Seorang gadis cantik bernama Arun yang memiliki kisah hidup rumit dan penuh lika-liku. Seorang anak tunggal yang dibesarkan oleh sang nenek yang sangat menyayanginya melebihi kasih sayang orang tuanya sendiri. Arun berpikir kehidupan pernikahan menjadi salah satu solusi untuk memperbaiki cerita hidupnya. Bio, laki-laki yang lebih tua empat tahun dari dirinya menjadi suami Arun atas dasar sebuah perjodohan. Mungkin harusnya Arun sadar diri sejak awal, mereka bukan ditakdirkan tapi dipaksakan meski mereka merasa tidak ada perasaan keterpaksaan dalam mmenjalaninya. Akankah ada keajaiban dari sebuah rasa yang terasa dipaksakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon citaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIGABELAS
Seminggu kemudian ...
"Run?"
Arun masih sibuk dengan mengelap gelas yang ada di tangannya.
Malam ini adalah malam terakhir dari acara tahlilan mendiang nenek Arun.
Beberapa tamu sudah meninggalkan tempatnya. Hanya tinggal beberapa sanak saudara dari nenek Salma yang berada sekarang.
"Maaf Run!" ucap Akbar saat berhasil menarik kain lap yang sedang arun gunakan.
"Udah?" tanya Arun kembali menarik kain lap nya.
"Run! Kenapa kamu jadi marah sama saya? Salah saya apa?" tanya Akbar dengn nada tinggi.
Arun memicingkan matanya menatap Akbar. Arun tahu ini adalah mode marahnya Akbar menggunakan kata 'SAYA'.
"Kamu nanya?" ucap Arun.
Akbar menatap Arun bingung. Arun sedang mode apa sekarang ini?
"Jelasin dong Run, please" pinta Akbar.
"Kamu bertanya-tanya?"
"Run!"
Arun menghela napas, "enggak Bar, gue gak marah sama lo kok" balas Arun.
"Serius?"
"Kalo lo ngomong terus gue marah beneran sama lo!" ucap Arun memperingati.
"Oke-oke, tapi aku mau tanya satu hal sama kamu" ucap Akbar.
"Apaan?"
"Kamu mau pindah dari rumah ini?"
Arun mengganggukan kepalanya tanpa ragu. "Byee Akbarr" ucap Arun sambil melambaikan tangannya.
"Kenapa?"
"Karena ini bukan rumah gue. Disini gue numpang" ucap Arun.
"Tapi ini rumah nenek Salma Run, kamu cucu nya berarti kamu berhak ada di sini juga" ujar Akbar.
"Ya udah gue ganti alasannya, gue mau mandiri" jawab Arun.
Arun melangkah berbalik arah dari Akbar, "kalo aku minta kamu tetap disini?"
Arun tersenyum, "Mamah yang minta aja gak gue turutin apalagi lo, Akbar. Yang bukan siapa-siapa gue" setelah itu Arun pergi meninggalkan Akbar sendirian.
"Bukan siapa-siapa?" gumam Akbar.
DUARRRRR!!!
Hakan tah ku sia!
Dua hari yang lalu ...
Jakarta, 20:06
Acara makan malam sudah selesai. Tidak ada kegiatan apapun lagi bahkan mengunyah pun sudah tidak ada. Hanya tinggal keheningan di meja makan ini.
"Ehmmm, ayok! Acara apa selanjutnya?" Ucap Ilham memecah keheningan.
"Masih ada yang mau dibicarakan?" Ujar Adit sambil menatap mama dan papa nya.
Broto membenarkan duduknya, sedikit menegakkan badannya.
Sedangkan Bio, si bungsu hanya cuek. Duduk dengan santai tanpa beban. Lebih tepatnya berusaha.
"Papa mau menjodohkan Bio dengan Arun" to the point sekali pak Broto ini.
Brakkk
Suara itu berasal dari tempat duduk Bio yang terjatuh karena terdorong ke belakang oleh Bio.
"Kan! Kan!. Pa, Bio udah bilang kan? Bio gak mau!" ucap Bio tegas.
Ilham membangunkan kursi yang jatuh tadi, lalu memegang pundak Bio. Berusaha membawa Bio duduk kembali ke kursinya.
"Duduk dulu duduk" ucap Ilham.
"Alasannya?" tanya Broto.
Bio kembali bangkit dari duduknya namun ditahan oleh Ilham.
"Lo duduk aja ege!" bisik Ilham.
"Ckk! Bio gak mau nikah muda. Karir Bio masih panjang pah. Pokoknya Bio gak bisa!" elak Bio.
"Karir kamu ada di tangan papa, gak usah khawatir. Asal kamu nurut sama papa" ujar Broto.
"Bio mau hasil usaha sendiri" balas Bio.
"Yakin?"
"Iya" balas Bio yakin.
"Ya udah kalo kamu mau keluar dari rumah ini lepas semua yang ada di tubuh kamu, termasuk fasilitas yang papa kasih" jelas Broto.
"Pah" ujar Nita sang istri.
"Mamah jangan belain dia terus! Dari dulu semua keinginan dia kita ikutin. Masa papah cuma minta satu permintaan dia gak bisa ikutin!" Ucap Broto tegas.
Bio hanya tersenyum smirk, "kenapa permintaan papah gak buat bang Adit aja?" tanya Bio berusaha tenang.
"YANG PAPAH MAU KAMU BUKAN ADIT!"
"Kenapa? KENAPA HARUS BIO?!!. Ohh iya lupa anak kesayangan papah kan cuma bang Adit" ucap Bio.
