NovelToon NovelToon
Suami Mafia Sang Polwan

Suami Mafia Sang Polwan

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Menyembunyikan Identitas / Action
Popularitas:115.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Chantika Rahardja adalah putri dari keluarga pebisnis yang memilih menjadi polwan. Saras, adik tirinya selalu iri dengan prestasi dan kecantikannya. Apalagi sang ayah selalu membandingkan mereka dan lebih membanggakan Chantika.

Saras menjebak Chantika untuk menemani pebisnis yang terkenal playboy agar mendapatkan investasi.

Tapi siapa sangka Chantika malah terlempar ke ranjang Enzo Arkan Pradana, bos mafia yang terkenal tak pernah menyentuh wanita. Pria yang akhirnya bisa tidur tanpa menelan obat saat bersama Chantika.

Kesalahan semalam itu membuat keduanya menikah, tanpa Chantika tahu siapa sebenarnya suaminya. Di balik identitasnya sebagai CEO sebuah perusahaan, pria itu menyembunyikan kekuasaan yang tak seorang pun berani menentangnya.

Seorang penegak hukum menikahi penjahat?

Bagaimana rumah tangga mereka jika Chantika tahu sang suami adalah seorang mafia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Takdir yang Tak Terduga

Bryan berjalan menuju sofa, lalu menuang wine dalam sebuah gelas kristal. Setelah itu, ia menyandarkan tubuhnya. Tatapannya kembali menelanjangi tubuh Saras yang bahkan lekukannya sudah terlihat jelas.

"Kemari," katanya sambil menepuk pahanya sendiri.

Saras menelan ludahnya. Perlahan ia mendekat dan berhenti di depan Bryan.

"Akh!" pekik Saras.

Tiba-tiba Bryan menarik tangannya. Dalam sekali sentak, pria itu membuat Saras duduk di pangkuannya. Berhadapan.

Saras menelan ludah kasar. Tangannya yang bertumpu di pundak Bryan sedikit mendorongnya. Tapi Bryan menahan pinggangnya.

"Minum ini." Bryan menyodorkan sebutir pil.

"Apa ini?" tanya Saras penuh selidik.

Bryan mendekatkan bibirnya di telinganya Saras. "Penyemangat." Ia menggigit cuping Saras membuat gadis itu tersentak. "Aku suka yang liar."

Saras terdiam. "Jangan-jangan... obat perang sang?"

Bryan berdecak karena Saras tak kunjung mengambil obat itu.

"Emph..."

Saras mencoba memalingkan wajahnya saat Bryan memaksa memasukkan obat itu ke mulutnya.

"Apa kau sudah lupa?" Bryan mencengkram pipi Saras. "Jika kau membuatku tak senang, investasi itu--"

"Aku tahu," potong Saras berusaha menyingkirkan tangan Bryan dari wajahnya.

"Kalau begitu, menurutlah." Bryan melepaskan cengkeramannya. "Lepaskan bajuku."

Dengan perasaan benci, dan dendam yang ditahan, Saras melepaskan jas yang dikenakan Bryan, lalu kemejanya. Akhirnya tubuh pria itu terlihat. Dadanya memang bidang, perutnya rata dengan otot-otot yang tersusun sempurna.

"Tubuhnya lumayan bagus," batin Saras sebenarnya enggan mengakui. Ia melirik wajah pria itu. "Tapi wajahnya sama sekali bukan tipeku. Terlalu standar."

Namun sesaat kemudian kepalanya terasa pusing, suhu tubuhnya perlahan meningkat. Pandangannya mulai berputar.

"Kau--"

Kalimat Saras tak selesai kala Bryan sudah melahap bibirnya, menciumnya penuh hasrat. Jemari pria itu bergerak menyusuri kulit Saras.

Saras yang terpengaruh obat pada akhirnya membalas ciuman pria itu. Mereka bergumul di atas sofa, penuh nafsu yang menggebu.

Saras benar-benar seperti kucing liar yang diinginkan Bryan. Bergerak tak tentu arah, bahkan mencakar punggung Bryan kala pria itu menghentakkan pinggulnya menyatukan tubuh mereka.

