NovelToon NovelToon
Suami Salah Tuduh: Fitnah Berujung Pernikahan

Suami Salah Tuduh: Fitnah Berujung Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:641
Nilai: 5
Nama Author: Oceanluv_

Zakia tak pernah membayangkan hidupnya bisa berubah total karena fitnah yang ia dapatkan. Di usia yang masih muda yakni 22 tahun, Zakia terpaksa melewati jalan hidupnya dengan cara bekerja tanpa kenal lelah, semua itu ia lakukan demi membantu keluarganya. Bahkan, keinginannya untuk melanjutkan kuliah terpaksa ia urungkan demi membantu keluarga untuk mencicil motor.

Zakia selalu menatap langit dan berharap bisa mendapatkan setitik kebahagiaan di sela-sela kesengsaraan yang ia Terima. Namun siapa sangka, harapan kecil itu terpaksa runtuh dalam satu hari. Sebuah fitnah yang tidak pernah ia bayangkan menghancurkan nama baiknya, mulut manusia lebih cepat menyebarkan fitnah dari pada fakta, hal itu membuat hidup penuh dengan penenakan.

Akhirnya, demi menyelamatkan kehormatan kedua mempelai keluarga, Zakia dan pria itu terpaksa menjalan pernikahan. Akankah mereka akan menjadi pasangan yang penuh cinta? Atau hanya menjadi pasangan suami istri di atas kertas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oceanluv_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Hari yang dinanti-nanti telah tiba, hari di mana sepasang manusia akan disatukan dalam ikatan halal dan ibadah yang paling lama, yaitu pernikahan.

Nuansa pernikahan dibuat sesuai keinginan Zakia, mereka melakukan pernikahan di mesjid, dibaluti dengan nuansa putih beserta dengan bunga-bunga indah sebagai pemanis untuk ke dua mempelai.

Pernikahannya sederhana, hanya diisi oleh beberapa anggota keluarga, tema pakain yang diambil Zakia adalah tema baju melayu, tubuhnya dibaluti dengan baju pernikahan yang sopan berwarna putih, tak lupa dengan kepala yang ditutupi oleh hijab.

Wajahnya dibaluti make up classic yang membuat Zakia memang harus menjadi pusat perhatian untuk hari ini.

"Aduh, anak mama cantiknya itu cantik banget, apalagi dibaluti baju pengantin gini." Sinta berdecak kagum melihat kecantikan anaknya pada hari ini. Hari spesial, hari yang ditunggu-tunggu oleh mereka yang saling mencintai dan akan disatukan dalam ikatan hubungan yang halal.

Sinta melihat tangan Zakia yang sudah dipenuhi hena berwarna maroon, tangannya menggenggam jari-jemari Zakia dan tersenyum lembut.

"Ga nyangka ya umur kamu udah segini, bahkan mama udah masuk ke tahap ngelepasin kamu untuk jadi istri orang," kata Sinta.

Ada setitik rasa bahagia dibaluti kesedihan di hati Sinta, bahagia karena ia berhasil menjaga anaknya dan memberikan tanggung jawabnya ke orang lain dan sedih karena telah melepas putri tunggalnya.

Sinta mendongak, menahan air mata tidak jatuh. Bagaimanapun, baginya dua puluh dua tahun itu bukan waktu yang lama, itu sebentar bagi seorang ibu. Rasanya seperti mengedipkan mata semuanya langsung berubah.

"Papa kamu udah ga ada, Rega yang bakal jadi wali nikah kamu, gapapa ya sayang, Papa liat semuanya dari atas kok," lanjut Sinta.

Wanita yang sedari tadi diajak Sinta yaitu Zakia hanya bisa tersenyum tipis, dia juga tidak menyangka bahwa dirinya akan menggunakan gaun pengantin ini, dulu Zakia hanya memikirkan masa depannya sampai tak terlintas di kepalanya tentang pernikahan.

Tapi ternyata, impiannya belum selesai, pernikahan lah yang lebih dulu menyambut dirinya. Zakia menggenggam rok yang ia pakai, sebentar lagi ia akan memulai hidup baru, rasanya gugup dan sedih menjadi satu, mudah-mudahan jalan yang diambilnya tidak salah, begitu juga dengan orang yang telah dipilihnya untuk menjadi suami.

"Mama ga usah sedih, Kia seneng kok, makasih ya udah ngebesarin Kia sampai saat ini, sampai akhirnya Kia menikah, maaf kalau selama sama mama Kia banyak ngelawannya, tapi Kia sayang banget sama mama," kata Zakia dan menyenderkan kepalanya di perut ibunya.

Sekalipun dia sebentar lagi akan menjadi seorang istri, Zakia tetaplah seorang anak dari ibunya, masih butuh pelukan, dukungan dan juga kehangatan dari sang ibu.

"Gapapa, mama ga marah soal itu, asalkan setelah nikah nurut sama Daren ya, jangan membangkang, ingat dia itu suami kamu," nasehat Sinta. Perjalanan pernikahan tidak semudah dan seindah yang dibayangkan, lika-likunya terlalu banyak sampai akhirnya banyak yang menyerah di tengah jalan, Sinta hanya bisa berdoa supaya hal yang baik selalu mendampingi rumah tangga anaknya kelak.

