Naura Adisty, seorang reporter muda yang ambisius, terjebak dalam kekacauan demonstrasi kampus yang justru mempertemukannya dengan Kaelith Atharrazka, ketua BEM yang angkuh namun karismatik. Pertemuan yang diawali dengan insiden cedera dan perdebatan sengit itu menjadi awal mula Kaelith terus mengusik hari-hari Naura dengan godaan khas "berondong" yang menyebalkan sekaligus menggemaskan.
Namun, di balik layar organisasi BEM yang penuh intrik, Naura tanpa sengaja mengungkap skandal korupsi besar yang menyeret nama ayah Kaelith. Ketika ancaman teror mulai mengincar nyawa Naura, Kaelith pun menanggalkan sifat jahilnya untuk menjadi pelindung utama sang reporter. Kini, di tengah bahaya yang mengintai dan beban moral yang menghimpit, keduanya harus memilih antara mengungkap kebenaran yang pahit atau mempertahankan cinta yang baru saja bersemi di tengah konspirasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohlyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Dibalik Bayang-Bayang
Kegelapan bukan sekadar ketiadaan cahaya; bagi Naura, kegelapan adalah sensasi fisik yang mencekik. Saat kesadarannya kembali perlahan, hal pertama yang ia rasakan adalah dinginnya lantai semen yang lembap di pipinya. Bau apak tanah dan aroma besi berkarat menusuk hidungnya. Ia mencoba menggerakkan tangannya, namun pergelangan tangannya terikat kencang di belakang punggung dengan zip-tie yang kasar.
Ingatan tentang kafe, tentang senyum licik Dimas, dan tentang flashdisk yang dirampas itu menghantamnya seperti gelombang pasang. "Kaelith..." bisiknya parau, suaranya terdengar asing di ruangan yang sunyi ini.
"Dia belum mati, kalau itu yang kamu khawatirkan."
Suara itu berat dan dingin. Naura mendongak, mencoba memfokuskan pandangannya di tengah remang-remang lampu bohlam yang tergantung di langit-langit. Di hadapannya, duduk seorang pria dengan setelan jas mahal yang terlihat sangat tidak cocok dengan lingkungan gudang bawah tanah tempat mereka berada. Itu adalah Pramudita Atharrazka. Ayah Kaelith.
Di samping Pramudita, Dimas berdiri dengan tangan bersedekap, wajahnya datar tanpa penyesalan.
"Dimas?" Naura mencoba menegakkan tubuh, meski rasa pening masih mendera kepalanya. "Lo... lo jurnalis. Lo tahu apa yang terjadi kalau berita ini nggak keluar. Lo ngerusak integritas profesi lo sendiri!"
Dimas tertawa kecil, suara yang terdengar sangat menjijikkan bagi Naura. "Integritas? Nau, integritas nggak bisa bayar cicilan rumah atau jamin posisi gue di redaksi tetap aman sampai usia tua. Pramudita menjanjikan posisi Editor Utama setelah berita ini 'dilenyapkan'. Kadang, dunia jurnalisme bukan tentang mengungkap kebenaran, tapi tentang siapa yang punya kuasa untuk mendikte apa yang dianggap kebenaran."
Pramudita berdiri, langkahnya tenang mendekati Naura. "Kaelith selalu memiliki empati yang berlebihan. Dia pikir dia bisa menjadi pahlawan. Tapi kamu, Naura... kamu punya ambisi. Ambisi itulah yang membuatmu berbahaya bagi kepentingan perusahaan saya."
"Kalian nggak bisa sembunyikan ini selamanya," kata Naura dengan sisa tenaga yang ia punya. "Masih ada salinan datanya di sistem cadangan yang sudah diunggah Kaelith secara otomatis ke cloud yang nggak bisa diakses orang biasa."
Itu adalah gertakan. Naura tidak tahu apakah sistem itu benar-benar ada, tapi ia harus memancing mereka.
Pramudita berhenti sejenak. Matanya menyipit. "Kamu pikir saya bodoh? Kaelith sudah mengaku sebelum kami menguncinya di ruang sebelah. Tidak ada data yang tersisa di cloud. Dia hanya menyalinnya ke flashdisk yang tadi sudah ada di tangan Dimas."
