Keputusan Udin menerima perintah mutasi ke gudang cabang malah menyeretnya pada kasus dan fakta masa lalu.
.........
“Kecelakaan kerja lagi,” bisik buruh di sebelahnya. “Sudah yang ketiga. Katanya... ditagih hantu kepala pabrik.”
Udin kaku. Nama Bejo Santoso, korban terbaru, pernah ia lihat semalam. Di buku log lembur Bapak, tujuh belas tahun lalu. Tepat di bawah nama Budi Hartono. Ayahnya sendiri.
..........
Satu koper tua, satu daftar nama, satu pabrik yang gak pernah bener-bener mati.
Mampukah ia membongkar busuknya lantai produksi? Atau dia bakal jadi nama keempat di daftar korban?
'UDIN JAGOAN BAPAK'
So, kisah Udin hanya fiktif karangan Author ya. Jika ada kesamaan nama, lokasi, dan situasi, itu cuma kebetulan yang kebetulan banget. Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
VIDEO 17 TAHUN LALU
Cahaya matahari masuk dari celah jendela kayu. Udara pagi itu masih terasa dingin. Sari membuka mata perlahan lalu menggeliat. Ia tidur di atas kasur tipis, tepat di samping Dina yang masih terlelap dengan selimut menutupi setengah wajahnya.
Sari duduk, meregangkan kedua tangannya ke atas, lalu bunyi bib lirih terdengar dari ponselnya. Jemarinya membuka aplikasi pesan. Matanya langsung melebar dengan napas tertahan, saat sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
[HRD PT Maju Mundur.
Kepada Sari Wulandari. Anda mendapatkan izin cuti 3 hari terhitung hari ini. Mohon bersiap jika pihak kepolisian meminta Anda menjadi saksi atau untuk pemeriksaan lanjutan. Setelah masa cuti selesai, Anda akan ditugaskan di Kantor Pusat Jakarta. Ini sebagai bentuk apresiasi dan rasa terima kasih dari Pak Presdir karena Anda telah membantu menemukan almarhum Pak Budi.]
Sari membaca ulang pesan itu dua kali. Otaknya belum bisa mencerna. 'Tiba-tiba dipindahkan ke pusat? Pesan langsung dari HRD? Ini Aneh!' batinnya.
Selesai mencuci muka dan gosok gigi, sari bergegas menuju ke depan, mencari Udin dan Pak Kardi.
Di teras, Pak Kardi sudah duduk di kursi plastik. Di depannya ada cangkir teh yang masih mengepulkan asap. Udin duduk di sebelahnya, bersandar di tiang, menatap gang yang masih sepi.
Sari berhenti di ambang pintu. "Oh... maaf. Apa aku bangun terlambat? Sepertinya aku terlalu nyenyak," katanya gugup.
Udin dan Pak Kardi menoleh bersamaan. Keduanya tersenyum tipis.
"Tidak apa-apa," kata Pak Kardi. "Duduklah dulu. Minum teh. Ibunya Udin sudah menyiapkannya dari tadi."
Udin berdiri. "Ini sudah setengah jam lalu. Kamu duduklah dulu. Biar aku buatkan yang baru, yang hangat," ucap Udin lalu bangkit menuju ke dapur.
Sari cepat-cepat duduk di kursi sebelah Pak Kardi, dengan ponsel menyala, lalu ia tunjukkan pesan yang ia dapat barusan. "Aneh, kan?" ucap Sari kemudian setelah Pak Kardi sekilas membacanya.
Namun reaksi Pak Kardi justru terlihat datar. Ia hanya mengangkat alis lalu mengeluarkan ponselnya dan membuka layar, menunjukkannya pada Sari. "Sama persis kan? Nggak ada yang aneh menurutku, isisnya jelas."
Sari masih tak percaya. "Kenapa tiba-tiba? Bukankah kantor pusat baru saja melakukan pemutusan hubungan kerja besar-besaran? Lalu sekarang tiba-tiba kita ditarik ke pusat dengan alasan sesederhana ini? Entah kenapa... rasanya aneh. Seperti ada bau yang disembunyikan."
Pak Kardi meletakkan ponselnya di atas meja. Ia mengaduk tehnya pelan. "Ya, memang agak aneh. Tapi bukankah itu sepadan? Kita sudah bekerja di sana selama bertahun-tahun. Mungkin mereka hanya ingin mengganti beberapa personel di pusat. Itu hal yang wajar dalam jenjang karier, bukan?"
Sari tidak menjawab. Di dalam hatinya, ia merasa ada sesuatu yang mengganjal. Ia melirik Pak Kardi. Nada bicara bapak itu terlalu cepat, terlalu siap. Sejak semalam, ia merasa ada yang berbeda dari Pak Kardi. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Kemudian Udin muncul membawa teko baru dan dua cangkir dan meletakkannya di meja. "Istirahatlah dengan nyaman, Sari. Setidaknya kamu tidak perlu buru-buru kembali ke Tulungagung," katanya lembut.
