NovelToon NovelToon
The Last Crown

The Last Crown

Status: tamat
Genre:Fantasi / Drama / Tamat
Popularitas:652
Nilai: 5
Nama Author: Inkbound

The Last Crown adalah buku pertama dari The Hollow Thorne Trilogy. Bercerita tentang perjalanan Pangeran Kal Valdyr, pewaris takhta Izengard yang kehilangan segalanya setelah istana jatuh dalam pengkhianatan berdarah. Dari seorang pangeran yang dibesarkan untuk memerintah, Kal berubah menjadi buronan yang hanya membawa satu hal, nama keluarganya yang hampir musnah.

Dengan petunjuk terakhir dari ayahnya, Kal mencari Marlow Renad, Nightingale terakhir yang pernah bergerak di balik bayangan mahkota. Bersamanya, Kal mulai menempuh jalan gelap untuk merebut kembali apa yang dirampas darinya.

📢 Visualisasi karakter atau hal penting lainnya dapat dilihat pada postingan di profil saya, Visualisasi itu saya buat dengan bantuan AI berdasarkan gambaran saya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inkbound, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menuju Blue Lake

Keesokan paginya, kami kembali bergerak ke arah barat sebelum matahari sepenuhnya naik di antara pepohonan. Embun masih menempel pada rumput, membuat ujung sepatu dan bagian bawah celana kami basah dalam beberapa langkah pertama. Api unggun telah dipadamkan sampai tidak menyisakan bara, tanah bekas perkemahan diratakan kembali oleh Marlow, dan sisa makanan dibungkus rapat untuk perjalanan. Ia bahkan menendang daun-daun kering ke atas bekas tempat kami tidur, menghapus sebanyak mungkin tanda bahwa tiga orang pernah bermalam di tepi Sungai Verrin.

Aku tidak tahu berapa jauh kami harus berjalan untuk mencapai Blue Lake. Sungai Verrin masih mengalir di sisi kami, kadang terlihat jelas di antara pepohonan, kadang menghilang di balik semak dan tebing tanah rendah. Selama air itu terus bergerak ke barat, Marlow tampaknya tidak membutuhkan penanda lain. Ia berjalan mengikuti arus dengan langkah yang sama seperti kemarin, mantap dan tidak tergesa, tetapi tidak pernah memberi tubuh kami kesempatan untuk benar-benar beristirahat.

Blue Lake bukan tujuan akhir perjalanan kami. Danau itu hanya salah satu titik yang harus kami lalui sebelum kembali mencari jalur menuju Dark Mountain. Kami seharusnya tidak berada sejauh ini di selatan. Seharusnya kami tetap mengikuti Mitenn Highroad, lalu mengambil jalan yang lebih pendek melewati tanah-tanah peziarah dan desa-desa yang terbiasa menerima pengelana.

Semua rencana itu berubah karena aku kehilangan kendali.

Enam tentara Izengard tewas di atas jalan suci Jessiah. Satu orang mati oleh pedangku. Lima lainnya dibunuh Marlow setelah mereka mengangkat senjata dan menutup satu-satunya jalan keluar. Aku terus mencoba memisahkan kematian pertama dari lima kematian berikutnya, seolah tindakan Marlow merupakan peristiwa berbeda yang tidak berhubungan denganku. Namun setiap kali mengingatnya, urutannya tetap sama: aku menarik pedang, darah menyentuh batu Mitenn, lalu tidak ada lagi cara untuk pergi tanpa membunuh.

Marlow tidak pernah membicarakan Jessiah sejak kejadian itu. Ia marah karena aku membuka identitas, membuat kami diburu lebih cepat, dan memberi Dann cerita yang dapat digunakan untuk menyebutku pembunuh. Namun aku tidak pernah mendengarnya menyesali tempat pertumpahan darah itu terjadi.

Aku bukan pengikut Jessiah yang taat seperti Dad dan Mom. Dad menghadiri doa pagi sebelum sidang kerajaan pada hari-hari besar, bahkan ketika urusan istana membuatnya hanya tidur beberapa jam. Mom selalu menyalakan lilin di ruang doa keluarga pada malam pertama setiap bulan. Cecil mengikuti mereka karena menyukai nyanyian kuil, meskipun sering kehilangan perhatian setelah bait kedua dan mulai memandangi lukisan-lukisan pada langit-langit.

Aku tidak pernah menolak Jessiah. Aku hanya tidak memikirkan-Nya sesering mereka.

