"Dia sudah mati. Menangis sampai darah pun tidak akan mengembalikannya."
Di usia sebelas tahun, Freya Anindita kehilangan segalanya dalam kecelakaan maut. Di malam yang kelam itu, Galen Danendra menariknya dengan kejam dari jasad sang papa, lalu mengurungnya dalam sangkar emas atas nama wasiat dan harta peninggalan.
Tujuh tahun berlalu, takdir kembali mempermainkan mereka dengan cara yang lebih kejam. Istri Galen tewas dalam kecelakaan tragis saat hendak menjemput Freya pulang sekolah—sebuah fakta yang sama sekali tidak diketahui oleh Freya.
kini, menghadapi Galen yang telah menjelma menjadi seorang duda yang penuh dendam, Freya yang duduk di bangku kelas 3 SMA harus menelan pil pahit. Ia dituduh sebagai pembawa sial sejak kecil.
Di antara jerat rasa bersalah yang dipaksakan dan tatapan benci Galen yang kian mengintimidasi, mampukah Freya lolos dari takdir kejam sang duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Giarty gia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Maut di Ujung Jalan.
***
"Mau ke mana, Cantik? Buru-buru sekali". Cetus cowok berambut gondrong di atas motor hitam, menghalangi langkah Freya.
Deg!
Jantung Freya Anindita berdegup kencang. Seluruh pasokan oksigen di sekitar nya mendadak terasa menipis dalam hitungan detik. Hawa dingin ketakutan yang luar biasa pekat langsung menjalar cepat, membekukan setiap jengkal aliran darah di tubuh nya.
Meskipun rasa takut yang amat sangat sudah mencengkeram erat urat-urat sarafnya, Freya mengepalkan kedua tangan nya di samping celana jin miliknya. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mati-matian untuk tetap tenang dan tidak memperlihatkan kepanikan di hadapan gerombolan serigala jalanan ini.
"Minggir kalian! Aku mau lewat". Ucap Freya, suaranya diatur sedatar dan setegas mungkin, meski ada getaran samar yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.
Mendengar suara lembut namun ketus dari Freya, beberapa anak geng motor itu justru tertawa terbahak-bahak, saling melempar pandangan nakal yang merendahkan.
Tiga orang di antara mereka langsung turun dari atas motor sport mereka yang bermesin bising, melangkah mendekat dan memotong jalur pelarian Freya.
"Galak banget sih, cantik. Makin galak makin bikin penasaran tahu gak". Sahut salah satu cowok bertubuh kurus dengan tato di lengan kiri nya.
Freya tidak memedulikan sahutan itu. Dengan gerakan cepat, ia memiringkan tubuh nya, mencoba berjalan melesat melewati celah di antara dua motor yang terparkir melintang. Ia hanya ingin segera mencapai jalan raya utama di depan sana.
Namun, keberuntungan sama sekali tidak berpihak padanya siang ini.
SREK!
"Eits, tidak semudah itu, Sayang". Desis sebuah suara bariton yang berat tepat di samping telinganya.
Tanpa sempat Freya menghindar, sebuah tangan kekar dengan jemari yang kokoh bergerak cepat, langsung mencekal kuat pergelangan lengan Freya.
Tekanan jari-jari itu begitu solid, mengunci pergerakan gadis itu dalam satu sentakan kaku yang teramat kasar.
Freya tersentak, rasa ngilu yang luar biasa seketika menjalar di lengannya.
"Lepas! Tolong lepaskan tanganku!". Pekik Freya sejadi-jadinya, tubuh nya berputar paksa menghadapi sosok yang baru saja berbuat lancang padanya.
Cowok yang memegang lengannya itu adalah sang ketua geng motor.
Berbeda dengan anak buahnya yang berpenampilan kumal, cowok ini memiliki postur tubuh yang tegap, tinggi jangkung, dan memiliki raut wajah yang tampan dengan potongan rambut yang rapi di balik jaket kulit hitam mahalnya tersebut.
Namun, ketampanan itu sama sekali tidak memancarkan kehangatan. Sudut bibir tipis cowok itu perlahan tertarik ke samping, menciptakan seulas senyum smirk sinis dan nakal saat sepasang matanya menatap lekat-lekat ke arah wajah cantik milik Freya.
Pangeran jalanan itu tampak tertegun selama satu detik, seolah baru pertama kali melihat ada seorang gadis remaja secantik dan memikat ini berjalan sendirian di areanya.
"Lepasin aku, Kak! Jangan kurang ajar ya!". Teriak Freya lagi, suaranya melengking tinggi memecah kesunyian pertigaan jalan sepi.
