.

“Kita pergi.”

“Ke mana?”

“Kamar.”

“Aku belum diperiksa Eirna.”

“Kau baru saja mengingatkanku pada bagian itu.”

Eirna menoleh dari luka Elianor. “Saya bisa memeriksa Putri di sini.”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Terlalu banyak orang.”

Eirna melihat keadaan aula, lalu mengangguk. “Bawa dia ke ruang penyembuhan. Saya menyusul setelah memastikan utusan ini tidak mati.”

Elianor yang sedang berlutut berkata, “Saya masih bisa mendengar.”

“Bagus,” jawab Eirna. “Berarti kepala Anda belum rusak.”

Kael membawa Aelora menuju pintu.

Baru tiga langkah, bayangannya bergerak tanpa perintah.

Bentuk hitam itu memanjang ke dinding, naik sampai setinggi kepala Kael, kemudian membentuk wajah samar. Wajahnya sama dengan Kael, tetapi lebih kurus. Rambutnya lebih panjang, dan retakan gelap menjalar dari leher sampai pipi.

Kael berhenti.

Aelora tidak melihatnya. Kepalanya bersandar pada bahu Kael, matanya setengah tertutup.

Bayangan itu membuka mulut.

“Dengarkan aku.”

Suara yang keluar serak dan lemah.

Suara Kael sendiri, tetapi jauh lebih tua.

Kael mengeratkan pelukannya pada Aelora.

“Apa pun yang terjadi,” bisik bayangan masa depan itu, “jangan biarkan dia membuka gerbang.”

Wajah pada dinding pecah menjadi asap.

Bayangan kembali normal.

Kael berdiri diam beberapa detik.

“Ayah?” Aelora mengangkat kepala. “Kenapa berhenti?”

Itu pertama kalinya ia memanggil Kael dengan panggilan tersebut setelah ritual selesai.

Tidak karena panik.

Tidak karena salah mengingat masa depan.

Kael menatapnya, kemudian melanjutkan langkah.

“Tidak ada apa-apa.”

Aelora menyipitkan mata. “Kau berbohong.”

“Aku sedang berjalan.”

“Itu tidak ada hubungannya.”

“Kau terlalu lelah untuk menginterogasiku.”

“Aku bisa menginterogasi sambil tidur.”

“Aku tidak meragukannya.”

Aelora ingin bertanya lagi, tetapi suara teriakan dari arah halaman memotong percakapan.

Lonceng peringatan berbunyi dua kali.

Bukan tanda serangan besar. Itu tanda prajurit terluka yang membutuhkan tabib segera.

Seorang penjaga berlari melewati lorong. Wajahnya pucat, dan bagian depan zirahnya dipenuhi darah.

“Yang Mulia!”

Kael berhenti. “Apa yang terjadi?”

“Komandan Daren terluka.”

Aelora langsung membuka mata sepenuhnya.

“Daren?”

“Dia dibawa ke ruang penyembuhan. Anak panah menembus dadanya.”

Kael menurunkan Aelora.

“Kau kembali ke kamar dengan dua penjaga.”

“Aku ikut.”

“Tidak.”

“Daren temanku.”

“Justru itu.”

“Apa maksudnya?”

Kael berjongkok. “Kau baru saja menggunakan sihir yang belum dipahami siapa pun. Tubuhmu hampir ditarik ke Laut Abu. Aku tidak akan membawamu ke ruangan yang penuh darah dan sihir asing.”

“Aku tidak akan menggunakan sihir.”

“Kau selalu mengatakan itu sebelum menggunakannya.”

Aelora melihat penjaga yang membawa kabar. Darah pada zirahnya masih segar. Ada banyak sekali.

“Dia masih hidup?”

Penjaga itu menunduk.

“Ketika dibawa masuk, masih.”

Ketika dibawa masuk.

Bukan sekarang.

Aelora memegang tangan Kael. “Tolong.”

Kael melihat wajahnya dan tahu tidak akan ada penjaga yang mampu membawanya kembali ke kamar tanpa menyeretnya.

“Aku menggendongmu,” katanya akhirnya. “Kau tidak menyentuh apa pun tanpa izin.”

Aelora mengangguk cepat.

“Dan kau tidak turun.”

“Iya.”

“Jangan membuatku mengulang.”

“Iya.”

Kael mengangkatnya kembali.

Mereka bergerak menuju ruang penyembuhan.

Ruangan itu sudah dipenuhi orang.

Tiga tabib berdiri mengelilingi meja batu di tengah. Daren terbaring di atasnya, masih mengenakan sebagian zirah. Pelindung dadanya telah dipotong. Sebuah anak panah putih menancap di bawah tulang selangka dan menembus sampai ke punggung.