"Tapi kalau bang Daren macam-macam, lo lawan aja kak, kalau ga kuat lo pulang aja ke rumah, biar gue yang hadapi, sekalipun dia nanti jadi suami lo, dia ga berhak bikin kakak gue nangis."

Tiba-tiba Rega datang dengan nada galaknya, ia hari ini ikut berpakaian rapi sesuai tema yang mereka ambil, berpakaian ala Melayu, jujur ada sedikit rasa sedih bahwa dia akan berpisah dengan sang kakak.

Tidak ada lagi yang akan memarahinya di rumah, berkelahi dengannya atau bahkan berebut siapa yang ke kamar mandi duluan. Andai saja kejadian buruk itu tidak datang, pasti Rega masih adu mulut di rumah dengan sang kakak.

Zakia mendengar itu tersenyum, walaupun matanya sudah mulai berair karena akan berpisah dengan dua orang kesayangannya ini, dia akan tetap menutupinya dengan senyuman.

"Rega," panggil Zakia. Zakia bangkit dan berjalan pelan menuju adiknya. Begitu tangan sang kakak terulur, Rega dengan cepat menangkapnya dan menarik sang kakak ke dalam pelukan.

Zakia mati-matian menahan tangisnya, baju bagian punggung Rega ia remas dengan kuat guna melampiaskan semua emosi yang dia simpan.

"Makasih Ga, makasih banget," ujar Zakia tulus.

Sinta yang menyaksikan pemandangan itu menunduk, ke dua anaknya yang selalu berkelahi, sering ribut, sering membuat kepalanya pusing kini akan berpisah karena salah satunya sudah mempunyai jalan hidup yang berbeda.

"Sehat-sehat nanti di sana ya kak, jangan murung lagi, pusing gue liatnya," canda Rega. Satu pukulan mendarat ke punggung Rega, yang dipukul hanya bisa tertawa cekikikan.

"Sebelum akad, kita foto dulu yok bertiga," ajak Zakia. Zakia mengeluarkan ponselnya dan mencari penyangga untuk mengambil foto mereka bertiga, foto keluarga terakhir di mana sebelum ada masuk satu orang lagi yang akan menjadi anggota keluarga mereka.

****

"Duh kalau gini ganteng lo Ren, tapi kalau lagi sawan rasanya mau gue tonjok sampe gigi lo boneng," kata Hana dan menepuk adiknya.

Tugasnya seperti biasa, membantu Daren mengancingkan baju yang ia pakai, tapi tak apa, ini hari terakhir Hana melakukan hal itu, setelah ini maka Hana tidak akan lagi memegang kemeja Daren.

"Gue bangga karena lo udah bertanggung jawab gini, Ren kita tau situasi kalian nikah ini memang ada sedikit perselisihan, tapi gue mohon sama lo, ketika status kalian berubah perlakukan dia dengan baik ya, sekalipun dia sempat jadi korban pemerkosaan jangan nganggap dia kotor," nasehat Hana.

"Karena kami Ren para perempuan, kalau udah maaf kata disentuh sama cowok sampai segitunya dalam. keadaan belum menikah dan itu pun dilakukan karena terpaksa, kami bakal menganggap diri kami kotor, merasa rendah diri dan bahkan takut untuk menghadapi orang luar," kata Hana.

Ia berbalik menghadap Daren dan menghela nafas lalu berkata, "Saat itu terjadi, gue harap lo ga mandang dia kayak gitu, bisa jadi penyemangat dia agar rasa insecure dia ga menguasai diri dia sendiri, gimanapun dia juga manusia, dia ga sekotor itu dan kita juga ga sebersih itu," lanjutnya.

Hana kembali membuang nafas, ia menunduk untuk menghilangkan rasa sedihnya dan mendongak kemudian tersenyum, bahu Daren ditepuk pelan. Bahu lebar ini yang selalu ia jadikan samsak hidup ketika sedang kesal kini sudah siap menampung tanggung jawab besar.

Daren ikut tersenyum lalu mengangguk, ia menarik Hana ke dalam pelukannya dan mengusap kepala kakaknya itu.

"Makasih ya kak, gue harap lo dapat laki-laki yang memperlakukan lo sebaik mungkin, selayaknya lo diperlakukan di rumah ini," kata Daren.

"Aamiin, lo juga gitu Ren, perlakukan Zakia sebaik mungkin ya, gimanapun ceritanya dia istri lo, tugas lo membimbing dia dengan baik, Zakia hidupnya keras dan kalau dibimbing dengan keras hubungan kalian bakalan panas, jadila air untuk orang yang penuh api kayak dia, mudah-mudahan hubungan kalian bisa awet, perlakukan dia gimana bunda disayangi sama bapak," pinta Hana.

Hana seorang wanita, jadi ia tau bagaimana rasanya di posisi Zakia walaupun ia tidak pernah merasakannya, itulah kenapa Hana menasehati Daren panjang lebar agar ia bisa tahu bagaimana caranya memperlakukan wanita. Karena yang bisa memahami wanita adalah wanita itu sendiri.

Hai-hai semua, duh g terasa part Zakia sama Daren udh sejauh ini y, pantengin terus kisah mereka berdua ya:).

1
Oceanluv_
Hehehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!