"Derajat kita berbeda, hidup kita tidaklah sama, aku tak pantas untukmu, walau aku mencintaimu"
Pada awalnya Nisa lebih dulu mengenal Ryan, saat ia menggantikan posisi bibinya sebagai seorang baby sitter untuk menjaga Viona, gadis kecil anak dari seorang Ryan Brawster.
Semakin hari Viona mulai merasa nyaman saat berada didekat Nisa, hingga membuat Viona ingin menjadikan Nisa sebagai ibu sambungnya. Namun, ternyata keinginan itu ditentang oleh Katty yang sudah menjodohkan Ryan anaknya dengan seorang wanita yang bernama Merry.
Akankah takdir menyatukan Nisa dan Ryan?
Apa keinginan Viona bisa terwujud?
Ikuti kisah mereka yang berliku dan penuh haru dalam menuju kebahagiaan.
Terima kasih semua.
Jangan lupa vote dan like ya.
Selamat membaca!
Terima kasih ya all.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Pradita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Candu
Selamat membaca!
Ryan coba memberanikan diri untuk mendekat ke arah Nisa. Namun, kedua tangan gadis cantik itu seolah melarang untuk lebih dekat dengannya.
"Jangan mendekat," kecam Nisa yang langsung membungkam mulutnya dengan kedua tangan, karena ia merasa berlebihan dengan suaranya. Nisa tak mau, jika nanti Viona terbangun karena suaranya.
"Baik Nisa, tapi bisakah kita bicara sebentar saja?" tanya Ryan dengan raut wajah penuh permohonan.
Nisa mengernyitkan dahi untuk berpikir sejenak, apa ia harus memberikan kesempatan pada Ryan atau tidak.
"Memang untuk apa lagi kita bicara? Anggap saja semua kejadian di apartemen itu tidak pernah terjadi. Sekarang ini saya adalah baby sitter yang menjaga putri Anda dan Anda adalah majikan saya."
"Setidaknya berikan saya kesempatan untuk menjelaskan, kenapa saya bisa seperti itu saat di apartemenmu. Tolonglah Nisa!"
Saat Ryan ingin mengatakan kejadian yang telah dilewatinya sewaktu di apartemen, gadis itu membulatkan matanya dengan sempurna. Telunjuknya menempel di bibir untuk menghentikan perkataan Ryan, yang ingin membahas apa yang telah mereka lakukan semalam. Nisa tidak ingin Viona mendengar tentang hal yang sangat memalukan untuk dirinya itu.
"Tuan tolong jangan bahas masalah semalam di sini! Selain saya tidak ingin Viona mendengarnya, saya juga tidak mau bicara berdua dengan Anda di ruangan yang tertutup, apalagi di kamar ini, yang ada nanti kejadian semalam terulang lagi!" tolak Nisa dengan bantahan yang sangat tegas.
Ryan mengesah kasar. Ia merasa sangat menyesal telah melakukan sesuatu yang membuat Nisa jadi salah menilai dirinya.
"Segitu burukkah diriku di matamu, Nisa? Sampai-sampai kamu ketakutan saat berada didekatku," batin Ryan begitu sedih dengan penilaian Nisa terhadapnya.
Ryan tersenyum tipis, menepikan kekecewaan terhadap dirinya sendiri. Ia pun menuruti keinginan Nisa, yang terpenting baginya saat ini, ia bisa menjelaskan tentang alasannya semalam, kenapa dirinya bisa melakukan hal yang sekurang ajar itu pada Nisa.
"Lalu kamu mau kita bicara dimana?" tanya Ryan dengan penuh kelembutan.
Nisa mengesah kasar dengan paksaan Ryan yang terus mendesaknya. "Baiklah, kalau Tuan masih memaksa, lebih baik kita bicara di ruang tamu saja, tapi ingat! Jika Tuan berani macam-macam, saya akan kabur dan berteriak sekeras-kerasnya untuk minta pertolongan," tegas Nisa dengan gurat amarah pada wajahnya. Gadis cantik itu mengembangkan kedua pipinya dengan bibir yang mengerucut.
Ryan tersenyum tipis, ia merasa kemarahan Nisa saat ini malah terlihat lucu, tidak menyeramkan seperti kebanyakan orang di saat sedang dilanda amarah. "Ayo, apapun keinginanmu, yang terpenting kita bisa bicara," ucap Ryan dengan senyum di wajahnya.
Pria tampan itu mempersilakan Nisa melangkah terlebih dulu untuk menuju ruang tamu. Keduanya saling berpapasan. Namun, Nisa mengabaikan pria tampan itu yang hanya termangu menatap kepergian Nisa keluar dari kamar.
Setelah Nisa keluar, Ryan melangkah ke arah sebaliknya dan mendekat ke arah kasur bermotif hello kitty, untuk menghampiri putrinya yang masih lelap tertidur. Ryan membungkukkan tubuhnya, lalu mengecup kening Viona dengan perlahan.
"Sayang, Ayah mau bicara dulu ya sama Aunty Nisa di luar. Doain ya semoga Aunty mau memaafkan Ayah dan kita bisa berteman baik." Ryan berucap sembari mengusap wajah lembut Viona dengn jemarinya.
