NovelToon NovelToon
Tawanan Mantan Suami

Tawanan Mantan Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat / Mafia
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Sinopsis:

Lima belas tahun setelah perpisahan yang dipenuhi salah paham, Helena kembali bertemu dengan Arthur Fernando, mantan suami yang tak pernah berhenti mencarinya. Di balik perceraian mereka, tersimpan konspirasi musuh yang ingin menghancurkan klan Fernando. Kini, saat kebenaran terungkap, Arthur bertekad merebut kembali Helena, meski harus menjadikannya tawanan cinta yang tak pernah padam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Bertemu Mbok Jum

Sarapan berjalan dalam keheningan yang canggung. Helena duduk di kursi dekat jendela, menyuap bubur ayam perlahan, sementara Arthur hanya menatapnya dari seberang meja. Arthur tidak makan, dia hanya menikmati secangkir kopi hitam, dengan tatapan yang tidak pernah lepas dari wajah Helena.

Setelah Helena menghabiskan makanannya, Arthur berdiri dan berjalan ke arah lemari di sudut ruangan. Dia membuka pintu lemari, mengambil sebuah kantong kertas berwarna putih yang masih tersegel.

"Hel, aku sudah menyiapkan beberapa pakaian ganti untukmu. Ada gaun santai, juga ada satu setel blus dan celana panjang. Kamu bisa pilih yang kamu suka," ucap Arthur, menyerahkan kantong kertas itu pada Helena. "Kamar mandi ada di sebelah kanan. Handuk dan perlengkapan mandi sudah disediakan."

Helena menerima kantong itu dengan ragu. Matanya menatap Arthur, mencoba mencari tanda-tanda kebohongan. Tapi wajah Arthur terlihat tulus. Dia hanya ingin Helena merasa nyaman.

"Terima kasih," jawab Helena pelan, suaranya masih serak. Dia berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.

Di dalam kamar mandi, Helena menatap dirinya di cermin. Wajahnya pucat, lingkar matanya sedikit gelap karena kurang tidur dan shock. Dia menghela napas panjang, lalu membuka kantong kertas itu. Di dalamnya, ada sebuah gaun musim panas berwarna putih dengan motif bunga-bunga kecil, dan satu setel blus krem serta celana panjang berwarna beige. Semuanya tampak baru, dengan label merek yang masih menempel.

Arthur benar-benar mempersiapkan ini semua, batin Helena. Dia sudah merencanakan semuanya.

Dia mandi dengan air hangat, mencoba menenangkan pikirannya yang kacau. Air mengalir di tubuhnya, dan untuk beberapa saat, dia berusaha melupakan kenyataan bahwa dia berada di mansion mantan suaminya. Tapi bayangan James selalu muncul di kepalanya. James... apa kamu baik-baik saja, Nak?

Selesai mandi, Helena mengenakan gaun putih itu. Gaun itu pas di tubuhnya, seolah-olah diukur khusus untuknya. Dia mengeringkan rambutnya dengan handuk, dan memutuskan untuk tidak memakai make-up. Dia tidak punya perlengkapan make-up, dan dia juga tidak ingin terlihat seperti sedang berusaha memikat Arthur.

Helena keluar dari kamar mandi dan mendapati kamar tidur itu sudah kosong. Arthur tidak ada di sana. Nampan sarapan sudah diangkat, dan kursi Arthur sudah kosong.

Helena berdiri di tengah ruangan, bingung. Dia tidak tahu harus ke mana. Mansion ini sangat luas, dan dia tidak mengenal tata letaknya. Dia berjalan keluar kamar, menyusuri lorong panjang dengan dinding berlapis wallpaper bergaya klasik.

Setelah beberapa menit berjalan tanpa tujuan, dia sampai di tangga utama. Dia memutuskan untuk turun ke lantai satu. Mungkin di sana ada Arthur. Atau setidaknya, ada seseorang yang bisa memberitahunya di mana Arthur berada.

Di lantai bawah, Helena melewati ruang tamu yang sangat luas dengan sofa-sofa kulit mahal dan perpustakaan besar. Suasana mansion itu sunyi, namun terasa sangat megah. Dia berjalan mendekati sebuah ruangan yang pintunya terbuka, dan melihat seorang wanita paruh baya sedang membersihkan vas bunga di atas meja.

