NovelToon NovelToon
The Alpha'S Secret Girl

The Alpha'S Secret Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:824
Nilai: 5
Nama Author: Scrpn

“Rangga Dewantara Aldebaran menguasai sekolah ini, tapi Keisha Zahra Aurellia menguasai jantungnya.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Bab 35: Bayangan di Balik Pintu Toko Roti

Mentari pagi menyapa kediaman Rangga dan Keisha dengan bias cahaya kuning keemasan yang menembus lembut jendela kaca kamar utama. Suasana di dalam rumah terasa begitu hangat dan menenangkan, jauh berbeda dari ketegangan dingin yang sempat melanda beberapa waktu lalu. Setelah badai emosional dan dinding es ego yang berhasil mereka cairkan bersama, pasangan pengantin baru itu kini kembali merajut keharmonisan di bawah atap rumah mungil mereka.

Rangga terbangun lebih awal dari biasanya. Ia meregangkan otot-otot lengannya perlahan, lalu menoleh ke sisi sebelah kanan. Keisha masih terlelap pulas dalam posisi miring menghadap ke arahnya. Wajah wanita itu tampak begitu damai, tenang, dan natural tanpa polesan make-up sedikit pun. Helai-helai rambut hitam Keisha yang terurai bebas di atas bantal putih tampak kontras dengan kulit wajahnya yang bersih. Jemari tangan kiri Keisha masih melingkar longgar di atas selimut, memperlihatkan kilau cincin perak pernikahan yang melingkar sempurna di jari manisnya.

Rangga tersenyum tipis. Perasaan hangat dan rasa syukur yang teramat besar kembali memenuhi rongga dadanya. Ia sangat bersyukur karena sempat menyadari kesalahannya sebelum jarak di antara mereka benar-benar melebar. Dengan sangat berhati-hati agar tidak membangunkan istrinya, Rangga mengangkat tubuhnya pelan dari tempat tidur, mengenakan kaos oblong hitam polos dan celana training abu-abu, lalu melangkah pelan keluar kamar menuju area dapur di lantai bawah untuk menyiapkan sarapan pagi.

Suasana lingkungan perumahan itu sangat tenang. Hanya terdengar suara sapu lidi tukang kebun kompleks yang bergesekan dengan jalanan aspal, dipadukan dengan kicauan burung gereja di dahan pohon mangga. Rangga mulai menyalakan kompor, merebus air untuk dua cangkir kopi hitam kesukaannya dan teh manis hangat untuk Keisha, serta mulai menyiapkan bahan-bahan untuk membuat sarapan spesial: roti panggang isi keju dan telur mata sapi buatan tangannya sendiri.

Pukul tujuh pagi, aroma harum tumisan mentega dan roti panggang mulai merambat naik ke lantai dua, menggelitik indra penciuman Keisha. Wanita itu perlahan membuka kelopak matanya, meregangkan kedua tangannya ke atas, lalu menghirup aroma masakan yang sudah tidak asing lagi baginya. Senyuman manis langsung merekah di bibirnya.

Keisha bangkit duduk, merapikan rambutnya, lalu melangkah turun menyusul suaminya ke lantai bawah. Begitu ia tiba di area dapur, ia melihat punggung tegap Rangga yang sedang membalik telur di atas wajan dengan cekatan, mengenakan kaos hitam kesayangannya.

"Pagi, koki andalan rumah ini," sapa Keisha lembut sambil melangkah mendekat, lalu melingkarkan kedua tangannya memeluk pinggang Rangga dari belakang dan menyandarkan kepalanya di punggung suaminya.

Rangga menghentikan gerakannya sesaat. Ia menolehkan sedikit kepalanya ke belakang, tersenyum lebar, lalu meletakkan spatula di tangannya untuk berbalik dan membalas pelukan istrinya dengan erat.

"Pagi juga, Nyonya Aldebaran tersayang," ucap Rangga lembut, mengecup sekilas puncak kepala Keisha. "Tidurmu nyenyak malam tadi? Nggak kebangun kan gara-gara suara angin di luar?"

