NovelToon NovelToon
Putri Asli Yang Tak Pernah Dipilih

Putri Asli Yang Tak Pernah Dipilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Putri asli/palsu / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:10.3k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

"Saat ayahku memilih menyelamatkan putri kesayangannya, dia mengorbankanku tanpa ragu."

Savira Dharma menghabiskan seluruh hidupnya mengejar sesuatu yang tidak pernah ia miliki: pengakuan dari ayahnya.

Sebagai putri kandung keluarga Dharma, ia belajar lebih keras, bekerja lebih lama, dan mengorbankan masa mudanya demi membuktikan bahwa dirinya layak dicintai. Namun ketika skandal penggelapan dana mengguncang Dharma Group, Savira dijadikan kambing hitam untuk melindungi keluarga yang selama ini ia bela.

Ditinggalkan sendirian di tengah hujan fitnah, ayahnya memilih diam.

Malam itu, Savira melompat dari puncak gedung perusahaan yang telah merenggut seluruh hidupnya.

Namun kematian bukanlah akhir.

Saat membuka mata, ia kembali menjadi gadis tujuh belas tahun—tujuh tahun sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.

Kali ini, Savira tidak akan mengemis cinta.

Ia tidak akan mengorbankan dirinya demi keluarga yang tak pernah memilihnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Utang Nyawa

Savira mencoba menarik tangannya, namun tatapan mata Aaron menguncinya seperti mangsa yang terpojok.

Cengkeraman jari besar pria itu di pergelangan tangannya terasa panas. Kulit mereka bersentuhan langsung tanpa penghalang. Hawa dingin dari ventilasi lorong marmer ini sama sekali tidak mampu mendinginkan suhu tubuh Aaron yang seakan mendidih oleh adrenalin.

Otot betis Savira menegang sempurna. Insting bertahannya meronta liar.

Ia memutar pergelangan tangannya dengan gerakan kasar dan kaku. Ia sangat membenci sentuhan fisik yang mengancam otoritas kendalinya. Di kehidupan lamanya, kehilangan kendali berarti kematian mental. Ia tidak akan membiarkan tubuhnya dikuasai oleh siapa pun lagi.

"Lepaskan saya," desis Savira. Suaranya ditekan serendah mungkin agar tidak menciptakan gema di lorong sunyi tersebut. "Anda mabuk, Tuan Jayanegara. Imajinasi Anda sudah melampaui batas kewarasan."

Aaron tidak merespons dengan kemarahan. Pria itu justru membuka jari-jarinya perlahan, melepaskan pergelangan tangan Savira dengan gerakan yang sangat terkontrol.

Aaron mundur setengah langkah. Ia membiarkan Savira mengambil napas dan memperbaiki posturnya, tapi posisi tubuh pria itu tetap memblokir total jalan keluar menuju aula.

"Penyangkalan yang bagus, Nona Dharma." Suara Aaron mengalun tenang, membelah kesunyian dengan presisi bedah. "Tapi reaksi tubuhmu tidak bisa berbohong. Detak nadimu berpacu dua kali lipat lebih cepat saat aku menyebut wangi melati."

Savira merapikan lengan gaun hitamnya. Ujung jari telunjuknya sedikit gemetar, menahan gejolak emosi yang mulai membakar dadanya.

Ia menolak menatap mata tajam pria itu. "Itu hanya parfum murahan dari minimarket. Ribuan pelayan di luar sana memakai wangi sintesis yang sama. Anda mau menginterogasi mereka satu per satu hingga pagi?"

Aaron mendengus pelan. Suara tawa rendah itu terdengar kering, bergetar di dasar tenggorokannya.

Tangan kanan pria itu merogoh saku bagian dalam jas mahalnya. Ia mengeluarkan sebuah ponsel pipih berwarna hitam pekat. Layar benda padat itu menyala redup, memantulkan cahaya ke wajah Aaron yang bergaris rahang keras.

"Tim keamanan siberku bekerja tanpa memejamkan mata mereka sejak pagi tadi," Aaron memulai penjelasannya. Tatapan matanya tidak beralih sedetik pun dari wajah pucat Savira. "Mereka mencoba membongkar metadata fail video di dalam flashdisk itu."

Savira menelan ludah. Rasa anyir samar menyentuh pangkal lidahnya.

"Sistem pelacakan tercanggih kami gagal menemukan IP pengirimnya." Aaron memutar ponsel itu di sela jemarinya. "Peretas itu membersihkan jejak digitalnya sebersih meja operasi."

Savira membuang muka, mendongak menatap ukiran di langit-langit marmer. "Lalu atas dasar kegagalan itu, Anda menyudutkan saya di lorong gelap ini?"

"Mereka memang gagal melacak lokasi," potong Aaron tajam, menaikkan volume suaranya satu oktaf. "Karena mereka justru menemukan hal lain yang jauh lebih menarik."

Jantung Savira seakan melompat dari dalam dadanya.

