Di dunia tempat kekuatan kultivasi menjadi ukuran harga diri dan masa depan, Riu Han lahir sebagai anak dari Klan Riu yang terhormat—namun membawa takdir yang dianggap sia-sia. Sejak usia empat tahun, ia dinyatakan memiliki saluran energi yang tersumbat, membuatnya sama sekali tidak mampu menyerap dan menyalurkan energi alam. Di tengah pandangan mencemooh dan belas kasihan, ia terus berusaha meski tahu jalannya seolah sudah tertutup rapat.
Hingga suatu hari, di balik pohon Kayu Keabadian yang berusia ribuan tahun, ia menemukan sebuah ruangan rahasia yang tersembunyi selama berabad-abad. Di sana, udara terasa lebih kental dan damai, serta menyimpan jejak kekuatan kuno yang tak terduga. Apa yang awalnya hanya menjadi tempat pelarian, perlahan mengungkapkan sebuah warisan agung yang telah lama ditunggu—satu-satunya harapan yang bisa membalikkan takdirnya, membuka jalan menuju puncak kekuatan, dan mengungkap rahasia yang tersembunyi di balik dunia kultivasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Melawan Binatang Roh Level 4
Mereka berjalan cukup jauh masuk ke dalam lembah, namun belum juga bertemu dengan binatang roh lain. Semakin dalam mereka melangkah, semakin terasa berat aura kekuatan yang menyelimuti tempat itu—tanda jelas bahwa makhluk yang tinggal di sini memiliki tingkatan yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya.
Kehadiran Sekte Pedang yang berdiri kokoh di puncak gunung ini memang menjadi alasan utama mengapa binatang roh memilih bersembunyi di lembah-lembah terpencil seperti ini. Bagi mereka, turun ke lereng atas sama saja dengan masuk ke sarang musuh. Meski begitu, mereka bukanlah makhluk yang mudah ditakuti atau lari ketakutan begitu saja. Hanya saja, sebagai binatang roh yang memiliki naluri sangat tajam, mereka bisa merasakan jika ada aura yang sangat mereka takuti berada di dekatnya. Salah satu aura itu bahkan sudah mereka rasakan selama puluhan tahun—tekanan yang memancar dari puncak kekuatan Sekte Pedang. Itulah sebabnya mereka memilih bertahan di sini, menjauh namun tetap menjaga wilayahnya dengan ketat.
Saat melangkah menyusuri belokan lembah, tiba-tiba Luo Jin dan Riu Han berhenti bersamaan. Mereka merasakan gelombang aura yang kuat dan buas dari arah depan. Tanpa perlu bicara, keduanya mendekat perlahan. Di hamparan rumput lebat di tengah lembah, terlihat lima ekor Harimau Roh Berapi—binatang roh tingkat tiga yang kekuatannya setara dengan kultivator Perwira awal.
Luo Jin menatap Riu Han dengan tatapan tanya. Riu Han hanya mengangguk mantap, lalu menyunggingkan senyum percaya diri. Luo Jin tahu betul jarak kekuatan antara tingkat dua dan tiga sangatlah jauh—apalagi harimau adalah pemburu alami yang kelincahan dan kekuatannya jauh di atas binatang herbivora yang mereka lawan sebelumnya. Ia yakin mampu mengalahkan mereka, tapi khawatir jika harus melindungi Riu Han di tengah pertempuran. Namun jika Riu Han bisa menjaga diri sendiri, ia bisa bertarung dengan tenang.
“Kau keliling ke belakang, aku hadapi dari depan,” bisik Luo Jin.
Begitu menyadari keberadaan mereka, kelima harimau itu langsung menggeram panjang dengan suara yang menggetarkan tanah. Taring tajam mereka berkilau, seolah memberi peringatan agar mundur atau berakhir sebagai makanan.
Luo Jin melangkah gagah maju, lalu langsung menyerang dengan kekuatan penuh. Buk! Serangan itu membuat harimau terdepan terdorong mundur. Kawanan lainnya langsung meledak marah dan menyerbu bersamaan. Di saat yang sama, Riu Han melesat dari balik semak, menghantam pelipis salah satu harimau dengan presisi sempurna—dan makhluk itu langsung jatuh tak bergerak.
Sisa empat ekor harimau berbalik arah dengan amarah membara, menyerang Riu Han. Namun dengan teknik Langkah Bayangan, tubuh Riu Han bergerak lincah bagaikan angin, menari di antara cengkraman mereka tanpa tersentuh sedikit pun.
Luo Jin tertawa lega melihat itu. “Ternyata aku terlalu khawatir! Junior Riu, kau hebat sekali!” Kini tanpa ragu lagi, ia melepaskan seluruh kekuatannya. Hiat! Bam! Bom! Brak! Satu per satu harimau itu tumbang, ada yang menabrak tebing hingga mati.