Darahnya tidak mengalir merah atau hitam.

Cairan itu berwarna gelap dengan kilatan ungu, membasahi seluruh sisi meja.

Orin berada di dekat pintu dengan leher diperban. Ia seharusnya masih beristirahat setelah dirasuki Peniru, tetapi tetap memegang buku catatan dan memberi perintah kepada para pelayan.

Begitu melihat Kael, ia menyingkir.

“Anak panahnya tidak bisa dicabut,” katanya. “Setiap kali digerakkan, cahaya menyebar ke jantung.”

Kael menurunkan Aelora di dekat pintu, jauh dari meja.

“Dari mana serangannya?”

“Gerbang luar,” jawab salah seorang prajurit. “Komandan sedang memeriksa laporan dari perbatasan. Tiba-tiba lingkaran cahaya terbuka di halaman. Anak panah itu keluar dari sana.”

“Siapa yang membukanya?”

“Tidak terlihat.”

Eirna masuk beberapa saat kemudian. Lengan bajunya masih terkena darah emas Elianor.

Ia memeriksa Daren tanpa membuang waktu.

Kristal di tangannya menyala merah.

“Anak panah menahan lukanya tetap terbuka,” katanya. “Kalau dicabut, jantungnya berhenti. Kalau dibiarkan, cahaya akan membakar seluruh aliran darahnya.”

“Berapa lama?” tanya Kael.

Eirna tidak menjawab.

Kael mengulang dengan suara lebih rendah.

“Berapa lama?”

“Beberapa menit.”

Aelora memandang Daren.

Komandan itu selalu tampak terlalu besar untuk ruangan mana pun. Suaranya keras. Langkahnya membuat gelas di meja bergetar. Ia pernah menakut-nakuti Nira dengan cerita bahwa anak yang tidak makan sayur akan diculik makhluk selokan, lalu dimarahi Eirna karena Nira tidak mau tidur dua malam.

Sekarang tubuh besarnya terlihat aneh karena terlalu diam.

Piko bergerak dalam pelukan Aelora.

Jahitan mulutnya terbuka sedikit.

“Lukanya memanggilmu,” katanya.

Aelora menunduk. “Apa?”

Kael langsung mendengar. “Boneka itu bicara lagi?”

Piko diam.

Tentu saja.

Aelora melihat anak panah putih di dada Daren.

Benda itu memiliki lambang matahari terbelah dekat pangkalnya. Namun di sekitar luka, ia melihat sesuatu yang orang lain tampaknya tidak lihat.

Benang-benang tipis berwarna emas menjalar dari anak panah. Sebagian melilit jantung Daren. Sebagian lain mengarah keluar dari tubuhnya dan berakhir pada ruang kosong di atas meja.

Seperti luka itu terhubung dengan tempat lain.

“Aku bisa melihat simpulnya,” kata Aelora.

Eirna menoleh. “Simpul apa?”

“Anak panahnya diikat pada jantung.”

“Itu sudah kami ketahui.”

“Bukan hanya di tubuh Daren. Ada benang yang keluar.”

Eirna mengangkat kristal dan memeriksa udara. Tidak ada reaksi.

“Kami tidak melihatnya.”

“Aku melihat.”

Kael berdiri di hadapan Aelora. “Tidak.”

“Aku belum meminta.”

“Aku tahu apa yang akan kauminta.”

“Kalau simpulnya diputus—”

“Tidak.”

“Daren akan mati kalau dibiarkan.”

“Dan kau bisa mati kalau menyentuh sihir itu.”

Aelora melihat tangan Kael. Kulit di lengannya masih terbakar akibat serangan gerbang. Ia juga kelelahan, tetapi tetap berdiri tegak seolah rasa sakit tidak memiliki hak menyentuhnya.

“Kalau kau yang menyentuh, gerbang bisa memakai bayanganmu lagi.”

“Aku tidak mengatakan akan menyentuhnya.”

“Lalu siapa?”

“Eirna akan menemukan cara.”

Tabib itu tidak menatap mereka.

Itu jawaban.

Ia tidak memiliki cara.

Salah satu kristal di atas dada Daren pecah.

Tubuh komandan itu terangkat sedikit, lalu jatuh kembali. Napas yang sejak tadi lemah berhenti.

“Daren?” panggil Orin.

Tidak ada jawaban.

Eirna menempelkan tangan pada lehernya.

Wajahnya berubah.

“Jantungnya berhenti.”

Aelora melepaskan tangan Kael.

Ia berlari ke meja.

