NovelToon NovelToon
Saat Asa Berkahir Duka

Saat Asa Berkahir Duka

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Idola sekolah
Popularitas:155
Nilai: 5
Nama Author: TastyTeaTime Time

Sebelumya, bunga ini sempat kehilangan pesonanya, dengan kelopak menunduk, bahkan warnanya pudar. Namun, begitu air menyentuhnya, bunga itu pun mekar kembali, mengingatkan kita bahwa kebahagiaan bisa datang jika mau mengusahakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TastyTeaTime Time, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21

Di tengah ruang sunyi yang terasa sesak, keluarga itu duduk saling berjauhan. Tidak ada kata yang keluar, hanya desah napas berat yang berdengung di udara. Mereka tampak seperti orang asing yang dipaksa berbagi ruang, namun dalam diam, ada secercah harapan yang menyatukan hati mereka. Kaivandra duduk di sudut ruangan, merasa canggung berada di antara kedua orang tuanya.

Sementara itu, Delina harus merelakan dirinya berbagi udara dengan Girga, suami yang kini kembali hadir demi satu alasan yaitu, Valeska. Lima hari telah berlalu sejak mata indah Valeska terpejam, menyimpan dirinya dalam keheningan yang panjang. Valeska, putri bungsu dari Girga dan Delina, adalah pengikat hati keluarga yang sudah lama retak. Dalam diam, semua orang menunggu, penuh doa dan cinta, berharap Valeska segera terbangun dari masakritisnya.

Dengan tangan lembutnya, Delina membelai kepala kecil Valeska yang di dalamnya sudah rusak dimakan oleh penyakit sialan. Di balik pandangannya yang teduh, ada doa tak berkesudahan, agar penyakit yang merusak otak putrinya berhenti menyerang, dan membiarkannya beristirahat tanpa harus terus berperang.

Di sisi lain, Kaivandra menatap adiknya dengan perasaan yang tak terucapkan. Tatapan itu seolah memohon, berharap bibir kecil Valeska melengkung dalam senyuman seperti biasanya, meski kenyataan terus menamparnya dengan keheningan yang menyakitkan. Dia mengulurkan tangan, membelai rambut sang adik yang rontok satu per satu di antara jari-jemarinya. Setiap helai yang jatuh terasa seperti serpihan hatinya yang perlahan terkikis.

Girga, meski selama ini jarang menemani putri bungsunya karena kesibukan bekerja, kini menggenggam tangan kecil Valeska. Tangannya yang besar dan kekar tampak rapuh, seolah tak sanggup menahan dingin dari kulit pucat putrinya. Napasnya tertahan setiap kali melihat dada kecil Valeska yang naik turun tak beraturan ,berjuang melawan sakit yang tak terlihat namun terasa begitu nyata.

Delina mengusap wajah putrinya yang lelah. Hatinya teriris tiap kali membayangkan sakit yang harus ditahan oleh Valeska, detik demi detik, tanpa pernah mengeluh. Semua upaya sudah dilakukan, dokter terbaik, obat-obatan, bahkan doa-doa yang dipanjatkan di setiap malam dan siang. Tapi kanker itu telah sampai distadium akhir, dan mau tidak mau akan merampas waktu mereka sedikit demi sedikit.

Kaivandra mendekat, suaranya bergetar ketika mencoba menenangkan. "Adek, ini abang ... Mama, Papa juga ada di sini, cantik. Bukannya ini kemauan Adek untuk melihat mereka bersama, iya kan?"

Tangannya kembali membelai surai Valeska yang kini lepek, berusaha memberikan rasa nyaman meski hatinya diliputi kepedihan. Perlahan, keajaiban itu datang. Kelopak mata Valeska mulai terbuka, menyambut cahaya yang menembus pandangannya. Valeska melihat samar, tapi cukup untuk melihat wajah keluarganya yang penuh genangan airmata. Sesuatu di dalam dirinya bergetar, dan butiran air mata jatuh dari sudut matanya.

Namun, kebahagiaan itu tak bertahan lama. Sakit kembali menghujam kepalanya, menyerang tanpa ampun. Valeska mendadak mengejang, tubuhnya melengkung, dan tarikan napasnya seolah tertahan di dada. Wajahnya menegang, sementara matanya terbuka lebar, penuh rasa sakit yang tak bisa ia ungkapkan.

