NovelToon NovelToon
Dosa Di Balik Gaun Sutra

Dosa Di Balik Gaun Sutra

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:196.5k
Nilai: 5
Nama Author: santi.santi

Salsa sangat mencintai Arkan, tapi Arkan tidak sama sekali. Dia sudah punya kakasih sebelum menikahi Salsa karena perjodohan.

Ditambah, Salsa adalah wanita yang sombong, jahat, serakah, manja, namun cintanya sangat besar pada Arlan. Selama satu tahun pernikahan, Arlan tidak pernah menyentuh Salsa sama sekali, hingga Salsa menggunakan cara licik agar bisa tidur dengan Arkan.

Arkan semakin murka, dia semakin membenci Salsa karena menjebaknya dan membuat hubungannya dengan kekasihnya semakin berantakan. Hingga Arkan mengusir Salsa dari rumah.

Beberapa tahun berlalu, Arkan bertemu kembali dengan Salsa di jalanan dalam keadaan GILA, namum Salsa bersama dengan seorang gadis kecil yang begitu mirip dengannya.

Ternyata dulu saat dia mengusir Salsa, Salsa sedang hamil. Timbullah penyesalan yang tiada tara dari Arkan dan dalam keadaan gila, Salsa selalu mengatakan....

"Apa salahku?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bahagia di atas puing kehancuran

"Gila kamu, Arkan!"

Kalimat umpatan itu langsung meluncur deras dari bibir Amara. Wanita paruh baya itu berdiri dengan dada kembang kempis, menatap putra tunggalnya dengan tatapan tidak percaya sekaligus murka.

Suasana ruang tamu kediaman keluarga Ferdinan yang biasanya tenang, siang itu mendadak berubah menjadi tegang dan panas. Kedatangan Arkan yang tiba-tiba telah membawa badai baru, terutama karena pria itu datang tidak seorang diri.

Di sampingnya, berdiri Nabila yang sejak menginjakkan kaki di rumah mewah tersebut hanya bisa menundukkan kepala dalam-dalam, meremas jemarinya sendiri untuk menyembunyikan kegugupan.

Niat kedatangan Arkan hari ini begitu mutlak, sebuah keputusan sepihak yang tidak bisa diganggu gugat. Ia datang untuk meminta izin, atau lebih tepatnya, memberi tahu, kedua orang tuanya bahwa ia akan segera menikahi Nabila dalam waktu dekat.

"Sekarang saja keberadaan Salsa belum ditemukan, tidak ada yang tahu dia ada di mana, dan kamu sudah mau menikahi wanita ini?!" Pekik Amara dengan suara melengking, jarinya menunjuk tepat ke arah Nabila dengan sorot mata penuh permusuhan.

Sebagai seorang ibu, Amara merasa kewarasan anaknya telah hilang. Bagaimana bisa Arkan memikirkan sebuah pernikahan baru di saat istri sahnya lenyap tanpa jejak layaknya ditelan bumi sejak malam pengusiran dua bulan lalu?

Arkan tidak gentar. Ia justru mempererat genggaman tangannya pada jemari Nabila, memasang badan untuk melindungi kekasihnya dari tatapan menghakimi sang ibu.

"Aku dan Salsa sudah resmi bercerai satu minggu yang lalu secara hukum, Bu. Putusan sidang sudah keluar. Jadi, apa salahnya kalau aku menikah lagi? Waktu itu, satu tahun yang lalu, aku sudah menurut untuk menikahi Salsa demi menuruti keinginan Ayah dan Ibu. Sekarang, perusahaan kita sudah aman, dan Ayah serta Ibu tidak memiliki hak lagi untuk menentang keputusan hidupku!"

"A-apa? Jadi kamu benar-benar menceraikan Salsa tanpa sepengetahuan kami?!" Amara terperanjat mundur, tangannya membekap mulutnya sendiri.

