"Bagaimana setangkai mawar membalas dendam saat kelopaknya ditarik habis?"
Dicap kutukan karena berambut red wine dan bermata storm silver, Annaline diusir dan kamarnya dibakar oleh keluarga kandungnya. Namun, pelarian ke Imperium Aethelgard justru membangkitkan rahasia darah 400 tahun lalu: Thread Magic, sang Sihir Benang Takdir.
Bersama prajurit misterius bermata perak yang menyimpan otoritas tertinggi, Annaline mulai merajut jaring perang dan bisnis lewat butik barunya.
Siapakah pria itu sebenarnya? Dan rahasia kelam apa yang akan terkoyak saat sang putri terbuang mulai menarik benang kehancuran mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SweetMoon2025, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Denyut Sihir yang Terbangun
Anna terpaku di kursi kayunya, menatap ngeri ke arah selembar kain katun di atas meja. Setetes darah dari jarinya yang tergores patahan jarum yang di ia beli tadi di pasar tiba-tiba lenyap, terserap habis tanpa sisa oleh serat kain. Detik berikutnya, pendaran cahaya perak redup yang sempat menyala aneh itu perlahan meredup, meninggalkan sulaman mawar merah anggur yang baru selesai setengah.
Anna menarik tangannya menjauh dengan napas memburu. Ia mencengkeram dadanya yang berdenyut nyeri akibat debaran jantung yang terlalu cepat.
"Ada apa dengan semua ini?" bisik Anna pada keheningan kamar dengan suaranya bergetar hebat.
Ia menatap telapak tangannya sendiri penuh keheranan. Selama belasan tahun hidup terkurung di paviliun belakang rumah keluarganya di Volcalia Anna yakin dirinya hanyalah gadis buangan yang tidak berguna. Manusia biasa yang kebetulan lahir dengan cacat genetika berupa mata perak dan rambut merah anggur. Tapi beberapa waktu ini, Solmara seolah memaksa matanya terbuka pada rentetan keganjilan yang tidak masuk akal.
Anna berjalan mondar-mandir di kamarnya, mencoba mencerna semuanya. 'Pertama, cermin kuno di gudang bawah tanah yang beriak saat menatapku. Kedua, benang sutra warisan ini ... mengapa rasanya sekeras kawat hingga mematahkan jarum baja yang baru ku beli?'
Langkah Anna mendadak terhenti saat pikirannya beralih pada sosok sang ayah angkat. 'Dan Ayah Paul ....' ingatan masa lalu mendadak berputar di kepalanya. Saat mereka melarikan diri dari Volcalia, kereta mereka sempat dicegat oleh belasan begal bertubuh besar. Kala itu, Anna mengira mereka selamat karena kekuatan tersembunyi yang di miliki Ayah Paul. Tapi mengingat kembali bagaimana Ayah Paul dengan tenang menebas mereka tanpa ragu, ditambah aura mengintimidasi yang Ayah keluarkan saat menghadapi wanita Elf di pasar kemarin ....
Anna memeluk tubuhnya sendiri yang mendadak merinding. "Siapa kami sebenarnya? Mengapa Ayah dan Ibu tampak seperti sedang menyembunyikan rahasia besar yang sangat berbahaya?"
Keheningan tengah malam itu terasa kian mencekam. Rasa takut sempat mendesak Anna untuk menyerah dan tidur saja malam ini. Namun, tatapannya kembali jatuh pada tumpukan kain katun putih di atas meja. Target jualan untuk bazar hari Minggu nanti masih banyak untuk segera kerjakan.
Anna menggelengkan kepala dengan frustrasi. "Tidak, aku tidak boleh lemah. Aku butuh modal ini agar kami bisa bertahan hidup di Solmara. Toko alat jahit jelas sudah tutup, dan aku tidak boleh kehilangan waktu berharga hanya karena tidak punya jarum!"
Anna melangkah ke arah lemari pakaian di sudut kamar dan segera merogoh bagian paling dalam dan mengeluarkan kotak kayu hitam berukir mawar layu peninggalan Mama Rosa dari Sang Buyut.
KLIK.
Pengunci kotak itu terbuka dan di dalam kotak yang dilapisi kain beludru hitam itu, hanya ada benda yang sama saat dia buka di pedati kemarin tidak berkurang dan bertambah, ada sebuah jurnal dengan sampul kulit yang tebal, benang-benang dan sebatang Jarum Emas Murni yang berkilau indah.