"Bio" panggil Nita.
"Iyakan mah? Bang Adit itu kebanggaan papah. Bang Adit itu lebih dari dua anak laki-laki papah yang lain, lebih pinter, lebih bisa bawa perusahaan kita maju. Semua kemenangan dan keberhasilan keluarga ini ada sama bang Adit" ujar Bio.
"Maksud lo apa?" Kini Adit membuka suara.
"Ckkk! Gak usah sok gak tau deh bang. Lo paham apa yang gue bilang tadi bahkan tanpa lo dengerin gue juga!" Balas Bio.
"Kenapa lo jadi menyudutkan gue?" tanya Adit dengan gaya coolnya.
"Udah-udah lo berdua apaan sih?, Bio minta maaf sama bang Adit" ujar Ilham mencoba mencairkan suasana yang tegang.
Bio mengusap wajahnya kasar, "Sekarang gini deh, gue tanya sama lo bang Adit. Lo mau gak di jodohin sama si Arun, Hah?!" tanya Bio.
"Kalo dia mau gue bisa apa?" tanya balik Adit.
"What the ... waw!!" ucap Bio tertahan.
"Kenapa? Kalo papah minta gue buat nikah in Arun terus Arun mau. So .." ujar Adit.
"Nahh pah! Nih bang Adit aja. Bang Adit udah siap, dia juga mau sama Arun" jelas Bio.
"Papah gak minta Adit, papah maunya kamu, Bio!" ujar Broto sambil menatap Bio tajam.
"Pah! Gak adil dong kalo gitu. Mahh .. please lahh" Bio sudah mulai kehilangan alasan nya untuk menolak.
Nita hanya menatap iba sang anak bungsu. Nita paham akan sikap sang suami.
"Kamu mau adil?" tanya Broto.
Bio hanya menatap sambil mengerutkan keningnya, "Biar Arun yang memilih antara kamu atau Adit, gimana?" tanya Broto lagi.
"Oke, boleh" balas Bio setelah memikirkan keuntungan untuk dirinya.
"Tapi kalau Arun memilih kamu, Bio. Kamu gak ada alasan lagi buat menolak. Paham?!" Ucap Broto.
"Oke, Bio setuju" ujar Bio tegas.
Sedangkan Adit hanya menganggukan kepalanya.
Kediaman nenek Salma
22 : 38
"NIKAH?!" ucap Arun tak habis pikir.
"Iya sayang" jawab Linda sang mama.
Arun tertawa sambil memegangi perutnya yang kram, "Arun mau nikah sama siapa? Kucing? Hahahaha. Ada-ada aja sih mah" ucap Arun.
"Anak pak Broto" ucap Linda.
Arun langsung merubah raut wajahnya datar, "Pak Broto?".
"Heem, kamu tahukan pak Broto?" tanya balik Linda.
Arun hanya menganggukan kepala, "Ibu sama bapaknya pak Broto dulu teman baik nenek sama kakek kamu Run. Dan mereka dulu berniat buat jodohin anak-anaknya, tapi gak bisa. Dan sekarang mereka mau menjodohkan cucu-cucu mereka yaitu kamu" jelas Linda.
"Arun juga gak bisa" ucap Arun.
"Kenapa sayang? Mereka dari keluarga baik-baik. Mamah yakin kamu bahagia berada di keluarga mereka" ujar Linda.
"ENGGAK MAH! Arun emang butuh keluarga, butuh rumah buat pulang tapi bukan berarti Arun harus berumah tangga. Apalagi diumur Arun yang masih kuliah. Arun gak mau ya!!" Jelas Arun.
"Kamu gak bisa nolak Run" ucap Linda.
"HAH! Kenapa gak bisa sih?!!" tanya Arun heran.
"Waktu kamu masih berumur satu bulan dalam perut mamah, nenek menjanjikan itu pada keluarga itu. Bahwa kamu kelak akan di jodohkan dengan salah satu anak pak Broto. Karena bapak pak Broto dulu yang membantu usaha kakek kamu yang hampir bangkrut Run" jelas Linda.
Arun menganggukan kepala dengan raut wajah sendu, "Sebelum gue lahir ternyata semua udah dirancang matang-matang ya. Jadi aku ini di jodohin atau sebagai alat balas budi?
Ohh, iya Arun gak bisa nolak ya. Selama ini nenek yang merawat Arun. Atau jangan-jangan almarhum nenek dulu mau ngerawat Arun karna ini?" Tanya Arun dengan nada sedih.
"Enggak Run nenek merawat kamu gak ada tujuan apapun. Nenek juga gak memanfaatkan kamu. Nenek tulus sama kamu Run, mamah tau itu" jelas Linda.
Arun masih terdiam, bingung dengan jalan hidup yang ia harus lewati saat ini.
"Percaya sama mamah, mereka keluarga baik-baik. Kamu akan bahagia sama mereka, mereka gak mungkin nyakitin kamu" ujar Linda mencoba membujuk Arun.
"IYA! MUNGKIN MEREKA GAK AKAN NYAKITIN AKU. KARENA YANG NYAKITIN AKU SEBENARNYA KELUARGA AKU SENDIRI!" ujar Arun lalu pergi kedalam kamar.
Jlebbbb
Linda hanya terdiam.
Lagi-lagi linda tertusuk oleh kata-kata yang keluar dari mulut anaknya sendiri. Lebih tepatnya suara hati anaknya yang sudah lama terpendam lama.
Tbc.
Mau aja gak sih????