Wanita itu mengenakan seragam pelayan berwarna abu-abu, dengan rambut yang disanggul rapi. Usianya sekitar lima puluhan, dengan wajah yang ramah dan kerutan halus di sekitar matanya. Saat dia melihat Helena berdiri di dekat pintu, dia langsung tersenyum hangat.

"Nona Helena! Oh, maaf, saya sudah lama tidak bertemu Nona. Tentu saja Nona tidak ingat saya, karena saya mulai bekerja di sini setelah Nona pergi," ucap wanita itu, suaranya lembut namun khas logat Jawa.

Helena tersenyum canggung. "Maaf, saya memang belum mengenal Ibu."

"Tidak apa, tidak apa. Saya Mbok Jum, kepala pelayan di mansion ini. Saya sudah bekerja untuk Tuan Arthur selama dua belas tahun," perkenalan wanita itu. "Tuan Arthur sering bercerita tentang Nona Helena kepada saya. Katanya Nona adalah satu-satunya wanita yang pernah membuat hatinya berhenti berdegup. Saya jadi penasaran, dan kini saya bisa melihat Nona langsung. Nona jauh lebih cantik daripada yang Tuan Arthur ceritakan, loh."

Helena merona mendengar pujian itu. "Ah, terima kasih, Mbok Jum. Tapi... saya sedang mencari Arthur. Dia di mana?"

Mbok Jum tersenyum penuh arti. "Tuan Arthur sedang di ruang kerjanya, Nona. Di ujung lorong sebelah kanan. Beliau sedang melakukan zoom meeting dengan investor dari luar negeri. Beliau berpesan agar saya mengantarkan Nona ke ruangannya begitu Nona selesai mandi. Mari, saya antar."

Helena mengangguk. "Baik, terima kasih, Mbok Jum."

Helena mengikuti Mbok Jum menyusuri lorong panjang. Kaki Mbok Jum melangkah pelan namun tegap, menunjukkan pengalamannya bekerja di rumah besar. Helena memanfaatkan kesempatan ini untuk bertanya.

"Mbok Jum, maaf, saya jadi penasaran. Arthur... dia sering bercerita tentang saya? Padahal kami sudah pisah selama lima belas tahun."

Mbok Jum menoleh, matanya berbinar. "Oh, Nona. Tuan Arthur itu pria yang setia. Setiap tahun, saat ulang tahun pernikahan atau saat hari-hari tertentu, beliau selalu duduk sendirian di taman belakang, membawa sebotol anggur, dan menatap bintang. Saya sering mengawasi dari jauh. Beliau seperti merindukan seseorang. Dan beliau sering menyebut nama Nona."

Helena menunduk. Dadanya terasa sesak. "Dia merindukanku?"

"Tentu, Nona. Beliau tidak pernah menikah lagi, Nona. Saya sudah bekerja dua belas tahun, dan belum pernah melihat beliau membawa wanita lain ke mansion ini. Hanya Nona. Bahkan ada beberapa wanita pengusaha yang mencoba mendekat, tapi Tuan Arthur selalu menolak dengan halus. Katanya, hatinya sudah penuh."

Helena tidak menjawab. Kata-kata Mbok Jum membuat perasaannya semakin rumit. Dia marah, tapi dia juga merasa sedih. Dia tidak tahu apakah dia harus percaya pada Arthur, atau apakah ini semua hanya strategi Arthur untuk membuatnya merasa bersalah.

Mereka sampai di depan pintu ruang kerja. Mbok Jum mengetuk pintu dengan pelan. Terdengar suara Arthur dari dalam.

"Masuk."

Mbok Jum membuka pintu, lalu memberi isyarat pada Helena untuk masuk. "Silakan, Nona. Tuan Arthur sedang menunggu." Mbok Jum berbisik pelan, "Jangan takut, Nona. Tuan Arthur tidak akan menyakiti Nona. Saya tahu beliau hanya ingin melindungi apa yang sudah lama hilang. Kalau Nona butuh apa-apa, tinggal panggil saya saja."

Mbok Jum menutup pintu di belakang Helena, meninggalkan Helena dan Arthur berdua di dalam ruangan.

