NovelToon NovelToon
Cemara Juga Punya Luka

Cemara Juga Punya Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah / Teen / Balas Dendam
Popularitas:425
Nilai: 5
Nama Author: Sifanursiami

Di balik rumah yang hangat, semua orang memakai topeng paling rapi
Bagi dunia luar, Haseena adalah remaja berprestasi kebanggaan Abah. Namun di balik tawanya, Haseena menderita gangguan kecemasan dan terpaksa meminum obat penenang secara sembunyi-sembunyi selama lima tahun lalu.
Haseena mengira hanya dia yang punya rahasia. Sampai suatu malam, dia menemukan botol obat misterius di saku jaket abangnya, melihat kode lampu senter berkedip tiga kali di kegelapan sawah belakang rumah, dan kakak perempuannya yang bersikeras ingin pergi jauh
"Kini, Haseena terjebak dalam sandiwara sempurnanya. Berpura-pura menjadi gadis ceria untuk menutupi paranoia, sambil diam-diam mengumpulkan kepingan teka-teki yang mungkin akan menghancurkan hidupnya selamanya. Haseena harus memilih: tetap menjadi 'Ahli Ngeles' yang dicintai publik, atau membuka kotak Pandora tentang hilangnya sang kakak—meskipun itu berarti ia harus kehilangan segalanya, termasuk pria yang baru saja ia percayai."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sifanursiami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

babak baru 3

Motor Wafiza melaju membelah jalanan kota yang masih diselimuti udara pagi. Matahari baru saja muncul dari balik perbukitan, memancarkan cahaya keemasan yang memantul di kaca-kaca rumah penduduk. Angin sejuk menerpa wajah Haseena dari balik helm yang dikenakannya.

"Seen..."

"Hm?"

"Kamu cantik banget hari ini."

Haseena terkekeh pelan.

"Kamu juga."

"Ih, bohong."

"Beneran."

Wafiza tersenyum kecil. Ia sengaja terus mengajak Haseena mengobrol sepanjang perjalanan. Ia tahu, diam adalah musuh terbesar sahabatnya saat ini. Setiap kali Haseena terlalu lama diam, pikirannya selalu kembali pada rumah yang kini kehilangan dua penghuninya.

Tak lama kemudian, gerbang sekolah mulai terlihat dari kejauhan.

Suasananya jauh berbeda dibanding hari-hari biasa.

Balon berwarna putih dan biru menghiasi gerbang utama. Sebuah spanduk besar bertuliskan "Selamat Menempuh Perjalanan Baru" terbentang di atas pintu masuk. Di sudut halaman, para panitia sibuk mondar-mandir membawa kursi, rangkaian bunga, hingga perlengkapan dokumentasi.

Hari itu bukan sekadar acara perpisahan.

Hari itu adalah hari ketika setiap siswa bersiap meninggalkan masa putih abu-abu yang selama tiga tahun menjadi rumah kedua mereka.

"Semangat ya, Panitia!" teriak salah seorang guru sambil membawa beberapa map.

"Siap, Bu!" jawab para siswa serempak.

Begitu turun dari motor, Haseena langsung membantu mengangkat beberapa kardus berisi konsumsi.

"Eh, Seen! Sini dulu!" panggil Aretha dari depan aula.

Haseena menoleh.

Aretha melambaikan tangan sambil membawa papan daftar tamu.

"Katanya kita jadi tim penyambut tamu."

"Iya, bentar."

Haseena menyerahkan kardus yang dibawanya kepada panitia lain, lalu berjalan menghampiri sahabatnya.

Aretha tersenyum melihat penampilan Haseena.

"Wih..."

"Cantik banget."

Haseena langsung menggeleng.

"Apaan sih."

"Serius."

"Kalau aku cowok, udah dari dulu aku nembak kamu."

Haseena tertawa kecil.

"Untung kamu cewek."

"Kalau enggak repot."

Wafiza yang baru datang ikut menyenggol pelan bahu Aretha.

"Udah-udah, nanti Haseena terbang."

"Masa iya."

"Orangnya aja udah secantik itu, dipuji dikit langsung merah pipinya."

"Ish..."

Ketiganya tertawa bersamaan.

Tawa yang sederhana.

Namun bagi Haseena...

Rasanya seperti kembali menemukan sedikit warna setelah hari-hari yang dipenuhi abu.

---

Tak lama kemudian, ketua panitia mulai membagikan tugas terakhir.

"Oke, semuanya dengar sebentar!"

Suara pengeras terdengar memenuhi aula.

"Tim dokumentasi siap di sisi kanan panggung."

"Tim konsumsi mulai cek snack."

"Tim penerima tamu tetap di depan gerbang sampai seluruh wali murid hadir."

Haseena dan Aretha saling berpandangan.

"Tugas kita mulai."

"Ayo."

Mereka segera menuju meja registrasi yang telah dihias dengan bunga-bunga kecil. Sebuah buku tamu terbuka di atas meja, lengkap dengan beberapa bolpoin yang tersusun rapi.

Haseena menarik napas panjang.

Lalu memasang senyum terbaiknya.

Senyum yang sudah beberapa hari tidak benar-benar ia rasakan.

Satu per satu tamu mulai berdatangan.

"Selamat pagi, Pak."

"Selamat datang, Bu."

"Silakan mengisi buku tamu terlebih dahulu."

"Setelah itu bisa langsung menuju aula."

Senyum Haseena tak pernah lepas.

Tangannya sigap menunjukkan arah.

Mulutnya terus mengucapkan salam.

Tak ada satu pun tamu yang menyadari...

Bahwa gadis yang menyambut mereka dengan begitu ramah itu sedang memikul duka yang belum sempat sembuh.

Beberapa wali murid bahkan sempat memujinya.

"Panitianya ramah sekali."

"Hatur nuhun ya, Neng."

"Sama-sama, Bu."

"Semoga acaranya lancar."

"Aamiin."

Jawab Haseena sambil tersenyum.

Namun jauh di dalam hatinya...

Ia hanya berharap satu hal.

Andai hari ini Ibu masih bisa berdiri di antara para tamu yang datang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!