Ratri adalah potret perempuan sempurna: seorang istri yang berdedikasi sekaligus pilot sukses dengan jam terbang tinggi. Namun, dunianya runtuh dalam semalam ketika kejutan manis yang ia siapkan untuk suaminya, Indra, justru mengungkap pengkhianatan keji. Ratri memergoki Indra berselingkuh dengan sahabat karibnya sendiri, Imelda.
Rasa sakitnya kian menghujam ketika ia menyadari bahwa kedua anak mereka justru berpihak pada sang ayah. Diperlakukan layaknya mesin uang oleh keluarga parasit yang membodohinya, Ratri hanya bisa menangis dalam senyap di dalam lemari, sembari memahat sumpah untuk membalas setiap tetes air mata yang jatuh.
Setelah memutuskan pergi dengan hati yang hancur, Ratri jatuh pingsan di depan bandara karena guncangan hebat. Beruntung, seorang pria bernama Devandra datang menolongnya. Pertemuan tak terduga ini menjadi titik balik bagi Ratri untuk menyembuhkan luka, mengepakkan kembali sayapnya yang patah, dan memulai misi menuntut keadilan mutlak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
..."Dan di mana Bibi Ningsih? Panggil dia sekarang! Saya mau dia membersihkan sampah-sampah yang mengotori ruang tamu saya."...
...Indra mencoba menegakkan punggungnya, berusaha memegang kendali sebagai 'kepala rumah tangga' palsu....
...Ia berdeham, mencoba mengembalikan sisa-sisa wibawanya yang sudah runtuh....
..."Bibi Ningsih sudah papa pecat dua hari lalu karena dia berani mencuri barang di rumah ini."...
...Mendengar tuduhan fitnah dari mulut Indra, Ratri tidak lagi menahan diri....
...Ia mengeluarkan bukti-bukti visual yang sudah ia ketahui sebelumnya dan menyerang balik dengan retorika yang mematikan. Tensi ruangan langsung naik ke titik tertinggi....
...Ratri tertawa sumbang yang teramat dingin. "Hah! Mencuri?!"...
...Ratri melangkah maju, memperkecil jarak hingga Indra berkeringat dingin dan terpaksa memundurkan kakinya sampai menabrak pinggiran sofa....
..."Mencuri pakaian mama yang sekarang sedang dipakai oleh selingkuhanmu itu, Indra? Atau..."...
...Ratri menatap tajam ke arah Tasya dan Gabriel yang masih bersimpuh ketakutan, lalu kembali menghujam manik mata suaminya. "...Bibi Ningsih dipecat karena dia mencuri otak kalian semua yang sudah tidak berfungsi?"...
...BRAKK!!!...
...Ratri menggebrak meja kaca di ruang tamu hingga benda tebal itu bergetar keras, menimbulkan suara dentingan yang memekakkan telinga....
...Dengan suara menggelegar yang biasa mengomandoi kokpit pesawat di tengah badai, ia membentak, "JAWAB?!"...
...Suara bentakan itu begitu menggelegar hingga membuat Imelda menjerit kecil dan menutup kedua telinganya....
...Tasya langsung terisak histeris, sementara Gabriel tertunduk dalam dengan bahu yang bergetar hebat....
...Tidak ada satu pun dari mereka yang berani bersuara....
...Nyali mereka yang tadinya setinggi langit kini menciut, hancur lebur di bawah kaki sang kapten yang sedang murka....
...Indra, Imelda, dan kedua anaknya ciut seketika. Mereka belum pernah melihat Ratri semarah ini....
...Selama bertahun-tahun, Ratri dikenal sebagai sosok istri dan ibu yang penyabar, yang selalu mengalah dan memendam lelah demi keutuhan keluarga....
...YNamun malam ini, mereka sadar telah membangunkan singa yang salah....
...Imelda bersembunyi di balik punggung Indra dengan tubuh yang menggigil parah, menyadari posisinya sebagai orang luar yang terancam hancur....
...Sementara itu, Tasya mulai menangis jujur karena ketakutan yang teramat sangat—bukan lagi air mata buaya, melainkan kepanikan nyata karena menyadari masa depan mewahnya telah sirna dalam sekejap....
...Gabriel hanya bisa memaku, menatap lantai marmer dengan napas yang tertahan di tenggorokan....
...Ratri berdiri tegak, napasnya naik turun dengan teratur namun matanya memancarkan kepuasan yang dingin....
...Ia tahu, bentakannya barusan telah meruntuhkan mental kawanan parasit itu sampai ke dasar....
