NovelToon NovelToon
AYO BERCERAI, MAS!

AYO BERCERAI, MAS!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Romansa / Drama / Rumah Tangga
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yehppee

"Ayo bercerai, Mas!"

kalimat itu Anna ucapkan tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke lima.

Bukan karena hadirnya orang ketiga. Bukan pula karena Jeevan Aditya pernah mengangkat tangan kepadanya.

Anna hanya...lelah.

Lelah menjadi perempuan yang harus selalu mengalah, selalu kuat, selalu tersenyum, dan selalu memenuhi harapan orang lain hingga perlahan kehilangan dirinya sendiri.

Dan pada akhirnya ia memilih bercerai.

Namun, hidup ternyata tidak semudah itu.

Saat karirnya mulai bersinar, sebuah kejadian merenggut harga dirinya. Di saat yang sama, seorang teman SMA yang diam-diam mencintainya muncul sebagai pengacara yang siap membela. Sementara itu, seorang pria misterius berhelm hitam terus mengikuti setiap langkahnya.

Siapakah dia? Penguntit atau pelindung?

Temukan jawabannya di novel ini👋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB. 9, Bukan Seorang Gadis

Langit Jakarta masih menyimpan sisa-sisa gelap ketika jarum jam merangkak melewati pukul lima pagi. Cahaya fajar mengintip malu-malu dari balik gedung-gedung tinggi, memecah pekat malam seperti secarik harapan yang di selipkan diam-diam oleh semesta. Di luar jendela apartemen, rel MRT telah bersiap menyambut denyut kehidupan yang sebentar lagi berlari tanpa sempat menoleh ke belakang.

Di dalam kamar utama, suasana masih tenang.

Jeevan berdiri tegak menghadap cermin setinggi badan. Pantulan sosoknya memenuhi bingkai kaca dengan pembawaan yang selalu sulit di terjemahkan. Kemeja berwarna navy melekat rapi di tubuh tinggi itu. Jemarinya yang panjang mengancingkan kancing lengan kemeja dengan gerakan terlatih, nyaris tanpa suara. Satu per satu kancing terkunci, serapi kebiasaannya menyembunyikan isi hati.

Sesudahnya, ia mengambil sisir hitam dari atas nakas.

Beberapa kali gerakan ringan merapikan helaian rambutnya hingga membentuk gaya comma hair yang sederhana, tetapi membuat wajahnya tampak semakin tegas. Usia memang telah menginjak kepala empat, namun waktu seolah hanya menambahkan kedewasaan pada garis rahangnya, bukan mengurangi pesonanya. kerutan belum berani singgah di wajah lelaki itu. Tatapan matanya tetap setenang permukaan danau ketika angin enggan bertiup.

Jeevan memeriksa jam tangan yang melingkar di pergelangan kirinya.

Senin.

Artinya, perjalanan menuju kantor akan dipenuhi lautan manusia yang sama-sama mengejar waktu.

Dari arah dapur terdengar bunyi spatula beradu pelan dengan wajan.

Anna sudah terbangun bahkan sebelum alarm berbunyi.

Perempuan itu mengenakan kaus rumahan berwarna krem dengan celana panjang katun sederhana. Rambutnya di ikat asal menggunakan penjepit, menyisakan beberapa anak rambut yang jatuh membingkai pipinya.

Tangannya tampak bergerak cekatan.

Dua lembar roti gandum dipanggang hingga kecoklatan. Selada segar, irisan tomat, telur dadar tipis, dan dada ayam yang telah dipanggang semalam di susun rapi menjadi sandwich sederhana. Setelah membungkusnya menggunakan kertas makanan, Anna memasukkannya ke dalam kotak bekal.

Tak berhenti di sana.

Ia mencuci apel, memotong pir menjadi beberapa bagian, lalu menambahkan beberapa butir anggur ke dalam wadah kecil.

Bekal itu mungkin sederhana.

Namun, setiap potongan buah terasa seperti bahasa kasih yang tak pernah sempat diucapkan.

