NovelToon NovelToon
KAISAR 100.000 DUNIA

KAISAR 100.000 DUNIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tawaki

Kaisar Tertinggi sang Kaisar Xuan Wu penguasa 100.000 Dunia. Perang Terakhir itu menyebabkan Jiwa nya bereinkarnasi ke tubuh lemah seorang pemuda berna Lin Fan. Lin Fan pemuda dari keluarga Lin cabang. hidup keseharian nya selalu mendapat penyiksaan dari sepupu nya Lin Hao. Lin Fan dulu sudah mati yang ada sekarang adalah Lin Fan dengan jiwa Kaisar Xuan Wu. dengan pengetahuan masa lalu sebagai Kaisar dia mulai merangkak dari Bocah Sampah mejadi kultivator hebat di dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tawaki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Di Ambang Kehampaan

Malam ketiga setelah Lin Fan mendapatkan gulungan hitam itu, hujan deras kembali mengguyur Kota Qingyun. Suara petir menyambar-nyambar di langit, menerangi gubuk kecil keluarga Lin dengan kilatan cahaya putih yang menakutkan. Namun, di dalam ruangan, Lin Fan duduk dalam keheningan total.

Ia telah membaca Sutra Ketenangan Jiwa Kosong sebanyak dua puluh kali. Setiap kata dalam gulungan kulit hitam itu seolah-olah ditulis dengan tinta racun mental. Bagi praktisi biasa, membaca kalimat-kalimat seperti "Hapus namamu, hapus wujudmu, biarkan dirimu tenggelam dalam void tanpa batas" akan memicu kepanikan eksistensial. Otak mereka akan memberontak, mencari pegangan pada identitas diri, dan ketika gagal, mereka akan gila.

Tapi bagi Lin Fan, kalimat-kalimat itu terasa... familiar.

Di kehidupan sebelumnya sebagai Kaisar, ia telah menghabiskan ratusan tahun dalam isolasi di Puncak Langit Terlarang, merenungkan hakikat kekuasaan dan kesendirian. Ia telah kehilangan nama, wajah, dan bahkan kemanusiaannya demi mencapai puncak. Baginya, "kehampaan" bukanlah sesuatu yang menakutkan. Itu adalah rumah lamanya.

"sekarang, Ayo coba," gumam Lin Fan.

Ia menutup matanya. Napasnya melambat hingga hampir tak terdengar. Jantungnya berdetak sekali setiap sepuluh detik. Ia mulai menerapkan teknik meditasi yang dijelaskan dalam sutra: Memutuskan ikatan antara kesadaran dan emosi.

Biasanya, ketika seseorang bermeditasi, mereka mencoba menenangkan pikiran. Tapi Sutra Ketenangan Jiwa Kosong mengajarkan hal yang lebih ekstrem: Mengosongkan pikiran hingga tidak ada apa-apa yang tersisa. Bukan ketenangan, tapi ketiadaan.

Lin Fan membayangkan jiwanya sebagai sebuah cermin besar. Perlahan, ia mulai menghapus semua refleksi di cermin itu.

Hapus rasa takut pada Lin Hao. Cermin menjadi lebih jernih.

Hapus rasa cinta pada ibunya. Refleksi memudar.

Hapus ambisi untuk menjadi kuat. Permukaan cermin menjadi datar.

Hapus kenangan tentang kehidupan masa lalu sebagai Kaisar.

Ini adalah bagian tersulit. Kenangan itu sangat dalam, tertanam di inti jiwanya. Tapi Lin Fan melakukannya dengan kejam. Ia mengunci semua memori itu di dalam kotak besi mental, lalu melempar kuncinya ke dalam sumur tanpa dasar.

Saat ia berhasil mengosongkan dirinya sepenuhnya, sesuatu yang aneh terjadi.

Dunia di sekitarnya berhenti. Suara hujan hilang. Bau lembap tanah hilang. Bahkan sensasi tubuhnya sendiri hilang. Ia tidak lagi merasa memiliki tangan atau kaki. Ia hanya menjadi sebuah titik kesadaran murni yang melayang di ruang hampa.

Di kondisi ini, waktu tidak berlaku. Satu detik bisa terasa seperti seribu tahun.

