Hendra Wijaya bertahan empat tahun di neraka beku pasca-kiamat, hingga orang terdekat meracuninya. Ia terlahir kembali tiga bulan sebelum bencana—kini hafal jadwal gelombang panas, banjir, dan badai −50°C.
Kali ini ia bersiap di bunker mewah, sambil menyaksikan dunia saling bunuh. Cincin tembaganya mampu menyimpan kapal tanker, mengawetkan makanan, dan naik level via Lima Unsur. Ia borong logistik, bangun benteng, dan balas dendam pada perampas perusahaan serta pembunuh orang tuanya.
Namun kiamat ini bukan alamiah—ada konspirasi, Bestia, dan ras kuno dari Antartika. Hendra menjelma jadi senjata pamungkas umat manusia.
Pertanyaan: apa sebenarnya cincin itu, dan sejauh mana ia bisa naik—hingga jadi penguasa dunia baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 035: Serbuan Pintu Depan dan Interogasi Herman
Ruang inti Herman dijaga seperti markas kecil seorang raja.
Pintu baja.
Dua senapan mesin ringan.
Meja peta.
Radio tiga kanal.
Delapan pria bersenjata.
Satu letnan yang masih bisa berpikir.
Dan seorang bos yang duduk di kursi kulit, wajah tenang, tangan memegang pistol seolah seluruh bunker ini masih berada dalam kendalinya.
Hendra melihat semuanya dari lorong ventilasi sempit di atas gudang batu bara.
Ia berbaring rata di dalam debu hitam. Blacky berada di belakangnya, tubuh kecil menempel pada dinding pipa, tidak bersuara. Di bawah, Bang Leo sedang memberi perintah.
"Jangan kejar. Dia ingin kita pecah. Semua pintu samping tutup."
Herman menjawab lebih pelan.
"Tawanan?"
"Barak kosong terkunci. Kalau perlu, kita bakar jalurnya."
Mata Hendra menjadi dingin.
Jadi ancaman sandera tetap ada.
Caranya halus, tetapi cukup: satu perintah, satu api, satu jalur asap, dan perempuan yang baru dibebaskan bisa mati di ruangan yang ia kira aman.
Bang Leo memang lebih berbahaya daripada kroco biasa.
Karena itu ia harus mati cepat.
Hendra mundur setengah meter di dalam ventilasi, membuka penutup kecil menuju ruang pipa, lalu memanggil ransel bahan peledak ringan rampasan Bab 32 dari Ruang Penyimpanan. Ia tidak butuh ledakan besar. Ia hanya butuh pintu yang salah terbuka pada waktu yang salah.
Ia memasang muatan kecil di engsel pintu samping ruang inti, mengulur kabel pendek, lalu kembali ke titik atas.
Radio di ruang inti berbunyi.
"Bang Leo, jalur utama kosong. Kami tidak lihat siapa pun."
Bang Leo mengumpat.
"Karena dia tidak lewat jalur utama."
Terlambat menyadari hal benar masih tetap terlambat.
Hendra menekan pemicu.
Ledakan pendek mematahkan engsel pintu samping.
Semua orang di ruang inti menoleh ke sana.
Pada saat yang sama, Hendra membuka kisi ventilasi atas dan turun.
Ia jatuh tepat di belakang kursi Herman.
Satu tangan mencengkeram kerah bos itu. Satu tangan menekan pistol berperedam ke bawah dagunya.
"Jangan bergerak."
Ruangan membeku.
Herman tidak berteriak. Itu membuat Hendra sedikit menghargai keberaniannya.
Bang Leo berbalik lebih cepat daripada semua anak buahnya. Senjatanya sudah naik, tetapi garis tembaknya tertutup tubuh Herman.
"Lepaskan dia," kata Bang Leo.
Hendra menarik Herman berdiri dan menjadikannya tameng.
"Turunkan senjata."
Delapan pria ragu.
