NovelToon NovelToon
ISTRI TITIPAN ABANG

ISTRI TITIPAN ABANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

"Satu Janji, Dua Dunia, dan Takdir yang Tertukar."
Di hari pernikahannya, Syarifah Khadijah Al-Eydrus kehilangan Habib Farhan, calon suaminya yang tewas dalam kecelakaan tragis. Melalui sebuah wasiat terakhir, Khadijah terpaksa dinikahi oleh Zaid, adik kandung Farhan yang tampan, dingin, sekaligus berandalan ketua geng motor.
Bagi Zaid, Khadijah hanyalah "titipan" yang menyesakkan. Di bawah satu atap, sang Hafizah berjuang dengan kesabaran, sementara Zaid terus memberontak dalam liarnya kehidupan malam. Namun perlahan, getaran asing mulai tumbuh di antara cadar dan jaket kulit.
Akankah Zaid berubah menjadi imam yang pantas, ataukah Khadijah selamanya hanya menjadi bayang-bayang masa lalu?
"Karena terkadang, Allah mematahkan hatimu hanya untuk mempertemukanmu dengan seseorang yang akan menjagamu selamanya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DI BALIK TIRAI YANG TAK TERBUKA

Kantin Universitas Nasional siang itu penuh sesak. Suara denting piring bersahutan dengan riuh rendah obrolan mahasiswa yang melepas penat setelah kelas pagi yang menguras otak. Di sudut paling belakang, sebuah meja panjang tampak didominasi oleh sekumpulan pemuda berjaket kulit. Zaid duduk di tengah, memar di wajahnya yang didapat dari perkelahian semalam kini berubah warna menjadi biru keunguan, namun hal itu justru menambah kesan sangar yang memikat di mata mahasiswi yang sesekali mencuri pandang.

Zaid mengaduk es kopi di depannya dengan pandangan kosong. Pikirannya tidak benar-benar ada di kantin. Ia masih terbayang bagaimana lembutnya tangan Khadijah saat mengobati lukanya semalam, dan bagaimana suara lirih wanita itu saat mengatakan bahwa ia mendoakan keselamatannya.

"Zaid, lo denger nggak sih gue ngomong apa?" Rian menyenggol lengan Zaid, membuyarkan lamunannya.

Zaid menoleh malas. "Apaan?"

Rian nyengir, lesung pipinya terlihat saat ia mulai menunjukkan watak aslinya yang mata keranjang. "Gue bilang, bini lo itu... si Syarifah Khadijah, gila sih. Gue baru lihat matanya doang semalam pas kita anter lo pulang, tapi auranya beda banget. Matanya bening banget kayak air zam-zam, bulu matanya lentik natural. Baru matanya doang udah cantik banget, apalagi aslinya ya?"

Zaid terdiam. Ia menyesap kopinya perlahan, berusaha menutupi rasa canggung yang tiba-tiba menyerang. Kalimat Rian jujur saja menusuk rasa penasaran yang selama ini ia kunci rapat-rapat.

"Biasa aja," jawab Zaid singkat, meskipun hatinya tidak sejalan dengan ucapannya.

"Biasa aja mata lo peyang!" Rian tertawa remeh. "Laki-laki normal mana yang bilang mata kayak gitu biasa aja? Lo pasti udah lihat wajah aslinya kan? Gimana? Mirip artis Arab atau gimana?"

Zaid meletakkan gelasnya dengan denting yang cukup keras. Ia menatap Rian datar. "Gue belum pernah lihat."

Suasana di meja itu seketika hening. Rian yang sedang mengunyah gorengan hampir tersedak, sementara Haikal yang tadinya sibuk membaca buku referensi langsung mengangkat kepalanya, menatap Zaid dengan dahi berkerut.

"Maksud lo? Lo belum pernah lihat wajah istri lo sendiri?" Rian bertanya dengan nada tidak percaya. "Zaid, lo udah nikah seminggu lebih, Bro! Lo tinggal satu kamar!"

"Dia selalu pakai cadar," ujar Zaid pelan, seolah bicara pada dirinya sendiri. "Bahkan saat tidur pun, dia tetap menutupinya. Aku juga tidak pernah memintanya membuka. Aku tidur di sofa, dia di ranjang. Kami punya batasan."

