Devano Garendra, merasa bosan dengan pernikahannya bersama sang istri hingga membuatnya bermain perempuan di luar sana.
Sebagian Alice, yang baru saja memulai kehidupannya yang baru harus kembali di pertemukan dengan sosok yang cukup lama bersamanya.
Akankah mereka kembali mengulang masa lalu yang pernah di lewati bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 08
Alice begitu menikmati harinya. Bekerja sebagai resepsionis di hotel membuatnya merasa nyaman. Terlebih orang-orang disini menerimanya dengan baik pula, membuat dia merasa betah dan nyaman.
"Ya?" jawab Alice ketika mendapatkan panggilan telepon dari rumah.
"Oke, sebentar lagi saya pulang." ucap Alice sebelum mengakhiri panggilan teleponnya.
Walau sibuk, dia tetap menikmati pekerjaannya. Dia terlihat bahagia dengan pekerjaan yang sekarang, karena merasa lebih tenang saja.
"Ke ruangan saya sekarang, Elisa." ucap seseorang disana membuat Alice yang di kenal sebagai Elisa tersebut langsung menuju ruangan Direktur.
Alice mengetuk pintu ruangan kerja bosnya sebelum masuk dan baru dia berani masih setelah mendapatkan jawaban dari dalam sana.
"Ya, pak?" tanya Elisa ketika sampai di ruangan tersebut.
"Kita ada meeting sebentar lagi Elisa. Kamu ikut dengan saya untuk meeting dengan EO-nya malam ini." katanya membuat Elisa terkejut.
Dia tidak bisa bekerja lembur, bagaimana ini?
"Maaf, Pak. Apa tidak bisa besok saja? Saya tidak bisa pulang malam." ujar Elisa penuh pertimbangan.
"EO-nya hanya bisa malam ini saja. Lagi pula-" ucapan Andika tidak di lanjutkan saat mendengar ponsel Elisa yang berdering.
"Maaf, Pak." ucapnya sebelum menjawab panggilan telepon setelah mendapatkan izin dari Andika.
"Ya?" tanya Elisa saat panggilan terhubung.
"Mbak, badan Neil panas banget mbak, Neil terus-"
"Saya pulang sekarang!" ucapnya begitu saja memutuskan sambungan teleponnya setelah mendengar kabar jika Neil panas.
"Ada apa Elisa?" tanya Andika ikut panik melihat wajah Elisa yang tiba-tiba saja panik setelah mendapatkan telepon.
"Pak, maaf. Saya harus pulang sekarang. Saya juga gak bisa ikut meeting. Kalau bapak mau pecat saya juga gak papa, tapi saya benar-benar harus pulang sekarang!" ucapnya sebelum pergi dari ruangan itu.
Andika tidak bermaksud jahat, dia hanya kasihan melihat Elisa yang tiba-tiba saja panik begitu.
"Saya antar kamu pulang kalau begitu."
"Tidak usah pak, saya bawa mobil." katanya begitu saja, dan berlalu dari ruangan Andika.
Secepat mungkin dia harus sampai ke rumah. Dia benar-benar khawatir dengan keadaan Neil.
Beruntung jalanan tidak begitu mecet hingga dia bisa cepat sampai dirumah. Berlari begitu saja setelah turun dari mobil untuk melihat Neil.
"Neil, sayang? Mami pulang, Nak." katanya setelah sampai di rumah.
"Neil, sayang. Ini mami, Nak. Mami udah pulang sayang, mami udah pulang." katanya lagi setelah melihat putranya yang terbaring di atas tempat tidur.
"Mami?" panggil Neil saat mendengar suara maminya.
"Ya, sayang? ini mami, Nak. Ini mami sayang, ini mami." ucap Elisa dengan mata berkaca-kaca.
"Maafin mami sayang, maafin mami ya, udah ninggalin kamu kerja seharian." ujar Elisa dengan suara yang bergetar.
"Neil minta maaf sama mami. Tadi Neil makan coklat di sekolah. Kata temen Neil coklatnya enak, jadi Neil coba. Terus Neil muntah." ujar anak kecil itu membuat Elisa hanya bisa menghela nafasnya penuh penyesalan.
"Sayang, kamu tau kan kalau kamu gak bisa makan coklat? Kamu alergi coklat Neil. Mami gak mau kamu sakit, nak. Mami sedih kalau kamu sakit, Neil." ibu mana yang tega melihat anaknya sakit begini.
Di dunia ini hanya Neil yang dia punya. Maka dia akan melakukan apa saja demi Neil. Hidupnya hanya berputar untuk Neil saja. Satu-satunya hal yang di sesalinya seumur hidup saat hendak menggugurkan kandungannya dulu.
Tapi ketika mendengar detak jantung bayinya untuk pertama kali, benteng pertahanan Elisa hancur seketika.
Dia bahkan menangis sejadi-jadinya saat mendengar suara detak jantung anak tidak berdosa itu.
"Maafin, Neil mami..." katanya memeluk sang mami, membuat Elisa juga ikut sedih melihatnya.
"Neil janji gak makan coklat lagi. Neil janji mami..." janjinya pada Elisa, membuat wanita berusia 27 tahun itu menghapus air matanya agar Neil tidak melihatnya menangis.
Karena jika Neil mengetahui dirinya menangis, maka anak itu juga akan menangis.
"Sudah, sekarang kita kerumah sakit ya. Tapi janji gak makan coklat lagi, oke?" Neil mengangguk patuh pada maminya.
Sedangkan di tempat lain, Rendra sedang tidak baik-baik saja saat menghadiri jamuan makan malam.
"Huek!" tiba-tiba saja dia merasa mual saat mencium aroma makanan yang terbuat dari bahan baku coklat.
"Pak Rendra, anda baik-baik saja?" tanya rekan kerjanya setelah hidangan penutup di hadirkan.
"Saya baik-baik saja. Hanya Tidka terbiasa dengan aroma coklat." jawabnya jujur.
"Apa anda alergi coklat?" tanya rekannya lagi.
"Bisa di katakan begitu." jawab Rendra lagi, karena dia memang alergi coklat.
Selain aromanya yang menyengat dan membuat perutnya mual, coklat juga bisa membuatnya susah bernafas dan bahkan dulu pernah mencoba untuk memakannya dan berakhir di rumah sakit.
***