Wajahnya seketika memucat mendengarkan konfirmasi dingin dari putranya. Ia benar-benar tidak tahu kalau Arkan diam-diam telah mengajukan permohonan cerai kilat ke pengadilan agama melalui pengacaranya, memanfaatkan status Salsa yang dianggap mangkir dari panggilan sidang.

"Iya" Jawab Arkan pendek, tegas, dan tanpa penyesalan sedikit pun.

Amara terduduk lemas di atas sofa, seluruh kekuatannya seolah menguap. Memang benar, selama satu tahun ini Amara tahu betul bahwa Salsa adalah wanita yang sombong, manja, dan sering bertindak semena-mena karena merasa kasta keluarganya lebih tinggi.

Namun, sebagai sesama wanita, Amara juga bisa melihat dengan jelas bahwa cinta yang Salsa miliki untuk Arkan sangatlah besar, teramat besar hingga akhirnya membusuk menjadi sebuah obsesi yang tidak sehat.

Ada rasa bersalah yang teramat dalam yang kini mulai menggerogoti hati nurani Amara. Bagaimanapun juga, fakta bahwa perusahaan suaminya terlepas dari jeratan utang piutang dan kebangkrutan setahun lalu adalah murni karena kucuran dana segar dari Brahmantyo.

Dan sekarang, setelah perusahaan mereka kembali berdiri tegak, anaknya justru menendang putri dari penolong mereka ke jalanan, memenjarakan bisnisnya, hingga wanita itu hilang entah ke mana. Amara merasa mereka telah menjadi keluarga berdarah dingin yang tidak tahu balas budi.

Ferdinan, yang sejak tadi duduk diam di kursi rodanya sembari memegangi dadanya yang sesekali terasa nyeri, akhirnya menghela napas panjang yang terdengar sangat berat.

Rambutnya yang memutih membuat pria tua itu tampak jauh lebih rapuh dari biasanya. Kasus hukum yang menimpa Brahmantyo secara tidak langsung berimbas pada runtuhnya beberapa sektor bisnis yang bekerja sama dengan mereka.

"Ayah sudah tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi kamu, Arkan" Ucap Ferdinan dengan suara baritonnya yang kini terdengar lemah dan parau.

"Tapi sekarang, perusahaan milik Brahmantyo sudah benar-benar bangkrut total. Seluruh aset mereka disita negara, dan Brahmantyo sendiri memang masih bersembunyi sebagai buronan di luar negeri. Ayah hanya minta satu hal kepadamu, Ar..."

Ferdinan menatap manik mata putranya dengan pandangan memohon.

"Jangan lagi mengusik mereka. Jangan lagi mencari tahu atau mengejar mereka untuk melampiaskan dendammu. Biarkan pihak berwajib dan hukum yang mengurus semuanya. Jangan lagi ikut campur. Anggap saja... anggap saja sikap diammu ini adalah bentuk balas budi terakhir kita karena mereka pernah menyelamatkan keluarga ini dari kehancuran"

Bagi Ferdinan, ini adalah satu-satunya hal moral yang bisa ia lakukan saat ini. Ia tidak bisa menghentikan penyelidikan kejaksaan terhadap Brahmantyo karena dokumen yang dirilis Arkan sudah terlanjur menjadi konsumsi publik dan bermuatan pidana nyata.

Namun, setidaknya, ia ingin memastikan putra kandungnya tidak bertindak lebih jauh atau bertindak kejam di luar batas kemanusiaan terhadap keluarga yang pernah menjadi dewa penyelamat mereka.

Arkan terdiam sejenak, menimbang permintaan ayahnya yang memiliki riwayat penyakit jantung. Pada akhirnya, ia mengangguk pelan.

"Baiklah, aku tidak akan memedulikan mereka lagi. Tapi sebagai gantinya, jangan ada lagi yang menentang hubunganku dengan Nabila. Minggu depan, kami akan mengurus berkas pernikahan kami"

Ferdinan dan Amara hanya mampu terdiam seribu bahasa, tidak memberikan restu namun juga tidak lagi memiliki kekuatan untuk membantah. Mereka berdua sebenarnya tidak menyukai Nabila.

