Sekar, seorang buruh penimbang paku di sebuah toko grosir bahan bangunan. Hidupnya hanya tentang bertahan hidup dari hari ke hari, hingga sebuah malam kelam dia harus terjebak malam kelam bersama atasannya sendiri, Mas Danu.
Danu bukan CEO dengan jet pribadi. Ia hanyalah pria berusia 32 tahun yang ulet, pemilik toko bangunan warisan orang tuanya yang sukses. Ia tampan dan sangat berwibawa .
Saat Sekar mengetahui dirinya hamil, ia memilih bungkam. Ia sadar posisi ia hanya orang kecil, sementara Danu sudah memiliki kekasih bernama Lidya, wanita kota yang cantik, berpendidikan tinggi, dan setara secara sosial.
Namun, rahasia tak bisa selamanya disimpan. Saat Danu tahu, ia memutuskan untuk bertanggung jawab dan menikahi Sekar, dan memutuskan hubungannya dengan Lidya.
Lalu apa Sekar bisa hidup bahagia dengan pernikahannya, sedangkan yang ia tau Danu terpaksa memutuskan hubungannya dengan Lidya, karena harus bertanggung jawab kepdanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Botakan
"Cuma apa sayang? Kamu mau makan sesuatu?" Desak Danu dengan panggilan baru untuk ke tiga kalinya.
"Sekar mau..."
"Mau apa sayang?" Danu terlihat tak sabar menunggu jawaban Sekar.
"Sekar mau makan rambutan Mas" Jawab Sekar agak takut sembari melirik Bu Subroto.
"Rambutan?" Danu tampak terkejut. Pasalnya ini masih pagi, dan rambutan sepertinya tidak cocok untuk sarapan.
"I-iya Mas. Sekarang lagi musim rambutan. Kemarin Sekar nggak sengaja lihat orang bawa rambutan dari pasar. Sekar kepingin sekali. Sekar boleh beli sebentar ke pasar kan Mas?"
"Nggak boleh!" Jawab Danu dengan tegas. Penolakan itu langsung membuat mata Sekar semakin meredup. Bahkan mata jernih itu sudah mulai tergenang oleh air mata.
Bu Subroto terlihat sangat puas. Dalam diamnya dia tersenyum dengan penuh kemenangan karena akhirnya Danu menolak keinginan Sekar yang menurutnya sangat manja dan menyusahkan. Bu Subroto sejak pertama memang yakin kalau perhatian Danu pada Sekar lambat laun akan hilang dan Danu kembali menjadi putranya yang seperti dulu.
"Kamu nggak boleh ke pasar sendiri. Biar Mas yang belikan buat kamu!" Lanjut Sekar membuat mata Sekar berbinar dengan air mata yang masih menggenang.
"Huhhh!!" Riana mengusap dadanya dengan lega. Dia kira Kakaknya benar-benar tega menolak permintaan Sekar.
"Mas?" Sekar terharu menatap Danu. Air matanya yang sejak tadi menggenang akhirnya terjatuh juga.
"Sayang, Mas kan sudah bilang kalau kamu mau apa pun, Mas akan belikan" Danu mengusap air mata di wajah Sekar.
"Terima kasih Mas"
"Ayo habiskan dulu sarapannya. Tambah lagi, jangan cuma sedikit. Setelah itu Mas akan ke pasar!"
"Iya Mas!" Sekar mengangguk dengan semangat. Wajahnya terlihat begitu bahagia seolah rambutan adalah barang paling berharga yang akan ia dapatkan setelah ini.
"Cih!" Bu Subroto terlihat begitu kesal. Dia bahkan melirik tajam pada Sekar yang saat ini terlihat begitu lahap memakan sarapannya.
"Kalau kamu pergi ke pasar, menuruti keinginan istri kamu yang manja ini, terus gimana sama pengiriman semen yang sebentar lagi datang Ni?" Bu Subroto tampaknya tidak pernah puas untuk mengganggu ketenangan Sekar.
"Ada Ibas yang bisa menerima kiriman semen Bu. Dia bisa diandalkan!"
"Iya, Mas Ibas kan sudah lama kerja di toko dan jadi orang kepercayaan Mas Danu, Bu. Jadi nggak harus Mas Danu untuk menerima kiriman semen seperti itu. Mas Danu tentu harus mengutamakan Mbak Sekar dong!"
"Ssstttt! Kamu itu tau apa? Lebih baik diam!" Bu Subroto menatap tajam putri bungsunya.
Setelah sarapan Danu benar-benar pergi ke pasar untuk mencari buah rambutan yang diinginkan istrinya. Danu tau kalau saat ini Sekar sedang mengidam.
"Eh Mas Danu, apa kabar Mas? Makin ganteng aja setelah menikah!" Sapa salah seorang pedagang yang memang sudah cukup akrab dengan Danu.
"Baik Bu, Alhamdulillah" Jawab Danu dengan ramah.
