NovelToon NovelToon
Purnama Tertutup Mega

Purnama Tertutup Mega

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Laviolla

Aku sibuk mengurus ibumu di atas pembaringan, sedangkan kamu sibuk menggoyang bosmu yang haus belaian. -Wulan-

Seperti cahaya purnama yang tertutup mega, semua kebaikan dan juga bakti yang sudah diberikan oleh Wulan untuk keluarganya sama sekali tak nampak di mata Awan. Wulan yang sudah dengan sabar merawat sang mertua yang lumpuh karena stroke di sela-sela kewajibannya menjadi seorang ibu muda sampai membuat wanita itu tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri tidak lantas membuat wanita itu mendapatkan balasan kesetiaan.

Wulan memilih untuk berpisah saat memergoki Awan berselingkuh. Wanita itu rela menjanda daripada batinnya selalu tersiksa karena Awan telah terpikat pada seorang janda kaya yang merupakan bos di tempat sang suami bekerja.

Lantas, bagaimanakah Wulan menjalani hari-harinya sebagai seorang janda? Dan bagaimana kehidupan Awan setelah kepergian Wulan? Apakah istri baru Awan bisa menjadi sosok istri dan menantu yang sempurna atau justru durhaka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laviolla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PTM 14. Potret Keluarga Bahagia

"Mas, aku mau minta tolong bisa?"

Hari sudah sore ketika Awan dan Mega mengakhiri pekerjaan mereka di hari ini. Awan yang sedang bersiap untuk pulang dengan merapikan beberapa dokumen yang ada di atas meja, seketika ia hentikan aktivitasnya itu. Untuk sejenak, ia menatap intens wajah Mega yang masih terlihat cantik dan fresh meski seharian sudah penuh dengan keringat dan rasa lelah.

"Minta tolong apa Sayang?"

"Aku ada janji mau mengajak Tasya makan malam dan jalan-jalan ke mall. Bisa tidak kalau kamu menemani kami? Aku ingin Tasya merasakan bahagia karena diantar kedua orang tuanya. Meskipun kamu bukan ayah kandung Tasya."

Awan tersenyum manis. Ia mengayunkan tungkai kakinya untuk mendekat ke arah Mega. Ia raih tangan Mega dan ia kecup punggung tangannya.

"Dengan sangat senang hati Sayang. Pokoknya semua yang berhubungan dengan Tasya, serahkan padaku. Aku akan menyayanginya seperti anak kandungku sendiri."

"Tapi bagaimana nanti kalau istrimu marah Mas? Karena ini nanti pasti sampai larut malam."

"Sudah, kamu tidak perlu terlalu memikirkan Wulan. Itu nanti jadi urusanku."

Mega tersenyum manis. Hatinya teramat bahagia karena menjadi prioritas. "Terima kasih ya Mas."

"Sama-sama Sayang."

"Oh iya, motormu ditinggal di kantor saja Mas. Nanti pakai mobilku saja."

"Oke, aku manut kamu saja."

"Ya sudah kalau begitu, ayo kita berangkat!"

Awan dan Mega berjalan beriringan keluar dari ruang direktur. Mereka menyusuri lorong kantor untuk menuju parkiran. Sesekali mereka hanya tersenyum ketika berpapasan dengan karyawan lain yang juga akan pulang.

Toni yang kebetulan berada di belakang Mega dan Awan hanya bisa menatap kebersamaan mereka dengan tatapan yang sukar untuk diartikan. Ingin rasanya ia berprasangka baik dengan kedekatan yang terjalin di antara keduanya, namun tetap prasangka buruklah yang merajai kepala dan juga hati.

"Semakin ke sini kedekatan Awan dan bu Mega terlihat sangat tidak wajar. Apa mungkin mereka memiliki hubungan terlarang yang disembunyikan?" lirih Toni.

***

Awan terperangah dengan bibir yang menganga lebar ketika melihat rumah mewah yang ada di depan mata. Baru kali ini ia melihat rumah semewah dan semegah ini. Rumah berlantai dua dengan desain modern klasik yang terlihat begitu memanjakan indera penglihatan. Rumah dengan fasad-fasad tinggi yang semakin memberikan kesan megah.

"Ayo masuk Mas!" ucap Mega mempersilahkan.

