NovelToon NovelToon
Pesona Pengasuh Anak Dokter Duda Nyebelin

Pesona Pengasuh Anak Dokter Duda Nyebelin

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Romansa pedesaan / Pengasuh
Popularitas:617.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

Krisna Wijaya, seorang dokter berusia 32 tahun, pulang ke kampung halaman setelah perceraian yang menghancurkan hidupnya. Ia membawa luka, kesepian, dan seorang bayi enam bulan yang kini menjadi pusat dunianya. Di desa kecil Yogyakarta itu, Krisna berniat membuka klinik—membangun hidup baru dengan jarak aman dari perasaan.

Raisa, gadis 19 tahun yang keras dan apa adanya, berjuang membantu keluarganya demi bertahan hidup. Ia tidak bermimpi besar, hanya ingin bekerja dan tidak merepotkan orang tuanya. Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah insiden di jalan—penuh amarah dan salah paham.

Namun perlahan, bayi kecil bernama Ezio menjadi jembatan yang tak mereka rencanakan. Dalam pelukan Raisa, Ezio menemukan ketenangan. Dalam kehadiran Raisa, Krisna dipaksa menghadapi egonya sendiri.

Ketika kelas sosial, usia, dan luka masa lalu menjadi penghalang, mampukah dua hati yang sama-sama lelah ini menemukan rumah … satu sama lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22. Berharap Raisa Datang

Sementara itu, di rumah Pak Wijaya, pagi datang tanpa istirahat.

Jam dinding baru menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh, tapi Krisna sudah bangun sejak lama. Bahkan, mungkin ia tidak benar-benar tidur. Matanya merah, bahunya tegang, langkahnya berat.

Ezio kembali rewel.

Tangisan bayi itu tidak meledak-ledak, tapi terus-menerus—seperti tetesan air yang jatuh di kepala, pelan namun menyiksa.

Krisna mondar-mandir di ruang keluarga, Ezio di gendongannya. Ia mengayun pelan, lalu sedikit lebih cepat, lalu kembali pelan. Tidak ada yang berhasil lama.

“Ssst …,” bisiknya lirih. “Tidur, Nak.”

Ezio merengek lagi.

Bu Lita keluar dari kamar dengan wajah lelah. “Masih rewel, Kris?”

Krisna mengangguk. “Dari jam tiga, Bu.”

Bu Lita menghela napas. “Ibu coba gendong sebentar.”

Ezio berpindah tangan. Tangisannya sempat turun, lalu naik lagi.

Bu Lita memejamkan mata. “Astaghfirullah ... kenapa lagi ini.”

Krisna berdiri di samping, tangannya mengepal dan membuka berulang kali. Di kepalanya, satu harapan muncul—yang bahkan ia tidak ingin mengakuinya.

Semoga Raisa datang.

Ia tahu itu tidak masuk akal. Raisa bukan pegawai tetap. Raisa bukan siapa-siapa. Tapi setiap kali Ezio rewel, pikirannya selalu melompat ke satu nama itu.

Namun waktu berjalan, dan yang datang bukan Raisa. Pukul tujuh tepat, suara motor berhenti di depan rumah.

Krisna menoleh.

Beberapa detik kemudian, Lena masuk lewat pintu samping. Penampilannya rapi—blus sederhana, rok panjang, rambut disanggul rendah. Tidak menor, tapi jelas ia berdandan. Senyum manis terpasang sejak langkah pertama.

“Assalamualaikum, Pak Krisna,” sapanya lembut.

“Waalaikumsalam,” jawab Krisna singkat.

Begitu melihat Ezio di gendongan Bu Lita yang masih menangis, Lena langsung mendekat. “Ya ampun, Pak. Ezio rewel sejak kapan?”

“Sejak jam tiga,” jawab Bu Lita.

Lena menggeleng prihatin. “Kasihan sekali. Pak Krisna kelihatannya kurang tidur.”

Krisna tidak menyangkal.

“Sini, Bu,” lanjut Lena sambil tersenyum. “Biar saya saja yang gendong. Mungkin Ezio cuma butuh suasana baru.”

Bu Lita menoleh ke Krisna. Krisna ragu sepersekian detik—lalu mengangguk. Ia sudah terlalu lelah untuk berdebat dengan kemungkinan.

Ezio berpindah ke pelukan Lena.

Awalnya tangisan berhenti sebentar.

Lena tersenyum, merasa percaya diri. “Nah ... gitu, Nak.”

Namun belum sampai lima detik—

Tangisan Ezio pecah lebih kencang.

Lebih keras dari sebelumnya.

Wajah kecil itu memerah, tangannya mengepal, kakinya menendang.