Tak lama kemudian terdengar langkah kaki mendekat. Jeevan muncul dari ambang pintu kamar menuju ruang tengah dengan tas ransel hitam di bahunya.

Anna menoleh. "Sudah siap?"

"Hm." Sahutnya seraya menuangkan air hangat ke dalam gelas cangkir.

Anna melirik jam dinding.

"Gak sarapan dulu Mas?" tanyanya seraya menatap wajah suaminya.

Jeevan ikut melihat waktu di pergelangan tangan kirinya. "Kalau makan sekarang, kemungkinan telat naik MRT."

Anna mengangguk pelan. "Iya juga."

Ia menyerahkan kotak bekal serta botol minum.

"Sandwich sama buah, jangan lupa tempatnya di ambil lagi."

Jeevan menerima tanpa banyak ekspresi.

"Iya, jangan khawatir."

Beberapa detik hening menggantung di antara mereka. Hubungan di antara keduanya memang tidak pernah dipenuhi rayuan atau pun kalimat manis. Akan tetapi, justru di dalam keheningan itulah mereka saling memahami.

Jeevan mengenakan sepatunya di dekat pintu, sedangkan Anna berdiri beberapa langkah di belakang.

"Menurut ramalan cuaca, katanya sore nanti hujan, Mas. Jangan lupa bawa payung." Ingat Anna seraya menatap punggung suaminya.

Jeevan berdiri dan lalu membalikkan badannya. "Sudah. Ada di dalam tas."

Anna mengangguk kecil. "Baiklah."

Setelah itu Anna mengulurkan tangannya untuk menyalami suaminya.

"Kalau begitu, berangkat dulu. Hati-hati di rumah, kalau mau keluar jangan pulang larut malam." Jeevan tersenyum kecil.

"Baik, Mas." Jawab Anna patuh.

Jeevan memegang gagang pintu, ia keluar dan setelahnya pintu apartemen kembali tertutup rapat.

Suara langkah kaki Jeevan menghilang bersama denting lift yang membawa penghuni-penghuni lain menuju aktivitas masing-masing.

Anna masih berdiri memandangi daun pintu beberapa saat. Tidak ada pelukan, kecupan atau ucapan romantis lainnya. Selama pernikahan mereka memang selalu berjalan seperti itu. Anna selalu berpikir mungkin karena jarak umur mereka yang cukup jauh.

...🌼🌼🌼...

Setelah memastikan suaminya benar-benar berangkat. Anna menarik napas panjang.

Hari baru kembali dimulai.

Ia merapikan meja makan yang sebenarnya hampir tak berantakan. Piring bekas menyiapkan sarapan segera di cuci hingga bersih. Air mengalir membasuh sisa minyak sebagaimana waktu perlahan mengikis usia.

Setelah itu, ia menyapu seluruh ruangan.

Lantai di pel hingga mengilap.

Bantal sofa di rapikan.

Tak ada sudut yang luput dari perhatiannya.

Pekerjaan rumah datang silih berganti seperti ombak yang tak pernah benar-benar berhenti menyentuh bibir pantai. Begitu satu selesai, pekerjaan lain telah menunggu.

Keranjang pakaian kotor kemudian ia seret ke dekat mesin cuci. Baju kerja Jeevan di pisahkan dari pakaian berwarna terang. Detergen di tuangkan secukupnya, lalu mesin mulai berputar perlahan.

Dengungannya memenuhi apartemen.

Anna menunggu cucian itu sambil menyandarkan tubuh pada dinding sebentar. Ia melirik jam dinding yang baru menunjukkan pukul enam lewat.

"Masih banyak waktu..." gumamnya pelan kepada dirinya sendiri.

Entah kenapa sejak menjadi ibu rumah tangga hari-harinya selalu terasa penuh meski tak pernah benar-benar pergi kemana-mana.

Ketika jarum jam menunjuk tepat pukul tujuh pagi, Anna baru saja selesai mengikat kantong sampah berwarna hitam.

