Kehamilan yang selama ini mati-matian disembunyikan Anisa akhirnya terbongkar. Ironisnya, orang pertama yang mengetahui rahasia itu justru Reinhart—dokter magang di kampus tempatnya menimba ilmu.
Sejak hari itu, hidup Anisa berubah. Semakin ia berusaha menghindar, semakin sering takdir mempertemukan mereka. Tatapan penuh rasa ingin tahu dari Reinhart perlahan berubah menjadi kepedulian yang sulit diabaikan.
----------------------------
"Siapa ayah dari bayimu?"
"Itu bukan urusan Dokter."
"Kalau begitu... izinkan saya menjadi ayah untuk bayi itu."
Anisa hanya tersenyum getir.
"Maaf. Saya menolaknya."
-----------------------
Namun, sampai kapan rahasia itu bisa disembunyikan? Dan ketika kebenaran akhirnya terungkap, apakah cinta Reinhart masih cukup kuat untuk menerima Anisa... beserta luka dan masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinkanmiliar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencoba Bersama
Sudah tiga hari Anisa terbaring di kamar rawat klinik Avicenna. Sejak ditemukan Reinhart, Anisa belum membuka matanya kembali. Mak Rahma dan Rere setia menunggu Anisa kembali siuman.
Tak hanya dari pihak keluarga saja yang menanti Anisa kembali sadar, tentu saja Reinhart lebih setia dari siapapun karena terus mengecek kondisi Anisa setiap beberapa menit sekali hingga mendapat teguran dari Ruby.
"Anisa pasti bangun kok. Kamu tenang saja. Dia adalah wanita yang kuat."
Meski kata-kata Ruby juga diyakini benar oleh Reinhart, tetap saja Reinhart ingin jadi orang pertama yang dilihat Anisa saat sadar nanti.
"Setelah lima tahun akhirnya aku bisa menemukannya, By. Setelah lima tahun akhirnya aku mendengar pengakuan darinya. Aku ingin jadi orang pertama yang dilihatnya saat siuman nanti," ucap Reinhart dengan mata berkaca-kaca.
"Sabar!" Ruby menepuk bahu Reinhart lalu keluar dari kamar rawat Anisa.
"Bangunlah, Sayang. Aku ingin melihat mata indahmu lagi. Aku ingin mendengar bibirmu mengucap kalau kamu mencintaiku." Reinhart tertunduk di samping brankar Anisa. Inginnya menggenggam tangan wanita itu, tapi ia tahu batasan untuk seorang Anisa.
Isakan tangis kecil terdengar dari bibir Reinhart. Baru kali ini ia merasakan kesedihan yang amat dalam setelah ditinggal kedua orang tuanya. Ya! Reinhart tak ingin kehilangan lagi.
"Dokter menangis?"
Suara dari arah depannya membuat Reinhart mendongak. Terlihat wajah pucat Anisa yang sudah membuka mata.
"Anisa! Kamu sudah bangun? Alhamdulillah, Ya Allah." Reinhart beranjak dari duduknya dan melakukan sujud syukur.
Anisa tersenyum melihat tindakan refleks Reinhart. Tubuhnya masih lemah, tapi hatinya telah kuat untuk menghadapi masa depannya.
"Gimana kondisi kamu? Apa yang kamu rasakan? Apa ada yang sakit? Aku periksa dulu ya!"
Anisa menggeleng lemah. "Aku baik-baik aja." Tangan Anisa terulur dan mengusap pipi Reinhart. "Aku pikir aku bermimpi. Ternyata bukan."
Reinhart tersenyum lega. "Iya, kamu gak bermimpi, Anisa."
"Terima kasih karena Dokter menemukan aku."
Reinhart mengangguk beberapa kali. "Aku juga gak bermimpi kan? Saat kamu bilang kalau kamu ... masih menyimpan aku dihatimu?"
Anisa tersenyum manis. "Enggak, Dokter gak bermimpi. Saat aku terjebak badai, aku sangat takut. Aku takut kalau aku gak akan bertemu lagi dengan dokter. Aku takut aku pergi tapi belum mengungkapkan perasaan aku ke dokter."