"Mama di sini, sayang. Sabar ya, Nak," bisik Delina, berusaha menenangkan meski tangannya gemetar.

"Dek, tahan ya, kami nggak akan pergi. Kamu kuat, kami percaya itu," tambah Kaivandra, air mata mengalir tanpa bisa dibendung.

Di tengah perjuangan itu, mereka tetap bertahan. Hati mereka yang terluka hanya bisa memohon, berharap keajaiban akan datang untuk gadis kecil mereka, yang telah menjadi pusat semesta mereka semua.

"Cantiknya abang, itu Mama dan Papa, mereka ada di sini cantik ..."

"Sayang, jangan membuat Papa semakin takut," Girga berkata seraya menahan pergerakan Valeska yang semakin tak terkendali.

Sebagian dari alat yang terpasang di tubuhnya lepas. Delina memegang bagian pundaknya, sementara Girga menahan tangan Valeska yang kian tak terkendali. Sementara di sisi lain, Kaivandra menekan tombol nurse call dengan brutal.

"Shh ... khrr ... shh ...."

Suara rintihan dan tarikan napas yang berat memenuhi ruangan. Masker oksigen Valeska terlepas saat tubuh kecilnya tak lagi mampu menahan sakit yang mencengkeramnya. Gerakan tak terkendali membuat brankar di bawahnya ikut bergeser. Kekacauan itu segera memanggil dokter dan perawat masuk dengan langkah sigap.

"Pihak keluarga, tolong menunggu di luar," pinta salah satu perawat.

Namun, mereka tidak benar-benar keluar. Mereka berdiri terpaku di ambang pintu masuk, menyaksikan dengan hati remuk saat tubuh putri bungsu mereka terus mengejang. Dokter segera memberikan suntikan anti-kejang, sementara perawat memeriksa alat bantu napas dan memasang kembali masker oksigen. Perlahan, napas Valeska mulai stabil meski terdengar lemah.

"Tambahkan tekanan oksigen," perintah dokter, diikuti gerakan cepat dari perawat.

Oksigen yang mengalir dengan tekanan lebih tinggi membuat tubuh Valeska terangkat sedikit, membusung ke depan dalam respons otomatis. Beberapa saat kemudian, keadaan mulai terkendali. Dokter Rijal mendekati keluarga yang masih berdiri diambang pintu, wajah mereka tegang, mata basah oleh air mata yang tak tertahan.

"Valeska mengalami tarikan napas abnormal, yang disebut agonal breathing. Ini adalah respons tubuh akibat gangguan serius pada otaknya. Kami sudah memberikan tindakan darurat, tapi kondisinya masih perlupengawasan ketat. Harap bersabar dan terus berdoa agar Valeska segera stabil dan bisa dipindahkan ke ruang perawatan biasa."

Dokter Rijal melangkah pergi, diikuti perawat yang membantunya. Kini, ruangan itu kembali sunyi, hanya diisi suara napas Valeska yang lemah dan monoton dari alat medis. Delina perlahan mendekati putrinya. Ia mengusap kening Valeska yang basah oleh keringat dingin, matanya tak mampu menyembunyikan kesedihan.

"Sayang ... Mama di sini."

Perlahan, mata Valeska terbuka. Pandangannya terombang-ambing, bergerak ke kanan dan kiri, mencoba mengenali wajah-wajah di sekitarnya. Dari balik masker oksigen, bibir mungilnya tampak berusaha membentuk kata, meski tak ada suara yang keluar.

"Halo, cantiknya abang ..." suara Kaivandra memecah keheningan.

Dia segera mencoba tersenyum, meski hatinya sesak melihat kondisi adiknya. "

Terima kasih karena masih mau bertahan. Masih ingat dengan 499 tujuan kita, dek?"

Valeska mengangguk lemah. "Cakrawala," lirihnya.

"Adek mau ke Cakrawala? Adek mau lihat bintang? Iya Adek mau itu? Sabar ya cantik, Adek harus sembuh dulu baru bisa ke sana." Kaivandra berkata lembut, ternyata Valeska masih mengingat momen dirinya menghabiskan waktu di Cakrawala.

Mata Valeska berkaca-kaca. Senyuman tipis terlihat di wajahnya. Untuk pertama kalinya, ia melihat pemandangan yang telah lama ia rindukan, kedua orang tuanya, Delina dan Girga, berdiri berdampingan.