Herman akhirnya bicara.
"Turunkan."
Tidak ada yang bergerak.
Hendra menekan laras lebih keras ke dagu Herman.
"Kau butuh mereka patuh atau kau butuh mati dengan gaya?"
Wajah Herman tetap tenang, tetapi keringat mulai muncul di pelipisnya.
"Turunkan senjata!" teriaknya.
Empat senjata turun.
Empat lainnya masih setengah naik.
Bang Leo melihat peluang kecil itu. Ia tidak menembak ke kepala Hendra. Ia menembak ke kaki Herman, mencoba membuat tameng manusia jatuh dan membuka garis tembak.
Keputusan bagus.
Untuk manusia biasa.
Hendra sudah mendengar tarikan napasnya sebelum jari itu menekan pelatuk.
Ia menarik lutut Herman satu senti ke samping.
Peluru menghantam lantai.
Pada saat yang sama, pistol Hendra menyalak dua kali.
Tembakan pertama menembus pergelangan Bang Leo.
Tembakan kedua menembus matanya.
Letnan Herman jatuh tanpa sempat memberi perintah kedua.
Sisa ruangan pecah.
Dua pria menyerah dengan tangan terangkat.
Tiga pria menembak.
Tiga pria mati.
Hendra memakai Herman sebagai tameng, bergerak dari meja peta ke dinding beton, membengkokkan laras senjata terdekat dengan kendali Logam, lalu memanggil senapan pendek dari Ruang saat pistol kosong. Gerakannya tidak indah. Tidak perlu indah. Ia hanya perlu lebih cepat daripada orang yang mulai panik.
Dalam dua puluh detik, ruang inti menjadi miliknya.
Pria yang menyerah berlutut dengan tangan di kepala.
Hendra menatap mereka.
"Ada lagi?"
Salah satu menjawab cepat.
"Gudang bawah, dua orang. Ruang genset, satu. Kami tidak ikut ambil tawanan, Bang. Kami cuma jaga."
Herman tertawa kecil meski pistol masih menempel di dagunya.
"Semua orang tiba-tiba cuma penjaga kalau kalah."
Hendra menekan pistol.
"Diam."
Ia mengikat Herman ke pipa baja dengan kawat, lalu membersihkan sisa ruang inti. Dua pria yang menyerah dipaksa berjalan di depan menuju gudang bawah. Mereka berguna sebagai umpan. Jika ada yang menembak, merekalah yang jatuh dulu.
Di gudang bawah, dua penjaga memang ada.
Mereka melihat Herman tertawan dari kamera kecil dan langsung meletakkan senjata.
Ruang genset juga menyerah setelah Hendra menembak panel radio di atas kepala penjaga terakhir.
Tidak semua kroco perlu dibunuh.
Yang menyerah tanpa senjata bisa hidup cukup lama untuk bekerja di bawah pengawasan perempuan yang mereka pernah takuti.
Nasib akhir mereka nanti bukan urusan bab ini.
Urusan bab ini adalah gudang.
Gudang Herman membuat mata Hendra tenang karena alasan yang sangat praktis.
Senjata.
Amunisi.
Obat.
Makanan kaleng.
Selimut.
Generator cadangan.
Panel baterai.
Drum avtur.
Dan batu bara.
Banyak sekali batu bara.
Ongky tidak melebih-lebihkan. Di ruang besar samping, karung dan tumpukan hitam berdiri seperti bukit kecil. Hendra menghitung cepat lewat luas lantai, tinggi tumpukan, dan kepadatan rata-rata.
Sekitar seratus ton.
Di dunia -50°C, batu bara bukan benda kotor.
Batu bara adalah napas panjang.
Hendra menutup pintu gudang dari dalam. Tidak ada saksi. Blacky menunggu di sisi luar, menjaga lorong bersama suara tawanan yang mulai bergerak di barak.
Barang strategis masuk satu per satu.
