NovelToon NovelToon
Bangkitnya Pelayan Terbuang

Bangkitnya Pelayan Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

"Wajah bak dewa, namun nasib bak debu."
Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng hanyalah seorang pelayan rendahan tanpa bakat kultivasi. Ia dihina, disiksa, dan dibuang ke hutan kematian hanya karena ketampanannya dianggap sebagai penghinaan bagi para tuan muda sekte yang sombong.
Namun, maut justru menjadi gerbang kebangkitannya.
Di ambang kematian, sebuah pusaka terlarang yang telah lama hilang—Sutra Dewa yang Terbuang—memilihnya sebagai wadah. Kitab itu hancur, menyatu ke dalam nadinya, merekonstruksi tubuhnya menjadi sempurna, dan menanamkan ribuan tahun pengetahuan dewa langsung ke dalam benaknya.
Kini, Han Feng kembali bukan untuk melayani, melainkan untuk menagih hutang darah. Dengan otak yang mampu membedah kelemahan lawan dan tubuh yang menyimpan kekuatan surgawi, ia akan membuktikan bahwa mereka yang dulu mengabaikannya akan berlutut di bawah kakinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERJUDIAN DI BALIK CADAR

​Sinar rembulan menyelinap melalui celah atap barak pelayan yang bocor. Han Feng duduk bersila, namun napasnya begitu pelan hingga debu di depannya pun tidak bergerak. Inilah "Pernapasan Kura-Kura Emas". Di dalam tubuhnya, jantungnya hanya berdetak sekali setiap satu menit, sementara energi emasnya mengalir sangat lambat, mengendap di sumsum tulang.

​"Dengan ini, bahkan jika Ketua Sekte berdiri di depanku, dia hanya akan melihat seorang pelayan yang kekurangan gizi dan penyakitan," bisik Han Feng.

​Ia membuka matanya yang kini terlihat sedikit kusam—sebuah akting fisik yang sempurna. Setelah memastikan suasana aman, ia mengeluarkan sebuah bungkusan kecil berisi limbah herbal yang ia kumpulkan selama seminggu. Ada akar ginseng yang sudah membusuk dan kelopak bunga yang hangus.

​Han Feng mengulurkan tangannya. Api keemasan yang sangat kecil muncul di ujung jarinya. Ia tidak butuh kuali besar. Dengan pengetahuan Dewa, ia melakukan "Pemurnian Tanpa Wadah". Ampas herbal itu berputar di udara, kotorannya terbakar habis, menyisakan esensi murni yang menyatu menjadi sepuluh butir pil hijau mengkilap.

​Pil Pengumpul Qi Kemurnian 100%. Di Daratan Bawah, pil dengan kemurnian 60% saja sudah dianggap harta karun. Sepuluh butir pil ini cukup untuk memicu perang kecil antar keluarga bangsawan jika mereka tahu keberadaannya.

...----------------...

​Malam itu, dengan mengenakan jubah hitam lusuh dan cadar yang menutupi wajahnya, Han Feng menyelinap keluar sekte melalui jalur rahasia yang ia temukan saat menyapu. Ia menuju ke kota di bawah kaki gunung, tempat sebuah pasar gelap beroperasi di balik kedai arak tua.

​Suasana pasar gelap itu riuh dan penuh asap. Han Feng melangkah menuju meja seorang penilai barang, seorang lelaki tua bermata satu yang dikenal sebagai Pak Tua Gu.

​"Aku ingin menjual ini," suara Han Feng berubah menjadi berat dan serak, hasil dari manipulasi pita suara menggunakan Qi.

​Ia meletakkan satu butir pil di atas meja. Pak Tua Gu awalnya meremehkan, namun saat ia mendekatkan hidungnya, matanya yang satu itu melotot hampir keluar dari kelopaknya.

​"Ini... ini..." tangannya gemetar saat menggunakan jarum perak untuk menguji. "Kemurnian sempurna! Tanpa setetes pun racun limbah! Tuan, dari mana Anda mendapatkan pusaka ini?"