...Di luar pagar rumah yang gelap, lampu mobil Devandra menyala samar, menembus celah-celah jeruji besi gerbang....
...Di dalam kabin mobilnya, Devandra duduk dengan tenang sembari melipat tangan....
...Matanya yang tajam mengawasi setiap pergerakan di dalam rumah melalui jendela kaca yang besar....
...Ia memandangi bayangan Ratri yang berdiri gagah mendominasi ruangan....
...Senyum tipis terukir di bibir Devandra. Rencana mereka berjalan sempurna....
...Pria itu menyentuh tombol ponselnya, memastikan tim pengacara hukum terbaik yang sudah ia siapkan berada dalam mode siaga....
...Devandra siap menjadi eksekutor hukum yang akan menyeret Indra dan selingkuhannya ke kehancuran total, memastikan mereka keluar dari rumah itu tanpa membawa sepeser pun harta milik Ratri....
...Mendengar ancaman perceraian itu, ketakutan Indra mendadak lenyap, digantikan oleh kepongahan yang kembali meluap....
...Sadar bahwa kedoknya sudah telanjang bulat, ia berhenti bersandiwara....
...Pria itu menegakkan punggungnya, lalu tawa terbahak-bahak yang terdengar sumbang dan sinis meledak dari mulutnya....
..."Hahaha! Bercerai kamu bilang?!"...
...Indra menatap Ratri dengan pandangan menantang yang amat menjijikkan....
..."Boleh! Aku setuju-setuju saja kita bercerai! Tapi dengan satu syarat... rumah mewah ini, mobil, dan semua aset yang ada harus menjadi milikku dan anak-anak! Kamu tidak boleh membawa sepeser pun!"...
...Tasya dan Gabriel yang semula menangis ketakutan, seketika menegakkan kepala....
...Begitu mendengar masalah pembagian harta, naluri serakah kedua anak durhaka itu langsung bangkit....
...Mereka kompak menganggukkan kepala dengan cepat, mendukung penuh kebiadaban ayah mereka....
..."Benar itu, Ma!" seru Tasya tanpa tahu malu, menghapus air matanya dengan kasar....
..."Rumah ini kan tempat tinggal kami dari kecil. Mama kan jarang di rumah, jadi rumah ini harus tetap jadi milik kami!"...
...Gabriel pun ikut menimpali dengan nada mengusir yang teramat kasar, "Mama silakan pergi dari sini! Bawa saja koper pakaian Mama itu. Mulai malam ini, Mama gak usah tinggal di sini lagi. Rumah ini milik Papa dan kami!"...
...Imelda yang berdiri di belakang Indra tersenyum licik, merasa berada di atas angin karena mengira Ratri akan mengalah demi anak-anaknya seperti biasa....
...Mereka berempat menatap Ratri dengan tatapan penuh kemenangan, mengira strategi pemerasan berkedok hak asuh anak ini akan berhasil....
..."Jadi kalian sekarang sudah tidak memakai topeng lagi?"...
...Ratri tertawa kecil, suara tawanya terdengar begitu renyah di telinga, meskipun jauh di lubuk hatinya yang terdalam, ada bagian yang menangis perih menyaksikan kehancuran moral anak-anak kandungnya sendiri....
...Indra berdecak pinggang, melangkah maju dengan wajah tanpa dosa yang teramat memuakkan....
..."Sekarang jujur saja, Ratri. Kamu itu wanita yang sangat membosankan! Kamu kaku, tidak punya waktu untuk keluarga, dan hanya tahu soal pesawatmu itu. Imelda jauh lebih mengerti aku dan anak-anak daripada kamu!"...
..."Benarkah?" Ratri melirik Imelda dengan sudut matanya yang dingin....
...Imelda menegakkan dagunya, menganggukkan kepalanya dengan angkuh seolah baru saja memenangkan sebuah trofi....
..."Benar. Aku yang selama ini mengurus mereka saat kamu sibuk di langit, Ratri."...
...Bukannya marah atau mengamuk, Ratri justru mengulas senyum paling menawan yang pernah ia miliki....
..."Terima kasih banyak kalau begitu, Imelda. Terima kasih karena kamu sudah berbaik hati mengambil sampah-sampah tak berguna dari hidupku."...
...Ratri menjeda kalimatnya, memandangi Indra, Tasya, dan Gabriel bergantian dengan tatapan kasihan....
..."Dan maaf... kalian sepertinya lupa satu hal yang sangat krusial."...