Lena terkejut, tapi berusaha tetap tenang. Ia mengayun pelan, menepuk punggung Ezio dengan ritme yang ia hafal dari mengurus anaknya sendiri.

“Ssst … sini sama Mbak,” katanya lembut.

Tangisan tidak reda.

Di dalam dada Lena, gerutu mulai muncul.

Ini bayi maunya apa sih?

Ribet banget.

Bakalan susah ngurusinnya.

Namun wajahnya tetap lembut. Senyumnya tetap terjaga. Ia menoleh ke Krisna sekilas, lalu kembali fokus ke Ezio.

Harus sabar, batinnya memaksa diri.

Yang penting aku kerja di sini.

Setidaknya tiap hari aku bisa lihat Pak Krisna, dan pelan-pelan menarik perhatiannya.

Krisna berdiri beberapa langkah dari mereka, menatap dengan rahang mengeras. Matanya mengikuti setiap gerakan Lena—cara ia mengayun, cara ia menepuk, cara ia berbicara.

Semuanya benar.

Semuanya sesuai teori.

Tapi Ezio tetap menangis.

“Coba dikasih susu,” kata Krisna akhirnya.

Lena mengangguk cepat. “Baik, Pak.”

Ia menyiapkan botol dengan cekatan, menyodorkannya ke mulut Ezio.

Ezio menolak. Tangisannya berubah melengking.

Lena menahan napas, masih tersenyum. “Mungkin belum mau.”

Bu Lita memijat pelipisnya. “Atau perutnya nggak enak.”

Krisna menghela napas panjang. Ia melangkah mendekat, menatap anaknya. “Sini.”

Ezio berpindah lagi ke pelukannya.

Tangisan tetap ada, meski sedikit turun.

Krisna mengayun—pelan. Lebih pelan dari biasanya. Ia mengingat ritme yang pernah ia lihat kemarin. Bukan ayunan cepat. Bukan tepukan teratur. Tapi pelan, tidak berisik, nyaris malas.

Ezio masih menangis, tapi nadanya berubah—lebih rendah, lebih lelah.

Lena memperhatikan dari samping. Di wajahnya, ada sekilas rasa tidak terima yang cepat ia sembunyikan.

Kenapa sama aku nggak bisa sih?

Krisna terus mengayun, rahangnya tegang. “Bu, saya bawa ke jendela. Mungkin dia mau lihat pemandangan luar."

Ia berjalan ke arah jendela, membuka tirai sedikit. Cahaya pagi masuk lembut. Krisna berhenti, hanya berdiri, tidak banyak bergerak.

Tangisan Ezio perlahan turun menjadi isakan kecil.

Bu Lita menghela napas lega. “Alhamdulillah.”

Namun belum sampai tidur—

Ezio kembali merengek.

Krisna memejamkan mata. Capek. Ia membuka mata, menoleh ke lorong arah pintu dapur.

Kosong.

Tidak ada Raisa.

Lena berdiri di sampingnya, berusaha tetap berperan. “Pak, mungkin Ezio butuh waktu. Namanya juga adaptasi sama saya.”

Krisna menoleh dingin. “Dari semalam juga begitu.”

Lena terdiam.

Bu Lita mencoba menengahi. “Mungkin nanti agak siang akan lebih baik.” Ingin sekali Bu Lita menyebut nama Raisa, namun tertahan, menghargai keputusan Krisna yang telah memilih Lena.

Ezio merengek lagi, suaranya kecil tapi menyayat.

Krisna menunduk, menempelkan keningnya ke kepala anaknya sebentar. “Papa di sini, Nak.”

Di luar rumah, suara langkah terdengar.

Bu Rika masuk lewat pintu samping, wajahnya segar. Ia tersenyum sopan begitu melihat suasana.

“Assalamualaikum, Bu,” sapa Bu Rika.

“Waalaikumsalam,” jawab Bu Lita hangat. “Kamu sudah bisa masuk kerja hari ini.”

“Alhamdulillah, saya sudah enakkan badannya, Bu” jawab Bu Tika.

"Syukurlah."

Bu Rika melirik Ezio. “Lho, masih rewel?”

“Iya,” jawab Bu Lita. “Dari jam tiga.”

Bu Rika menatap Lena sebentar, lalu Krisna, lalu Ezio. Ia tidak berkata apa-apa. Hanya menghela napas kecil.

Krisna tidak menoleh ke arahnya. Fokusnya hanya pada Ezio.

Di dalam hati Bu Rika, satu nama terlintas. Tapi ia tidak berani mengucapkannya.

Lena tersenyum hangat ke Bu Rika. “Doakan ya, Bu. Mudah-mudahan Ezio cepat nyaman dan tidak rewel lagi."

Bu Rika mengangguk sopan. “Oh ... iya.”