Entah mengapa, sejak pertama kali Arkan mengenalkan wanita itu, Amara selalu merasakan ada sesuatu yang janggal, sebuah intuisi seorang ibu yang merasa tidak cocok dan melihat ada kabut misterius di balik wajah lugu dan kesederhanaan yang ditampilkan oleh Nabila. Namun, melihat sifat Arkan yang keras kepala, mereka tahu protes apa pun hanya akan berakhir sia-sia.

Arkan segera menuntun Nabila untuk keluar dari rumah besar keluarganya, enggan berlama-lama di dalam atmosfer yang menyesakkan itu. Begitu mereka melangkah keluar dari pintu utama menuju halaman depan yang asri, ketegangan di wajah Arkan seketika mencair.

Kedua tangan mereka saling menggenggam dengan sangat erat. Sepanjang langkah menuju mobil, bibir Arkan tidak pernah berhenti mengulas senyuman lebar, sebuah ekspresi kebahagiaan murni yang selama satu tahun penuh ini terkunci rapat di dalam hatinya. Pria itu merasa beban berat yang merantai hidupnya kini telah lepas sepenuhnya.

"Akhirnya, sebentar lagi kita akan menikah, Sayang. Tidak akan ada lagi yang bisa memisahkan kita" Bisik Arkan penuh emosi saat mereka sudah berada di dalam mobil, menatap Nabila dengan tatapan mata yang dipenuhi puji pujaan.

Nabila membalas tatapan itu dengan sebuah senyuman tipis yang manis, sangat anggun dan menenangkan di mata Arkan. Namun, sedetik kemudian, Nabila meredupkan binar matanya, memasang raut wajah penuh rasa bersalah dan keingintahuan yang tampak sangat alami.

"Tapi Mas... sebenarnya Mbak Salsa itu sekarang ada di mana ya?" Tanya Nabila dengan nada suara yang lembut, terdengar sangat prihatin.

"Kenapa sampai sekarang belum ada kabar atau berita sama sekali tentang keberadaannya? Di televisi pun hanya menyiarkan tentang pelarian papanya. Aku terkadang merasa bersalah jika mengingat dia pergi sendirian"

Arkan menghela napas, lalu mengulurkan tangannya untuk mengusap pucuk kepala Nabila dengan penuh kasih sayang, mencoba menenangkan kekhawatiran wanita itu.

"Aku tidak tahu, Sayang. Dia dan papanya pasti berhasil menemukan tempat persembunyian yang begitu aman dan mewah di luar negeri menggunakan sisa-sisa uang haram mereka sampai saat ini. Tapi kamu tidak usah memikirkan wanita itu lagi, ya? Yang paling penting sekarang adalah mereka sudah tidak akan pernah bisa mengganggu hubungan kita lagi"

Nabila mengangguk patuh, menyandarkan kepalanya di bahu tegap Arkan.

"Iya, Mas. Maaf ya, aku tidak bermaksud membuatmu kesal"

"Tidak apa-apa, wajar kalau kamu yang berhati lembut memikirkan hal itu" Ujar Arkan sembari menyalakan mesin mobil.

"Ayo, sekarang aku antar kamu pulang ke rumah. Aku masih ada meeting penting dengan dewan direksi setelah ini"

Mendengar hal itu, Nabila segera menegakkan tubuhnya, menatap Arkan dengan tatapan tidak enak hati.

"Eh, kalau begitu kamu langsung ke kantor saja sekarang, Mas. Biar aku pulang sendiri naik taksi atau angkutan umum. Aku tidak mau kamu telat rapat hanya karena harus memutar jalur mengantarku"

"Tidak, Nabila. Aku tidak akan pernah membiarkan calon istriku pulang sendirian" Tolak Arkan dengan cepat, nada suaranya protektif.

"Aku benar-benar tidak apa-apa, Mas" Bujuk Nabila lagi, senyumnya meyakinkan.