Tahun lalu aku telah menjalani marking, ritual yang membuat seorang anak laki-laki diakui sebagai pria di hadapan keluarga, kerajaan, dan Jessiah. Selama berbulan-bulan sebelum upacara, para imam mengajarkan sejarah para raja pertama, hukum tentang kehormatan, kewajiban seorang pria terhadap keluarga, dan arti pengendalian diri. Dad berdiri di sampingku sepanjang ritual. Setelah selesai, ia menekan tangannya pada bahuku dan mengatakan bahwa menjadi pria bukan berarti tidak pernah takut atau marah, melainkan mengetahui kapan rasa takut dan amarah tidak boleh memegang kendali.

Aku baru memahami betapa buruknya aku mengkhianati pelajaran itu setelah Mitenn Highroad.

Aku tidak tahu apakah kuil-kuil Jessiah masih akan menerima kami. Para imam mungkin sudah mendengar pengumuman Dann. Mungkin para penunggang telah membawa berita tentang enam mayat yang ditemukan di jalan suci. Nama Marlow dan namaku bisa saja dibaca di depan altar, diikuti perintah untuk menolak makanan, tempat berlindung, atau pengampunan kepada kami.

Saat memandang punggung Marlow, aku tidak melihat tanda bahwa kemungkinan itu mengganggunya. Ia berjalan dengan pedang di pinggang dan kedua tas terikat kuat pada bahu. Keraguannya selalu berkaitan dengan jarak, jejak, persediaan, dan jumlah tentara yang mungkin mengejar. Tidak pernah dengan Jessiah.

Mungkin ia lebih taat kepada perintah terakhir Dad daripada kepada hukum para imam.

Pikiran itu kusimpan sendiri. Aku tidak tahu seberapa lama Marlow telah melayani Dad, atau berapa banyak orang yang ia bunuh atas nama keluarga kami. Aku juga belum memahami apakah kesetiaannya tumbuh dari keyakinan, utang, atau sesuatu yang tidak akan pernah ia ceritakan kepadaku.

Ishar berjalan di antara kami seperti hari sebelumnya. Mantel Rosh masih membungkus bahunya. Bagian gaun yang dirobeknya di tepi sungai kini menyisakan tepian kain yang tidak rata di sekitar kaki. Tangannya sudah bersih, tetapi kulit punggungnya memerah akibat digosok dengan pasir. Sesekali ia mengusap jemarinya sendiri, mungkin karena goresan kecil yang mulai terasa setelah darah dan rasa takut hilang.

Ia tidak berbicara sejak kami meninggalkan kemah.

Ishar jauh lebih taat kepada Jessiah daripada aku. Aku masih mengingat caranya mengangkat dua jari ke dahi sebelum makan, doa pendek yang ia ucapkan saat merawat lukaku, dan kemarahan pada wajahnya ketika mengetahui apa yang kulakukan di Mitenn Highroad. Ia memanggilku pendosa bahkan sebelum mengetahui seluruh cerita. Kini ia berjalan bersama dua orang yang menumpahkan darah di jalan suci, meninggalkan jasad kakeknya tanpa pemakaman dan rumahnya dipenuhi mayat tentara.

Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan kepadanya.

Permintaan maaf terasa terlalu kecil. Pembelaan hanya akan terdengar seperti usaha mengurangi kesalahanku. Bahkan ketika mencoba meyakinkan diri bahwa Rosh tetap akan mati seandainya aku tidak kembali, aku tidak dapat mengatakan hal itu kepada Ishar. Rosh mungkin tetap akan mati, tetapi para tentara mendatangi rumahnya karena mencari kami. Tidak ada jalan memutar di sekitar kenyataan tersebut.

Beberapa kali aku ingin mendekati Ishar dan berjalan di sampingnya. Setiap kali aku mempercepat langkah, ia juga bergerak sedikit lebih cepat, cukup untuk mempertahankan jarak. Ia tidak menoleh untuk memastikan keberadaanku. Tubuhnya saja sudah menjelaskan bahwa ia tidak menginginkanku dekat.

Menjelang siang, Sungai Verrin mulai menjauh dari jalur yang kami tempuh. Tanah di sekitar aliran menjadi terlalu lunak dan dipenuhi tumbuhan berduri, sehingga Marlow membawa kami menaiki lereng rendah menuju kawasan yang lebih terbuka. Pepohonan berkurang. Matahari jatuh langsung ke kepala, menghangatkan mantel dan membuat keringat terkumpul di antara tulang belikat.

Kami tiba di sebuah jalan yang jauh lebih lebar daripada jalur-jalur sebelumnya. Tanahnya lembek akibat hujan, dipenuhi alur roda yang bertumpuk dan membentuk garis-garis panjang ke arah timur dan barat. Di beberapa bagian, jejak roda begitu dalam hingga air kecokelatan menggenang di dalamnya. Bekas tapal kuda memenuhi sisi jalan, disertai kotoran hewan yang masih cukup segar.