​"Hanya jawab harganya," sahut Han Feng dingin.

​"Satu butir... 150 koin emas! Aku akan mengambil semuanya!"

​Han Feng pulang dengan kantong penyimpanan yang kini berisi 1.500 koin emas. Bagi seorang pelayan yang gaji bulanannya hanya 2 koin perak, jumlah ini bisa menghidupinya selama seribu tahun. Namun bagi Han Feng, ini hanyalah modal awal.

​Dalam perjalanan kembali, Han Feng melewati sebuah papan pengumuman besar di pusat kota bawah. Di sana, para bandar judi dari rumah judi "Angin Langit" sedang membuka bursa taruhan untuk Turnamen Pedang Embun Pagi.

​Kerumunan murid luar dan warga kota berkumpul di sana, tertawa-tawa sambil memasang taruhan.

​"Li Wei menang di babak penyisihan? Tentu saja! Rasionya hanya 1:1,2. Sangat aman," ucap seorang murid.

​Han Feng melihat ke bagian paling bawah papan, di kolom "Peserta Pendukung (Samsak)". Namanya tertulis di sana dengan tinta kecil yang hampir tak terbaca.

​Han Feng (Pelayan): Rasio 1:100.

​"Lihat ini! Ada si sampah Han Feng!" tawa seorang bandar judi pecah. "Siapa pun yang bertaruh satu koin emas untuknya, jika dia menang tiga ronde, kalian akan kaya mendadak! Tapi tentu saja, kalian lebih baik membuang uang kalian ke sungai daripada bertaruh untuknya!"

​Han Feng tersenyum di balik cadarnya. Ia berjalan mendekat ke meja taruhan dengan langkah tenang.

​"Seribu koin emas. Untuk Han Feng," ucapnya sambil meletakkan sekantong berat koin emas ke atas meja.

​Suasana seketika hening. Bandar judi itu melongo. "Tuan... Anda bercanda? Seribu koin emas untuk si pelayan sampah itu? Anda tahu dia mungkin akan mati dalam satu pukulan?"

​"Uangku, pilihanku," jawab Han Feng singkat.

​Setelah menerima kupon taruhan, Han Feng menghilang ke dalam kegelapan malam. Jika ia menang, ia akan merampok rumah judi itu sebesar 100.000 koin emas—jumlah yang cukup untuk membeli satu kota kecil.

​Keesokan harinya, Han Feng kembali menjadi si pelayan pendiam. Ia sedang menyapu lantai di Perpustakaan Teknik saat Su Yan masuk. Sang "Dewi Salju" itu tampak frustrasi; keningnya berkerut dan napasnya sedikit tidak teratur. Teknik Hati Salju Abadi-nya jelas menemui jalan buntu.

​Su Yan duduk di sebuah meja kayu besar, membuka tumpukan gulungan kuno, mencoba mencari jawaban mengapa dadanya selalu terasa sesak setiap kali ia mencoba mengalirkan energi ke tahap Pondasi Dasar tingkat menengah.

​Han Feng menyapu di dekat mejanya, kepalanya menunduk. Saat Su Yan pergi sejenak untuk mengambil buku lain, Han Feng dengan cepat menggoreskan kuku jarinya di atas permukaan meja kayu yang berdebu.

​Ia menuliskan beberapa baris kalimat singkat menggunakan bahasa kuno yang hanya dipahami oleh kultivator tingkat tinggi:

"Es yang beku butuh ruang untuk mengalir. Nadi ketiga adalah kunci, bukan penghalang. Lepaskan tekanan di titik Tianxi, dan musim semi akan datang."

​Han Feng segera menjauh dan pura-pura tertidur di pojok ruangan, menyandarkan kepalanya pada sapu.

​Tak lama kemudian, Su Yan kembali. Ia awalnya tidak menyadari, namun saat matanya menangkap tulisan di debu meja, tubuhnya tersentak seolah tersambar petir. Ia membaca kalimat itu berulang-ulang.