Sebagian senjata dan amunisi masuk Ruang Penyimpanan.
Drum avtur terbaik masuk.
Obat pilihan masuk.
Panel baterai, suku cadang generator, radio cadangan, dan sebagian makanan masuk.
Batu bara tidak semuanya diambil. Ia mengambil porsi besar yang cukup untuk memperpanjang hoard, tetapi meninggalkan banyak tumpukan agar tempat ini tetap bisa menjadi basis bagi para perempuan setelah dibersihkan.
Hendra bukan pencuri kecil.
Ia sedang mengatur wilayah.
Setelah gudang selesai, ia kembali ke ruang inti.
Herman masih terikat. Wajahnya sudah tidak setenang tadi. Bang Leo mati di lantai, ditutup kain kasar. Dua kroco yang menyerah duduk berlutut di sudut dengan tangan diikat.
Beberapa perempuan tawanan berdiri di ambang pintu, melihat dari jauh. Perempuan berambut pendek dari Bab 034 berada paling depan. Matanya jatuh pada Herman, lalu pada Bang Leo, lalu pada Hendra.
Tidak ada sorak.
Belum.
Trauma tidak berubah menjadi kemenangan hanya karena musuh jatuh.
Tetapi di wajah mereka mulai muncul sesuatu yang lebih kuat daripada takut.
Pilihan.
Hendra menunjuk Herman.
"Dia hidup untuk bicara."
Perempuan berambut pendek itu mengangguk pelan.
Hendra duduk di depan Herman, menyalakan perekam, lalu meletakkan pisau patah Sarno di meja.
Herman melihat pisau itu.
"Sarno mati?"
"Kau akan menyusul kalau jawabanmu tidak berguna."
Herman tertawa kering.
"Kau pikir aku cuma punya tempat ini?"
"Aku tahu kau punya radio, heli, avtur, pemasok, dan rasa percaya diri yang terlalu besar. Aku ingin tahu siapa yang lebih besar darimu."
Herman diam.
Hendra tidak memukulnya.
Ia hanya mengambil peta, menggambar lingkaran di sekitar Taman Hutan Utara, lalu menandai titik-titik radio yang tercatat di log Herman.
"Ciwalu," kata Hendra.
Kelopak mata Herman bergerak sedikit.
Kecil.
Cukup.
Hendra menatapnya.
"Bicarakan."
Herman menarik napas.
"Suaka Ciwalu. Mereka menyiarkan diri sebagai penampungan. Makanan, obat, dokter, tempat hangat. Orang-orang bodoh mendengar itu dan datang sendiri membawa sisa barang."
"Palsu."
"Tidak sepenuhnya. Ada bangunan. Ada makanan. Ada dokter kalau mereka masih butuh membuat orang percaya." Herman menyeringai lemah. "Tapi intinya jebakan."
Perempuan di pintu saling menatap.
Hendra membiarkan perekam berjalan.
"Siapa memegangnya?"
Herman menelan ludah. Untuk pertama kali, nama yang akan ia sebut tampak membuatnya ragu.
"Viktor."
Hendra menunggu.
"Tentara bayaran asing. Bukan kroco lokal. Orangnya sedikit, tapi senjatanya bagus. Disiplin. Dia memakai nama suaka untuk menyaring orang, barang, dan perempuan. Kalau kau pikir Herman kejam, kau belum lihat cara orang seperti Viktor bekerja."
Hendra tidak berubah ekspresi.
Herman melihat itu, lalu senyumnya kembali sedikit.
"Kau bisa ambil gudangku. Kau bisa bunuh Leo. Tapi Ciwalu bukan gua tua dengan kroco lapar."
Ia mendekat sebisanya meski terikat, suara turun menjadi bisikan kasar.
"Kalau kau pergi ke sana, Viktor akan membongkar isi kepalamu sebelum kau sempat menyentuh pintunya."