"Sudah, jangan banyak bicara dulu ya. Kamu perlu istirahat untuk memulihkan kondisi kamu. Kita akan banyak bicara setelah kamu sehat nanti."
Anisa mengangguk patuh. "Iya. Rere sama Mak Rahma gimana?"
"Mereka baik. Mereka sangat cemas dengan kondisi kamu. Sekarang istirahat dulu saja, oke?"
"Iya, Dokter Reinhart yang cerewet."
"Ha? Apa kamu bilang? Cerewet? Anisa, kamu!" Reinhart ingin mengomel lebih panjang lagi, tapi ia ingat jika Anisa harus banyak istirahat. "Kita akan selesaikan perdebatan ini setelah kamu sembuh."
"Oke! Siapa takut?" Anisa tergelak melihat Reinhart yang mendengus kesal.
*
*
*
Sementara itu di kota,
"Nih!"
Renata menyodorkan sebuah surat ke arah Rhea.
"Apaan nih?" tanya Rhea bingung.
"Lihat aja dulu. Itu kan yang kamu minta?" Renata mengulas senyum.
"Surat mutasi?" Wajah Rhea terkejut dengan mulut menganga. Ia baca dengan seksama apa yang tertulis di sana. "Ini serius?" tanya Rhea tak percaya.
"Iya, itu kan yang kamu mau?"
"Iya sih, tapi ...." Rhea menjeda kalimatnya. "Gak ke desa terpencil juga kali, Ren. Apaan ini? Desa Selimut? Kok namanya aneh banget?" Rhea membuka ponsel dan menggulir aplikasi maps.
Wajahnya kian kebingungan sekarang. "Ren, jangan bercanda! Bahkan desa ini tuh gak ada di aplikasi maps."
Renata malah tertawa. "Iya, desa itu emang misterius. Sebelum papa dan teman-temannya ke sana waktu dulu, akses ke sana tuh susah banget. Tapi sekarang, kamu bisa enak sampai di sana. Pakai private jet." Renata menaikturunkan alisnya.
"Private jet? Ngarang aja! Emang ada bandara di sana?" Rhea geleng-geleng kepala.
"Bukan bandara. Cuman hanggar kecil dan lapangan luas yang sengaja dibangun untuk dijadikan lintasan penerbangan sama teman papa dulu. Udah terima aja! Siapa tahu kamu ketemu jodoh di sana." Renata ingin tergelak lagi, tapi menjaga perasaan Rhea.
Renata menggenggam tangan Rhea. "Anggap aja kayak liburan. Hanya tiga bulan kok. Kalau setelah itu kamu mau ke sini lagi ... papa masih ngizinin."
"Ya gimana ya? Aku emang boring sih di IGD yang sibuk banget, tapi ... gak ke desa juga kali, Ren. Aku terbiasa hidup di kota, gimana nanti hidup aku di sana?"
"Rhea! Kamu pasti bisa. Aku yakin itu."
Setelah diyakinkan Renata, akhirnya Rhea setuju untuk menandatangani surat mutasi ke desa Selimut. Renata sangat yakin Rhea bisa menjalani hari-harinya di desa terpencil itu dengan baik. Renata percaya pada kemampuan Rhea.
Saat akan menuju ke ruangan Boy, papanya, Renata berpapasan dengan Riyan.
"Lho? Kak Riyan? Mau ketemu Papa?"
"Oh, hai Ren. Iya nih. Mau ngasih beberapa proposal magang dari kampus."
Renata mengangguk paham. "Kupikir anak-anak kampus Harapan Bangsa bakalan magang di Rumah Sakit Harapan Anda."
"Gak semuanya. Karena nama papa kamu, banyak yang tertarik untuk magang di sini. Kamu abis ketemu Profesor Boy juga?"
"Iya, ngasih surat mutasi Rhea."
"Weh, si Rhea dimutasi kemana?" tanya Riyan antusias.
"Ke desa Selimut?"
DEG!
"Desa Selimut?" Wajah Riyan terlihat kaget.