Keisha mendongak, menatap manik mata kelam suaminya dengan sorot mata penuh cinta. "Nyenyak banget, Kak. Malah tidur paling nyenyak semenjak kita baikan kemarin. Apalagi sekarang rasanya rumah kita adem tentram nggak ada beban pikiran."

Rangga tertawa renyah, mencolek hidung mancung istrinya gemas. "Bisa aja gombalnya. Udah, sana duduk manis di meja makan. Sarapannya sebentar lagi beres. Hari ini kan kita rencananya mau jalan santai keliling kota mumpung urusan kantor lagi nggak begitu padat."

Mendengar ajakan tersebut, mata Keisha langsung berbinar cerah. "Wah, jadi kan kita jalan-jalan siang nanti? Aku pengin mampir ke toko roti jadul di dekat alun-alun kota. Katanya di sana ada kue sus legendaris yang enak banget."

"Jadi dong, mana mungkin aku lupa janji sama istriku sendiri," balas Rangga mantap sambil membawa piring berisi roti panggang buatan tangannya ke meja makan.

Pukul delapan lewat seperempat, setelah sarapan dan merapikan rumah bersama-sama, Rangga mengantar Keisha menuju stasiun kereta komuter dengan motor matic andalan mereka. Meskipun posisi Rangga sebagai direktur operasional di Aldebaran Engineering & Automotive Hub memungkinkannya membeli mobil mewah, mereka berdua tetap menikmati kesederhanaan masa-masa awal pernikahan ini.

Setibanya di depan gerbang stasiun, Keisha turun dari motor, melepas helmnya, lalu menyerahkannya kepada Rangga dengan senyuman manis.

"Hati-hati di jalan ya, Kak. Jangan ngebut-ngebut ke kantornya," pesan Keisha sambil merapikan kerah kemeja suaminya.

Rangga mengangguk, membuka kaca visir helmnya lalu mencium sekilas kening istrinya di tengah kerumunan orang yang lalu-lalang. "Iya, sayang. Nanti siang pas jam istirahat kantor, aku jemput kamu di depan gedung keuangan ya. Kita langsung jalan ke toko roti yang kamu mau."

Keisha melambaikan tangan, lalu berbalik melangkah masuk ke dalam stasiun. Rangga memandangi punggung istrinya hingga menghilang di antara kerumunan penumpang, sebelum akhirnya memutar kemudi motornya menuju kawasan pusat bisnis kota.

Menjelang pukul dua belas siang, bel istirahat berbunyi. Keisha merapikan meja kerjanya, mematikan layar komputer, lalu meraih tas tangan kecilnya. Sesuai dengan janji pagi tadi, ponsel di dalam tasnya bergetar tidak lama kemudian, menampilkan nama panggilan dari sang suami.

Keisha segera mengangkat panggilan tersebut dengan senyuman terkembang di bibirnya. "Halo, Kak? Tepat waktu banget kayak alarm berjalan."

Di seberang sambungan telepon, suara bariton Rangga terdengar renyah dan penuh kehangatan. "Tentu saja, aku selalu siap siaga buat istriku tersayang. Kamu udah siap di lobi bawah? Aku udah parkir motor di seberang gedung kantormu."

Lima menit kemudian, Keisha melangkah keluar dari pintu lobi utama gedung perkantoran. Di seberang jalan, di bawah rindangnya pohon angsana, Rangga berdiri tegak mengenakan kemeja abu-abu terang. Begitu melihat sosok wanita melangkah menghampirinya, senyuman lebar langsung terkembang di wajah pria itu.

Rangga segera memakaikan helm ke kepala Keisha dengan telaten. Perjalanan siang itu di bawah terik matahari kota yang cerah terasa sangat menyenangkan. Sepanjang perjalanan, angin sepoi-sepoi menerpa lembut wajah mereka, membawa kebahagiaan sederhana yang sempat hilang beberapa waktu lalu.

Setibanya di kawasan alun-alun kota yang asri, mereka memarkirkan motor di area khusus kendaraan, lalu berjalan kaki menyusuri trotoar menuju sebuah toko roti klasik berdesain art deco tempo dulu. Toko roti tersebut terkenal dengan papan nama kayu tua yang menggantung di atas pintu kaca ganda serta aroma mentega manis yang langsung menyeruak begitu pintu dibuka.