...Ratri melangkah menuju meja, mengambil secarik dokumen dari dalam tas dinasnya lalu melemparkannya ke atas meja kaca....
..."Rumah ini, mobil, dan seluruh aset yang kalian nikmati selama ini adalah mutlak atas namaku sendiri, Mas. Bukan atas nama kita, apalagi atas namamu. Jadi..." Ratri menunjuk ke arah pintu depan dengan jarinya yang kokoh, "...yang harus keluar dari rumah ini adalah kamu, selingkuhanmu, dan anak-anak kurang ajar yang tidak tahu diuntung ini!"...
...Mendengar kenyataan pahit bahwa ia tidak akan mendapatkan sepeser pun harta, kewarasan Indra hilang sepenuhnya....
...Wajahnya merah padam, diselimuti amarah yang membutakan mata....
...Dengan cepat, ia menyambar sebotol wine kosong yang ada di atas meja samping, mengangkatnya tinggi-tinggi, dan bersiap memukulkannya ke kepala Ratri....
..."Sialan kamu, Ratri! Mati kamu!"...
..."HENTIKAN!!"...
...Sebuah bentakan bariton yang menggelegar memotong pergerakan Indra....
...Pintu rumah yang tadinya tertutup kini terbuka lebar....
...Indra terkejut setengah mati, tangannya yang memegang botol langsung tergantung di udara ketika melihat dua orang lelaki bertubuh tegap dan berpenampilan necis melangkah masuk dengan aura intimidasi yang luar biasa....
...Devandra memimpin di depan dengan tatapan mata yang siap membunuh, diikuti oleh Thomas di belakangnya....
...Melihat ada pria lain yang membela istrinya, Indra justru menyeringai sinis, mencoba menutupi rasa takutnya dengan ejekan kotor....
..."Oh... jadi ini selingkuhan kamu, Ratri? Ternyata Kapten Pilot yang suci ini punya simpanan juga di luar negeri!"...
...Ratri menatap Indra dengan pandangan paling rendah yang bisa diberikan seorang manusia....
..."Aku tidak sepertimu, Mas. Dia adalah orang yang akan memastikan kamu membusuk di penjara atas kasus perzinaan dan penggelapan uang."...
...Devandra tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi untuk meladeni adu mulut yang tidak bermartabat ini. Ia menoleh sedikit ke arah asistennya....
..."Thomas, seret sampah-sampah ini keluar dari sini. Sekarang."...
..."Baik, Pak," jawab Thomas tegas. Ia segera memberi kode kepada beberapa petugas keamanan sewaan yang sudah bersiap di luar pagar....
...Dengan sigap, petugas-petugas itu masuk dan langsung mencengkeram lengan Indra serta Imelda, lalu menarik mereka dengan paksa menuju pintu keluar....
...Tasya dan Gabriel yang ketakutan setengah mati hanya bisa mengekor di belakang sambil menangis histeris karena diusir dari rumah mewah mereka sendiri....
..."Awas kamu, Ratri!! Aku akan menghancurkanmu! Aku tidak akan biarkan kamu hidup tenang!! Keparat!!" teriak Indra berang, suaranya melengking penuh dendam di sepanjang halaman rumah saat tubuhnya diseret keluar tanpa membawa apa pun selain baju yang melekat di badannya....
...Pintu depan akhirnya tertutup rapat, menyisakan keheningan yang melegakan di dalam ruang tamu....
...Badai pertama telah berlalu, dan sang kapten berhasil mendaratkan pesawatnya dengan selamat, menyisakan kehancuran total bagi mereka yang mencoba menjatuhkannya....
tinggal tunggu karmaa yg menghampiri kalian ,,
sama2 gx punya maluu ,, sama2 gx tau diri ,, dan sama2 haus harta yg bukan milik ny ,, 😏😏😏😏
jgn hidup ngandelin keringat orang lain ,, apa lagi istri yg sbntar lgi jd mantan ,, gx maluu tuuh ma b*lalai ,,
😒😒😒😒😒😒😒😒
tp tdk memungkinkan badai yg sebenarnya baru aj di mulai ,,
😒😒😒
semoga cepat bisa di temukan ,
gregeet bangeet
😒😒😒😒
😒😒😒😒
udh numpang hidup tp gx tau diri ,,
jgn2 si indra juga gx kerja ,, hidup Dr uang istriny Selama ni ,,
dasar tak tau malu ,,
skraaang masa aktif ATM berjalan kalian sudah habis ,,
waktuny kerja keras sendri buat gaya hidup kalian ,,, 😒😒😒😒