"Wah, Bro... Koleksi kita siang ini bener-bener kelas premium". Cetus sang ketua geng, mata nya tidak berkedip memandangi binar ketakutan di mata bulat Freya.
"Lepas!".
Freya bergerak nekat. Dengan sisa keberanian keras kepalanya, ia menyentak lengannya sekuat tenaga, mencoba melarikan diri dan berlari.
Sentakan itu berhasil membuat cekalan tangan sang ketua geng motor tersebut terlepas sedetik. Freya langsung memutar tubuh nya dan berlari beberapa langkah.
"Kejar! Jangan sampai lolos!". Bentak sang ketua geng motor.
Srak! Srak!
Sialnya, langkah kaki Freya tidak mampu menandingi kecepatan gerombolan para pemuda tersebut.
Belum sempat ia berlari sejauh lima meter, dua buah motor sport sudah melesat memotong jalurnya, sementara tiga cowok lainnya langsung merangsek maju mengepung dirinya dari berbagai penjuru.
Jalan pelarian Freya mati total.
Ia sudah terjebak.
Tubuhnya kini terkurung rapat di tengah-tengah lingkaran manusia yang menatapnya dengan kilat mata lapar.
Sang ketua geng kembali melangkah mendekat dengan ritme kaki yang santai namun penuh tekanan dominasi yang mengerikan. Cowok tampan itu benar-benar merasa tertarik pada pesona kecantikan Freya yang alami dan memukau di bawah terik matahari.
"Lari lagi, hm? Jalur ini milikku, Cantik. Kamu tidak akan bisa keluar dari sini tanpa seizinku". Ucap cowok itu, suaranya merendah penuh nada kepemilikan yang liar.
"Tolong! Siapa saja tolong!". Raung Freya dengan sisa tenaganya, air mata ketakutan yang sejak tadi ia tahan akhirnya runtuh juga membasahi pipinya.
"Teriak saja sepuas mu, Neng. Gak bakal ada yang dengar". Ejek si cowok bertato sembari terkekeh mesum.
Keadaan di sekitar pertigaan jalan menuju kompleks pemakaman ini memang sungguh sangat sepi dan sunyi.
Tidak ada satu pun rumah penduduk yang berdekatan, dan tidak ada satu pun kendaraan umum yang melintas sore ini.
Freya benar-benar merasa takut. Jiwanya didera kepanikan yang luar biasa hebat saat menyadari ponselnya mati dan dirinya kini benar-benar sebatang kara menghadapi ancaman maut di hadapan nya.
"Jangan mendekat... Aku mohon, jangan..." Rintih Freya terisak, melangkah mundur hingga tubuhnya mepet ke arah bodi motor sport di belakangnya.
"Ikut kita main sebentar ya, Cantik. Tenang saja, Aku bakal bikin kamu senang". Bisik sang ketua geng motor dengan pandangan yang kian menggelap, melayangkan tangan kekarnya untuk meraih dagu Freya secara paksa.
Saat jemari kasar cowok itu baru saja menyentuh permukaan kulit wajahnya, dan saat Freya sudah memejamkan matanya pasrah menahan jerat pelecehan yang siap menghancurkan kehormatannya sore ini...
BRUMMMMM!
CIIIIIIIIIIEEEEEEEEEDT!
Sebuah raungan mesin mobil mendadak membelah kesunyian pertigaan jalan. Sebuah mobil sedan mewah hitam mengkilap melesat kencang dari arah tikungan luar, lalu dengan satu sentakan kaku yang brutal, moncong mobil mewah itu sengaja menabrak roboh dua buah motor sport milik geng motor hingga terseret di atas aspal.
BRAKKK!
"Woy! Sialan! Siapa itu?!". Teriak anak buah geng motor kaget, langsung melompat mundur menyelamatkan diri dari hantaman mobil tersebut.
Mobil sedan mewah hitam itu berhenti tepat di depan kerumunan mereka, menutup seluruh pandangan jalan seolah menjadi dinding benteng yang masif.
Cklek.
Pintu kemudi mobil itu terdorong terbuka dengan satu hentakan kasar yang lambat namun memancarkan tekanan yang luar biasa berat.
Atmosfer di sekitar pertigaan jalan yang tadinya bising oleh tawa mesum anak geng motor, seketika berubah menjadi senyap dalam hitungan detik. Pasokan oksigen seolah mereduksi drastis di area tersebut.
Sesosok pria melangkah keluar dari dalam kabin mobil. Pria tersebut berdiri tegak di samping mobil nya.
"Lepaskan tangan kotor mu dari gadis itu sekarang juga!". Ucap pria tersebut, suara nya keluar merendah menjadi bisikan, dingin, namun sarat akan nada ancaman yang mematikan.
***