Ruang kerja Arthur sangat luas. Meja kerja dari kayu jati berada di tengah, dengan beberapa layar komputer dan dokumen yang tersebar di atasnya. Di belakang Arthur, ada jendela besar yang menghadap ke taman, diterangi cahaya matahari pagi.

Arthur sedang duduk di kursi eksekutifnya, mengenakan headset di kepalanya, dan berbicara dengan cepat dalam bahasa Inggris di layar komputer. Melihat Helena masuk, dia tersenyum singkat, lalu memberi isyarat dengan tangannya, menyuruh Helena untuk duduk di sofa di sebelah ruangan.

Helena duduk di sofa, merapikan gaun putihnya. Dia menatap Arthur yang sedang serius berbicara dengan seseorang di layar. Wajah Arthur sangat fokus, tangannya sesekali bergerak menjelaskan data di layar. Meskipun Helena masih marah, dia tidak bisa memungkiri bahwa Arthur terlihat sangat berwibawa dan profesional.

Beberapa menit kemudian, Arthur mengakhiri meetingnya. Dia melepas headset, lalu berbalik menghadap Helena.

"Maaf membuatmu menunggu, Hel. Meeting dengan investor Singapura tidak bisa ditunda. Tapi aku sudah selesai. Sekarang..." Arthur berjalan mendekat, duduk di kursi berhadapan dengan Helena. "...kita bisa bicara. Aku sudah menunggu ini."

Helena menatap Arthur. Dadanya kembali berdegup kencang. "Arthur, aku ingin pulang. Aku tidak bisa tinggal di sini selamanya."

Arthur menghela napas. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, tatapannya tajam tapi tidak mengancam. "Kamu boleh pulang, Hel. Tapi sebelum kamu pergi, aku harus tahu. Lima belas tahun kamu menghilang. Selama itu, kamu di mana? Kenapa kamu tidak pernah menghubungiku? Kenapa kamu membiarkan aku hidup dalam ketidakpastian, mengira kamu sudah mati atau membenciku?"

Helena menunduk. Jari-jarinya saling meremas erat. Ruangan itu terasa semakin sempit. Dia tidak bisa menjawab dengan jujur. Jika dia bilang dia di Surabaya, Arthur akan bertanya lebih lanjut. Dan jika Arthur bertanya tentang kehidupan di Surabaya, dia takut Arthur akan menanyakan tentang James.

"Aku... aku pindah ke kota lain, Arthur," jawab Helena pelan. "Aku ingin memulai hidup baru. Aku tidak ingin ada hubungan lagi dengan masa lalu. Aku hanya ingin tenang."

Arthur menatapnya lekat-lekat. "Kota lain? Kota mana?"

Helena ragu. "Surabaya. Aku tinggal di Surabaya."

Arthur mengangguk pelan. Dia sudah tahu itu dari Aldi, tapi dia ingin mendengarnya langsung dari Helena. "Surabaya. Kenapa Surabaya? Kenapa tidak ke luar negeri? Kenapa kamu memilih kota yang masih dekat dengan Jakarta?"

Helena mengangkat bahunya. "Karena aku tidak punya uang untuk pergi ke luar negeri, Arthur. Aku pergi dengan tangan kosong. Aku hanya punya beberapa helai pakaian dan sedikit tabungan. Surabaya adalah tempat yang cukup murah untuk memulai hidup baru."

Arthur mengepalkan tangannya. Dia mendengar kepahitan dalam suara Helena. "Aku bisa memberimu uang, Hel. Jika kamu mau, aku bisa membantumu. Kenapa kamu tidak memintaku?"

Helena tertawa kecil, tawa yang getir. "Karena aku tidak mau menjadi bebanmu, Arthur. Dan karena aku tidak mau dianggap sebagai wanita mata duitan yang menikahimu demi uang. Kau tahu kan, orang-orang di sekitarmu selalu menuduhku seperti itu?"

Arthur terdiam. Dia tahu itu. Keluarganya, teman-temannya, bahkan beberapa stafnya dulu, selalu mengatakan bahwa Helena hanya menikahi Arthur demi harta. Tapi Arthur tidak pernah percaya sepenuhnya. Helena tidak pernah meminta apapun darinya.