Setelah meminta izin pada sang putri, Ryan pun beranjak menyusul Nisa yang telah menunggunya di ruang tamu.
Setibanya di ruang tamu, Nisa sudah duduk di sofa panjang sembari memilin jemarinya yang sudah berkeringat, ia gugup karena harus bertemu dengan sosok Ryan yang tak lain adalah Ayah dari anak yang diasuhnya.
"Sebenarnya aku tidak ingin bicara lagi dengannya, tapi itu tidak mungkin karena dia adalah ayah dari Viona, anak yang harus aku jaga sebagai baby sitter di rumah ini," gumam Nisa menundukkan kepalanya sambil menahan emosi yang sudah membuncah. Ia masih begitu kesal ketika apa yang dilakukan Ryan semalam, melintas dan terbayang dalam ingatannya.
Ryan berdeham keras sebagai isyarat, agar Nisa sadar dari keterdiamannya. Gadis itu pun terhenyak kaget, ketika pandangannya terangkat, ternyata Ryan sudah berada di hadapannya. Nisa dengan cepat bangkit dan langsung beringsut beberapa langkah menjauh dari tubuh Ryan.
"Jangan takut Nisa, aku tidak akan menyentuh lagi seperti semalam," ucap Ryan coba meyakinkan Nisa yang saat ini terlihat ketakutan.
"Tetap saja aku tidak ingin kita dekat. Kamu harus menjaga jarak dua meter, jika ingin bicara denganku."
"Tapi apa jika jaraknya sejauh itu, suaraku akan terdengar olehmu?" tanya Ryan heran yang tak punya pilihan selain menuruti permintaan Nisa.
"Kencangkan suaramu saja, pasti aku mendengarnya!" titah Nisa menuntut.
Ryan mengesah napasnya kasar. Ia pun menuruti semua yang Nisa perintahkan.
"Baiklah Nisa, tapi kamu duduk saja biar saya yang menjauh."
"Tidak perlu, kita berdiri saja." Nisa benar-benar bulat dengan keputusannya, untuk menjaga jaraknya dari pria tampan yang semalam sudah begitu kurang ajar padanya.
"Tapi, apakah enak kalau kita bicara dengan jarak berjauhan seperti ini?"
"Dibuat enak saja. Sudahlah, cepat langsung ke inti pembicaraan, apa yang ingin Anda bicarakan lagi?" tanya Nisa yang tidak suka karena Ryan terlalu banyak basa-basi.
Ryan mengesah pelan. Tatapan matanya menyiratkan sebuah harapan, agar gadis yang kini dilihatnya mau memaafkannya.
"Saya ingin minta maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian semalam. Maaf sekali lagi, jika pertemuan pertama kita memberi kesan yang buruk dalam ingatanmu. Saya akui semalam itu, saya hilang kendali saat bertemu denganmu, tapi kamu tak perlu khawatir, saya akan bertanggung jawab dan mengganti semua kerugianmu."
Nisa dapat melihat penyesalan dari manik mata Ryan yang saat ini sudah berkaca-kaca.
"Sebaiknya aku memaafkannya, lagipula dia sudah meminta maaf padaku," gumam Nisa mulai luluh saat melihat penyesalan yang mendalam dari raut wajah Ryan.
Nisa mulai mengulas senyum di wajah cantiknya, tak ada lagi rasa takut yang hinggap di sana.
"Tuan, saya akan coba melupakan semua kejadian semalam dan tidak ada yang perlu dipertanggungjawabkan. Saat ini lebih baik, kita tidak usah mengingat-ingat kembali semua yang telah terjadi semalam."
Ryan kini sudah lebih tenang dari sebelumnya. Namun, ia masih merasa sangat bersalah karena mau bagaimanapun kedua tangannya sudah menyentuh tubuh Nisa, yang tak pantas dilakukannya.
"Izinkan saya bertanggung jawab, Nisa. Katakan apa yang kamu inginkan, saya pasti akan memberikannya!"
Nisa menggelengkan kepala, tanda ia menolak perintah yang Ryan katakan padanya. Ya, begitulah Nisa, gadis yang tak silau akan harta, karena pada dasarnya sosok Nisa adalah gadis periang dengan segala kecerobohan yang dimilikinya, mulai dari kebiasaan buruknya yang tak bisa bangun pagi, sampai sikap pelupanya terkadang begitu menyebalkan, bukan hanya untuk dirinya tapi juga untuk orang disekitarnya.
"Tuan, saya benar-benar tidak ingin meminta apapun," jawab Nisa penekanan.
Perkataan yang membuat Ryan, semakin kagum akan sosok gadis yang saat ini sudah seperti candu untuknya.
"Tapi saya sudah menyentuh tubuhmu, Nisa. Kalau kamu ingin saya bertanggungjawab dengan menikahimu, maka itu akan saya lakukan. Saya juga bisa pastikan, bahwa pernikahan itu akan berlangsung mewah dan meriah."
Bersambung✍️