Di wilayah Ragonves, sebuah wilayah besar di barat Kerajaan Dirvente, dua keluarga bangsawan paling berpengaruh telah terikat dalam permusuhan selama ratusan tahun. Keluarga Vincentes dan Keluarga Sienta saling menumpahkan darah demi harga diri, kekuasaan, dan dendam yang tak pernah padam.
Demi mengakhiri konflik yang berkepanjangan, kedua keluarga akhirnya menyepakati sebuah perjanjian damai. Sebagai simbol perdamaian, Grey Vincentes, pewaris Keluarga Vincentes, dipertunangkan dengan Keilla Sienta, putri kebanggaan Keluarga Sienta.
Bagi Grey, pertunangan itu adalah impian yang telah lama ia perjuangkan. Ia mencintai Keilla dan percaya bahwa hubungan mereka dapat menghapus kebencian kedua keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggung Takdir
Bruk!
Sebuah pukulan keras mendarat tepat di kepala Vega, membuat pemuda kurus itu hampir tersungkur ke lantai panggung. Ia terhuyung, memegangi kepalanya yang berdengung, sambil menggerutu pelan.
"Sialan, Grey! Apa-apaan kau—"
Grey tidak mempedulikannya. Tangannya dengan cepat meraih tangan Ressa yang sejak tadi gemetar karena khawatir. Genggamannya hangat, namun tegas.
"Ressa, tenanglah," ucap Grey, suaranya pelan namun menenangkan. Ia menghela napas panjang, berusaha menyusun kata-kata. "Aku tidak kejam. Aku tidak pernah berniat membunuh siapa pun."
Ressa menatapnya dengan mata berkaca-kaca, masih setengah percaya. "Tapi Tuan Vega bilang—"
"Tuan Vega seorang pembohong ulung," potong Grey sambil melirik tajam ke arah sahabatnya yang masih memegangi kepala.
Vega tersenyum kecut, masih kesal karena dipukul. Namun, melihat banyak orang di sekitarnya dan Ressa yang tampak ketakutan, ia memilih menahan amarah. Ia hanya mendengus dan melipat tangannya di dada.
"Apa sudah ku bilang," gumam Vega dengan nada kesal. "Kau sudah gila, Grey. Ingat pesanku, menghancurkan keluarga Sienta tanpa kesabaran hanya akan membawa petaka bagi keluarga Vincentes."
Grey meremas kepalanya sendiri, frustrasi. "Dengarkan aku, teman bodoh!" bentaknya, suaranya bergema di ruang teater. "Aku sedang membuat teater drama! Untuk acara jamuan minggu depan!"
Ia menunjuk ke arah panggung, ke properti rumah kayu mini, ke boneka-boneka yang tergantung di belakang tirai.
"Aku menyewa mereka untuk berakting! Drama tentang pertempuran dua keluarga! Semua yang kau dengar—pembakaran, pemenggalan—itu semua ada di naskah! Karena dramanya bertema horor!"
Ressa dan Vega terdiam. Mulut mereka terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar.
"Jadi..." Ressa akhirnya bersuara pelan, "semua yang Tuan Vega katakan itu... hanya salah paham?"
"Kurasa begitu," jawab Vega dengan canggung, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Grey menatap mereka berdua dengan tatapan lelah. "Daripada kalian menganggapku kejam, lebih baik kalian ikut dalam teater ini. Kebetulan sekali, kami kekurangan pemeran."
Ressa terkejut. "Saya? Ikut? Jadi apa?"
"Tentu saja sebagai putri yang terkutuk," jawab Grey sambil tersenyum lebar. "Dan aku akan menjadi pangeran penyelamatnya."
Ia menunjuk dirinya sendiri dengan bangga, matanya berbinar antusias.
Ressa menunduk, pipinya memerah. "Tapi... saya tidak bisa berakting—"
"Kau akan belajar," potong Grey. "Aku akan membantumu."
Vega menyela dengan suara tidak sabar. "Lalu, bagaimana dengan peranku?"
"Kau jadi bandit," jawab Grey enteng. "Kurasa kau cocok memerankannya."