"Sandi enkripsi yang mengunci metadata video tersebut bukanlah buatan peretas bayaran dari dunia gelap," lanjut Aaron perlahan. Setiap kata diucapkannya sebagai pukulan taktis. "Itu adalah struktur algoritma polimorfik tingkat tinggi."

Otot rahang Savira mengeras seketika. Pasokan oksigen di sekitarnya mendadak terasa ditarik habis.

"Sebuah sistem yang sangat spesifik." Aaron melangkah maju satu tindak. Sepatu kulitnya berketuk pelan. "Sistem yang sama persis dengan modul keamanan pada tes ujian masuk jalur akselerasi di universitas elit. Universitas yang baru saja merilis daftar kelulusannya hari ini."

Keringat dingin mulai merembes membasahi punggung Savira di balik kain gaunnya.

Ia berdiri mematung. Angin dari pendingin ruangan menyapu kulit bahunya yang terbuka, tapi ia justru merasa seperti sedang dibakar hidup-hidup di atas bara api.

"Hanya ada satu siswa jenius yang mampu menembus skor sempurna pada tes pembongkaran algoritma tersebut tahun ini," suara Aaron merendah, nyaris seperti bisikan mematikan yang menyusup ke telinga Savira. "Nama siswi itu adalah Savira Dharma."

Pertahanan es di dalam dada Savira retak seketika. Pecahannya melukai sisa kewarasannya.

Kejeniusannya adalah satu-satunya senjata rahasia yang ia miliki saat ini. Ia telah membangun ilusi kesempurnaan. Ia memanipulasi seluruh dunia. Ia membodohi Wijaya yang terlalu sibuk memanja Nadia.

Kini, pria arogan di depannya ini berhasil membongkar topeng pelindungnya. Hanya dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam.

Rasa frustrasi merayap naik. Amarah dan kebencian pada kegagalan bercampur menjadi racun mematikan di pangkal lidahnya. Ia sangat benci ketika ada orang lain yang berhasil mengendalikan narasinya.

"Anda menyuap pihak universitas untuk memata-matai data akademis saya?" Suara Savira tidak lagi mendatar. Getaran kemarahan murni membelah ketenangannya.

"Aku memburu siapa pun yang berani mempertaruhkan nyawa untuk keluargaku," koreksi Aaron dengan nada keras.

Pria itu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jas. Ia menatap Savira dengan intensitas yang meluruhkan semua arogansi korporatnya. Sorot mata predator buas itu seketika digantikan oleh ketulusan yang sangat asing bagi Savira.

"Kenapa kau melakukannya, Savira?" tanya Aaron. Suara baritonnya pecah, kehilangan seluruh nada dingin yang biasa ia pakai di ruang rapat. "Kau adalah putri kandung Wijaya Dharma. Pria sosiopat yang merancang kecelakaan maut itu."

Savira memundurkan tubuhnya hingga bahunya kembali menyentuh dinding dingin.

"Kenapa kau justru mengkhianati darah dagingmu sendiri untuk menyelamatkan musuh terbesarnya?" cecar Aaron tanpa ampun.

Savira menatap manik kelam pria itu lekat-lekat. Ia melihat pantulan bayangan dirinya yang berantakan di sana.

"Karena Wijaya Dharma tidak pernah menganggap saya darah dagingnya," jawab Savira tajam. Suaranya mengiris keheningan seperti bilah silet berkarat.

"Baginya, saya hanyalah angka cadangan di neraca keuangannya." Savira mendesis, membiarkan kebenciannya pada sang ayah tumpah sesaat. "Aset yang bisa dibuang kapan saja."

Aaron terdiam kaku. Matanya menelusuri setiap garis wajah Savira yang menegang. Pria itu seolah menyerap seluruh rasa sakit, penolakan, dan kemarahan yang memancar dari postur tubuh gadis di depannya.

Ada kabut duka yang mendadak turun menutupi sorot tajam mata Aaron. Bayangan masa lalu yang berdarah berputar di dalam manik hitam tersebut. Pria raksasa ini sangat memahami arti dari sebuah kehilangan.

"Kau mempertaruhkan nyawamu semalam," ucap Aaron parau. Tangannya terangkat ragu, seolah ingin merengkuh bahu Savira yang gemetar, tapi ia menahannya kuat-kuat di udara.

"Saya hanya melakukan kalkulasi taktis penggeseran bidak catur," elak Savira secepat kilat. Ia menyilangkan kedua lengannya di depan dada, membangun benteng pertahanan fisik yang absolut.

"Itu bukan sekadar kalkulasi taktis, Savira." Aaron menurunkan tangannya ke sisi tubuh. "Kau melompat dari kegelapan dengan membutakan sopir truk kargo itu murni untuk menarik kakakku dari cengkeraman aspal berdarah."

Savira memalingkan wajahnya ke arah pilar batu. Ia benci dianalisis. Ia sangat muak ketika sisi manusiawinya dibedah secara paksa di bawah mikroskop oleh pria ini.