"Lagipula, siang ini aku memang mau mampir ke kawasan pasar baru untuk mencari beberapa potong kain brokat untuk contoh sketsa butik kecilku nanti. Pasti butuh waktu yang sangat lama untuk memilih motifnya, nanti kamu bisa telat dan merugikan perusahaan. Ya?"

Arkan tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya mengalah, menyadari bahwa Nabila adalah wanita mandiri yang tidak suka dimanja berlebihan.

"Baiklah kalau begitu. Tapi aku tidak akan melepasmu begitu saja. Aku akan mengantarmu sampai ke depan toko kain langgananmu di pasar baru, setelah itu baru aku langsung ke kantor. Setuju?"

Nabila tersenyum manis dan mengangguk menyetujui.

"Iya, setuju. Terima kasih ya, Mas"

Mobil mewah Arkan membelah jalanan kota yang padat, menuju ke sebuah kawasan pertokoan tekstil tua yang terkenal dengan kelengkapan kainnya. Begitu mobil berhenti tepat di depan sebuah papan nama toko kain besar yang menjadi langganan Nabila, wanita itu berpamitan. Ia mencium punggung tangan Arkan dengan takzim, sebuah gestur yang selalu berhasil membuat hati Arkan berdesir hangat.

"Aku pergi dulu ya, Mas. Hati-hati di jalan, jangan mengebut" Ucap Nabila lembut sebelum membuka pintu mobil dan turun.

"Iya, nanti kalau sudah selesai, telepon aku ya. Aku akan menyuruh sopir kantor untuk menjemputmu" Sahut Arkan dari balik kemudi, memberikan lambaian tangan hangat sebelum akhirnya menginjak pedal gas, melajukan mobilnya menjauh membaur dengan arus lalu lintas menuju kantor pusatnya.

Nabila berdiri di atas trotoar, mematung sembari menatap kepergian mobil Arkan hingga kendaraan mewah itu benar-benar hilang dari pandangannya di ujung tikungan jalan raya.

Begitu mobil Arkan tak lagi terlihat, detik itu juga, seluruh ekspresi kelembutan, keluguan, dan senyuman manis yang sejak tadi terpatri di wajah Nabila seketika menguap tanpa sisa.

Gurat wajahnya mendadak berubah menjadi sangat dingin, datar, dan tajam. Sepasang matanya berkilat penuh dengan kepuasan yang sinis.

Nabila membalikkan tubuhnya. Ia sama sekali tidak melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam toko kain langganannya seperti yang ia katakan pada Arkan tadi. Sebaliknya, wanita itu berjalan dengan langkah yang lebar dan pasti menuju ke arah yang berlawanan.

Ia menyusuri gang sempit di samping pertokoan yang sepi dari lalu lalang orang, tempat di mana sebuah mobil sedan hitam dengan kaca yang sangat gelap telah terparkir rapi di sana sejak beberapa menit yang lalu, menunggunya dengan setia di dalam kegelapan bayang-bayang gedung

1
Vhtree YNI
kasian juga yah dsni jadi ayu harus ikut menderita selain arkan ayu juga harus masih menderita...arkan ya mungkin pembalasan arkan di masa lalu,tapi ayu harus menderita sampe di titik ketemu ayahpun harus masih ahhhh sudah aku sedihhh🥹
Aysah Meta
Ya Khan..Emang udh gak bener km jul..dia awal.km udah di kasih kesempatan sama Arkan buat dekat sama salsa,tapi jangan jauhkan ayu..ehh!!Belang mu kelihatan skr.km cm pengen emaknya doang,emoh sama anaknya.
emang saudaranya setan kau Jull,suka manipulatif.
Nuriwan Hasanah
mudahan kpala salsa ke bentur tembok ato pintu mobil biar cpat ingat,,terlalu drama sekaleee
🌿🌼WINA🌼🌿
ikatan bathin ibu dan anak sangat kuat walaupun salsa amnesia, salsa merasakan kesedihan ayu sangat merindukan ibunya...
julian gak punya perasaan egois memaksakan dirinya menikah sama salsa, salsa keadaan amnesia tidak punya perasaan sama julian. salsa menikah sama julian punya hutang budi julian yg merawatnya...

semoga arkan dapat mencegah jangan sampai julian menikahi salsa, ayo ayu sayang bilang sama ayah ibu mau menikah sama om dokter...

