Kenan, CEO berkuasa, menjatuhkan talak pada Kinasih hanya untuk melindunginya. Tanpa ia tahu, wanita itu pergi membawa buah cinta mereka.
Kini Kinasih menjadi dokter muda yang berjuang sendirian, sementara Kenan terjebak dalam pernikahan hampa, hatinya tetap hanya untuk mantan istrinya itu.
Takdir mempertemukan mereka kembali. Kenan pun bertekad merebut kembali apa yang hilang, menghadapi cemburu buta istri barunya dan saingan baru yang ingin memiliki Kinasih. Akankah ia berhasil menebus kesalahan dan menyatukan keluarga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelukan di Tengah Kobaran Api
Reyna segera merangkul tubuh Kinasih dengan posisi yang melindungi perutnya, sementara dua warga lain membantu menopang dari sisi lainnya agar tidak terjatuh.
“Ayo, Bu Dokter… sebentar lagi sampai ke luar.”
Mereka akhirnya berhasil keluar tepat saat kobaran api mulai terlihat menjalar dan asap semakin tebal memenuhi seluruh bagian dalam rumah.
Begitu menginjak halaman rumah, Kinasih langsung terbatuk-batuk lagi, berusaha mengeluarkan asap yang terhirup.
“Uhuk… uhuk…”
Reyna segera mengusap punggungnya perlahan.
“Tarik napas pelan-pelan, Dok. Tenang saja, kita sudah aman sekarang.”
Sementara itu, para tetangga berusaha menahan laju api dengan peralatan seadanya seperti ember air dan selang taman, sambil menunggu bantuan pemadam kebakaran tiba.
Di saat yang sama, sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti mendadak di depan kerumunan warga. Begitu pintu terbuka, Dokter Firdaus yang baru saja pulang dari rumah sakit langsung melompat turun dengan wajah panik.
“Kinasih!”
Ia berlari mendekat hingga berdiri tepat di depan wanita itu.
“Ya Allah… kamu tidak apa-apa? Apakah terluka?”
Kinasih masih terbatuk pelan sambil menggeleng lemah.
“Aku… aku baik-baik saja… hanya terasa pusing dan sesak napas…”
Firdaus segera memeriksa keadaan sekilas, lalu memberi perintah tegas.
“Reyna, bantu bawa Kinasih masuk ke mobilku. Udara di sini masih dipenuhi asap, jangan sampai dia menghirupnya terlalu banyak.”
“Baik, Dok.”
Firdaus membuka pintu mobil dan membantu Kinasih duduk dengan posisi yang nyaman.
“Ayo, Nash. Duduklah dulu di sini. Udara di dalam mobil lebih bersih dan segar.”
Kinasih menurut tanpa banyak bicara, sementara Reyna ikut masuk ke dalam mobil untuk tetap mendampinginya.
Setelah memastikan keduanya dalam keadaan aman, Firdaus segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi layanan darurat.
“Halo? Di sini ada kebakaran di kawasan perumahan Mawar Blok C. Mohon segera kirimkan unit pemadam kebakaran. Apinya sudah menyala cukup besar dan warga sedang berusaha menahannya.”
Usai menutup telepon, Firdaus kembali menghampiri jendela mobil untuk memeriksa keadaan Kinasih.
“Bagaimana rasanya sekarang? Masih terasa sesak?”
“Sudah… agak membaik. Terima kasih, Firdaus.”
Firdaus menghela napas lega.
“Syukurlah. Yang paling penting saat ini adalah keselamatanmu dan bayi yang ada di dalam kandungan.”
Reyna menatap rumah yang masih mengeluarkan asap tebal dengan wajah tegang dan penuh kekhawatiran.
“Untung saja saya terbangun lebih awal dan mencium bau gosong itu… kalau tidak, entah apa jadinya.”
Kinasih menggenggam tangan Reyna dengan lembut, matanya terasa berkaca-kaca.
“Kalau bukan karena kamu… mungkin aku tidak akan sempat menyadari bahaya itu dan tidak bisa keluar tepat waktu.”
Reyna menggeleng cepat, berusaha menenangkannya.
“Sudahlah, Dok. Yang terpenting sekarang Dokter dan dedek bayinya selamat. Itu sudah lebih dari cukup.”
Tak lama kemudian, suara sirene pemadam kebakaran terdengar semakin jelas dari kejauhan, membuat warga yang sejak tadi membantu merasa lega karena bantuan segera tiba.
Namun, di balik rasa syukur yang menyelimuti hatinya, Kinasih tidak bisa menghilangkan firasat aneh yang muncul di benaknya. Musibah kebakaran ini terasa datang terlalu tiba-tiba dan terjadi pada malam hari saat ia sedang terlelap pulas, seolah-olah bukan sekadar kebetulan biasa.