"Hel, aku tidak peduli apa kata orang," Arthur berkata, suaranya melemah. "Aku peduli kamu. Aku peduli kenapa kamu pergi. Dan aku masih mencintaimu."

Helena menatap Arthur. Air matanya mulai menggenang. "Arthur, jangan bilang begitu. Kita sudah berbeda. Kita sudah punya hidup masing-masing."

Arthur menggeleng. "Kamu salah. Hidupku tidak pernah sama sejak kamu pergi. Dan sekarang kamu ada di sini, aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi sebelum semua pertanyaanku terjawab."

Helena menunduk, menangis dalam diam. Dia tidak bisa memberitahu Arthur tentang James. Tidak sekarang. Dia harus melindungi anaknya.

Di luar ruangan, Mbok Jum yang mendengar sedikit percakapan itu tersenyum pelan. Dia berbisik pada dirinya sendiri, "Akhirnya, Tuan Arthur. Akhirnya Nona Helena kembali. Semoga kali ini tidak ada yang memisahkan lagi."

1
Mamah Dini11
semoga kalian tetap bersama saling berbagi kasih sayang saling mencintai mungkin james pindah sekolah dn kmu helen tak usah kerja lgi arthur udh udah banyak uang ,
Mamah Dini11
pada. ke. mana ya thor ko sepi
Mamah Dini11
semoga arthur selamat , tolong thor selamatkan arthur dia baru bertemu dgn masa lalunya dn blm mengetahui semuanya
Mamah Dini11
alhmdulilah james selamat semoga kedepan nya gk ada hendra2 yg kain nya , james satukan ke dua orang tuamu biar punya kluargfa lengkap kmu james anak hebat
Mamah Dini11
blm juga arthur menemui anaknya mengenal anaknya dekat sm anakny udh ada yg nyulik berarti hilang nya helena , ada tim musuh yg mencarinya , dan arthur kmu kalah malah musuhmu yg nenang duluan , semoga james baik2 saja dan cepat kembali ke pelukan helena , kasian helen yg berjuang sendirian tiba2 anaknya hilang di culik enak bener tuh penculik , ayo arthur basmi musuh2mu jgn beri ampun , dn apa sih maunya .
Mamah Dini11
semangat arthur 💪 semoga semua masalahmu cepat selesai cepat terbongkar semua yg berkaitan dgn helena
Mamah Dini11
semoga kedepan nya kmu dn anakmu lbh bahagia sm arthur tentu nya jemputlah helen masa depan kaluan dgn senyuman , dan hadapilah orang2 yg julid dn gk suka sm kmu arthur ada bersamamu helen , jgn pergi lgi james berhak tau siapa ayahnya .lanjut
Mamah Dini11
kenapa msh meragukan mantanmu hel dia baik mbok jum baik , kalau kmu msh cinta lihat arthur juga sampai sekarang msh sendiri ,itu tandanya lelaki setia sm pasangan ,dan hel bersatu lagi kalian kasian james dia butuh sosok seorangf ayah, dn seberat apapun badai yg akan datang hadapilah sm kalian berdua di rasa arthur tdk akan tinggal diam diai pasti bisa mengatasinya , kmu percayakan sm mantannu
Mamah Dini11
beri alasan yg masuk akal arthur ke teman2 nya helena yg masuk akal biar mereka gfk hawatir
Mamah Dini11
tenang helen arthur tdk seburuk yg kamu pikirkan, asal kmu berkata jujur aja apa adanya ok
Mamah Dini11
kayaknya arthur orang baik dehh tpiii kenapa ada perceraian, dn berharap arthur tdk melakukan yg membuat helena bersedih ya malah sebaliknya
Mamah Dini11
semoga pertemuan mu dgn mantan suamimu membawa ke baikan helena bkn menambah ke sedihan , dan moga aja membongkar ke salahpahaman yg berlarut dn pd akhirnya menuju ke bahagian kmu dan anakmu pantas mendapatkan nya
Mamah Dini11
ya kadang2 suka membingungkan cerita di novel mh he he
Mamah Dini11
permisi ikutan nimbrung thor 🙏
Ita Putri
masak horang kaya nunggu 15 th dulu baru dapat orang kepercayaan yg punya kemampuan hebat baru sekarang
Rian Moontero
mampiiirr👍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!