Keisha tampak sangat antusias memilih beberapa jenis kue di dalam etalase kaca klasik, sementara Rangga berdiri di sampingnya dengan sabar sambil tersenyum melihat tingkah gemas istrinya.

"Kak, lihat deh kue sus fla vanila ini! Kelihatan enak banget kan?" ujar Keisha riang sambil menunjuk sebuah nampan berisi kue tradisional berukuran besar di balik kaca.

"Ambil aja berapa pun yang kamu mau, sayang. Hari ini aku traktir sepuasnya," jawab Rangga lembut, merangkul pinggang istrinya mesra.

Namun, di saat suasana hati mereka sedang diliputi rasa bahagia, ketenangan di dalam toko roti itu sekilas terusik oleh suara dering telepon seluler dari saku jas Rangga. Pria itu merogoh ponselnya, melihat layar yang menampilkan nomor tak dikenal dengan kode area luar kota. Rangga awalnya hendak mengabaikan panggilan tersebut, namun karena panggilan itu terus berdering tanpa henti, ia memutuskan untuk mengangkatnya sejenak demi alasan profesional.

"Sebentar ya, Keish, aku angkat telepon sebentar di luar toko," pamit Rangga sambil menepuk pelan pundak istrinya.

Keisha mengangguk. "Iya, Kak. Silakan."

Rangga melangkah keluar melalui pintu kaca toko roti, berdiri di trotoar yang agak sepi di samping pot bunga besar untuk menerima panggilan. "Halo? Dengan siapa ini?" tanya Rangga dengan nada suara formal.

Di seberang sambungan, suara seorang wanita paruh baya terdengar parau dan gemetar, menyebutkan sebuah nama yang sudah bertahun-tahun tidak pernah ingin didengar oleh Rangga lagi—nama seorang kerabat jauh dari garis keluarga besar ayahnya yang dulunya ikut ambil bagian dalam pengusiran dan penyingkiran Rangga dari lingkaran keluarga besar Aldebaran.

"Rangga... apa ini benar kamu, cucu dari keluarga Aldebaran?" suara di seberang terdengar mendesak dan penuh kepanikan. "Aku minta tolong... ayahmu... Tuan Besar yang lama telah jatuh sakit parah di kediaman pengasingannya di luar kota, dan sebelum semuanya terlambat, ia meninggalkan pesan tertulis khusus yang ditujukan langsung kepadamu. Ada rahasia besar mengenai masa lalu perusahaan dan dokumen warisan utama yang harus kamu ketahui sekarang juga!"

Rangga tertegun di tempatnya. Jantungnya berdegup kencang seketika. Seluruh darahnya terasa berdesir hebat mendengar kabar tersebut. Bayangan kelam masa lalu yang baru saja berhasil ia kubur dalam-dalam melalui perdamaian dengan sang kakek mendadak terbuka kembali oleh sebuah panggilan misterius dari kerabat yang telah lama menghilang.

Di dalam toko roti, Keisha yang sedang membayar pesanan di kasir melirik sekilas ke arah luar melalui jendela kaca besar. Ia melihat ekspresi wajah Rangga yang tiba-tiba berubah pucat pasi, kaku, dan memancarkan kebingungan yang luar biasa. Genggaman tangan suaminya pada ponsel tampak begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.

Keisha merasakan firasat buruk langsung merayap di dadanya. Apakah ada masalah baru yang kembali datang menerpa kehidupan mereka? Apakah bayang-bayang kelam keluarga Aldebaran belum benar-benar lepas dari pundak suaminya?

Rangga mematikan sambungan telepon dengan tangan yang sedikit bergetar. Ia menatap nanar ke arah jalanan kota di hadapannya, menyadari bahwa ketenangan semu yang baru saja ia nikmati bersama istrinya mungkin tidak akan bertahan lama. Badai baru yang jauh lebih besar dan tidak terduga kini siap menghantam lembaran hidup mereka berdua.

1
Feni sang penulis novel
assalamualaikum kak tetap semangat berkarya ya kak jangan patah semangat oh ya kak aku punya novel baru yang berjudul cinta tiada ujungnya tolong mampir ya kak terima kasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!