Niat Diaz kabur ke Gunung Kawi demi menghindari perjodohan malah berbelok 180 derajat saat ia mampir salat di Masjid Baiturrahman.
Diaz tidak sengaja menabrak Ganda Mahesa.
Anak kiai kaya raya yang sedang panik setengah mati karena calon istrinya tidak datang satu jam sebelum akad.
Demi menjaga harga diri keluarga di hadapan 200 undangan, Ganda nekat menembak Diaz:
"Mbak, mau gak nikah sama saya? Sekarang. Daripada saya dipermalukan satu Kepanjen."
"Oalah mas saya aja kabur dari perjodohan dan mau ke gunung Kawi untuk mencari ketenangan."
"Mbak mau pesugihan? Astaghfirullah mbak iling mbak. Saya kasih semuanya mbak."
"Saya nggak cari pesugihan saya hanya ..."
Hanya dalam 10 menit, akad dadakan itu sah. Suasana sakral pun langsung pecah oleh bisik-bisik julid emak-emak:
"Iku sopo toh seng rabi karo Ganda? Kok koyo ojek online, dipesen langsung dateng!"
Drama sesungguhnya dimulai ketika Laura, sang calon istri asli, tiba-tiba datang terlambat dan meminta ganda untuk menikahinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Sementara itu, suasana di rumah sakit terasa begitu kontras dengan prahara yang terjadi di pondok.
Pihak rumah sakit memberikan fasilitas terbaik atas permintaan Ganda sebelum pria itu pulang untuk menyelesaikan urusannya.
Di dalam kamar yang hening itu, Diaz membuka matanya.
Pandangannya lurus menatap langit-langit kamar. Melalui sekat kaca transparan yang menghubungkan kamarnya dengan ruang jaga,
Diaz melihat perawat yang bertugas sedang sibuk mengurus administrasi di ruangan lain. Kamar VVIP itu sedang tidak ada siapa-siapa.
Aura sepi ini memberikan celah bagi Diaz. Tekadnya sudah bulat; ia tidak ingin lagi menjadi bagian dari lingkaran racun keluarga pondok Al-Hikmah.
Dengan napas yang masih terasa agak berat, Diaz mengangkat tangan kanannya.
Tanpa ragu, ia mencengkeram pangkal jarum yang menusuk kulitnya, lalu menarik paksa selang infus itu hingga terlepas.
Rasa perih seketika menjalar, dan setetes darah segar mulai merembes keluar dari bekas jarum, namun Diaz sama sekali tidak peduli.
Rasa sakit di fisiknya tak sebanding dengan hancurnya hatinya.
Ia kemudian beralih ke jemari tangan kirinya. Dengan perlahan, Diaz melepas cincin pernikahan yang melingkar di jarinya—benda yang semula ia harapkan menjadi simbol kebahagiaan, namun kini terasa seperti belenggu yang menyiksanya.
Diaz meraih secarik kertas resep kosong dan sebuah pulpen yang tertinggal di atas nakas samping ranjang.
Tangan yang gemetar itu mulai menggoreskan tinta, menuliskan pesan terakhir yang singkat namun menghujam:
Uang mahar ada di dalam tas ranselku di pondok. Aku kembalikan semuanya.
Jangan mencariku, Ganda.
Diaz meletakkan cincin emas itu tepat di atas kertas pesan tersebut.
Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya, Diaz turun dari ranjang rumah sakit.
Langkah kakinya sempat goyah, namun ia mencengkeram tepi ranjang untuk memantapkan diri.
Ia berjalan menuju lemari pakaian, mengganti baju pasien yang dikenakannya dengan pakaian kasual miliknya yang sempat dilepas saat masuk UGD dua hari lalu.
Diaz tidak membawa apa-apa. Tas ranselnya, dokumen pentingnya, bahkan motor sport kesayangannya yang biasa menemani hari-harinya, semua masih tertinggal di rumah Ganda di area pondok.
Ia benar-benar pergi hanya dengan sehelai baju di badan dan beberapa lembar uang tunai darurat yang untungnya masih tersimpan aman di dalam saku pakaiannya.
Dengan langkah tergesa namun senyap, Diaz menyelinap keluar dari ruang VVIP.
Ia berjalan menunduk melewati selasar rumah sakit, memanfaatkan kelengahan petugas, hingga akhirnya berhasil keluar menembus pintu lobi utama.
Udara siang itu menerpa wajahnya yang masih pucat.
Diaz segera melambaikan tangannya begitu melihat sebuah taksi kosong yang sedang melintas di area drop-off.
Ia membuka pintu belakang dan langsung masuk ke dalam kabin mobil.
"Jalan, Pak. Keluar dari rumah sakit ini sekarang," ucap Diaz dengan suara parau yang menyiratkan kepanikan sekaligus ketegasan.
Sopir taksi itu melirik melalui kaca spion tengah, melihat wajah penumpangnya yang tampak lesu dan pucat.
"Mau diantar ke mana, Mbak?"
Diaz menyandarkan kepalanya ke kursi, memejamkan mata rapat-rapat saat mobil mulai bergerak meninggalkan area rumah sakit.
Tempat yang dua hari lalu hendak ia tuju sebelum dicegat oleh pernikahan tak terencana ini, kini kembali menjadi satu-satunya tujuan untuk mengobati jiwanya yang sekarat.
"Antarkan saya ke daerah penginapan di Gunung Kawi, Pak. Sekarang."
Deru mesin mobil Ganda baru saja mati di pelataran parkir rumah sakit.
Jantungnya masih berdegup kencang, sisa dari ketegangan prahara talak di pondok tadi.