Naura menahan napas. Ia kalah. Kaelith benar-benar mempertaruhkan segalanya, dan sekarang semuanya hancur karena pengkhianatan Dimas.
"Bawa dia ke ruang yang sama dengan putraku," perintah Pramudita kepada anak buahnya. "Mungkin melihat orang yang dia sayang dan lindungi menderita akan membuat Kaelith akhirnya mau menandatangani surat pengunduran diri dari BEM dan mengakui bahwa semua ini hanyalah karangannya sendiri untuk menjatuhkan saya."
Dua pria besar menarik lengan Naura dengan kasar. Naura diseret melewati lorong gelap hingga sampai di sebuah pintu besi berat. Pintu itu terbuka, dan di dalamnya, ia melihat Kaelith terduduk di lantai dengan kondisi yang membuat hati Naura hancur. Wajahnya lebam, sudut bibirnya pecah, namun matanya masih memancarkan api perlawanan.
Begitu pintu tertutup dan mereka berdua ditinggalkan di ruang gelap itu, Kaelith mendongak. "Naura? Lo... mereka bawa lo ke sini?"
Naura merangkak mendekati Kaelith. "Gue minta maaf, Kael. Gue ceroboh. Dimas... dia pengkhianat itu."
Kaelith menggeleng lemah. Ia berusaha mendekat agar pundaknya bisa bersentuhan dengan pundak Naura. "Jangan minta maaf. Ini salah gue yang terlalu percaya sama orang yang salah. Gue seharusnya tahu kalau jurnalisme di kota ini sudah terlalu busuk."
"Apa yang bakal mereka lakuin?" tanya Naura dengan suara bergetar.
Kaelith menatap pintu besi itu dengan tajam. "Mereka mau gue mengaku di depan publik bahwa investigasi ini bohong. Mereka mau gue hancurin nama baik lo supaya nggak ada yang percaya lagi sama bukti-bukti yang mungkin lo temukan."
"Tapi kita nggak akan tanda tangan, kan?"
Kaelith tersenyum, meski itu tampak menyakitkan baginya. "Nggak akan pernah. Biarkan mereka siksa gue, asal lo tetap teguh."
"Kael, kalau kita nggak keluar dari sini..."
"Kita bakal keluar," potong Kaelith. "Gue sudah tahu kelemahan gudang ini. Ini gudang lama milik perusahaan, ventilasinya terhubung langsung ke saluran pembuangan utama. Kalau kita bisa lepasin ikatan ini, kita bisa lewat lubang ventilasi di pojok ruangan itu."
Naura menatap ke arah lubang ventilasi yang dimaksud. Jaraknya cukup jauh dan posisinya tinggi. "Bagaimana caranya lepasin zip-tie ini?"
Kaelith mengarahkan pergelangan tangannya yang terikat ke arah Naura. Di bagian belakang pergelangan tangannya, terdapat sebuah kepingan logam tajam yang ia ambil dari engsel kursi kayu yang patah saat perkelahian tadi. "Gue sudah nyiapin ini dari tadi. Lo bantu gue, nanti gantian gue bantu lo."
Selama satu jam berikutnya, dengan napas yang memburu dan keringat dingin yang mengucur, mereka berdua bekerja sama dalam diam. Logam tajam itu bekerja perlahan mengikis ikatan plastik. Saat ikatan Kaelith putus, ia segera membebaskan Naura.
Mereka tidak membuang waktu. Kaelith membantu Naura memanjat tumpukan kotak tua untuk mencapai lubang ventilasi. Begitu mereka masuk, bau busuk dari saluran pembuangan menyambut mereka, namun itu adalah aroma kebebasan.
"Kita bakal merangkak sampai ujung gang," bisik Kaelith.
Di tengah kegelapan saluran pembuangan yang sempit, mereka terus merangkak. Naura merasakan setiap luka di kakinya, namun ia tidak peduli. Ia hanya memikirkan Kaelith yang terluka parah namun tetap berusaha memimpin jalan.