Vega menggeram kesal. "Bandit? Aku ini kapten prajurit kerajaan, Grey! Bukan pencuri jalanan!"
"Justru itu membuatmu lebih meyakinkan."
Vega hanya bisa mendengus sambil menggumamkan sumpah serapah pelan.
Grey berbalik menghadap anak buahnya yang masih berbaris rapi di atas panggung. Ia mengangkat tangannya, meminta perhatian.
"Baiklah, semuanya! Sekarang kuperkenalkan para pemeran utama kita!"
Ia menunjuk satu per satu.
"Ini Barteil Aerhas, sebagai Raja Kegelapan!"
Seorang pria bertubuh besar dengan janggut lebat melambaikan tangannya, tersenyum ramah.
"Ini Angel Ranvell, sebagai Putri Bangsawan yang Jahat!"
Seorang wanita berambut pirang dengan wajah cantik namun tatapan angkuh melangkah maju, tersenyum manis.
"Dan ini..." Grey menunjuk Vega yang masih cemberut, "...Vega Arcsein sebagai Gervan, Bandit Kejam!"
Vega hanya mengangkat tangannya malas sebagai isyarat.
Grey kemudian membalikkan tubuhnya, menatap Ressa dengan senyum hangat. "Dan terakhir, Ressa Narvieta sebagai Putri Terkutuk, pemeran utama wanita!"
"Tidak adil!"
Angel Ranvell melangkah maju dengan langkah tegas, matanya menyala marah. Wajah cantiknya berubah masam.
"Tuan Muda Grey! Kenapa saya harus menjadi antagonis? Seharusnya saya yang menjadi putrinya! Bukan pelayan Anda!" Ia menunjuk Ressa dengan jari menuduh. "Ini benar-benar tidak adil!"
Grey mengangkat alisnya, tidak terpengaruh oleh protes Angel. "Ini sudah keputusanku," jawabnya datar. "Dan satu lagi, Ressa lebih cantik darimu. Jadi wajar saja dia menjadi pemeran putrinya."
Angel terdiam, tetapi matanya menatap Ressa dengan kebencian yang begitu terang. Ressa yang merasakan tatapan itu hanya menunduk, pipinya memerah karena malu dan tidak nyaman.
"Seharusnya aku tidak ke sini tadi," pikir Ressa dalam hati. "Sekarang aku mendapat permusuhan, padahal aku tidak pernah berniat menjadi pemeran utama."
"Grey."
Grey menoleh. "Apa lagi sekarang, Vega?"
Vega mendekat, suaranya pelan namun serius. "Kenapa kau tidak menjadikan Keilla sebagai pasanganmu? Bukankah dia tunanganmu? Seharusnya dia yang menjadi putri di dramamu."
Grey terdiam. Wajahnya yang tadi cerah kini berubah dingin. Matanya menatap kosong ke kejauhan.
"Jangan bahas itu," ucapnya pelan. "Aku tidak ingin mendengarnya."
Vega mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah, tetapi di matanya ada sorot prihatin.
Grey menoleh ke arah panggung, ke arah anak buahnya yang mulai sibuk berlatih. Angin malam berhembus masuk melalui celah jendela, membuat rambutnya berkibar.
"Keilla..." pikirnya dalam hati. "Aku sudah tidak mengejarmu lagi. Tapi dendamku pada keluargamu masih ada."
Ia menggenggam erat naskah di tangannya. Drama ini bukan hanya pertunjukan—itu adalah simbol. Simbol dari kejatuhan yang ia rencanakan, meskipun ia tidak akan mengakuinya pada siapa pun.
Di sudut panggung, Angel masih menatap Ressa dengan tatapan tajam. Di sisi lain, Vega mengawasi Grey dengan cermat.
Dan di tengah semua itu, Ressa berdiri diam, matanya yang cokelat keemasan menatap Grey dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Dia menyembunyikan sesuatu," pikir Ressa. "Drama ini bukan sekadar drama."
Di luar, malam semakin larut. Bulan purnama bersinar terang, menyinari gedung teater tua yang menyimpan rahasia-rahasia yang belum terungkap.