​"Ini... ini adalah solusi dari penyumbatan energiku!" bisiknya dengan suara bergetar. Ia mencoba mengikuti instruksi tersebut secara mental, dan seketika rasa sesak di dadanya menghilang.

​Su Yan melihat sekeliling dengan waspada. "Siapa? Siapa senior yang memberikan petunjuk ini?"

​Matanya menyapu ruangan. Hanya ada rak-rak buku yang sunyi dan... Han Feng. Ia melihat Han Feng yang sedang mendengkur pelan di pojokan, tampak sangat malas dan tidak berguna.

​Su Yan menggelengkan kepalanya. "Mustahil dia. Dia bahkan tidak tahu apa itu titik Tianxi."

​Su Yan segera menghapus tulisan di debu itu agar tidak dilihat orang lain, hatinya dipenuhi gejolak. Ia merasa ada seorang master hebat yang sedang bersembunyi di sekte ini dan memperhatikannya. Ia menatap ke arah Han Feng sekali lagi dengan tatapan meremehkan yang sama seperti kemarin.

​"Pelayan sampah tetaplah pelayan sampah. Bahkan di depan keajaiban pun, dia lebih memilih tidur," gumam Su Yan dingin sebelum bergegas pergi untuk mempraktikkan petunjuk tersebut.

​Han Feng membuka satu matanya sedikit setelah Su Yan pergi. Sebuah senyum licik terukir di wajahnya.

​"Gunakan petunjukku, Su Yan. Jadilah lebih kuat," batin Han Feng. "Karena saat aku menghancurkan Li Wei dan seluruh harga diri sekte ini di panggung nanti, aku butuh seseorang yang sedikit lebih 'menantang' untuk dijadikan penonton."

​Han Feng berdiri, meregangkan tubuhnya yang terasa kaku, dan kembali menyapu. Turnamen tinggal menghitung hari. Koin emas sudah dipertaruhkan, kekuatan sudah disiapkan, dan umpan sudah dimakan. Saatnya menunggu panggung sandiwara ini dimulai.

1
dikoiku
Luar biasa
Danzo28: Terima kasih! Bagian mana yang menurutmu paling luar biasa di bab ini? Saya penasaran dengan sudut pandang pembaca."
total 1 replies
T28J
senior kuu
lia
menarik
Danzo28: "Selamat datang! Senang sekali kamu mampir. Semoga betah mengikuti perjalanan ini sampai akhir, ya!"
total 1 replies
lia
menarik
Manusia Ikan 🫪
aku tinggalin jejak dulu ya, nanti siang balik lagi, udah subuh soalnya😹
Danzo28: Terima kasih sudah mampir! Happy reading! ✨"
total 1 replies
Iwa Kakap
sepi pembaca agak nya ..
terlalu banyak kata2 mutiara thor hingga membuat cerita ini seakan jalan ditempat.🙏
Danzo28: Siap, terima kasih masukannya! Saya memang sedang bereksperimen dengan gaya narasi tertentu, tapi masukan ini sangat membantu saya untuk tahu mana yang perlu dikurangi supaya pembaca tidak bosan."
total 1 replies
T28J
cocok buat jadi koleksi 👍
T28J: iya thor, saya mampir terus kalau ada waktu..
kamu juga mampir ketempat saya ya, beri nilai novel pertama saya, kritik dan saran boleh kok👍
total 2 replies
Optimus prime
ga ush pakai bahasa inggris thor... cerita cukup bagus....
Danzo28: "Wah, makasih ya pujiannya! Mengenai bahasa Inggris, memang ada beberapa istilah yang sengaja saya pakai untuk menjaga vibes atau suasana ceritanya (misalnya istilah teknis atau gaya bahasa karakter). Tapi saya bakal coba kurangi pelan-pelan kalau dirasa terlalu mengganggu. Terima kasih sarannya!"
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!