Namun matanya menyimpan sesuatu—keraguan yang ia simpan rapat. "Kok, perkataannya kayak yang punya anak saja," batinnya.

Pagi itu berjalan lambat.

Tangisan Ezio datang dan pergi, seperti ombak kecil yang tak mau benar-benar surut. Krisna tetap mondar-mandir. Bu Lita beberapa kali mencoba membantu. Lena tetap bertahan dengan senyum dan kesabarannya yang dipaksakan.

Dan di rumah kecil tidak jauh dari sana, Raisa duduk di beranda, mengikat tali sepatunya. Ia bersiap keluar mencari kerja—tanpa tahu bahwa pagi itu, tangisan yang ia kenal sedang memenuhi rumah besar itu lagi.

Tanpa tahu bahwa, sekali lagi, ketenangan yang ia tinggalkan telah meninggalkan kekosongan yang tidak bisa diisi siapa pun.

Dan Krisna—dengan mata lelah dan bayi di pelukannya—mulai menyadari satu hal yang membuat dadanya berat: Pengalaman bisa dibayar. Kesabaran bisa dipelajari. Tapi rasa nyaman—tidak bisa dipaksa.

Bersambung .... 💔🔥

1
Sugiharti Rusli
intinya kerjasama mereka b-2 sebagai pasangan suami-istri baru harus saling mendukung satu sama lain,,,
Sugiharti Rusli
mungkin sekarang Ezio masih bayi, nanti kalo sudah todler dan Raisa sudah memulai pendidikannya juga harus ada penyesuaian
Sugiharti Rusli
paling penempatan posisi yang tadinya Raisa seorang pengasuh, sekarang jadi ibu sambung dan itu juga harus menambah wawasan tentang pendidikan Ezio dan anak" mereka kelak
Sugiharti Rusli
apalagi bagi Krisna yang duda beranak satu, antara Ezio dan Raisa tidak butuh adaptasi lama juga,,,
Sugiharti Rusli
sejatinya baik Raisa dan Krisna masing" saling beruntung mendapatkan pasangan hidup yang tepat yah,,,
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
beda ya sambutannya kalau tamu vip mah🥰🥰
Rarik Srihastuty
nanti aku cari ke Ubud ya Raisa
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
Raisa 🥹🥹🥹🥰🥰
Nar Sih
bersyukur nya diri mu ya raisa ,punya suami yg sayang dan mencintai mu ,kasih syg mu yg tulus pada ezio menambah rasa cinta mas dokter jdi lebih besar lgi ,bahagia selalu untuk kalian ,juga untuk moomy ghina 🥰🥰
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
Kalian akan bahagia... 🤩🤩
Sri Murtini
tp jgn kawatir raisa , krisna sudah menyiapkan suplemen biar tetap bugar ..ya kan dokter
Sri Murtini
surprise raisa, kpn lg bisa berlibur dan bikin adik enzio dipulau dewata,ntar krisna maruk mengulang terus nggk mau berhenti. capai pasti biar yg gendong enzio papanya
indy
Jadi pengen ngintilin Ezio😄
Sri Murtini
gpp bawa enzio ,bisa cari waktu luang kan saat tidurnya sang anak aplg sudah apal jawal si anak.... mlh jd aktif sang dokter
Aprisya
dokter krisna gitu loh🥰🥰🥰
Noor hidayati
alamat direcokin sama ezio😄😄😄😄,sang papa harus ngalah,kayaknya ezio tipikal yang ga mau lepas dari raisa,dan sang papa ga boleh deket deket sama sang momy barunya
Nesya
lanjut mommy
Mulaini
Selamat menikmati bulan madu Krisna 💖 Raisa sekalian mengajak Ezio liburan.
Kar Genjreng
Rasanya hati ikut terbawa terbang bersama keluarga Cemara,,,, masyaallah tabarakallah banget ya Raisa ternyata jadi orang yang suka di tindas dan di hina hidupnya di muliakan Allah SWT,,,, bershukur banget kan ga sangka Anak pembantu naik kelas. makanya kadang nasib orang itu di tangan Allah bukan di tangan dukun 🤩,,,,dari. rasa nrimo dan penuh kasih maka sekarang menjadi wanita yang punya kelas .,,,,jangan pada iri ya justru doakan langgeng hingga nenek dan kakek,,,,Benyak Anak memperbaiki keturunan dari sama sama Anak tunggal jadi biar jadi ramai anak paling tidak 4 lima dengan Ezio 🤩💪💪 semangat Mas Kris kejar tayang ya pokonya di jamin tok cerrrrr,,,,langsung numbuh bibit premium,,,❤️❤️🌹🌹👍👍🤩🤩
Engkar Sukarsih
mau dong aku yang jadi Raisanya🤭🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!