Malam itu, Saras terjebak dalam permainannya sendiri. Karmanya begitu cepat datang. Dan ia melakukannya demi sebuah investasi, dan posisi."

***

Sinar matahari menembus dinding kaca melalui celah gorden yang sedikit terbuka, lalu jatuh tepat di wajah Chantika.

Kelopak matanya bergerak pelan sebelum akhirnya terbuka. Kepalanya masih terasa berat, tetapi tubuhnya justru diselimuti kehangatan yang asing.

"Di mana aku...?" gumamnya lirih. Suaranya serak, nyaris hanya terdengar sebagai bisikan.

Ia berusaha mengingat apa yang telah terjadi.

Hotel... Bryan... Wine... Perkelahian... Lalu... Ia menabrak seorang pria.

Puzzle demi puzzle di dalam kepalanya mulai tersusun.

Deg!

Jantungnya berdegup kencang. Matanya langsung terbuka lebar. Refleks ia berusaha bangun, tetapi sesuatu menahan tubuhnya.

Pandangannya perlahan beralih ke lengan kekar yang melingkar erat di pinggangnya.

Saat itulah ia menyadari sesuatu.

"Aakh!"

Chantika memekik pelan saat menyadari tubuhnya tanpa sehelai benang pun, sementara seorang pria memeluknya dari belakang.

"Jangan berteriak...."

Suara berat dan serak itu terdengar tepat di dekat telinganya.

Chantika langsung menoleh.

Pria itu masih memejamkan mata. Namun, pelukannya belum juga terlepas. Beberapa detik kemudian, kelopak matanya perlahan terbuka.

Tatapan mereka pun bertemu untuk pertama kalinya dalam keadaan yang sama-sama tidak pernah mereka bayangkan.

"Kamu...."

Chantika tiba-tiba kehilangan kata-kata.

Pria di hadapannya terlalu tampan hingga membuatnya terpaku. Garis wajahnya tegas, hidungnya mancung, dan sorot matanya begitu tajam meski baru saja bangun tidur.

"Bagaimana bisa ada pria setampan ini?" batinnya.

"Kenapa?" tanya Enzo.

Chantika baru tersadar. Wajahnya langsung memanas.

"Tolong... lepaskan aku," ucapnya pelan sambil memalingkan wajah.

"Lepaskan?" ulang Enzo. "Setelah semalam kau menerobos masuk ke kamarku, menggodaku, lalu sekarang ingin kabur begitu saja?"

"Aku...."

Ingatan Chantika kembali berputar. Ia yang memasuki kamar ini. Ia yang lebih dulu memeluk pria itu. Bahkan...

Ia yang lebih dulu menciumnya.

"Aku diracuni," katanya cepat. "Seseorang mencampurkan obat ke dalam minumanku."

"Itu bukan alasan." Enzo menatapnya datar. "Karena apa yang terjadi semalam, kau harus bertanggung jawab."

"Apa?!"

Chantika langsung menoleh dengan mata membulat.

"Jelas-jelas aku yang dirugikan. Kenapa malah dia yang minta pertanggungjawaban? Apa dia gak salah bicara?" dumel Chantika dalam hati.

"Kau harus bertanggung jawab," ulang Enzo tenang. "Kau telah merampas keperjakaanku."

Chantika menarik napas panjang. "Bagaimana aku harus bertanggung jawab?"

"Tentu saja..." Sudut bibir Enzo perlahan terangkat. "...menikah denganku."

"Hah?!"

"Kenapa?" tanya Enzo. "Gak mau?"

"Aku..." Chantika mengembuskan napas pelan. "Bagaimana aku harus menjelaskan kepada keluargaku kalau tiba-tiba menikah dengan orang yang baru kukenal?"

Enzo mengangkat bahu. "Tinggal bilang saja kecelakaan."

"Kamu..." Chantika menatapnya tak percaya. "Bagaimana bisa menganggap pernikahan seperti kecelakaan?"

"Memang kenyataannya begitu, bukan?"

"Memang... tapi ini memalukan."

"Lalu maumu bagaimana?"

"Kita bicarakan nanti. Sekarang lepaskan aku dulu."