Awan berjalan mengekor di belakang punggung Mega memasuki ruang tamu. Ruangan yang didominasi dengan sofa-sofa mewah. Sofa dengan kualitas terbaik, langsung di datangkan dari Timur Tengah yang pastinya memiliki harga fantastis sekali. Guci-guci porselen yang didatangkan langsung dari Tiongkok, juga semakin mempertegas kesan mewah rumah ini. Tidak keketinggalan, sebuah pigura besar dengan foto keluarga juga dipajang di salah satu sisi.

"Mama!"

Tasya berteriak kencang ketika melihat sang mama pulang dari kantor. Gadis kecil itu berlarian untuk bisa segera menjangkau tubuh Mega.

"Sayang, apa kabar kamu hari ini?"

"Tasya bosan, Mama. Seharian hanya main dengan kakek. Tasya ingin main sama teman-teman yang banyak."

"Oh begitu ya. Baiklah, nanti Mama pikirkan caranya agar Tasya tidak bosan lagi ya."

Tasya menautkan pandangannya ke arah Awan. "Paman... Paman Awan main kesini?"

"Iya Sayang. Katanya Tasya mau makan malam sama jalan-jalan ke mall. Nanti Paman temani ya."

"Benarkah?" tanya Tasya dengan raut wajah yang sudah berbinar.

"Tentu Sayang. Pokoknya, Tasya mau kemana saja akan Paman temani."

"Horee... Asyikkk!!"

Tasya berjingkrak-jingkrak kegirangan. Pemandangan seperti inilah yang membuat Mega dipenuhi oleh rasa haru. Ternyata Tasya memang merindukan kehangatan keluarga yang utuh seperti ini.

"Mbak Siti!" panggil Mega kepada babysitter yang diberi tugas untuk mengurus Tasya setiap harinya.

"Iya Bu, siap."

"Tolong baju Tasya diganti ya. Mau aku ajak jalan-jalan ke mall. Sama nanti mbak Siti tetap di rumah saja, tidak perlu ikut kami."

"Baik Bu."

"Oh iya, tadi Papa berangkat jam berapa Mbak?"

"Sore tadi Bu, sekitar jam tiga."

"Baiklah kalau begitu. Sekarang, tolong ganti baju Tasya ya Mbak."

"Baik Bu."

Siti menggandeng Tasya untuk kembali ke kamar. Meninggalkan Mega dan Awan yang masih berada di ruang tamu.

"Memang pak Basuki tidak tinggal di sini Sayang?"

"Tidak Mas. Ini adalah rumah yang aku beli sedangkan papa tinggal di rumahnya sendiri. Tapi untuk beberapa bulan ke depan papa pulang ke kampung. Katanya ia merindukan almarhum mamaku. Dengan pulang kampung dan menempati rumah yang ada di sana, katanya bisa mengobati rasa rindu yang papa rasakan."

"Oh begitu?" tanya Awan sambil manggut-manggut. "Jadi di rumah ini kamu hanya tinggal sendirian?"

Mega terkekeh pelan sembari menggelengkan kepala. "Tidak sendiri Mas. Ada pengasuh Tasya, ada ART, ada tukang kebun dan ada security juga."

"Ah iya, benar juga ya?" Awan seperti loading lama sembari menggaruk ujung hidungnya yang tidak gatal.

"Memang kenapa Mas? Kamu mau menemaniku di sini kah?" goda Mega.

Awan terhenyak. "Ah mana bisa? Di sini banyak orang jadi tidak mungkin kita bisa bermesraan kan?"

Mega hanya tersenyum simpul. Ia meraih tangan Krisna dan ia tepuk-tepuk punggung tangannya. "Tenang, aku sudah mempersiapkan semua."

"Maksudnya?"

"Aku ada rumah kecil yang tidak dipakai. Kita bisa menghabiskan waktu di sana setiap hari. Setelah jam pulang kantor atau di sela-sela jam kerja, kita bisa singgah di sana barang sejenak."

Awan mengecup buku-buku jemari Mega. Senyum lelaki itu tiada henti tersungging di bibir. "Aku benar-benar beruntung memilikimu Sayang."

"Sama, aku juga beruntung mengenalmu Mas. Oh iya, sekarang kan malam Minggu. Bagaimana kalau kamu bermalam di sini Mas? Agar Tasya merasa senang karena ditemani olehmu."

