Putri Aurelia dari Kerajaan Oakhaven menghabiskan seluruh hidupnya seperti burung di dalam sangkar emas, terisolasi di menara kaca istana yang megah. Namun, kedamaian semu itu berakhir ketika ia menginjak usia dua puluh satu tahun. Demi menyelamatkan kerajaannya yang mulai runtuh dan menghentikan perang tiga dekade yang berdarah, Aurelia terpaksa menjadi tumbal politik. Ia harus bertunangan dengan Pangeran Cassian dari Kerajaan Valenica di Utara—seorang panglima perang yang dikenal kejam, dingin, dan dijuluki "monster medan perang."
Pertemuan pertama mereka di Aula Agung langsung memicu percikan ketegangan. Alih-alih tunduk pada intimidasi sang Pangeran yang memiliki tatapan sepekat badai, Aurelia justru menyambutnya dengan keberanian dan lidah yang tajam. Keteguhan hati Aurelia justru memikat rasa ingin tahu Cassian, yang terbiasa menghadapi kepatuhan yang membosankan.
Di balik kemegahan rencana pernikahan mereka, bahaya besar sedang mengintai. Aurelia tidak hanya harus beradaptasi dengan calon suaminya yang penuh teka-teki, tetapi ia juga harus belajar bertahan hidup di tengah dinding istana yang dipenuhi intrik politik, racun, dan pengkhianatan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa dari dunia yang bertolak belakang, yang harus memilih antara saling menghancurkan atau bersatu demi menyelamatkan sebuah kekaisaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 : Pecahnya Tabir Kristal dan Kebangkitan Kegelapan
Prahara di Altar Utama
Gema benturan besi dan letupan energi sihir menggetarkan setiap jengkal Ruang Altar Utama. Cahaya biru
dingin dari tebasan pedang es Cassian beradu sengit dengan kilatan api hitam yang dipancarkan oleh tongkat
tengkorak Lord Malakor. Udara di dalam ruangan terasa semakin menyesakkan, berasap, dan dipenuhi oleh
hawa keputusasaan.
Setiap kali pedang Cassian bersentuhan dengan aura hitam Lord Malakor, percikan sihir meledak hebat,
melemparkan gelombang panas ke segala arah. Cassian berjuang mati-matian, menguras seluruh tenaga dan
daya tahan fisiknya demi menahan perhatian Lord Malakor agar tidak mengalihkan pandangan dari Aurelia.
"Kau hanyalah seekor serangga yang mencoba menahan gelombang pasang, Cassian!" cemooh Lord
Malakor dengan suara serak yang membahana. Ia melayangkan pukulan energi hitam pekat tepat ke dada
Cassian.
Cassian menyilangkan pedang besarnya untuk menahan serangan tersebut, namun dorongan energinya
begitu dahsyat hingga melempar tubuhnya sejauh sepuluh meter, mendarat keras di atas lantai granit yang retak.
Darah segar menetes dari sudut bibir Cassian, namun matanya tetap menyala penuh keteguhan.
"Selama aku masih bernapas... aku tak akan membiarkanmu menyentuh benua ini dengan kegelapanmu!"
teriak Cassian seraya bangkit kembali, menancapkan pedangnya ke lantai untuk menopang tubuhnya.
Konsentrasi Sang Putri Mawar Emas
Di sudut lain aula yang terisolasi dari pertarungan jarak dekat, Aurelia berdiri tegap di atas sebuah lingkaran
sihir keemasan yang ia ciptakan di lantai. Matanya terpejam rapat, kedua tangannya menggenggam erat
Tongkat Mawar Emas. Kelopak-kelopak cahaya terang berputar-putar melingkiri tubuhnya, memancarkan
aroma bunga yang segar dan menenangkan di tengah bau belerang yang menusuk.