"Nggak bisa." Enzo akhirnya bangkit duduk. "Masalah ini harus ada pertanggungjawabannya. Hari ini juga kita ke catatan sipil."

"Aku gak bisa."

"Kenapa?"

"Aku harus mengajukan izin kawin kepada atasan. Kalau permohonannya disetujui, barulah aku boleh menikah."

Enzo terdiam beberapa detik. "Kamu... abdi negara?"

Chantika mengangguk kecil. "Aku seorang polwan."

Enzo justru tertawa pelan. Bukan tawa mengejek, melainkan tawa yang dipenuhi rasa tidak percaya.

"Menarik."

Ia menggeleng kecil.

"Dari sekian banyak wanita di dunia, aku justru harus bertanggung jawab kepada seorang penegak hukum."

"Kenapa memangnya?"

"Gak ada apa-apa." Enzo kembali menatapnya. "Ajukan saja izin itu. Aku ingin menikah denganmu secepatnya."

"Kamu yakin?"

"Yakin."

"Kita bahkan baru bertemu. Aku juga belum tahu namamu."

Enzo mengulurkan tangan. "Enzo Arkan Pradana."

Chantika menyambut uluran tangan itu. "Chantika Putri Rahardja."

Enzo mengangguk pelan. Namun, beberapa detik kemudian, tatapannya berubah. Sorot matanya meneliti wajah Chantika, seolah sedang memastikan sesuatu.

"Kau masih perawan?"

Chantika langsung mengernyit. "Apa maksudmu?"

"Jawab saja. "Kau yakin masih perawan?"

"Tentu saja." Chantika menatapnya tak senang. "Jelas-jelas semalam kamu yang...."

Kalimat itu terhenti di bibirnya. Wajahnya seketika memerah.

Enzo masih menatapnya dalam diam. Tatapannya tajam, seolah ada sesuatu yang mengusik pikirannya.

"Aneh...."

"Apa yang aneh?" tanya Chantika.

Enzo mengerutkan dahi. Tatapannya berubah serius. "Kalau begitu... kenapa semalam keluar ASI?"

 

...🔸🔸🔸...

..."Kesalahan satu malam bisa menjadi awal penyesalan, atau justru awal dari takdir yang tak pernah dibayangkan."...

..."Ada pertemuan yang lahir dari kebetulan, tetapi mengubah seluruh jalan kehidupan."...

..."Nana 17 Oktober "...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
asih
selagi ada Enzo kayaknya mimpimu g bakal terwujudkan Bryan jangan terlalu PD kau akan kecewa nanti ..di saat kekecewaanmu kalau kau menyakiti laras saat itu juga mimpimu hancur
Puji Hastuti
semakin menarik,Bryan dg pasti kalau rencananya akan berhasil,sedang Raharja sudah siap dg strategi nya.
Oma Gavin
kepedean banget bryan jgn harap mudah raharja bukan orang bodoh apalagi enzo ada di pihak Raharja jgn terlalu percaya diri bryan takutnya ngga sesuai ekspektasi mu dan nyungsep
Anonim
Setelah mendengar jawaban Chantika yang sudah mengajukan izin menikah ke institusinya. Enzo mau ikut pulang bersama Chantika. Mau melamar.

Kalau lamarannya ditolak - Chantika pasti tidak menyangka jawaban dari Enzo 😄.

Kalau ngomong aneh-aneh lalu dihajar Papanya Chantika, Enzo gak apa-apa. Asal setelahnya, putri kesayangannya diserahkan padanya.

Mas kawin dari Enzo untuk Chantika masih rahasia.

Kejutan apa yang akan diberikan Enzo untuk seluruh keluarga Chantika sehubungan dengan mas kawin nanti di saat lamaran.

Sampai segitu yakinnya Enzo setelah acara lamaran dan mas kawin yang diberikan. Sampai berkata - tidak akan ada jalan lagi untuk membiarkan Chantika lepas darinya.

Pastinya, keselamatan Chantika akan aman apabila bersama Enzo.
Anonim
Enzo tidak selalu ada di dekat Chantika. Jadi Chantika punya kesempatan melindungi diri sendiri dengan perhiasan-perhiasan dan jam tangan yang dipakainya.

