NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:41.8k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."

"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"

Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.

Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.

Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.

Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.

"Via... kita mulai dari awal."

"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Masakan Penuh Kasih Sayang

Levia menarik kursi di samping Bram Gultom. "Yah."

"Iya?"

Levia mengambil piring kosong milik ayahnya. "Dokter bilang Ayah harus mulai mengurangi makanan berminyak dan kolesterol."

Ia menyendok sup bening berisi sayuran, lalu menambahkan sepotong ikan bakar dan tumis brokoli secukupnya.

"Yang ini bagus buat tekanan darah Ayah. Ikannya juga dipanggang, bukan digoreng. Lalu sayurnya jangan lupa dihabisin."

Bram hanya memandang putrinya. Tangannya yang semula hendak mengambil piring perlahan terhenti. Perhatian kecil itu begitu sederhana. Namun entah sudah berapa tahun ia tidak pernah merasakannya dari Levia.

Selama ini, putrinya hanya sibuk memikirkan Vandra. Hari ini, Levia justru lebih dulu memikirkan kesehatannya.

"Terima kasih, Via," ucapnya pelan.

Levia tersenyum. "Sama-sama, Yah."

Di sisi lain, Herman, Bu Sari, dan Ninis diam-diam memerhatikan. Mereka sama penasarannya. Semua ingin tahu seperti apa rasa masakan Levia.

Bram mengambil sendok. Entah kenapa ia sedikit ragu. Bukan karena takut. Melainkan karena ia tahu betul kemampuan putrinya.

"Jangan-jangan terlalu asin..." pikirnya. "Atau malah belum matang?"

Namun rasa penasaran akhirnya mengalahkan keraguan. Perlahan ia menyendok sedikit sup beserta potongan ikan.

Suapan pertama masuk ke mulutnya. Ia mengunyah perlahan. Semua orang otomatis menahan napas.

Sesaat kemudian, mata Bram membulat.

Bu Sari langsung salah tingkah. "Aduh..." batinnya. "Apa jangan-jangan rasanya benar-benar gagal?"

Sementara Ninis menundukkan kepala agar senyumnya tidak terlihat. "Sudah kuduga. Mana mungkin Levia bisa masak."

Bram perlahan mengangkat wajah. Tatapannya tertuju lurus kepada Levia. "Via."

"Iya, Yah?"

"Ini..." Ia berhenti sejenak. "...benar kamu yang masak?"

Levia mengangguk tanpa ragu. "Iya." Ia tersenyum percaya diri. "Enak, kan, Yah?"

Beberapa detik Bram hanya menatap putrinya. Lalu ia mengangguk pelan. "Enak."

Satu kata itu membuat seluruh ruang makan mendadak hening.

Bram kembali menyendok makanannya. Kali ini lebih banyak. Setelah menelan suapan kedua, ia menggeleng pelan sambil tersenyum.

"Ayah benar-benar gak nyangka." Ia kembali memandang Levia. "Bukan cuma rasanya yang enak."

Ia menunjuk hidangan di atas meja. "Penyajiannya cantik. Aromanya juga menggugah selera. Kalau disajikan di restoran, Ayah yakin banyak orang yang rela bayar mahal."

Levia tersenyum kecil. "Terima kasih, Yah."

Di belakang mereka, Bu Sari sampai melongo.

Sementara Ninis sama sekali belum percaya. "Pak Bram cuma berusaha menyenangkan hati Levia. Beliau memang selalu membela putrinya. Pasti sebenarnya rasanya biasa saja."

Bram kembali menikmati makan malamnya. Suapan demi suapan masuk tanpa tersisa. Biasanya ia hanya makan secukupnya. Malam itu ia bahkan menambah nasi setengah porsi.

"Ayah suka?" Levia tertawa kecil.

"Suka?" Bram ikut tersenyum. "Bukan cuma suka. Ini salah satu masakan terenak yang pernah Ayah makan."

Levia sampai tertawa. "Masa, sih?"