Ia mengenakan sandal rumah, lalu melangkah ke luar apartemen.

Koridor apartemen itu terlihat masih renggang, atau mungkin mereka sudah berangkat bekerja, mengantar anak sekolah, atau sekedar berjoging.

Udara dari pendingin ruangan berembus pelan.

Sesaat setelah pintu di tutup, dari arah berlawanan muncul seorang perempuan.

Usianya mungkin tidak jauh berbeda.

Ia mengenakan blouse putih dengan blazer tipis berwarna abu-abu serta rok span hitam yang jatuh tapi hingga lutut. Sepasang sepatu hak sedang mengiringi langkahnya dengan bunyi pelan. Rambut panjangnya di gerai halus, mengilap diterpa cahaya lampu lorong.

Aroma parfum lembut menguar setiap kali perempuan itu bergerak.

Di jari telunjuk dan jari manisnya berkilau cincin bermata berlian kecil. Tidak mencolok, tetapi cukup memantulkan kemewahan yang anggun.

Kepercayaan diri terpancar begitu alami dari caranya sendiri.

Tatapannya hangat ketika melihat Anna.

"Selamat pagi." Sapanya seraya tersenyum.

Anna tersenyum sopan. "Pagi."

Perempuan itu melirik ke arah kedua tangan Anna yang membawa dua kantong plastik berwarna hitam yang berisikan sampah.

"Mau buang sampah?" tanyanya basa-basi.

Anna mengangguk. " Ah...iya."

Tak ada lagi percakapan di antara mereka, karena memang hanya sekedar basa-basi saja. Terlebih bunyi ting menandakan pintu lift terbuka.

Lalu keduanya masuk sama-sama, perempuan itu memilih berdiri di pojok kiri sedangkan Anna memilih berdiri di pojok kanan sambil memegang dua kantong sampah.

Ruangan itu kembali sunyi, hanya terdengar dengungan mesin lift yang membawa mereka turun menuju lantai dasar.

Tanpa sengaja, Anna melirik ke samping. Blouse yang licin tanpa kusut, riasan wajah tipis yang membuat perempuan itu tampak segar.

Lalu jam tangan yang melilit di pergelangan tangan kirinya tampak elegan, sepatu hak mengkilat indah membungkus kedua kakinya.

Lalu perlahan pandangannya jatuh kepada dirinya sendiri.

Kaus rumahan yang dikenakannya menyisakan bercak air di bagian depan akibat cipratan saat mencuci piring. Celana longgar sederhana, rambut yang diikat seadanya. Bahkan telapak tangannya masih terasa sedikit kasar karena sabun cuci.

Kontras, seolah dua musim berdiri dalam satu ruang yang sama. Perempuan di sebelahnya tampak seperti pagi yang baru mekar, sedangkan dirinya...ia merasa seperti halaman buku yang terlalu sering di buka hingga warnanya memudar.

Anna menundukkan kepala, senyum tipis terbit di bibirnya. Bukan karena iri, melainkan karena kenangan diam-diam mengetuk pintu ingatannya.

Dulu...sebelum cincin pernikahan melingkar di jarinya, sebelum jadwal harinya dipenuhi bunyi mesin cuci, aroma sabun, serta daftar belanjaan bulanan, ia juga pernah berangkat bekerja dengan langkah ringan.

Pernah berdiri di depan cermin memilih pakaian terbaik. Pernah menata rambut dengan hati-hati, pernah menikmati secangkir kopi sambil membawa tas berisi naskah drama yang harus direvisi sebelum tenggat. Pernah berlama-lama di kafe bersama kedua sahabatnya tanpa harus membagi waktu karena harus pulang sebelum seseorang yang tinggal bersamanya pulang dari bekerja, lalu harus menyiapkan makanan untuk makan malam.

Ia pernah menjadi penulis skenario yang bersemangat mengejar mimpi, memperdebatkan alur cerita dengan rekan kerja, lalu tersenyum puas ketika namanya muncul di kredit penutup sebuah drama.