Chantika pasti sangat terharu, Enzo benar-benar memikirkan semuanya.

Enzo sempat terkejut ketika Chantika langsung memeluknya, dan mengucap terima kasih.

Enzo mengatakan - jangan berterima kasih. Karena tugasnya sebagai suami adalah memastikan istrinya selalu pulang dengan selamat.

Chantika bergumam - masih saja bilang aku istrimu. Dan berkata seperti biasanya - kita belum menikah 😄.
Anonim
Enzo melarang Chantika menemui Bryan sendirian.

Enzo menawarkan bantuannya. Sekelas Ezo saja merasa tidak tenang kalau Chantika berhadapan dengan Bryan. Enzo tahu sepak terjang Bryan - investor playboy.

Enzo benar-benar ingin melindungi Chantika. Ia memberi Chantika perhiasan serta jam tangan yang dirancang sedemikian rupa, terpasang alat untuk melindungi Chantika yang seorang polisi.
Puji Hastuti
aduh kayak buah simalakama
asih
gara² kebodohan satu orang seluruh keluarga jadi susah ..

q juga curiga kekayaan Bryan itu muncul Dari mana .. atau jangan² dia dalang Dari semua barang selundupan atau illegal itu Dan victor atau siapa itu hanya kaki tangannya saja
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Nay, itu kau tau! 😂😂😂 Kenapa kau malah melakukan itu, ha? Dasar Bodoh! Otak dangkal! 😁😁😁 Mikirn6a cuma untuk saat ini doang. Nggk mikirin juga apa, kedepannya. 😂😂😂 Kalau kau lumpuh Selerti Ryuhan Kai Zander, gimana Coba? ha? Makin susah lagu, hidupmu tau! 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Kaulah yang bodoh! 😂😂😂 Demi menggugurkan janinmu, kau malah menyakiti dirimu sendiri. 😂😂😂 Dasar Bodoh! Kenapa nggk mengakhiri hidup saja sekalian? ha? 😂😂😂 jelas pula kau masuk ke neraka... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Nah kan! 😂😂😂 Aku sudah menduganya sedari awal. Soalnya, pertanyaan kamu oada dokter tadi itu sudah aneh tau... 😂😂😂 Ternyata, memang kau sengaja ya, menggugurkan kandunganmu sendiri? 😂😂😂 Dasar! Kau tidak bisa mengibuli aku tau... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Yaaah, sudah Capek-capek mencelakai diri sendiri, eh... Bayi sialan itu nggk juga keguguran... 😂😂😂🙏
Fadillah Ahmad
Kok, aku merasa pertanyaan kamu ini agak aneh ya, Saras? 🤔🤔🤔 Kayak, seolah-olah kamu sengaka gitu loh, menyelakai dirimu Sendiri! 🤔🤔🤔 Sedikt aneh deh Perranyaanmu itu... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Hahaha, tepat sekali! Aku berpik8ran sama seperti kau Ranti! Aku curiga kalau Saras sengaja menumpahkan sqmbun itu, untuk menggugurkan kandungannya... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Benarkah? 😂😂😂 Kok, aku nggk percaya ya? 😂😂😂 Aku malah berpikiran, kalau kau sengaja melakukan itu, untuk menggugurkan kandunganmu, iya kab? Kamu sengaja bukan? 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Waaah, apakah Saras akan ke guguran dengan sendirinya? Di karenakan tertekan oleh keadaa 🤔🤔🤔
Anitha
Nunggu keputusan dari Pak Raharja apakah Saras akan di nikahkan sama Bryan atau tidak,jadi serba salah...

Enzo saat ini hanya perlu mengawasi saja tidak ikut campur dulu selagi Pak Raharja bisa mengatasinya...

jika nanti Saras nikah dengan Bryan..
tentu saja Enzo dan Chantika bakal pindah ke Apartement Enzo yang lebih nyaman tidak ada parasit
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Oma Gavin
gas enzo prepare dari sekarang keluar dari rumah mertua mu hidup mandiri bersama chantika minimal mengurangi resiko eama rubah betina saras
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!