Dan di tengah kehampaan itu, Lin Fan merasakan sesuatu. Sebuah getaran halus dari alam semesta. Bukan Qi, bukan energi spiritual, tapi aturan dasar dari realitas itu sendiri. Ia bisa "merasakan" struktur ruang di sekelilingnya, aliran angin sebelum angin itu bergerak, dan denyut nadi bumi di bawah kakinya.

Ini adalah efek samping dari Sutra Ketenangan Jiwa Kosong: Peningkatan Persepsi Mutlak.

Ketika persepsi seseorang menjadi nol (kosong), ia menjadi satu dengan segalanya. Ia menjadi antena yang menerima semua sinyal tanpa filter.

Lin Fan tetap dalam keadaan itu selama enam jam. Ketika ia akhirnya membuka matanya, fajar sudah menyingsing. Matanya tidak lagi bersinar tajam seperti sebelumnya, melainkan tampak dalam, tenang, dan sedikit kosong—seperti kolam air yang sangat jernih sehingga dasarnya tidak terlihat.

Ia mengangkat tangannya. Gerakannya lambat, namun presisinya sempurna. Ia bisa melihat partikel debu di udara bergerak dalam pola yang dapat diprediksi. Ia bisa mendengar detak jantung seekor tikus di dinding sebelah.

"Ini dia," bisik Lin Fan. "Dengan persepsi ini, Ruang Ilusi di Ujian Akademi tidak akan bisa menipuku. Ilusi dibangun dari ketakutan dan keinginan. Jika aku tidak memiliki keduanya, ilusi itu tidak punya bahan bakar."

Namun, teknik ini memiliki kelemahan fatal: ia menguras energi mental dengan sangat cepat. Lin Fan hanya bisa mempertahankan keadaan "Kosong" selama maksimal satu jam sebelum jiwanya mulai retak karena tekanan vakum. Tapi untuk Tes Mental yang biasanya hanya berlangsung beberapa menit, itu sudah lebih dari cukup.

Tiba-tiba, terdengar ketukan keras di pintu gubuk.

"Lin Fan! KELUAR KAU!"

Suara itu kasar dan penuh kemarahan. Lin Fan mengenali suara itu. Itu adalah Kepala Pengawal Cabang Utama, seorang pria bertubuh raksasa bernama Batu Hitam (tidak ada hubungannya dengan preman Klan Zhao).

Lin Fan menghela napas, perlahan menarik kembali kesadarannya ke dalam tubuh. Efek sampingnya segera terasa: sakit kepala yang menusuk dan rasa lelah yang mendalam. Ia berdiri, merapikan jubahnya, dan membuka pintu.

Di luar, hujan masih turun rintik-rintik. Batu Hitam berdiri di sana, diapit oleh empat pengawal bersenjata. Wajahnya gelap.

"Ada apa ini?" tanya Lin Fan tenang.

"Dewan Klan memberitau ku," geram Batu Hitam. "Ada laporan bahwa kau mencuri barang berharga dari Perpustakaan Klan semalam. Apa itu benar?."

Lin Fan menaikkan alis. Laporan palsu. Lin Hao bergerak lebih cepat dari perkiraanku.

"Aku hanya meminjam buku sejarah botani," jawab nya dengan wajah datar. "Paman Gu tahu itu, Silahkan Tanya dia."

"Dia sudah tua dan pikun! Dia tidak ingat apa-apa!" bentak Batu Hitam.

"Kami akan menggeledah kamarmu. Jika kami menemukan gulungan terlarang, kau akan diusir dari klan dan diserahkan ke otoritas kota untuk dihukum karena mempelajari seni hitam!" ancam kepala Pengawal

Ini adalah tuduhan serius. Mempelajari seni hitam (teknik terlarang) adalah hukuman mati atau pengasingan seumur hidup.

Lin Fan tidak bergerak. Ia menatap Batu Hitam dengan mata kosongnya yang baru saja terbentuk dari meditasi. Tatapan itu begitu dingin, begitu hampa, sehingga Batu Hitam secara tidak sadar mundur selangkah. Ada sesuatu yang salah dengan anak muda ini. Rasanya seperti menatap ke dalam lubang hitam.

"Silakan saja geledah," kata Lin Fan, menggeser tubuhnya memberi jalan.