Aurelia memusatkan seluruh sisa sihir murni dalam garis keturunan kerajaannya. Ia tahu bahwa
kesempatan ini dibayar mahal oleh darah dan nyawa Panglima Kaelen serta perjuangan keras Cassian."Ratu para leluhur, berikan hamba kesucian cahaya untuk menghancurkan inti kegelapan..." bisik Aurelia
dalam doa sihirnya.
Cahaya di ujung tongkatnya kian membesar, menyerap seluruh partikel Mana yang tersisa di udara.kristal ungu raksasa yang melayang di atas podium utama mulai bergetar hebat, merespons pancaran sihir
pemurni yang dipancarkan Aurelia. Sihir Mawar Emas secara perlahan merayap masuk ke dalam struktur
kristal, mencoba memutus alirannya yang menyerap jiwa-jiwa korban ritual.
*•*
*•*
Ledakan Tabir Kristal
Lord Malakor mendadak menyadari perubahan energi di dalam ruangan. Mata merahnya melotot tajam saat
melihat garis-garis retakan keemasan mulai menjalar di permukaan Orb Kristal Ungu milik ritualnya.
"Gadis tidak tahu diri! Apa yang kau lakukan?!" teriak Malakor murka. Ia berbalik, memutar tongkatnya
untuk melepaskan tombak api hitam mematikan langsung ke arah Aurelia.
"Langkahmu terhenti di sini, Malakor!" teriak Cassian yang tiba-tiba muncul di garis lintasan serangan
tersebut. Cassian melompat ke udara, memicu teknik puncaknya, Tebasan Es Abadi: Pembeku Jiwa.
Dua gelombang energi bertabrakan di udara. Ledakan es dan api hitam menciptakan gelombang kejut yang
merubuhkan pilar-pilar batu di sekitar ruangan. Di saat yang bersamaan, mantra Aurelia telah mencapai
puncaknya.
"Mawar Emas Pemurni: Penghancuran Takdir!"
Sebuah pilar cahaya keemasan raksasa meluncur lurus dari tongkat Aurelia, menghantam tepat di tengah-
tengah Orb Kristal Ungu. Suara pecahan tajam bergema menembus seluruh benteng. Orb kristal raksasa itu
retak seribu sebelum akhirnya meledak menjadi miliaran serpihan cahaya yang menyilaukan.
Bayangan Terlarang yang Terbangun
Ledakan kristal menimbulkan getaran hebat yang meruntuhkan sebagian langit-langit basalt. Energi sihir hitam
yang terkumpul di dalam kristal mendadak liar tak terkendali, melingkupi seluruh podium dan menyerap
kembali ke dalam tubuh Lord Malakor.
Asam uap hitam membubung tinggi, dan dari balik asap tersebut, terdengar tawa melengking yang penuh
keputusasaan dan kegilaan. Lord Malakor tidak tewas oleh ledakan itu; sebaliknya, tubuhnya kini menyatu
dengan sisa-sisa sihir Raja Iblis Kuno yang belum sempurna terbebas.Bentuk fisik Lord Malakor mulai berubah menjadi sosok monster kegelapan berukuran raksasa dengan
tanduk melengkung dan mata bercahaya ungu menyala. Tekanan aura membunuh yang dipancarkannya kini
sepuluh kali lipat lebih menakutkan daripada sebelumnya.
"Kalian pikir kalian telah menghentikanku?!" suara Malakor kini terdengar ganda dan menggelegar dari
dasar bumi. "Kalian hanya mempercepat penyatuan jiwaku dengan Sang Raja Iblis!"
Cassian berdiri di samping Aurelia, merangkul bahu sang putri yang lemas karena kehabisan sihir. Mereka
berdua menatap sosok monster raksasa di hadapan mereka dengan napas terengah-engah. Pertempuran di Altar
Utama belum berakhir; justru kini mereka harus berhadapan dengan wujud terlarang yang paling mematikan.
Perjalanan dan perjuangan mereka bertahan hidup semakin krusial, melangkah memasuki fase-fase akhir pertempuran.
ehh iya kalo ada waktuu mampir jugaa yaa ke novel kuu "Tak Semua Tangis Memiliki suara"