Sebelum Sari bisa menjawab, tirai dapur tersibak. Ibu Rukmini keluar membawa nampan lain. Di atasnya ada beberapa piring berisi nasi goreng, telur ceplok, dan irisan timun.
"Kalian pasti lelah," ujar Ibu Rukmini. Suaranya masih serak, tapi ia berusaha tersenyum. "Mari sarapan dulu, makanlah selagi hangat."
Empat orang itu duduk melingkar di meja teras. Suasana hening, tapi tidak lagi canggung. Hanya suara sendok yang beradu dengan piring.
Setelah beberapa suap, Pak Kardi meletakkan sendoknya. Ia pura-pura mengambil ponsel yang ia letakkan di pangkuan. Jarinya bergerak cepat di atas layar.
Ponsel Sari bergetar setelahnya, bunyi bib ringan sebagai tanda sebuah pesan masuk. Pesan dari Pak Kardi. —Nikmati saja dulu. Bukankah itu bagus? Kita bisa melanjutkan mencari Coki.—
Sari mengernyit. Ia mengetik balasan, tangannya ia sembunyikan di bawah meja agar Udin tidak melihat.
—Ah, benar juga. Aku lupa mau bertanya ini semalam. Siapa yang meneleponmu, dan apa yang kamu lihat di rumah sebelah? Aku melihat ekspresimu berubah tepat setelah panggilan ponselmu berakhir. Lalu aku juga melihat kamu terpaku menatap ke arah rumah sebelah.—
Pak Kardi membaca pesan itu. Ia tidak langsung membalas. Ia meneguk tehnya dulu, lalu mengetik pelan.
—Hm? Apa aku terlihat seperti itu... Tidak ada yang terjadi, hanya panggilan dari teman lama.—
Sari menatap layar itu lama. 'Hanya teman lama.' Jawaban yang terlalu singkat. Terlalu ringan untuk ekspresi wajah Pak Kardi semalam.
Ia menoleh sekilas ke arah Pak Kardi. Bapak itu tersenyum dan kembali makan nasi gorengnya seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi genggamannya pada sendok sedikit lebih kencang dari biasanya.
Udin memperhatikan keduanya, tapi tidak bertanya. Ia hanya sibuk menuang teh lagi untuk ibunya.
...........
Sementara itu di gedung kantor pusat, PT. Maju Mundur.
Anto melangkah cepat dan mantap. Sepatu pantofelnya beradu dengan lantai marmer di lobi. Di belakangnya, tiga orang staf mengikuti dengan membawa map dan laptop. Wajah Anto datar, tapi rahangnya sedikit mengeras.
Ia langsung menuju lift yang sudah ditunggu. Pintu lift terbuka. Begitu masuk, ia menekan tombol lantai 38. Saat pintu tertutup, ia menoleh ke samping, ke asisten pribadinya, seorang pria berkacamata bernama Arman, berdiri tegak di sebelahnya.
"Tak ada yang ingin kamu katakan?" tanya Anto. Suaranya rendah, tapi tegas.
Arman menatap lurus ke depan. "Ada, Pak. Saksi sudah kita genggam. Saya pastikan mereka akan menguntungkan Anda di persidangan nanti."
Sudut bibir Anto naik sedikit, bukan senyum lega tapi senyum licik. Senyum seseorang yang merasa sudah memegang kendali.
"Bagus," katanya singkat.
Pintu lift terbuka di lantai paling atas. Anto melangkah keluar tanpa menoleh lagi. Arman mengikuti, membawa semua rencana kotor itu dalam satu map hitam.
.........
Berbeda dengan kantor pusat, suasana di pabrik Tulungagung terasa kosong.
Papan pengumuman ditempel di pos satpam. Tulisan tebal di atasnya berbunyi, LIBUR SEMENTARA HINGGA PROSES SIDANG SELESAI.
Di bawahnya ada catatan tambahan. —Seluruh karyawan akan menerima tunjangan sembako dan uang tunai sebesar Rp500.000 untuk tujuh hari ke depan. Silakan membawa kartu karyawan ke kantor kepala pabrik—
Puluhan karyawan berkumpul di halaman itu bersorak senang.
"Gila... libur digaji," kata seorang karyawan laki-laki sambil menggaruk kepala. "Tapi gara-gara apa coba ini semua."
"Ya gara-gara almarhum Pak Budi lah," sahut temannya. "Kasian juga, tapi kita yang untung!"
Salah satu karyawan perempuan tiba-tiba mengeluarkan ponsel. "Sari harus tahu ini, entah kemana dia!"
"Mungkin masih di kantor polisi, atau mungkin juga ikut ke jakarta sama anak baru itu. Entah kenapa Sari cepet banget dekat sama dia," sahut temannya.