Aku berhenti di belakang Ishar dan melihat kedua arah.

“Jalur perdagangan,” kataku.

Itu menjadi kalimat pertama yang keluar dari salah satu dari kami selama beberapa jam. Ishar tidak menanggapi. Marlow berjongkok di tepi jalan dan menyentuh salah satu bekas tapal dengan dua jari.

“Cukup ramai,” katanya. “Gerobak baru lewat pagi ini.”

Ia berdiri, lalu mengamati jalan ke arah timur. Tidak ada bangunan di sekitar kami, hanya padang rumput, rumpun pohon rendah, dan lekukan jalan yang menghilang di balik bukit kecil. Marlow membawa kami menunggu di bawah pohon besar beberapa langkah dari jalan, cukup dekat untuk melihat kendaraan yang lewat tetapi tidak berdiri terbuka seperti orang yang sedang menanti penjemputan.

Kami tidak perlu menunggu terlalu lama.

Bunyi roda terdengar lebih dulu, berat dan berulang, disertai derap beberapa kuda. Sebuah gerobak besar muncul dari balik tikungan timur. Kanopi dari kain tebal menutup bagian belakangnya, diikat pada lengkungan-lengkungan kayu yang tinggi. Roda-rodanya dilapisi lingkar besi dan menekan lumpur sampai memercik ke samping.

Tiga ekor kuda menarik gerobak tersebut. Seekor kuda jantan berbadan kekar ditempatkan pada barisan paling depan, dada lebarnya menarik tali utama sementara kepalanya bergerak mengikuti irama langkah. Dua kuda betina berjalan di belakangnya, sedikit lebih kecil, tetapi tampak kuat dan terbiasa menarik beban dalam perjalanan jauh. Uap tipis keluar dari lubang hidung mereka ketika gerobak mendekat.

Seorang pria tua duduk di kursi pengemudi. Janggut abu-abunya dipotong pendek dan wajahnya gelap karena matahari. Ia memakai topi kain lebar, rompi tebal, serta sarung tangan kulit yang sudah aus pada bagian telapak. Ketika melihat kami, ia menarik tali sedikit dan mengucapkan sesuatu kepada kuda jantan di depan.

Gerobak melambat.

Marlow berdiri lebih dekat ke jalan, tetapi membiarkan kedua tangannya terlihat jauh dari pedang.

“Ke mana tujuanmu?”

Pria tua itu mengamati kami satu per satu sebelum menjawab. Tatapannya berhenti sedikit lebih lama pada mantel Rosh yang dipakai Ishar, lalu pada luka di wajahku. Namun tidak ada perubahan yang menunjukkan ia mengenali siapa pun.

“Evergreen,” katanya. “Kalau roda belakang tidak patah sebelum sore.”

Ia mengatakannya sambil menoleh ke arah roda, seolah benda itu sudah berkali-kali mengancam meninggalkannya di tengah jalan.

“Berapa jauh?” tanya Marlow.

“Dengan berjalan kaki?” Pria itu mengangkat bahu. “Sampai besok, kalau kaki kalian masih mau bekerja. Dengan gerobak, kita tiba sebelum matahari tenggelam.”

Marlow melihat kepadaku, lalu Ishar. Gadis itu berdiri dengan kepala sedikit menunduk, rambutnya jatuh menutupi sisi wajah. Setelah perjalanan sejak pagi, kulitnya tampak pucat dan langkahnya mulai berat.

“Kami bisa membayar,” kata Marlow.

Pria tua itu mengibaskan satu tangan. “Simpan uangmu. Gerobak ini tidak menjadi lebih berat karena tiga orang kurus.”

Tatapannya kembali kepadaku, kali ini disertai kerutan kecil pada dahi.

“Kalian dirampok?”

Aku menyentuh memar pada rahang tanpa sadar. “Kurang lebih.”

Marlow tidak membenarkan atau memperbaiki jawabanku. Pria tua itu mendengus seperti seseorang yang sudah melihat terlalu banyak korban perampok untuk tertarik pada rincian.

“Naiklah. Yang muda dan gadis itu bisa duduk di depan kalau mau. Di belakang penuh karung, tetapi masih ada tempat untuk dua orang yang tidak keberatan mencium rempah sepanjang jalan.”

Ishar bergerak lebih dahulu. Ia menaiki pijakan kayu di sisi gerobak dan duduk di kursi depan, meninggalkan ruang cukup untuk pria tua memegang tali. Ia tidak melihat kepadaku, bahkan ketika aku melangkah mendekat.

Aku berhenti di samping roda.

Marlow sudah mengangkat bagian belakang kanopi.