“Aelora!”

Kael menangkap pinggangnya tepat sebelum ia memanjat sisi batu.

“Lepaskan aku.”

“Tidak.”

“Aku bisa menolong.”

“Kau tidak tahu itu.”

“Aku tahu simpulnya!”

“Dan kau tidak tahu akibatnya kalau disentuh.”

Aelora berusaha melepaskan diri. “Dia mati kalau kita diam saja!”

Kalimat tersebut membuat seluruh ruangan terdiam.

Kael menatap wajahnya.

Air mata sudah berkumpul di mata Aelora, tetapi ia tidak berkedip.

“Aku pernah diam saja,” katanya. “Aku pernah percaya orang dewasa akan menemukan jalan. Pada akhirnya semua orang mati.”

“Itu masa depan yang berbeda.”

“Daren tetap tidak bernapas sekarang.”

Kael memandang tubuh komandan di atas meja.

Lalu kembali kepada Aelora.

“Sekali,” katanya. “Begitu aku mengatakan berhenti, kau berhenti.”

Aelora mengangguk.

Kael mengangkatnya ke sisi meja. Ia tidak melepaskan pinggangnya.

Aelora menaruh Piko dekat bahu Daren, lalu meletakkan kedua tangan pada dada komandan, di sekitar anak panah tanpa menyentuh batangnya.

Kulit Daren dingin.

Benang-benang emas langsung bergerak.

Mereka melilit jari Aelora, mencoba masuk melalui luka kecil di telapak tangannya.

Tanda matahari dalam bulan pada pergelangannya menyala.

“Aelora?” suara Kael terdengar dekat telinganya.

“Aku baik-baik saja.”

“Kau selalu mengatakan itu saat tidak baik-baik saja.”

“Aku sedang berkonsentrasi.”

Ia menutup mata.

Di balik kelopak, simpul anak panah terlihat lebih jelas. Ratusan benang berjalin di sekitar jantung Daren. Jika satu benang ditarik dengan salah, seluruh simpul akan mengencang.

Aelora tidak mencoba menarik.

Ia menyentuh bagian tengahnya dengan cahaya Solumbra.

Emas dan hitam muncul bersamaan dari telapak tangannya. Cahaya emas menelusuri luka. Bayangan hitam mengelilingi anak panah, mencegah sihirnya melarikan diri ke tubuh lain.

Ruangan mendadak terasa dingin.

Para tabib mundur.

Salah seorang prajurit berbisik, “Sihir suci.”

Yang lain menjawab, “Bercampur Umbra.”

Aelora tidak mendengar mereka dengan jelas.

Ia berada di tempat lain.

Sebuah dataran berbatu muncul di dalam pikirannya. Daren berdiri di sana dengan tubuh penuh luka. Di hadapannya terdapat pintu putih. Di balik pintu itu terdengar suara orang-orang memanggil.

Bukan dengan ancaman.

Dengan lembut.

Daren sudah berjalan mendekat.

“Daren!” panggil Aelora.

Komandan itu menoleh.

Wajahnya terlihat lebih muda. Tidak ada bekas luka di dagu atau kerutan akibat terlalu sering marah pada prajurit.

“Putri Kecil?”

“Jangan masuk.”

Daren melihat pintu putih. “Saya lelah.”

“Aku juga.”

“Putri harus kembali.”

“Kau juga.”

“Saya sudah gagal menjaga gerbang.”

“Kalau begitu kembali dan perbaiki.”

Daren hampir tersenyum. “Perintah?”

“Ya.”

“Putri belum cukup umur memberi perintah kepada komandan.”

Aelora mendekat dan memegang tangannya.

“Aku anak Raja. Aku boleh.”

Daren melihat tangan kecil itu, lalu pintu putih.

Pintu mulai terbuka.

Dari dalamnya muncul cahaya yang sangat hangat.

Aelora menarik tangan Daren.

“Pulang.”

Cahaya Solumbra meledak di ruang penyembuhan.

Tubuh Aelora terangkat beberapa sentimeter, tetapi Kael menahannya. Anak panah putih di dada Daren retak dari ujung sampai pangkal.

“Aelora, cukup,” kata Kael.

“Belum.”

“Kau mulai kehilangan suhu tubuh.”

“Sedikit lagi.”

“Aelora.”

Ia mendengar ketakutan dalam suara Kael.

Namun di bawah telapak tangannya, jantung Daren masih diam.

Air mata Aelora jatuh ke dada komandan.

“Aku belum mengizinkanmu mati.”

Tanda Solumbra terbuka seperti mata.

Satu denyut muncul.

Lemah.