Kasian ayu jauh dari ibunya merasa sedih gak sampai gak semangat sekolah, dokter gendeng ini enaknya diapain ya🤭

naluri keibunya muncul salsa gak tega menolak keinginan ayu, ikut mengantarkan ayu pulang...

arkan ikuti aja permainannya dokter gendeng itu, cari waktu yg tepat menggagalkan pernikahannya julian dan salsa...
Nar Sih
semoga stlh sampai rmh arkan ada keajaiban salsa inggat msa lalu nya dan gk jdi nikah dgn si dr saraf yg gila juga
Agnezz
Ayu hebat, kehidupan masa lalu yg keras menjadikan dia anak yg tangguh. Ayu bisa membuat sang supir mau mengantarkannya ke tempat aparteman Salsa. Sempga pertemuan dengan Salsa bisa membuat ibumu sadar dan ingat kalo Ayu adalah anak kandungnya. Biar batalah rencana pernikahan Salsa dengan Julian.
Nurminah
Julian hadeh jadi manusia tidak punya hati demi cinta miris
MamDeyh
Dahhh sana menikah aja km sama Julian😒..
🌿🌼WINA🌼🌿
Julian tega banget memisahkan ibu dan anaknya, demi ambisinya dan obsesinya memiliki salsa.
memanfaatkan keadaan salsa yg lagi amnesia, arkan emang bersalah dulu menyakiti salsa menderita...
tapi arkan telah menyesali perbuatannya dan merasa bersalah sama salsa, demi kesembuhan salsa rela dan ikhlaskan salsa bersama julian...

klo julian tulus mencintai salsa bisa menerima ayu juga, gak misahkan ayu dan salsa membawa ayu pergi juga ERAM salsa...

dasar dokter julian egois dan modus aja dokternya salsa ada maksud dan tujuannya...
MamDeyh
Hmmmm😒
Nar Sih
semagat arkan ,💪dgn kepinteran dan kesabaran mu juga doa mu kmu pasti bisa bwa salsa kembali
Agnezz
pikiran kognitif Salsa sudah jalan kan, ayo donk Salsa pikirkan baik2. mengapa Arkan dan Ayu tidak fokus pada kesembuhan ibunya, kok malah mencari Salsa sebagai pengganti ibunya. Knapa Salsa gak penasaran ingin bertemu ibu kandungnya Ayu. seperti apa rupa beliau.
Herman Lim
moga setelah lihat rumah dulu ingatan dl terbuka semua 🤪🤪
dyah EkaPratiwi
jahat banget Julian nggak kasian sama ayu
Agnezz
mudah2an saat mengantar Ayu pulang ke rumah, ingatan Salsa kembali. Ingatan yg mengerikan tapi Salsa sudah tegar menghadapi krn jiwanya sudah lebih stabil. semoga saja Salsa sadar bahwa wanita istri Arkan ibunya Ayu yg diceritakan dr Julian adalah dirinya sendiri. Dari sini jiwa dan batin Salsa bergolak.
Agnezz: iya kak semoga aja, paling kasihan sama si Ayu
total 2 replies
SasSya
hallaaahhh
jangan terlalu penurut Saaaa
jangan terlalu percaya dengan orang yg katanya menolong muuu
pembohong besar!
SasSya
waduuuuuuhhhh
jangan sampai menikah
benar2 akan kehilangan ini yuuuu
ban**** banget ini dokter gelo sontoloyo Arrrrr jangan biarkan sia2 usaha muuu
gaaasss hancurkan ,geram sangat 😡
Nar Sih
mantan suami versi kekasih akan bertaruh wah...pasti seruu☺️
Nureliya Yajid
lanjut
SasSya
berjuanglah semaksimal mungkin Ar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!