Zaid memang keras kepala dan liar, tapi ada satu sisi dalam dirinya yang masih menghargai prinsip. Ia merasa karena pernikahan ini dimulai tanpa cinta dan penuh keterpaksaan dari pihaknya, ia tidak ingin memberatkan Khadijah. Ia tidak ingin menuntut haknya sebagai suami jika itu membuat Khadijah merasa tidak nyaman atau tertekan.

"Tapi lo kan suaminya, Zaid. Hak lo buat lihat wajah dia," sela Rian lagi, kali ini dengan nada yang lebih serius. "Masa lo nggak penasaran? Jangan-jangan dia itu bidadari yang sengaja Tuhan turunkan buat tobat kikir lo itu."

Zaid hanya mengangkat bahu cuek, meski dalam hati ia mulai bertanya-tanya: *Sampai kapan Khadijah akan menutup diri? Dan sampai kapan aku sanggup menahan rasa ingin tahu ini?*

Rian mendadak teringat sesuatu. Ia menyenggol Haikal yang duduk di depannya. "Eh, Kal. Terus kalau dia belum lihat wajahnya, malam pertama mereka gimana dong? Jangan-jangan mereka cuma main catur semalaman?"

Haikal menghela napas panjang, menatap Rian dengan pandangan 'lo-bego-apa-gimana'. "Lo lupa ya? Malam pertama Zaid itu bareng kita, Rian. Lo lupa kita seret dia ke klub malam itu sampai subuh?"

Rian menepuk jidatnya sendiri. "Oh iya! Gue lupa! Malam itu kan kita minum-minum sampai teler. Gila, Zaid. Lo bener-bener laki-laki paling 'savage' sekaligus paling tega yang pernah gue kenal. Ninggalin pengantin baru yang sholehah demi dentuman musik diskotik."

Zaid hanya diam mendengarkan ledekan sahabatnya. Mengingat malam pertama itu sekarang justru mendatangkan rasa perih di dadanya. Ia teringat betapa sombongnya ia saat itu, menganggap Khadijah hanya sebagai beban titipan yang tidak berharga. Ia teringat bagaimana ia melenggang pergi tanpa memikirkan perasaan gadis 20 tahun yang baru saja kehilangan calon suaminya dan dipaksa menikah dengan pria asing sepertinya.

"Puas lo ketawa?" desis Zaid pada Rian.

"Bukan puas, Zaid. Gue cuma kasihan sama Khadijah," ujar Rian, kali ini tanpa nada bercanda. "Dia itu Syarifah, hafizah pula. Gue yang brengsek begini aja tahu kalau dia itu permata. Lo beruntung dapet dia, tapi lo malah bersikap kayak dia itu musuh."

Setelah makan siang, Zaid berjalan menyusuri koridor kampus. Langkahnya yang tegap biasanya mengundang perhatian, namun kali ini matanya sibuk mencari-cari sosok yang mengenakan gamis gelap dan cadar hitam.

Di kejauhan, dekat gedung perpustakaan, ia melihat Khadijah berjalan bersama dua sahabatnya. Khadijah tampak memegang beberapa buku besar di dadanya. Dari jarak ini, Zaid memperhatikan bagaimana Khadijah menjaga jarak dengan mahasiswa laki-laki yang berpapasan dengannya. Ia berjalan menunduk, sangat kontras dengan mahasiswi lain yang sibuk berswafoto atau tertawa keras.

Zaid teringat ucapan Rian tadi. 'Matanya aja udah cantik.'

Tanpa sadar, Zaid terus memperhatikan Khadijah sampai istrinya itu masuk ke dalam gedung. Ada rasa asing yang mulai menjalar di hatinya bukan sekadar rasa tanggung jawab karena wasiat Farhan, tapi sesuatu yang lebih personal. Sesuatu yang membuatnya ingin tahu, bagaimana ekspresi Khadijah saat tertawa? Bagaimana wajahnya saat sedang tidak berduka?

"Zaid!" suara Sherly memanggil dari belakang, tapi Zaid tidak menoleh. Ia terus berjalan berlawanan arah, meninggalkan masa lalunya yang riuh demi mencari jawaban atas keheningan yang dibawa Khadijah ke dalam hidupnya.

Zaid menyadari satu hal: meskipun ia tidur satu kamar dengan Khadijah, meskipun nama mereka terukir di buku nikah yang sama, Khadijah masih tetap menjadi misteri terbesar yang pernah ia hadapi. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, Zaid merasa tertantang untuk memecahkan misteri itu, bukan dengan kekerasan, melainkan dengan cara yang bahkan ia sendiri belum memahaminya.

1
Enz99
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!