"Tasya atau mamanya?" goda Awan sembari mencubit hidung mancung Mega.

"Dua-duanya sih."

"Hahahaha."

***

Usai menghabiskan waktu bermain di Timezone, Awan, Mega dan Tasya melanjutkan agenda mereka untuk dinner di salah satu foodcourt yang berada di mall. Mereka berjalan beriringan layaknya sebuah potret keluarga bahagia. Tasya nampak begitu nyaman berada di dalam gendongan Awan. Gadis kecil itu bergelayut manja seakan tidak ingin melepaskan tangannya dari tubuh Awan. Persis seorang anak kecil yang merindukan sosok seorang ayah hadir dalam hidupnya.

Mega sesekali melirik ke arah Awan dan sang putri. Senyum tiada henti tersungging di bibir dengan hati yang menghangat. Tak dapat ia ingkari jika melihat Awan memperlakukan dengan penuh kasih putri kecilnya ini membuat hatinya dipenuhi oleh rasa bahagia yang tiada terkira. Ia selalu berharap agar potret keluarga bahagia seperti ini bisa terus ada di dalam kehidupannya.

"Mau makan apa Sayang?" tanya Awan kepada Tasya yang nampak masih nyaman meletakkan kepalanya di ceruk leher Awan.

"Tasya mau makan sushi, Paman."

"Hmmmm.. Oke baik."

Langkah kaki Awan dan Mega menuju sebuah foodcourt masakan Jepang. Namun ketika mereka baru akan menuju bangku yang masih kosong tiba-tiba...

"Mas Awan!"

Awan sedikit terperanjat mendengar teriakan seseorang yang memanggil namanya. Jantungnya berdegup kencang karena di tempat ramai seperti ini ada seseorang yang mengenalnya. Ia khawatir jika sampai orang yang memanggilnya itu juga mengenal Wulan yang pastinya akan membuat keadaan semakin runyam.

Awan berbalik punggung. Ia mencari sumber suara yang memanggil namanya, hingga kedua bola matanya pun terbelalak sempurna ketika melihat sosok yang sangat dekat dengannya juga berada di tempat ini.

"Ambar?"

.

.

.

1
Laviolla
selamat membaca semua.. jangan lupa untuk like komen subscribe follow dan share ya... mkasih
Laviolla
selamat membaca semua... jangan lupa untuk like, komen, subscribe, follow dan share ya.. mkasih
Hanindia
waaaowww dapat warisan,,, selamat Lan.. semoga beruntung hidupmu ke depannya
Hanindia
amanat apa ya kira -kira??? semoga hal yang bermanfaat Lan
suciati
tuh kan bener dapat warisan.../Tongue/ semoga bermanfaat untuk merubah hidupmu lan
suciati
uhuuyyyy dapet warisan kayaknya.../Drool/ bener2 beruntung kamu Lan
Laviolla
selamat membaca semua.. jangan lupa untuk like, komen, subscribe, follow dan share ya.. mkasih
sunaryati jarum
Sepertinya kamu anak yang ditemukannya Nenek Inah,Wulan.Semoga kehidupan kamu selanjut lebih baik Wulan.
linda
rezeki nomplok lan... 🤣🤣
Anonim
Laki goblok tinggalin lan,run
sunaryati jarum
Semoga nenek Wulan Mempunyai peninggalan barang atau ilmu yang dapat mengubah hidup Wulan menjadi baik dan sukses
Laviolla
selamat membaca semua. jgn lupa untuk like komen subscribe follow dan share mkasih
linda
wulan dapat warisan😍😍😍 itu si cowok tampan sepertinya yg bakal jadi jodoh wulan selanjutnya
sunaryati jarum
Semoga langkah kamu menuju kebebasan , kesuksesan dan kebahagiaan. Wulan
linda
bagus Lan.. selamat melanjutkan hidupmu,, smg sukses
suciati
semogq sukses lan
Hanindia
selamat berjuang Lan... semoga kamu sukses
Hanindia
kalian emang serasi... penghianat dan pelakor bersatu
Hanindia
wuiiihh,, udah berani nampar??? emang gila tuh awan
Hanindia
selamat Lan, lelaki kayak awan emg gk pantes dipertahankan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!