NovelToon NovelToon
Penyihir Sampah Naik Level Jadi Archmage

Penyihir Sampah Naik Level Jadi Archmage

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Akademi Sihir
Popularitas:310
Nilai: 5
Nama Author: Benhard Ayub Simanjuntak

Aku dilahirkan tanpa mana. Dijuluki "Sampah Magic" dan dikeluarkan dari Akademi Sihir Kerajaan.

Saat hampir mati di hutan iblis, aku mendapatkan [Sistem Archmage].

Setiap mengalahkan monster = dapat skill sihir baru.
Api, Petir, Ruang, Waktu... semua sihir bisa kupelajari!

Sekarang, aku akan kembali ke akademi itu.
Dan membuat mereka semua berlutut di hadapanku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benhard Ayub Simanjuntak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28 PENDAKIAN KE LANTAI 10

Malam itu aku gak tidur.

Grom jaga di depan pintu. Luna... dia kirim pesan lewat burung cahaya jam 2 pagi.

[ "Kael. Aku ikut. Jangan nekat sendirian. -L" ]

Aku genggam fragmen catatan. 2 dari 10.

Kalung mata merah. Profesor Garret.

Ayah di Lantai 10.

Jam 4 pagi. Aku berdiri.

"Ayo Grom."

"Siap Tuan!"

Kami keluar asrama. Menara Langit bersinar. 10 lantai semua nyala.

Itu panggilan.

Di depan gerbang Menara, Luna sudah nunggu. Mata sembab. Tapi tetap tegar.

"Kau yakin?" tanyanya.

"Enggak," jawabku jujur. "Tapi harus."

Luna mengangguk. "Kalau gitu kita bertiga."

[DING!]

[MISI: PENDAKIAN KE LANTAI 10 - DIMULAI]

[PERINGATAN: TIDAK BISA KELUAR SEBELUM SELESAI]

Pintu Menara terbuka dengan suara _KRAAAK_.

Angin dingin keluar.

Kami melangkah masuk.

Kami gak buang waktu. Naik terus.

*Lantai 4: [ICE WOLF LV.6]*

Luna bekuin kakinya. Aku bakar dari atas. 5 menit selesai.

*Lantai 5: [RUANGAN TEKA-TEKI]*

Simbol api. Jawabannya "Von Ignis". Pintu kebuka.

*Lantai 6: [POISON MIST]*

Grom tahan depan. Aku pake [FIREBOLT] buat bakar kabutnya.

*Lantai 7: [MIRROR KAEL]*

Bayangan diriku muncul. Pake api biru juga.

"Kaulah kelemahanmu sendiri," katanya.

Aku kalahin dengan bilang: "Kelemahanku adalah aku gak nyerah."

*Lantai 8: [ARENA KOSONG]*

Cuma ada peti. Isinya [FRAGMEN 3 dan 4].

"Dia mengincar keluargamu karena takut. Takut api biru bangkit lagi."

*Lantai 9: [GARGOYLE KEMBAR LV.8]*

Pertarungan paling berat. MPA ku habis 2x.

Luna hampir jatuh. Aku tangkap.

"[FIREBOLT TERAKHIR!]"

_BOOM_ Dua2nya hancur.

[DING!]

[SAMPAI: LANTAI 10]

[MPA: 5/100]

[HP: 40%]

Kami bertiga terengah di depan pintu besar. Pintu hitam. Ada ukiran api biru.

Dari dalam... suara ayahku.

_"Anakku... masuklah..."_

Luna pegang tanganku. "Siap?"

Aku angguk. Dorong pintu.

Di dalam gelap.

Cuma ada 1 kursi batu. Di atasnya duduk pria tua.

Jubah compang-camping. Setengah wajah kebakar.

Tapi matanya... biru. Sama kayak aku.

"Ayah..." bisikku.

Pria itu berdiri. Jalan pincang.

"Kael Von Ignis," katanya. Suaranya serak. "Kau besar."

Dia peluk aku. Aku kaku.

"Bau kamu... sama kayak ibumu."

Air mata jatuh. Aku gak bisa nahan.

"Kenapa Ayah ninggalin aku?" tanyaku.

"Karena aku dikhianati dan dipenjara di sini," katanya. "Oleh murid kesayanganku sendiri."

Luna langsung waspada. "Profesor Garret?"

Ayah mengangguk. "Dia iri. Dia takut api biru lebih kuat dari sihirnya. Jadi dia bunuh ibumu. Bakar keluarga kita. Dan kurung aku di sini 20 tahun."

[DING!]

[MISI: BAYANGAN DI MENARA - SELESAI]

[MISI BARU: BALAS DENDAM UNTUK KELUARGA]

Ayah pegang bahuku. "Kael. Kau satu2nya harapan. Api biru di dalam dirimu lebih kuat dari punyaku. Karena kau punya sesuatu yang aku gak punya..."

"Apa?"

"Kasih."

Tiba-tiba...

_BUAAAAAAAAK_

Pintu belakang kebuka.

Profesor Garret masuk. Tepuk tangan.

"Haru banget," katanya sambil senyum. "Reuni keluarga."

Kalung mata merahnya bersinar.

"Selamat datang di akhir cerita kalian," kata Garret.

"Garret!" teriak Ayah. "Lepaskan anakku!"

"Lepaskan?" Garret ketawa. "Aku yang harusnya dilepaskan! 20 tahun aku jadi bayangan! Semua orang cuma puji Keluarga Von Ignis!"

Dia angkat tangan.

[DING!]

[WARNING: BOSS FINAL TERDETEKSI]

[PROFESOR GARRET LV.15]

[ABILITY: MATA MERAH - KONTROL PIKIRAN]

"Kael," kata Garret. "Pilih. Bunuh ayahmu. Atau aku bunuh temanmu."

Dia tunjuk Luna. Mata Luna langsung kosong. Diikat sihir.

"LUNA!" teriakku.

Luna gak bisa gerak. Air mata keluar.

Ayah maju di depanku. "Lari Kael. Aku yang tahan."

"TIDAK!"

Aku berdiri di tengah. Api biru di tangan kiri. Di tangan kanan... kosong.

Garret tertawa. "Gak ada pilihan lain bocah."

Dia mulai mantra.

Kalungnya bersinar terang.

Aku ngerasain kepalaku sakit. Suara di kepala: _"BUNUH DIA... BUNUH DIA..."_

Itu bukan suara ayah. Itu suara Garret.

Aku jatuh berlutut.

"Kael!" teriak Ayah dan Luna bersamaan.

Di detik terakhir... aku ingat kata Ayah.

"Kasih."

Aku angkat kepala. Liat Garret.

"Api bukan untuk membenci," kataku. "Api untuk melindungi."

[DING!]

[MPA: 5/100 → 0/100]

[ABILITY BARU TERBUKA: [BLUE FLAME: AEGIS]]

Api biruku berubah. Bukan bola. Tapi perisai.

Nutup aku, Ayah, dan Luna.

Serangan Garret mental.

Garret terkejut. "Mustahil..."

Aku berdiri. Walaupun MPA 0.

"Giliran kita."

_GELAP_

[DING!]

[TO BE CONTINUED]

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!