Mereka berdiri saling pandang, sama-sama kagum. Luo Jin tak menyangka Riu Han mampu mengalahkan lawan satu tingkat di atasnya dengan begitu mudah. “Ahahaha… kau benar-benar membuatku bangga, Junior Riu!”
“Senior Luo juga hebat,” balas Riu Han tulus. “Kulit binatang roh jauh lebih keras dari tubuh manusia, tapi pukulanmu seolah menghancurkan segalanya.”
“Sudahlah, ayo kita bereskan dulu,” ajak Luo Jin. Ia merasa Gunung Hu benar-benar beruntung mendapatkan murid sehebat Riu Han.
Setelah mengumpulkan mutiara roh dan menyimpan bangkai ke dalam cincin penyimpanan, mereka melanjutkan perjalanan lebih dalam lagi. Tak lama kemudian, Luo Jin memberi isyarat berhenti. “Ssttt…”
Mereka segera memanjat pohon besar dan mengintai dari balik dedaunan. Di bawah sana, melingkar di atas batu datar yang hangat, ada sepasang Ular Darah Merah—binatang roh tingkat empat, tubuhnya sebesar paha orang dewasa, sisiknya berkilau merah menyala memancarkan aura beracun.
Luo Jin menelan ludah pelan. “Ini binatang roh tingkat empat. Jauh di atas kemampuanmu saat ini. Jika kau ragu, lebih baik kita menghindar. Satu ekor mungkin masih bisa dihadapi, tapi dua sekaligus terlalu berisiko.” Ia tahu betul perbedaan kekuatan antar tingkatan binatang roh sangat nyata, apalagi jenis ini adalah salah satu yang paling mematikan di levelnya.
Namun Riu Han tersenyum tenang. “Senior, jika kita tidak mencobanya, kita tidak akan pernah tahu batas kemampuan kita. Dulu aku juga pernah melawan binatang roh tingkat empat, meski jenisnya berbeda.” Ia menjelaskan sedikit tentang cara membaca gerakan ular dan titik lemah mereka, berusaha menenangkan hati Luo Jin agar kakaknya tidak lengah karena terlalu khawatir.
Luo Jin menatap mata Riu Han yang jernih, lalu perlahan mengangguk. “Baiklah. Tapi ingat, jika kau terdesak, segera gunakan teknik gerakanmu untuk menjauh dan cari aman. Jangan memaksakan diri.”
Keduanya saling melirik, lalu melesat menyerang dari arah depan bersamaan—karena bagi ular, depan maupun belakang sama-sama berbahaya. Ular-ular itu sempat menyadari keberadaan mereka, namun hanya menganggap dua bocah ini bukan ancaman berarti.
Luo Jin menggunakan teknik pukulan beratnya, sementara Riu Han mengubah teknik pedangnya menjadi serangan tangan yang tajam dan cepat. Duk… Bles… Boom! Kedua ular itu terpental mundur dengan mata melotot kaget. Pukulan mereka sangat kuat, namun kulit sisik ular begitu tebal dan alot sehingga mampu menahan serangan itu tanpa luka berarti.
Kini kedua ular itu menjadi serius. Mereka membelah arah: satu menyerang Riu Han, satu lagi menerjang Luo Jin dengan mulut terbuka lebar memamerkan taring beracun.
“Eit! Up! Hiya!” Mereka berdua bergerak lincah menghindar, lalu kembali menyerang dengan berani. Hiat! Pok! Buk! Namun lagi-lagi kulit tebal itu menyelamatkan mereka.
Alih-alih putus asa, hal ini justru memicu semangat keduanya. Mereka terus bergerak cepat, saling menutupi kekurangan satu sama lain, mencari celah di antara serangan ganas lawan.
“Junior Riu!” seru Luo Jin saat berpapasan. “Kita tidak akan menang jika begini terus! Arahkan serangan tepat ke kepala mereka—di sana pertahanannya paling lemah!”
Riu Han mengangguk mantap. Mereka saling bertukar pandang, lalu tanpa aba-aba menukar sasaran serangan. Gerakan tak terduga ini membuat kedua ular itu lengah sesaat.
“Sekarang!”
Buk! Prak! Bum! Terdengar suara tulang tengkorak pecah. Kedua ular itu tersentak kaku, lalu tubuh besar mereka meluruh ke tanah dan diam tak bergerak lagi.
“Huuh…” Luo Jin menghela napas panjang sambil mengusap keringat di dahi. “Sungguh lawan yang paling sulit pernah kuhadapi sejauh ini.” Ia menatap Riu Han dengan rasa kagum yang mendalam—kerja sama dan pemahaman tanpa kata di antara mereka adalah kunci kemenangan ini.
Riu Han tersenyum lebar. “Senior, ayo kita tuntaskan sisanya dan ambil mutiara rohnya. Ini akan menjadi bukti nyata seberapa jauh kita sudah melangkah.”
Lanjut Up Thor 💪💪