"Baskara adalah segalanya bagiku," Aaron melanjutkan. Suaranya bergetar halus, menanggung beban emosional yang siap meledak. "Dia pilar terakhir yang menopang keluarga Jayanegara agar tidak runtuh menjadi debu."

Napas Aaron memberat. Ia bersandar pada pilar di sebelahnya, membiarkan kelemahannya disaksikan oleh gadis yang baru saja ia bongkar kedoknya.

Suara Aaron mendadak berubah parau saat menceritakan malam ketika ayahnya ditemukan tidak bernyawa di balik meja kerjanya.

"Malam itu, dunia kami hancur lebur." Aaron menatap kosong ke pola lantai marmer, seolah melihat genangan darah masa lalunya. "Dan semalam, sosiopat gila itu hampir mengulangi neraka yang persis sama pada satu-satunya keluarga yang kumiliki."

Savira menoleh kembali. Ia menangkap kerapuhan pada postur menjulang pria di hadapannya.

Pria posesif ini tidak sedang memojokkannya. Aaron sedang menelanjangi jiwanya sendiri tanpa diminta. Murni hanya untuk membuktikan bahwa mereka berdua sama-sama berdiri di atas medan luka yang sama.

Ujung jari Savira perlahan mengendur dari cengkeraman kain gaunnya.

"Anda tidak berutang apa pun pada saya, Tuan Aaron," kata Savira dengan nada yang jauh lebih stabil. "Anggap saja ini investasi berisiko tinggi. Saya butuh kekuatan pelindung dan sekutu finansial untuk meruntuhkan kerajaan Dharma Group berkeping-keping."

Aaron perlahan mengangkat wajahnya dari lantai. Kepedihan di matanya sirna ditiup badai. Senyum asimetris yang sarat akan dominasi dan insting membunuh kembali mengembang di bibirnya.

"Investasi?" Aaron tertawa pelan. Tawa yang menggetarkan udara di sekitar mereka. "Kau menyelamatkan nyawa kakakku, Savira. Kau menahan kewarasanku agar tidak hancur menjadi cangkang gila."

Pria itu kembali memangkas sisa jarak di antara mereka dalam satu langkah panjang yang mematikan. Ia mengunci pandangan Savira, memblokir seluruh pasokan udara gadis itu.

"Dan di dalam tradisi berdarah Jayanegara, utang nyawa dibayar dengan kesetiaan buta seumur hidup." Aaron menyatakan sumpahnya tanpa sedikit pun keraguan.

1
sukensri hardiati
itu kalau permen strawberry terus dikonsumsi....mk begitu wijaya tumbang...maka kamu juga bisa tumbang kena diabet
Sulati Cus
adu kekuatan sm bokap yg kental kelicikan ternyata g ada seujung kuku nya, terlalu dini pgn balas dendam mlh hancur sendiri
gina altira
makin rumit pertarungannya
tutiana
luar biasa
gina altira
Sosiopat itu sangat mengerikan
sukensri hardiati
hadeeeh savira....ganti permen straberimu dengan camilan sehat....otak geniusmu jadi lengket nanti...
gina altira
jgn" Savira yg akan jadi tumbal
gina altira
kuat Savira,, jgn menyerah
nur
ngeselin bpkmu vir
Pawon Ana
terus terang sampai sini perkembangan karakter Savira agak lambat, yng aku pahami Savira ini masih terbelenggu dengan trauma dimasa kehidupan sebelumnya, dia belum bisa benar2 lepas, egonya yang merasa mampu sendiri masih tinggi...🤦
Pawon Ana
ih itu otak Savira kok tidak ngebul ya....aktif terus tidak berhenti...🤦
Wega Luna
sebenarnya ceritanya bagus entah kenapa musuh lebih kuat dari para MC,panik panik panik sedang musuh hanya dengan diam tapi bisa melihat segala nya, ,dan sekarang Savira ditanya siapa pelakunya, Savira hanya menambah luka, jika tidak dicintai buat hatimu menjadi tembok besar, jangan sampai menambah luka, dengar berita ini langsung sakit hati,aku dulu juga gitu dengan orang tua ku,aku memilih cuek dan tidak memasukkan ke hati,, sampai bab ini aku belum bisa bangga dengan savira
Pawon Ana
berhadapan dengan sumber trauma terkadang memang menguras kewarasan mental 💪✌️
Cty Badria
ya hancurkan
Pawon Ana
ayo aku menunggu aksi duo genius selanjutnya 💪
kymlove...
mari🫡
watno antonio
lanjut thor
sukensri hardiati
tolong masukkan cerita ini ke perpus on going dong....biar gampang nyarinya ...
sukensri hardiati
aduuuhh...klo boleh menyayangkan awal yg tragis...bunuh diri...nggak cocok untuk gadis kuat yg merupakan tokoh utama cerita...
nur
msok cpet banget ketahuan km vir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!