Kala itu, dunia terasa begitu luas. Setiap halaman kosong adalah kemungkinan, setiap pagi adalah kesempatan dan kini, dunianya mengecil menjadi seluas sebuah apartemen.

Bukan berarti kehidupannya buruk. Hanya saja, tanpa ia sadari, ada banyak bagian dari dirinya yang tertinggal di perjalanan. Ia sadar, dirinya sendiri yang memutuskan berhenti bekerja lalu memilih menikah.

Lift akhirnya berhenti.

Pintu terbuka perlahan.

Perempuan di sampingnya melangkah keluar lebih dulu. "Selamat beraktivitas ya."

Anna mengangkat wajahnya dan membalas senyum itu. "Iya. Semoga harimu menyenangkan."

"Kamu juga." Ucapnya tersenyum.

"Terima kasih." Sahut Anna.

Wanita tersebut berjalan menuju lobi dengan langkah mantap, kemudian menghilang di balik pintu kaca yang mengarah ke hiruk-pikuk kota.

Anna tetap berdiri beberapa detik. Tatapannya mengikuti sosok itu hingga lenyap, lalu ia menoleh pada bayangannya sendiri yang terpantul samar di dinding lift.

Ada sesuatu yang bergetar pelan di dada, bukan penyesalan dan bukan pula kecemburuan, melainkan sebuah pertanyaan yang muncul selembut pagi.

"Kapan terakhir kali aku berdandan bukan untuk acara orang lain, melainkan untuk diri sendiri?"

Pertanyaan itu menggantung tanpa jawaban, sementara matahari terus naik ke langit, seolah mengingatkan bahwa waktu tidak pernah berhenti menunggu siapa pun--- termasuk perempuan yang perlahan lupa bahwa dirinya juga layak dirawat, sama seperti semua orang yang setiap hari ia jaga.

...🌼🌼🌼...

Jangan lupa follow, komen, subscribe, vote dan like🫶

Untuk kalian perempuan yang sudah menikah dan memutuskan menjadi seorang ibu rumah tangga, kalian hebat. Tapi, jangan sampai lupa untuk membahagiakan diri sendiri 🫶

...BERSAMBUNG...

1
💞Putri Chania💞
ayo ana..lepaskan semuanya..semangat sembuh
Fatma Yulia
pleeasee jgn pisah ya thor, karna cinta mereka dalammmm bgt
💞Putri Chania💞
duuh ..sama" mencintai d dalam hati...sama" terluka...jd sad..tapi kesendirian juga bisa menyembuhkan luka..
Uthie
Mampir 👍
🍀 YEHPPEE 🍀: makasih, semoga betah🙏
total 1 replies
Gemuruh riuh
bagus ceritanya thor, kakak aku aja sering ngeluh sama kelakuan keluarga suaminya 👍
Gemuruh riuh
jleb banget
Gemuruh riuh
ucapan senjata para suami cuek
💞Putri Chania💞
Oalah...ternyata yg nyelamatin Anna adalah pria yg mencintainya dalam diam....spertinya makin serru nih tambah pemeran baru Thor..
💞Putri Chania💞
apakah pria itu Abimanyu..?
💞Putri Chania💞
cerita yg bagus dan banyak terjadi pada kaum hawa..yg merasa baik" saja ...pada hal..
🍀 YEHPPEE 🍀: makasih, semoga betah bacanya sampe tamat☺️
total 1 replies
💞Putri Chania💞
lanjut thor
Mymy Zizan
apa yg mau di lompatin thor... 7 bab aja masih krng, pngen lebih
💞Putri Chania💞
cerita nya bgus Thor...tidak sedikit yg mengalami kasus sperti Anna...
🍀 YEHPPEE 🍀: hai makasih udah mampir lagi 😁🙏
total 1 replies
Gemuruh riuh
elu sendiri yang bikin stres ibuuuu
Gemuruh riuh
pertanyaan horor ibu mertua 😲
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!