"M-Mama ... P-Papa ... k-kalian bersama?" tanyanya lemah, suaranya serak dan hampir tak terdengar.

Girga mengangguk pelan, air matanya jatuh saat ia menghapus pipi Valeska yang basah. "Demi bungsunya Papa," ucapnya, suaranya bergetar penuh kasih.

"Maaf ..." bisik Valeska.

Hatinya diliputi rasa bersalah, merasa kehadirannya hanya membawa kesedihan bagi keluarga. Delina segera menggenggam tangan putrinya dengan erat.

"Adek nggak salah, kenapa harus minta maaf?" tanyanya lembut.

"Gara-gara adek, kalian jadi susah ... nggak kerja ... adek merepotkan ..."

"Hus!" Delina memotong, air matanya jatuh tak terbendung.

"Jangan pernah berpikir begitu. Adek nggak salah. Yang salah itu kami berdua, karena kurang menjaga dan memperhatikan kalian."

***

Malam pun telat tiba, mereka semua dibuat khawatir dengan kondisi Valeska yang penuh ketidakpastian. Baru saja mereka merasakan kebahagiaan karena bisa mengobrol bareng dengannya sekarang malah seperti ini. Kondisi Valeska tidak bisa dikatakan baik. Karena dia kembali mengalami collapse selama beberapa jam, membuat dokter bedah saraf dan dokter umum terus memantaunya dari jarak dekat.

Malam itu, semua anggota keluarga tidak ada yang berani menutup mata sekedar melepas lelah, mereka setia menemani Valeska dari luar ruangan ICU. 30 menit telah berlalu, dokter Fahru dan dokter Rijal, baru bisa keluar ruang ICU. Kedatangan mereka disambut dengan beberapa pertanyaan.

"Gimana kondisi putri saya, dok?" Dokter Rijal menggelengkan kepala, membuat anggota keluarga bertanya-tanya. Sebenarnya apa yang terjadipada Valeska?

"Saat ini kondisi Valeska sangat buruk, mungkin tadi siang kalian bisa berbicara dengannya, tapi sekarang ..." dokter Fahru menjeda lalu menatap satu persatu anggota keluarga pasien.

"Kondisinya kembali drop,"

"Maksud dokter apa ya? Perasaan tadi putri saya baik-baik aja, tapi sekarang kok seperti ini?" tanya Girga, dengan nada yang lumayan tinggi.

Kini giliran dokter Rijal yang berkata, "Valeska memang tadi siang terlihat stabil, tapi apakah Bapak lupa? Tadi siang juga Valeska mengalami kejang, dan itu tidak bisa dikatakan baik. Pak, kenapa setelah sekian banyaknya pengobatan yang anak Bapak lakukan, kenapa baru sekarang mengetahuinya? Kemana saja kalian ini? Kenapa baru kesini? Dan ini ... putra sulung Bapak, dia berusaha keras untuk penyembuhan adiknya, dia tidak peduli uangnya habis. Dan satu lagi, tolong lebih perhatian lagi pada anak-anak kalian."

Delina membekam mulutnya, dia menangis tanpa suara.

"Seperti yang dokter Fahru jelaskan, penyakit ini sangat menyiksa bagi penderitanya. Perlahan akan mematikan fungsi organnya seperti mata, dan pasien tidak bisa berbuat apa-apa." Lanjut dokter Rijal.

Tangis keluarga semakin meraung, seakan menolak ini tidak mungkin terjadi pada putri mereka.

"Dokter, obat apa yang membuat anak saya bisa bisa sembuh total?" Kedua dokter itu menggelengkan kepala pelan.

"Belum ada, kami hanya mampu mencegah agar penyakit kanker otak grading empat ini tidak cepat menyebar." Jawaban dokter tidak sesuai dengan apa yang mereka inginkan.

"Pak Girga, Bu Delina, dan Nak Kaivandra. Mohon maaf atas ucapan saya sebelumnya, saya peduli pada pasien, bagaimana pun juga, pasien adalah teman anak saya. Buat Valeska nyaman dan biarkan dia mengukir kebahagiaannya, jangan paksa dia buat berpikir yang lebih berat."

Isak tangis Delina pecah, menjerit melepaskan semua beban di hatinya. Tanpa dokter katakan, dia sudah paham bahwa putrinya hanya menunggu waktunya saja. Dan baru kali ini, Girga merangkul mantan istrinya yang sedang rapuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!