Eirna tersentak. “Tunggu.”

Denyut kedua terasa.

Lalu ketiga.

Daren menarik napas keras.

Anak panah putih pecah menjadi serpihan cahaya. Eirna langsung mencabut sisa batangnya. Darah mengalir deras selama beberapa detik, kemudian bayangan hitam-putih dari tangan Aelora menutup pembuluh yang robek.

Daren terbatuk.

Matanya terbuka perlahan.

“Putri…” Suaranya nyaris tidak terdengar. “Kecil?”

Aelora tertawa di antara tangisnya.

“Kau sangat sulit dibangunkan.”

Daren mencoba mengangkat sudut bibir. “Maaf.”

Kekuatan menghilang dari tubuh Aelora.

Tangannya terlepas dari dada Daren. Kael menangkapnya dan segera menariknya menjauh dari meja.

“Aku berhasil,” gumam Aelora.

“Ya.”

“Daren hidup.”

“Ya.”

“Jadi jangan marah.”

“Aku akan memikirkannya setelah kau sadar penuh.”

“Aku sadar.”

Kepalanya jatuh ke bahu Kael.

“Lantai bergerak.”

“Lantainya diam.”

“Berarti kau yang bergerak.”

“Aku juga diam.”

“Oh.”

Kelopak matanya hampir tertutup, tetapi suara bisik-bisik di ruangan membuatnya membuka lagi.

Para tabib menatapnya.

Para prajurit juga.

Tidak ada yang tersenyum.

Sebagian terlihat kagum, tetapi sebagian besar ketakutan.

“Dia menghidupkan orang mati,” bisik seorang prajurit.

“Aku tidak mati,” gumam Daren dari meja.

Tidak ada yang mendengarnya.

“Anak kutukan menyentuh kematian.”

“Dia memakai cahaya suci.”

“Bayangan Raja juga ada dalam sihirnya.”

Kael berbalik menghadap semua orang.

“Daren mengalami henti jantung. Dia belum mati.”

Tidak seorang pun membantah, tetapi ketakutan tidak hilang dari wajah mereka.

Kael menyelimuti Aelora menggunakan mantelnya.

“Tidak ada seorang pun membicarakan kejadian ini di luar ruangan.”

Orin menatap pintu. “Sudah ada dua belas pelayan di lorong.”

Kael menghela napas.

“Kalau begitu pastikan mereka menyebarkan versi yang tidak bodoh.”

“Versi yang mana, Yang Mulia?”

“Tabib menyelamatkan Daren.”

Eirna masih memeriksa jantung komandan. “Tabib tidak melakukan ini.”

“Bohonglah sedikit.”

“Saya buruk dalam berbohong.”

“Orin akan mengajarimu.”

Orin membuka buku catatan. “Saya tersinggung karena merasa mampu.”

Daren mengangkat satu tangan lemah.

“Tunggu.”

Kael menoleh.

Komandan itu berusaha bangkit, tetapi Eirna menekan bahunya ke meja.

“Jangan bergerak. Jantungmu baru saja memutuskan untuk bekerja lagi.”

“Ada sesuatu… di perbatasan.”

Kael mendekat. “Pasukan?”

Daren menggeleng.

“Seorang lelaki.”

“Dari Asteria?”

“Tidak tahu.”

“Namanya?”

Daren menarik napas pendek. Setiap kata tampak menyakitkan.

“Dia bersayap.”

Aelora yang hampir tertidur langsung mengangkat kepala.

“Berapa sayap?”

“Enam.”

Kael menegang.

“Dia menyerangmu?”

“Tidak. Dia datang dari hutan dalam keadaan terluka. Rantai emas masih terikat di kedua tangannya.” Daren memejamkan mata beberapa detik, lalu melanjutkan, “Dia mencoba memperingatkan kami.”

“Tentang Asterion?” tanya Kael.

Daren menggeleng.

“Dia berkata jangan biarkan Putri mendekati Katedral Fajar.”

Jari Aelora mencengkeram mantel Kael.

“Di mana dia sekarang?”

“Pasukan membawanya ke pos perbatasan. Anak panah itu muncul sebelum saya sempat mengirim pesan lengkap.”

Daren memandang Aelora.

“Ada satu nama yang dia sebut.”

Ruangan kembali sunyi.

Aelora tidak bernapas.

“Nama siapa?” tanyanya.

Daren menjawab dengan suara yang hampir hilang.

“Seraphiel.”

1
Carina Yuda
Okee kak. Udah update yaaa
Septriani Margaret
lanjutannya kk
Carina Yuda: Okee kk. Sudah update yaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!