"Tapi ingat, jika kalian tidak menemukan apa-apa, aku akan menuntut penghinaan terhadap harga diri anggota klan. Kau tau apa hukuman nya?."

Batu Hitam ragu sejenak, tapi egonya terlalu besar untuk mundur. " Terserah! Ayo Geledah semuanya! Hancurkan kalo perlu!"

Para pengawal menyerbu masuk ke gubuk kecil itu. Mereka mengacak-acak tumpukan baju, memecahkan pot tanah liat, dan bahkan mengangkat tikar tempat tidur Lin Fan.

Nyonya Li keluar dari kamar belakang, menangis ketakutan. "Kenapa? Apa yang dilakukan anakku? Dia anak baik!"

"Diam KAU, wanita tua!" bentak salah satu pengawal, mendorong Nyonya Li hingga terjatuh.

Mata Lin Fan menyipit. Untuk sesaat, kehampaan di jiwanya bergoyang. Amarah muncul. Tapi ia segera menekannya kembali. Jangan. Jangan bereaksi. Itu yang mereka inginkan.

Setelah lima belas menit penggeledahan, para pengawal keluar dengan tangan kosong. Tidak ada gulungan hitam. Tidak ada buku terlarang.

Lin Fan tersenyum tipis. Tentu saja tidak ada. Gulungan Sutra Ketenangan Jiwa Kosong itu ia simpan di dalam rongga dada bajunya, dilapisi dengan lilin lebah dan daun kedap udara agar tidak terdeteksi oleh indra penciuman anjing pelacak atau sensor Qi sederhana. Dan secara teknis, ia tidak "mencuri" karena Paman Gu memberinya izin diam-diam. Tanpa saksi, itu hanya kata-kata.

"Sudah Puas? Apa kau menemukan sesuatu?," kata Lin Fan dingin.

"Sekarang, pergi dari sini. Atau aku akan melaporkan tindakan kekerasan terhadap ibuku kepada Dewan Tetua."

Batu Hitam wajahnya merah padam karena malu. Ia merasa dipermainkan. Tapi tanpa bukti, ia tidak bisa berbuat banyak.

"Ingat ini, Lin Fan," geramnya sambil menunjuk wajah Lin Fan. "Kami akan mengawasimu. Satu langkah salah, dan kau akan Tamat."

Mereka pergi dengan langkah berat, meninggalkan kekacauan di dalam gubuk.

Lin Fan membantu ibunya bangkit. "Maafkan aku, Bu, aku menyusahkan mu"

"Apa ibu sakit?" katanya pelan, rasa bersalah mulai merayap masuk ke dalam hatinya.

Nyonya Li menggeleng, menghapus air matanya. "Tidak apa-apa, Fan'er. Yang penting kau aman. Mereka... mereka semakin jahat saja."

Lin Fan memeluk ibunya erat-erat. Di dalam hatinya, sumpah dingin terbentuk. Lin Hao. Batu Hitam. Kalian telah menyentuh garis merah. Setelah Ujian Akademi, aku tidak akan lagi bermain defensif. Aku akan menyerang balik.

Ia menatap ke arah hujan yang mulai reda. Ujian tinggal empat hari lagi. Dan sekarang, ia memiliki senjata mental yang sempurna.

Tapi ia juga menyadari satu hal: musuh-musuhnya tidak akan berhenti sampai ia benar-benar mati. Ia harus mempersiapkan lebih dari sekadar pertahanan mental. Ia butuh kekuatan ofensif yang bisa mengejutkan semua orang di arena ujian.

Lin Fan kembali ke kamarnya, mengambil sisa Air Spirit dan pil terakhirnya. Malam ini, ia tidak akan tidur. Ia akan menggabungkan Teknik Tubuh Naga Chaos dengan persepsi barunya untuk menciptakan gerakan serangan baru.

Gerakan yang tidak bisa dilihat, karena lawan akan terlalu sibuk melihat kekosongan di mata Lin Fan.

* Lin Fan berencana menciptakan gerakan serangan baru menggunakan kombinasi teknik tubuh dan persepsi. Bagaimana bentuk gerakan itu? Dan apakah Lin Hao akan hadir langsung di Ujian Akademi untuk memastikan Lin Fan gagal?*

Cari tau di Bab Berikut nya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!