"Berarti Sekar berhasil dong sebagai istri. Ya walaupun kalian menikah karena insiden, tapi dia pinter juga jadi istri Mas Dani" Sahut pedagang yang lain.
Ucapan itu sontak saja membuat wajah ramah Danu menghilang. Tergantikan dengan tatapan mata yang menanam dan rahang yang mengetat.
Dia terlihat tidak menyukai ucapan mereka. Tak heran waktu itu Sekar sampai menangis saat pulang dari pasar. Pasti Sekar mendengar ucapan mereka yang lebih pedas lagi.
"Apa maksud Ibu bicara seperti itu?" Danu menatap pedagang yang mengusik tentang cara Sekar menjadi istrinya.
"Ah tidak papa Mas Danu. Saya cuma bercanda!" Pedagang itu tampak gugup karena tatapan tajam Danu.
"Hidup saya, hidup istri saya. Bagaimana cara kami menikah, bagaimana hidup kamu setelah menikah. Itu bukan urusan Ibu dan kalian semua! Berhenti mengurus hidup orang lain, lebih baik berkaca pada diri sendiri. Apa Ibu pantas bicara seperti itu saat anak Ibu sendiri tidak jelas menikahi berapa wanita di luar sana?!"
Danu memang sedikit mengenal anak dari pedagang yang mengusiknya tadi. Dia selama ini tidak ingin ikut campur dan tidak peduli dengan urusan orang lain. Tapi menurutnya, tidak untuk kali ini.
Pedagang tadi terlihat pucat pasi, apalagi mendengar bisik-bisik dari pedagang di sekitarnya yang mulai menggunjing anaknya.
"Silahkan kalian mengkritik saya atau membenci saya, tapi jangan pernah kalian mengusik atau menyinggung istri saya. Permisi!"
Danu lekas menuju ke lapak penjual buah stelah meninggalkan orang-orang tadi yang kini terdiam seribu bahasa.
Danu bisa menjadi orang yang pendiam, bisa juga terlihat ramah, dia juga bisa naik pitam kalau ada orang yang berani menyinggung orang yang ia sayangi.
Sementara itu, Sekar menunggu dengan tidak sabar di teras rumah. Dia terus menatap gerbang pembatas antara rumah keluarga Subroto dengan toko Sumber Rejeki. Dia berharap Danu segera muncul dari sana membawa buah rambutan yang sangat ia idam-idamkan.
"Mas Danu belum pulang juga Mbak?" Riana datang membopong toples camilannya.
"Belum" Sekar menggeleng dengan lesu.
"Itu Mas Danu!" Seru Riana menatap ke arah gerbang.
Senyum Sekar mengembang ketika netranya menangkap sosok pria tampan dengan versinya sendiri. Pria dewasa yang gagah dengan kulit sawo matang yang bersih. Wajahnya berkarisma itu selalu berhasil membuat jantung Sekar berdetak tak terkendali.
"Mas" Sekar berdiri menyambut kepulangan suaminya.
"Ini rambutan yang kamu mau sayang. Maaf ya, Mas lama" Danu mengusap rambut Sekar yang berada di atas telinga kanan.
"Nggak papa kok Mas. Makasih ya Mas" Sekar menerima kantong plastik hitam yang dibawa Danu. Dia melihat isi di dalamnya.
Tapi wajah bahagianya karena kedatangan Danu dengan kantung plastik berisi rambutan tadi langsung hilang. Danu tampaknya menyadari perubahan wajah Sekar.
"Kenapa sayang? Ini bener kan buah rambutan?" Danu dan Riana saling pandang.
"Bener sih Mas, tapi yang Sekar mau bukan rambutan yang ini" Sekar duduk memangku plastik rambutan tadi dengan wajah cemberut. Kali ini terlihat sisi manja pada diri Sekar.
"Terus, rambutan yang kaya apa? Mas taunya rambutan cuma kaya gini, nggak ada yang lain" Danu terlihat bingung.
"Iya Mbak, aku taunya juga rambutan cuma kaya gini. Nggak ada yang lain" Kata Riana.
"Tapi ini ada rambutnya Mas. Yang Sekar mau, rambutan yang botak. Bukan yang ada rambutnya panjang-panjang gini"
Danu dan Riana sama-sama terperangah. Mereka heran dengan permintaan Sekar saat ini.
"Mbak, namanya rambutan ya ada rambutnya dong Mbak. Kalau nggak rambutnya ya namanya bukan rambutan, tapi botakan!" Ucap Riana yang masih keheranan.
"Ya tapi aku maunya yang nggak ada rambutnya Riana" Mata Sekar sudah berkaca-kaca ingin menangis.
"Sstttt, jangan nangis!" Dadu bersimpuh dihadapan Sekar.
"Tapi Sekar mau makan rambutan sekarang Mas. Rambutan yang nggak ada rambutnya"Sekar merengek dengan manja.
"Iya iya sayang. Sini biar Mas buat rambutannya nggak ada rambutnya!"
"Hah? Gimana caranya Mas??!!" Kaget Riana.