Anna mengambil jarum emas itu yang ukurannya pas di jemarinya, terasa hangat dan sangat ringan. Berharap benda peninggalan ini bisa membantunya malam ini. Anna kembali ke meja kerja dan mencoba menusukkan jarum emas itu ke kain katun yang baru.
DUG.
Anna mengernyit heran karena ujung jarum emas itu menolak menembus kain, seolah-olah permukaannya tumpul padahal dia bisa melihat kalau ujungnya runcing layaknya jarum pada umumnya dan tidak berkarat sama sekali.
"Ini ... Ini kenapa bisa tumpul?" Anna mencoba menekan lebih keras, namun jarum itu tetap tidak bisa masuk menembus kain sedikit pun. "Bagaimana mungkin jarum secantik ini tidak bisa menusuk katun tipis ini?!"
Rasa frustrasi dan lelah yang menumpuk membuat Anna tanpa sadar meremas batangan jarum emas itu dengan sangat kuat menggunakan jemarinya, tepat di bagian luka goresan yang masih basah oleh sedikit sisa darahnya.
WUSH!
Detik itu juga, sebuah gelenyar panas yang sangat kuat menjalar dari jarum emas langsung ke dalam urat nadi tangan Anna. Jarum emas di genggamannya tidak lagi terasa tumpul, melainkan mendadak menjadi seringan kapas dan memancarkan pendaran cahaya yang menyilaukan.
"Aw! Ssshhh!"
Di atas meja, jurnal kulit tiba-tiba membuka sendiri di bagian halaman yang kosong dengan cepat seolah ada angin yang bertiup kencang entah datang dari mana. Lembar demi lembar berbalik hingga berhenti di halaman tengah, memunculkan guratan tulisan kuno berwarna emas yang menyala terang di kegelapan kamar:
"Sihir murni tidak bersemayam pada logam, melainkan pada kehendak jemari sang penenun takdir."
Anna semakin terperangah membaca tulisan itu. Bersamaan dengan kalimat itu yang memudar, jarum emas di tangannya bergerak dengan sendirinya, menuntun jemari Anna menari di atas kain dengan kecepatan magis yang luar biasa.
"Eh ... Apa ini? Bagaimana bisa?" herannya.
Namun, kejutan terbesar yang membuat Anna menjerit tertahan adalah ketika ia melihat ke arah lubang jarum emas tersebut. Di sana, tidak ada benang sutra fisik yang terpasang. Sebuah seutas benang cahaya perak murni yang sangat sakral perlahan keluar langsung dari ujung jari telunjuk Anna, mengalir masuk ke dalam jarum, dan mengunci sulaman mawar di atas kain dengan keindahan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
"Apa ... apa yang terjadi pada tubuhku?" bisik Anna, menatap ngeri sekaligus takjub pada benang cahaya yang berpendar dari jemarinya.
AWOOOOOO~
Tiba-tiba, sebuah lolongan serigala yang panjang dan parau bergema dari arah hutan lereng bukit di belakang rumah tua mereka. Lolongan itu bukan serigala biasa, melainkan binatang magis yang mendadak terusik karena merasakan riakan mana sakral yang baru saja memancar dari kamar Anna secara tiba-tiba. Angin malam mendadak berhembus kencang sebentar, menghantam daun jendela kamar Anna hingga berderit keras.
Suara langkah kaki menaiki tangga tergesa-gesa terdengar samar disusul ketukan panik disertai seruan berat Paul dari balik pintu kamar. Paul yang memiliki insting ksatria tingkat tinggi jelas menyadari ada sesuatu yang tidak beres dengan lonjakan energi sihir secara tiba-tiba di lantai dua rumah ini.
TOK! TOK! TOK!
"Anna! Buka pintunya, Nak! Kau di dalam?!
Anna tersentak dengan panik setengah mati. Ia buru-buru menarik tangannya, membuat benang cahaya itu terputus dan lenyap begitu saja di udara, menyisakan selembar saputangan bermotif mawar yang kini telah selesai disulam dengan sempurna.
Anna segera menyembunyikan kotak hitam dan sapu tangan itu di balik selimut. Sambil mengatur napasnya agar terkendali, ia segera membuka pintu kamar dan mendapati, Paul berdiri dengan kapak kayu di tangannya dan tatapan mata yang berkilat waspada.
"Anna, apa yang terjadi? Ayah merasakan ada riakan energi yang aneh dari kamarmu," bisik Paul seraya melirik tajam ke dalam kamar, membuat Anna harus cepat memutar otak untuk menyembunyikan rahasia besar yang baru saja bangkit di jemarinya.
lanjut yaaaaa