“Masuk.”

Aku memandang kursi depan. Masih ada sedikit ruang di sisi Ishar, tetapi posisi tubuhnya yang menempel pada ujung kursi menunjukkan bahwa ia tidak menginginkan siapa pun duduk lebih dekat.

Aku mengikuti Marlow masuk ke belakang gerobak.

Bau rempah langsung memenuhi hidung. Karung-karung besar ditumpuk di kedua sisi, diikat dengan tali kasar dan diberi tanda tinta yang sebagian luntur akibat kelembapan. Aroma lada, pala, kayu manis, daun kering, dan beberapa bahan yang tidak kukenal bercampur di bawah kanopi. Udara di dalam terasa hangat dan berdebu. Setiap kali roda menghantam lubang, serbuk halus terlepas dari sela karung dan membuat tenggorokan gatal.

Marlow duduk dekat bagian belakang, mengambil posisi yang membuatnya dapat melihat jalan melalui celah kanopi. Aku duduk berhadapan dengannya dengan punggung bersandar pada tumpukan karung. Pedangku diletakkan di antara kaki agar tidak membentur lantai gerobak.

Di luar, pria tua itu menjentikkan tali.

“Jalan, Brann.”

Kuda jantan di depan menarik tubuhnya ke depan. Dua kuda betina mengikutinya, tali-tali menegang, dan gerobak mulai bergerak dengan bunyi kayu berderit.

Aku pernah mendengar tentang Solesh saat masih tinggal di istana. Desa itu berada di daerah yang lebih hangat dan dikenal sebagai tempat para pedagang mengumpulkan rempah dari kebun-kebun selatan sebelum membawanya ke kota-kota sekitar Blue Lake. Aku pernah melihat peta jalurnya di ruang kerja Dad, tetapi tidak pernah membayangkan suatu hari akan bersembunyi di antara karung-karung hasil panennya untuk menghindari tentara kerajaan sendiri.

Pria tua itu mulai berbicara kepada Ishar di depan. Suaranya ramah dan cukup keras untuk terdengar melalui kain kanopi. Ia menjelaskan bahwa rempah-rempah tersebut berasal dari Solesh dan akan dijual kepada penginapan serta pembuat roti di Evergreen. Sesekali ia mengajukan pertanyaan sederhana tentang asal perjalanan kami. Ishar menjawab pendek, mengatakan kami datang dari sebuah desa di timur dan hendak mencari kerabat dekat Blue Lake.

Kebohongannya keluar tanpa tersendat.

Aku tidak tahu apakah ia pernah berbohong sebelum bertemu kami.

Marlow mendengarkan setiap kata sambil tetap mengawasi jalan di belakang. Tidak ada tanda bahwa ia ingin memperbaiki ceritanya. Selama pria tua itu tidak bertanya lebih jauh, jawaban Ishar sudah cukup.

Aku menyentuh wajahku. Kulit di sekitar luka terasa kasar, rambutku penuh debu, dan pakaianku sudah kehilangan bentuk setelah berhari-hari dipakai. Mungkin itulah alasan pria tua tersebut tidak mengenaliku. Atau mungkin ia memang tidak pernah melihat sang pangeran. Di luar Izengard, banyak orang hanya mengenal keluarga kerajaan melalui koin, lukisan buruk di rumah dewan, atau cerita para pedagang. Wajahku mungkin tidak berarti apa pun baginya tanpa pakaian istana, penjaga, dan lambang keluarga Valdyr.

Untuk pertama kalinya, penampilanku yang buruk terasa seperti keberuntungan.

Gerobak terus bergerak ke barat. Cahaya masuk melalui celah kanopi dalam garis-garis tipis yang bergoyang mengikuti roda. Di antara bunyi tali kekang, langkah kuda, serta suara pria tua yang berbicara kepada Ishar, aku dapat mendengar Sungai Verrin perlahan menjauh di sisi jalan.

Aku memandang bayangan Ishar yang terlihat samar melalui kain depan kanopi. Ia duduk dekat pria tua itu dengan mantel Rosh masih membungkus bahunya, punggungnya tegak meskipun tubuhnya pasti kelelahan. Ia tidak pernah menoleh ke belakang.

Marlow mengikuti arah pandangku, kemudian kembali mengawasi jalan tanpa mengatakan apa pun.

Kami telah mendapat tumpangan menuju Evergreen, tetapi jarak antara aku dan Ishar terasa lebih lebar daripada seluruh Blue Lake.

1
Annabelle
Oke lah
Annabelle
Numpang mampir
Nomnom Yumyum
ceritanya seru, serasa baca novel translate an luar. ditunggu eps selanjutnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!