"Iya." Bram memandang hidangan di depannya cukup lama. Sorot matanya perlahan berubah sendu. "Ibumu..."

Kalimatnya terhenti.

"Ibumu dulu juga suka memasak untuk Ayah." Senyumnya masih ada. Namun kedua matanya mulai berkaca-kaca. "Katanya..."

Suara Bram terdengar lirih. "Kalau masak buat orang yang kita sayang, rasanya pasti ikut masuk ke dalam makanannya."

Ia mengusap sudut matanya pelan. "Sudah lama sekali... Ayah gak merasakan makan malam seperti ini."

Levia ikut terdiam. Dadanya terasa hangat sekaligus sesak. Ia memang bukan Levia yang asli. Namun melalui ingatan pemilik tubuh ini, ia tahu betapa besar cinta Bram kepada mendiang istrinya.

Pria itu tidak pernah menikah lagi. Seluruh kasih sayangnya dicurahkan kepada putri semata wayangnya.

Sayangnya, selama ini Levia terlalu sibuk mengejar seseorang yang bahkan tidak mencintainya.

Perlahan Levia menggenggam tangan Bram. "Kalau Ayah suka..." Ia tersenyum hangat. "...mulai sekarang aku yang bakal masak buat Ayah."

Bram menoleh. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh. Ia mengangguk berkali-kali.

"Baik. Makasih, Via Sayang."

Tak lama kemudian Bram dan Levia meninggalkan ruang makan.

Begitu suara langkah mereka menghilang, Ninis langsung mengambil sendok. "Aku mau coba."

Ia menyendok sedikit ayam panggang. Begitu suapan pertama masuk ke mulutnya... Matanya langsung membesar.

"Ini..."

Ia membeku. Bumbu lada hitamnya meresap sempurna. Daging ayamnya empuk dan tetap berair. Tak ada bagian yang terlalu asin ataupun hambar. Semuanya terasa pas.

"Gimana mungkin?" batinnya. "Sejak kapan Levia bisa masak kayak gini?"

Melihat ekspresi Ninis, Bu Sari yang sejak tadi penasaran ikut mengambil sendok. Begitu mencicipinya, ia langsung menggeleng tak percaya.

"Ya Allah.... Enak banget."

Sebagai juru masak yang telah puluhan tahun bekerja di rumah itu, Bu Sari langsung tahu. Tingkat kematangannya pas. Perpaduan bumbunya seimbang. Bahkan penyajiannya pun menunjukkan selera yang tinggi.

"Ini bukan masakan orang yang baru belajar."

Pak Herman yang sedari tadi hanya menjadi penonton akhirnya ikut mengambil sendok. Beberapa detik kemudian, ia mengangguk pelan sambil tersenyum.

"Kalau begini..." Ia melirik ke arah dapur yang kini telah kosong. "...Nona Levia benar-benar sudah berubah."

***

Beberapa hari menjelang keberangkatan, aktivitas di markas justru semakin padat.

Kapten Arvandra Jayasena hampir tidak pernah pulang sebelum malam.

Mulai dari pemeriksaan kesehatan akhir, pembekalan misi, latihan penyegaran, pengecekan perlengkapan pribadi, hingga pengarahan mengenai aturan keterlibatan dalam operasi perdamaian, semuanya harus diselesaikan sebelum hari keberangkatan.

Ransel tempur, rompi antipeluru, perlengkapan medis pribadi, sampai dokumen perjalanan diperiksa berulang kali.

Tidak ada yang boleh terlewat.

Siang itu, seusai pengarahan, Vandra bersama beberapa perwira berjalan menuju kantin.

"Besok jangan lupa, ya," kata Letnan Dimas sambil membuka botol air mineral. "Istri-istri diundang kumpul Persit."

Mayor Rian langsung terkekeh.

"Istrimu pasti datang, 'kan?"

"Iya, lah."

"Kalau istriku gak datang, bisa-bisa pulang dimarahin."