Ponselnya sempat bergetar menerima pesan dari perawat yang mengabarkan bahwa Diaz telah dipindahkan ke ruang VVIP, membuat Ganda langsung memacu kendaraannya ke sini tanpa membuang waktu.
Saat melangkah keluar dari mobil dan berjalan cepat menuju lobi utama, Ganda sempat berpapasan dengan sebuah taksi lokal yang baru saja melaju lewat, keluar dari area drop-off.
Pandangan Ganda sempat menyapu kaca taksi yang agak gelap itu selama satu detik, namun pikirannya yang kalut membuat fokusnya terpecah.
Ia sama sekali tidak tahu bahwa di balik kaca itu, Diaz sedang duduk menyandar dengan air mata yang mengalir, pergi menjauh darinya.
Ganda mempercepat langkahnya, setengah berlari menyusuri selasar rumah sakit menuju blok ruang VVIP.
Ia ingin segera memeluk Diaz, menceritakan bahwa keadilan telah ditegakkan, dan bahwa dua wanita yang menyakitinya telah diusir secara tidak terhormat.
Brak!
Ganda membuka pintu ruang VVIP itu dengan napas terengah-engah.
Namun, langkah kakinya seketika terkunci di ambang pintu.
Pandangannya kosong menatap selimut rumah sakit yang acak-acakan di atas ranjang yang sudah tak berpenghuni.
Selang infus tergeletak begitu saja dengan bercak darah yang mulai mengering.
"Suster! Suster!" panggil Ganda setengah berteriak, panik luar biasa.
Seorang perawat jaga yang kebetulan lewat langsung berlari menghampiri.
"Iya, Ustaz? Ada apa?"
"Dimana istriku?! Dimana Diaz?!" tanya Ganda dengan suara meninggi, mencengkeram tepian pintu.
Perawat itu terbelalak kaget melihat ke dalam kamar.
"A-astaghfirullah. Tadi ada di kamar, Pak! Sepuluh menit yang lalu saya baru saja memeriksa tensinya dan Mbak Diaz masih beristirahat!"
Tanpa mendengarkan penjelasan perawat itu lebih lanjut, Ganda melangkah cepat mendekati ranjang.
Matanya yang tajam menangkap sebuah kilauan logam di atas nakas, tepat di samping rak obat.
Sepotong perhiasan emas melingkar di sana. Itu cincin pernikahan mereka.
Di bawah cincin itu, terdapat secarik kertas resep dengan tulisan tangan yang tampak digoreskan dengan sisa-sisa tenaga yang lemah.
Ganda mengambil kertas itu, dan setiap bait kalimat di dalamnya terasa seperti belati yang menghujam jantungnya berulang kali.
Uang mahar ada di dalam tas ranselku di pondok. Aku kembalikan semuanya.
Jangan mencariku, Ganda.
"Astaghfirullahaladzim. Diaz, kenapa kamu nekat, Dek..." lirih Ganda, lututnya lemas seketika.
Tubuhnya luruh, terduduk di tepi ranjang yang masih menyisakan kehangatan tubuh istrinya.
Penyesalannya kembali membubung tinggi; ia terlambat lagi melindungi Diaz.
Dengan tangan yang gemetar hebat, Ganda merogoh sakunya dan langsung menghubungi nomor Abah Kiai.
Di seberang telepon, suara mesin mobil terdengar samar—Abah Kiai sedang dalam perjalanan jauh mengantarkan Umi Maryam kembali ke rumah orang tuanya.
"Assalamualaikum, Abah. Diaz, Abah. Diaz kabur dari rumah sakit. Dia melepas infusnya dan meninggalkan cincin nikah kami," ucap Ganda panik dengan suara parau menahan tangis.
Di seberang sana, Abah Kiai terdiam sejenak, mengembuskan napas berat mengerti betapa hancurnya hati menantunya itu.
"Ganda, tenang dulu. Jangan panik," ucap Abah Kiai mencoba menstabilkan emosi putranya.
"Ingat-ingat lagi masa lalu kalian. Pertama, kamu cek dulu ke rumah kontrakannya atau rumah masa lalunya di kota. Kalau di sana tidak ada..."
Abah Kiai menjeda kalimatnya, sementara di saat yang bersamaan, sebuah memori kilas balik saat pertama kali mereka bertemu di masjid mendadak melintas di kepala Ganda.
Ingatan tentang seorang wanita yang frustrasi akibat perjodohan Bramasta dan ingin mencari pelarian.
"Gunung Kawi!" ucap Abah Kiai dan Ganda secara bersamaan di telepon.
"Benar, Abah! Waktu pertama kali bertemu, dia bilang mau menenangkan diri ke Gunung Kawi!" seru Ganda, setitik harapan mendadak muncul di tengah keputusasaannya.
"Nggih, kejar dia ke sana, Ganda. Jemput istrimu, bawa dia pulang dengan cara yang baik. Selesaikan apa yang belum selesai," titip Abah Kiai lembut sebelum mengakhiri panggilan.
Ganda langsung meremas kertas pesan dari Diaz, memasukkannya ke dalam saku, lalu berlari keluar dari rumah sakit menuju mobilnya.
Ia bersumpah dalam hati tidak akan kembali ke pondok sebelum berhasil membawa Diaz kembali ke dalam pelukannya.
😡😡😡😡😡😡😡😡
juga laura, wanita kyk pelacur 😡😡😡
Ceritanya jadi hidup. Semangat selalu berkarya nya kak!💖🙌
sdh biar dilepas kan sm Ganda aja thor, kasihan diaz, biar bebas 🙏🙏
kasihan diaz,ternyata sebatang kara 🤭
biarkan pergi jauh dr manusia2 egois 😡😡