"Iya. Ya udah, aku duluan ya. Nanti kita ngobrol lagi." Renata menepuk lengan Riyan kemudian berlalu pergi.
Riyan menatap kepergian Renata dengan tatapan sulit diartikan. "Kenapa Renata memilih Desa Selimut untuk mutasi Rhea? Apa jangan-jangan ... Renata tahu soal Reinhart yang ada di sana juga?"
*
*
*
"Ya tahulah, Kak. Tapi, tahu baru-baru ini sih." Renata menyeruput jus stroberi kesukaannya sambil duduk bersama Riyan di kantin rumah sakit.
"Apa kamu juga tahu kalau Anisa ... juga ada di sana?"
Renata mematung seketika. "A-anisa?" Renata menatap Riyan intens untuk mencari jawaban.
"Iya. Selama ini aku berusaha mencari keberadaan Anisa yang menghilang. Inginnya sih membantu Reinhart untuk bertemu lagi dengan Anisa. Lewat beberapa kenalan, aku tahu kalau Anisa sekarang tinggal di desa terpencil itu. Yah, akhirnya mereka bisa bertemu lagi."
Renata terdiam cukup lama. Ia tidak tahu bagaimana perasaannya terhadap Reinhart saat ini. Namun, untuk terus berjuang pun rasanya mustahil karena Reinhart selalu mencintai satu wanita, yaitu Anisa.
"Ren? Kamu gak apa-apa?"
"Eh? I-iya, aku gak apa-apa kok." Renata menggaruk tengkuknya untuk menetralkan suasana.
"Apa kamu ... masih punya perasaan sama Reinhart?"
Pertanyaan Riyan tidak bisa dijawab oleh Renata. Biarlah waktu yang menjawab semua resah hati dan jadi penyembuh luka yang pernah ada.
*
*
*
Di klinik Avicenna desa Selimut, Reinhart dan Anisa bekerja dengan kompak sebagai dokter dan asisten. Mereka melayani dengan baik para ibu hamil yang datang untuk memeriksakan kandungan mereka.
Senyum sumringah selalu terukir di wajah mereka berdua. Setelah melewati beberapa tempat dan waktu yang berlalu, akhirnya mereka memutuskan untuk bersama. Bukan keputusan yang mudah untuk Anisa karena pasti statusnya yang pernah menikah siri dengan Rendra akan jadi masalah di kemudian hari. Namun, Reinhart meyakinkan Anisa jika keluarganya tidak akan mempermasalahkan hal itu. Toh yang tahu soal pernikahan itu hanya Raisa dan Rendra saja, juga beberapa antek-antek mereka.
"Sampai kapan Dokter ada di desa ini?" tanya Anisa yang mencemaskan masa depan mereka. Ia tahu kalau tidak mungkin Reinhart menetap terus di desa ini.
"Aku gak akan kemana-mana lagi setelah ini."
Dahi Anisa berkerut. "Maksudnya?"
Obrolan di gazebo rumah Anisa ini mulai menghangat dan menuju ke arah serius.
"Ya seperti kataku tadi. Aku gak akan kemana-mana lagi."
Reinhart menatap langit malam yang pekat.
"Dulu aku berkelana karena merasa belum menemukan rumah yang cocok dihatiku. Tapi sekarang ... aku sudah menemukan rumahku." Reinhart menatap Anisa.
"Kamu adalah rumahku, Anisa."
Mata Anisa berkaca-kaca mendengar kata-kata Reinhart.
"Om Dokter! Mama!" Teriakan Rere membuat kedua sejoli yang sedang dimabuk kasih itu jadi lupa kalau ada Rere diantara mereka.
Reinhart mengangkat tubuh Rere dan mengayunkan pelan. "Om dokter sampai lupa kalau ada Rere."
"Om dokter jahat!"
"Rere gak boleh ngomong begitu," peringat Anisa.
"Kalian berdua adalah rumahku. Aku gak butuh siapapun lagi. Hanya kalian saja."
Anisa menatap hangat Reinhart. "Terima kasih, Dokter. Terima kasih karena sudah menemukan kami."
daebaklah! karya baru terus pkoknya!🤸