Fatimah mengira pernikahan paksa dengan Rayhan Khalif adalah akhir dari impiannya.
Namun, saat ia mulai mencintai sang suami yang selalu memanjakannya, sebuah rahasia kelam terbongkar: Rayhan Khalif telah dijebak dan menikah siri dengan wanita dari masa lalunya.
Alih-alih mengamuk, Fatimah menghadapi pengkhianatan ini dengan cara yang elegan.
Menggunakan strategi psikologis dan ketenangan yang mematikan, sang istri bercadar siap merebut kembali kebahagiaannya. Air mata berbalut iman, siasat paling mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepulangan Sang Kakak
Suasana ruang tamu rumah keluarga Fatimah terasa begitu hangat bagi semua orang, kecuali bagi Fatimah sendiri.
Aroma masakan opor ayam dan sambal goreng ati kesukaan Faisal menyeruak dari arah dapur, memenuhi rumah sederhana yang terletak di sudut kota tersebut.
Tawa renyah Faisal terdengar bersahut-shutan dengan suara sang ayah yang sesekali terbatuk kecil, menceritakan bagaimana perjuangannya mempertahankan skripsi di hadapan para dosen penguji.
Fatimah berdiri mematung di balik tirai pembatas dapur. Di tangannya, sebuah nampan berisi lima cangkir teh manis hangat terasa begitu berat.
Dadanya sesak. Sejak menginjakkan kaki di rumah ini kemarin sore setelah dijemput oleh Faisal, tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya kecuali salam dan sapaan formal.
"Fatimah, ayo tehnya dibawa ke depan. Malah melamun di situ."
Tegur ibunya lembut sembari menepuk pelan bahu Fatimah yang tertutup jilbab lebar.
Fatimah tersentak kecil, lalu mengangguk patuh. Dengan langkah yang diatur seanggun mungkin, ia melangkah memasuki ruang tamu.
Di sana, Faisal duduk dengan kemeja barunya, sementara Fadia, si bungsu yang baru saja lulus SMA, sibuk memainkan ponsel pintar di samping ayahnya.
"Wah, pas banget! Mas lagi haus banget ini, Dek," ujar Faisal menyambut kedatangan adiknya dengan senyum lebar.
Fatimah tersenyum tipis, meletakkan cangkir-cangkir itu satu per satu di atas meja.
"Silakan diminum, Mas, Ayah."
"Sini duduk dekat Mas, Fatimah," Faisal menepuk tempat kosong di sebelahnya.
"Mas kangen banget sama kamu. Setelah mengapdi satu tahun di pesantren bikin kamu makin kelihatan dewasa, ya."
Fatimah mengambil tempat duduk di dekat kakaknya. Ia memandang wajah Faisal yang tampak cerah dan penuh energi masa depan.
Ada rasa bangga yang besar di hati Fatimah melihat kakaknya sukses meraih gelar sarjana.
Namun, di saat yang sama, ada rasa perih yang menelusup.
"Mas Faisal sudah lulus,"
Fatimah membuka suara, nadanya tenang namun ada getaran halus di sana.
"Berarti... setelah ini Fatimah sudah bisa mendaftar kuliah, kan, Yah? Kemarin Fatimah sempat melihat jadwal gelombang terakhir untuk ujian masuk UIN."
Seketika, tawa di ruang tamu itu menyurut. Keheningan yang janggal mendadak menyergap.
Faisal menghentikan cangkir teh yang baru saja hendak menyentuh bibirnya, lalu melirik ke arah sang ayah dengan tatapan bersalah.
Ayah Fatimah, yang wajahnya tampak lebih pucat dan kurus dari setahun lalu, mendesah berat dan meletakkan cangkirnya kembali ke meja.
"Fatimah."
Ayah berdeham, mencoba memperbaiki posisi duduknya.
"Soal kuliah itu... bukankah Ibu sudah menyuratimu minggu lalu di pesantren?"
Jantung Fatimah berdegup lebih kencang.
"Surat Ibu bilang Ayah menjodohkan Fatimah dan mereka sudah melamar Fatimah. Tapi Fatimah kira, itu bisa dibicarakan baik-baik setelah Mas Faisal pulang. Fatimah masih ingin belajar, Yah. Fatimah sudah menepati janji untuk mengabdi satu tahun."
"Nggak bisa gitu dong, Mbak," sahut Fadia tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.
"Ayah yang ge jodohin kalian dan lamaran dari Pak Rayhan itu sudah diterima sama Ayah dan Ibu. Malu-maluin keluarga aja kalau dibatalkan tiba-tiba. Lagian, dia itu kaya raya, Mbak nggak bakal hidup susah."
Fatimah menoleh menatap adik bungsunya.
"Fadia, ini masalah masa depanku. Aku hanya ingin hak yang sama untuk kuliah."
"Mbak kan sudah empat tahun di pesantren, ilmunya sudah banyak. Kalau aku kan baru lulus SMA, ya wajar kalau langsung kuliah tahun ini.
Ayah sama Ibu sudah janji mau daftarin aku di universitas swasta bulan depan," tukas Fadia acuh tak acuh.
Mendengar kalimat Fadia, dada Fatimah seperti dihantam batu besar.
*Adiknya yang baru lulus SMA langsung dikuliahkan di universitas swasta yang biayanya tentu tidak murah, sementara dirinya yang sudah mengalah selama satu tahun justru harus mengubur impiannya demi sebuah pernikahan?*
Di mana letak keadilannya?
Fatimah beralih menatap ibunya, mencari pembelaan, namun sang ibu hanya menunduk dalam sembari meremas ujung daster yang dikenakannya.
Air mata Fatimah mulai menggenang di pelupuk mata, membuat pandangannya mengabur.
"Ayah, Ibu... ini tidak adil untuk Fatimah," bisik Fatimah, suaranya mulai serak menahan tangis yang mendesak keluar.
"Mengapa Fatimah dipaksa menikah dengan orang yang sama sekali tidak Fatimah kenal, di saat Fadia dengan mudahnya diizinkan kuliah?"
Faisal memegang pundak Fatimah, mencoba menenangkan.
"Fatimah, dengarkan Mas dulu—"
"Tidak, Mas!"
Fatimah menepis pelan tangan kakaknya. Kepalanya menggeleng, menolak semua kenyataan pahit yang tiba-tiba dihamparkan di depannya.
Ruang tamu yang tadinya penuh tawa, kini berubah menjadi saksi awal dari runtuhnya benteng kesabaran seorang Fatimah.