Mereka tertawa.

Lalu tanpa sengaja pandangan beberapa orang beralih kepada Vandra.

"Van..." Rian menyenggol bahunya pelan. "Levia datang gak kali ini?"

Suasana mendadak sedikit hening.

Semua orang tahu jawabannya.

Selama menikah, Levia hampir tidak pernah menghadiri kegiatan Persit. Entah karena alasan sakit, sibuk, atau mendadak membatalkan. Akibatnya, Vandra beberapa kali menjadi bahan pertanyaan.

"Istrimu ke mana?"

"Kok gak pernah kelihatan?"

Vandra menarik kursi lalu duduk. "Gak tahu."

Dimas terkekeh pelan. "Paling juga gak dateng."

"Iya."

"Udah biasa."

Vandra tidak menanggapi. Tangannya sibuk membuka kotak makan. Namun, entah kenapa, pertanyaan itu justru terus terngiang di kepalanya.

"Apa Levia bakal datang?"

Kalau beberapa hari lalu, ia pasti bisa menjawab dengan yakin.

Tidak.

Levia pasti mencari alasan untuk menghindari acara seperti itu. Namun sekarang...

Bayangan Levia yang mengucapkan selamat atas penugasannya kembali muncul. Wanita itu bahkan mengetahui proses seleksi Satgas Perdamaian PBB. Sesuatu yang sebelumnya sama sekali tidak pernah ia pedulikan.

"Apa mungkin..." Vandra langsung menggeleng pelan. "Enggak. Dia pasti tetap sama."

Meski begitu...

Untuk pertama kalinya sejak menikah, ia benar-benar tidak bisa menebak apa yang akan dilakukan istrinya.

 

...✨"Kepercayaan tidak lahir dari janji, melainkan dari perubahan yang terus dibuktikan setiap hari."✨...

.

To be continued

1
Puji Hastuti
akhirnya Bu Sri bilang ke pak Gultom,lega rasanya.
abimasta
Ninis harus di pecat
Uthie
Nahh.. bagus bik Sari.. dikasih Tauin aja kecurigaan kamu sama si Ninis 😡👍
Anitha
Pak Gultom dan Levia harus lebih waspada ada parasit di rumahmu yang akan menghancurkan Nama Levia....jangan sampai lengah.

ayo Bu Sari ceritakan kalo si Ninis masuk kamar Bu Sari tanpa izin.
Kadek Sri
lanjut
Yuni Alyssa
katanya gultom mau mengawasi ninis... jangan sampe kecolongan ya... pasang aja CCTV rahasia sambil pantau...
kymlove...
ayooo bik kasih tau kelakuan mencurigakan ninis biar mereka semakin waspada
Siti Hawa
lanjut thoor, klu bisa up yg banyak ya, ku sudah kasih Bintang 5
Siti Hawa
sang at bagus
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Kadek Sri
lanjut
Uthie
si Ninis makin kurang ajar 😡😡😡
Anitha
Ada udang di balik ba'wan kali yaaa Andri...

baru kenal dengan Levia sudah menawarkan delapan Gerai,itupun penawaran Awal..
maju terus Via...kamu tambah Sukses dan di belakangmu si Ninis tambah iri.

syukurin tuh si Ninis misinya gagal terus😄
mery harwati
Andri Mahesa pengagum Levia secara diam² kah sebelum Levia nikah dengan Vandra? 🤔
kymlove...
ada apa dengan andri pak?? jahatkah??? atau apa??
Anitha
Wow kereeennnm Levia tambah Sukses tambah banyak ujiannya an si Ninis tambah iri saja
EVA OKTASARI
jangan-jangan andri ini mau deketin levia krn suka sama levia.
lin sya
siapa andri, apa dia berbahaya?
Uthie
lanjuuttttt
Elina thea
levia kamu harus hati-hati karna semakin kamu sukses,si Ninis malah tambah iri...jadi harus tetap waspada...
abimasta
andri akan mendekati livia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!