Para karyawan mulai membubarkan diri. Pabrik yang biasanya berisik oleh suara mesin, kini sunyi. Hanya tersisa dua satpam berjaga di kantornya dan beberapa staf di kantor utama.
Setelah Dina berangkat sekolah dan Bu Rukmini pergi ke pasar, kini tinggal Udin, Sari dan Pak Kardi duduk di ruang tengah. Udin membuka laptopnya. Sari dan Pak Kardi duduk di sisi kanan dan kirinya.
Dari saku celananya, Udin mengeluarkan sebuah flashdisk kecil berwarna hitam, kemudian menyambungkannya ke laptop. Jemarinya berhenti sejenak di atas keyboard, seakan mengumpulkan keberanian. "Ini rekaman dari gudang C," katanya pelan. "Bukti yang disimpan Bapak selama tujuh belas tahun." Lalu menekan tombol play.
Layar menyala. Tampilan pertama adalah sudut ruangan yang tinggi, menghadap ke bawah.
"Hm," celetuk Sari fokus ke layar. "Dilihat dari sisi pengambilannya, ini seperti rekaman CCTV."
"Hm, mungkin," sahut Udin singkat.
Pak Kardi tidak bicara, ia hanya mengangguk kecil menatap layar tanpa berkedip.
Video itu menampilkan aktivitas normal di sebuah ruang produksi, yang berisi beberapa mesin besar.
Tiba-tiba Udin menunjuk. "Oh! Itu Bapak!"
Di pojok layar, Pak Budi muncul. Ia berdiri di samping salah satu mesin yang sedang menyala, mengenakan seragam kerja rapi, tangannya memegang buku catatan. Wajahnya fokus dan tenang layaknya seorang pekerja biasa yang sedang melakukan tugasnya.
Sari menahan napas. Ini pertama kalinya ia melihat Pak Budi saat masih muda dan hidup.
Video terus berjalan. Sekitar lima menit kemudian, pintu gudang C yang tadinya hanya dibuka separuh, kini Darman membukanya lebar-lebar. satpam itu berdiri di pintu. Ia tampak berhenti sejenak, menoleh ke sisi kiri, seolah sedang berbicara dengan seseorang dibalik dinding.
Pak Budi menoleh dari balik mesin. "Mau apa lagi kamu ke sini?" suaranya terdengar jelas dari mikrofon CCTV.
Darman masuk, lalu berhenti beberapa langkah di depan Budi. "Cuma memastikan mesin produksimu berfungsi baik atau tidak."
Pak Budi mengerutkan dahi, meletakkan bukunya di tepi meja. "Sejak kapan keamanan gedung bertanggung jawab pada proses produksi?"
Pertanyaan itu seakan memantik api.
Wajah Darman memerah. Tanpa peringatan, ia mengayunkan pentungan satpamnya dan memukul Pak Budi tepat di bahu, membuatnya terhuyung ke belakang hingga punggungnya membentur sisi mesin penggiling adonan. Budi meringis kesakitan.
"Bukan kamu saja yang boleh naik pangkat!" teriak Darman. Suaranya bergetar karena marah. "Aku sudah bosan jadi satpam!"
Situasi berubah kacau. Darman seperti kehilangan kendali. Ia maju lagi hendak menyerang, tapi lantai di sebelah mesin itu licin karena tumpahan tepung dan membuat kakinya terpeleset.
Dalam satu detik yang mengerikan, ujung bajunya tersangkut dan tersedot ke dalam mesin penggiling yang masih berputar. Darman menjerit karena tubuhnya terseret.
Budi langsung bergerak meraih lengan Darman dan menariknya sekuat tenaga. Setelah perjuangan mengerikan itu, usaha penyelamatan pun berhasil. Darman terlepas dari mesin.
Namun, alih-alih berterima kasih, Darman justru mendorong Pak Budi dengan sekuat tenaga.
Pak Budi kehilangan keseimbangan. Kakinya terjepit oleh plat baja yang bergerak di bagian bawah mesin penggiling. Tulangnya terdengar seperti retak dari suara di rekaman. Pak Budi menjerit, tubuhnya tertekuk kesakitan. "Kau?!" pekik Budi terkejut.
Darman panik. Wajahnya pucat pasi, lalu melihat sekeliling dengan ketakutan tapi ia tidak mau disalahkan.
Dengan tangan gemetar, ia mengambil jeriken di sudut ruangan lalu menyiramkan cairan ke bagian mesin dan lantai. Tanpa ragu, ia menyalakan korek dan melemparkannya.
Wusss!
Api langsung membesar. Video berguncang karena panas.
Beberapa karyawan lain akhirnya datang berlari. Mereka berteriak, membawa pemadam api, dan menarik Pak Budi yang sudah tidak sadarkan diri keluar dari kobaran api.Rekaman berhenti di situ. Layar menjadi hitam.
...****************...
Bersambung....