"Nau," bisik Kaelith saat mereka berhenti sejenak karena saluran itu tertutup jeruji besi. "Kalau kita berhasil keluar, lo harus janji satu hal."
"Apa?"
"Bawa cerita ini ke orang yang benar. Bukan ke atasan lo yang korup. Bawa ke kepolisian pusat atau ke organisasi jurnalisme independen. Gue punya kontak mereka di e-mail terselubung gue. Lo cuma perlu buka akun itu."
Naura mengangguk mantap. "Gue janji, Kael."
Kaelith menggunakan tenaganya yang tersisa untuk menendang jeruji besi itu. BRAK! Jeruji itu jebol. Cahaya bulan malam menyusup masuk. Mereka keluar di sebuah gang sempit di belakang gudang.
Namun, baru saja mereka melangkah, sebuah lampu sorot menyambar mereka.
"Berhenti!" teriak sebuah suara.
Itu adalah Dimas. Ia berdiri di sana, memegang pistol dengan tangan yang tampak gemetar. Di sampingnya, beberapa orang berbadan besar sudah bersiap.
"Kalian pikir bisa lari semudah itu?" ejek Dimas.
Naura berdiri tegak di depan Kaelith, berusaha melindunginya. "Dimas, cukup! Lo jurnalis! Lo tahu apa yang lo lakuin sekarang itu kriminal!"
Dimas mendekat, matanya liar. "Jurnalisme itu profesi yang membosankan, Naura. Pramudita menawarkan masa depan. Dia menawarkan kekuasaan yang nggak akan pernah gue dapatkan dari gaji redaksi!"
Kaelith menarik Naura ke belakangnya. "Tembak saja, Dimas. Kalau lo mau membunuh, lakukan sekarang. Tapi ingat, kalau lo membunuh kami, semua data itu bakal otomatis terkirim ke server kantor berita nasional begitu kami nggak bisa dihubungi selama dua jam. Kami sudah mengaturnya."
Itu adalah kebohongan yang sangat meyakinkan. Dimas tertegun, tangannya yang memegang pistol tampak ragu.
"Dia bohong!" teriak salah satu orang berbadan besar. "Tembak saja mereka!"
"Tunggu!" Dimas ragu. Ia tahu reputasinya dipertaruhkan.
Kaelith melihat celah itu. Ia segera meraih sebuah pipa besi di dekatnya dan melemparkannya ke arah lampu sorot, membuat area di sekitar mereka gelap gulita. Dalam kegelapan, ia menarik tangan Naura dan mereka berlari ke arah jalan raya yang ramai.
"Cepat, Naura!"
Mereka berlari tanpa menoleh, menembus malam yang dingin. Di jalan raya, sebuah taksi lewat. Kaelith melambai dengan putus asa. Taksi itu berhenti. Mereka masuk dengan napas yang hampir habis.
"Jalan! Ke mana saja yang penting menjauh dari sini!" teriak Kaelith kepada sopir taksi.
Mobil melaju kencang. Naura menoleh ke belakang, melihat bayangan Dimas yang masih berdiri di gang, tampak kalah dan bingung.
Naura jatuh ke sandaran kursi, air mata akhirnya mengalir di pipinya. Kaelith duduk di sampingnya, memegang tangannya dengan erat. Mereka selamat. Tapi mereka tahu, ini baru permulaan.
"Kita harus ke mana sekarang?" tanya Naura dengan suara parau.
Kaelith menatap ke depan, ke arah cahaya lampu kota yang mulai tampak di kejauhan. "Kita pergi ke tempat di mana mereka nggak akan bisa menjangkau kita lagi. Kita selesaikan ini, sekali dan untuk selamanya."
Malam itu, di dalam taksi yang meluncur di bawah guyuran hujan yang mulai mereda, Naura dan Kaelith bukan lagi sekadar reporter dan narasumber. Mereka adalah dua orang yang bertahan hidup, dua orang yang terikat oleh sebuah rahasia yang akan mengguncang pondasi universitas. Dan yang paling penting, mereka tahu bahwa mulai saat ini, mereka tidak akan pernah melepaskan satu sama lain.