Kinasih masih duduk bersandar di jok belakang mobil Dokter Firdaus. Wajahnya tampak pucat pasi akibat menghirup asap tebal, sementara tangannya terus bergerak mengusap lembut perutnya yang mulai terasa kaku karena guncangan rasa syok yang baru saja dialaminya.
Firdaus menoleh ke belakang, suaranya terdengar lembut namun penuh perhatian.
“Bagaimana rasanya sekarang, Nash? Masih terasa sesak di dada?”
“Sudah agak membaik,” jawab Kinasih pelan, matanya masih sedikit berkabut.
“Kalau nanti tiba-tiba terasa pusing atau napas terasa berat lagi, langsung bilang saja, ya.”
“Iya, terima kasih.”
Di luar mobil, Reyna yang berdiri di samping pintu mengamati keadaan. Ia melihat kobaran api perlahan mulai berhasil dikendalikan oleh petugas pemadam kebakaran.
“Dok, saya izin sebentar, ya?”
Kinasih mengangkat wajahnya.
“Mau ke mana?”
“Saya ingin melihat kondisi rumah dan mengecek apakah masih ada barang-barang penting yang bisa diselamatkan sebelum benar-benar hancur.”
“Hati-hati, Rey.”
“Siap, Dok.”
Reyna melangkah menjauh beberapa meter hingga cukup jauh agar percakapannya tidak terdengar siapa pun. Tanpa membuang waktu, ia segera mengeluarkan ponsel dan menekan nomor yang sudah sangat dihafalnya.
Belum sampai berdering dua kali, panggilan itu langsung tersambung.
“Rey?”
Suara Kenan terdengar tegas namun terasa waspada.
“Pak…”
“Ada apa? Kenapa menghubungi di jam begini?”
Reyna menarik napas panjang, berusaha menahan getaran suaranya.
“Rumah Dokter Kinasih… terbakar, Pak.”
“…Apa?”
Suara Kenan langsung meninggi, disertai rasa terkejut yang mendadak.
“Kebakaran, Pak. Apinya sempat menjalar cukup besar sebelum akhirnya bisa dikendalikan.”
“Kinasih bagaimana?! Dia selamat?!”
“Alhamdulillah, beliau berhasil keluar tepat waktu.”
“Dia tidak terluka? Tidak kenapa-napa?”
“Beliau sempat menghirup banyak asap, tapi sudah segera dievakuasi ke tempat yang aman.”
Kenan terdiam sesaat, lalu bertanya dengan suara yang terasa bergetar karena cemas.
“Dan bayinya? Bagaimana kondisi anak kami?”
“Sejauh ini aman, Pak. Beliau hanya terasa sedikit tegang karena kaget, tapi belum ada keluhan serius.”
Kenan mengembuskan napas panjang, seolah beban berat baru saja terangkat dari dadanya. Namun ketegangan belum sepenuhnya hilang.
“Di mana dia sekarang?”
“Saat ini sedang duduk beristirahat di dalam mobil Dokter Firdaus.”
“Firdaus juga ada di sana?”
“Iya, Pak. Beliau yang pertama kali membantu dan mengamankan Dokter Kinasih setelah kejadian itu.”
Tanpa berpikir panjang lagi, Kenan langsung meraih kunci mobilnya dan melangkah keluar kamar hotel.
“Dengarkan aku baik-baik.”
“Siap, Pak.”
“Jangan tinggalkan Kinasih sedetik pun. Jauhkan dia dari asap dan keributan.”
“Baik, saya mengerti.”
“Tetap temani dia sampai aku tiba di sana. Jangan biarkan dia sendirian.”
“Siap, Pak.”
“Aku berangkat sekarang juga.”
Sambungan telepon pun langsung terputus.
Di sepanjang jalan menuju lokasi, Kenan memacu mobilnya secepat mungkin namun tetap terjaga keamanannya. Tangannya mencengkeram setir begitu kuat hingga buku-buku jarinya terlihat memutih. Di dalam hatinya, doa terus terucap tanpa henti.
"Tolong… jangan sampai terjadi apa-apa pada kamu dan anak kita, Nash. Jangan biarkan aku kehilangan kalian saat aku baru saja berniat berusaha memperbaiki segalanya…”
Beberapa menit kemudian, sebuah mobil sedan berwarna hitam melaju kencang dan berhenti mendadak tepat di pinggir jalan depan rumah itu.
*Ciiit!*
Bahkan belum sempat mematikan mesin dengan benar, Kenan langsung turun dan berlari menembus kerumunan warga. Matanya menyapu sekeliling dengan pandangan panik, mencari sosok yang membuat jantungnya nyaris berhenti berdetak.
“Nash!”
Matanya langsung menangkap sosok mobil yang diparkir agak menjauh dari sumber asap. Tanpa ragu lagi, Kenan melangkah cepat dan membuka pintu belakang mobil itu.
“Kinasih!”
Kinasih yang sedang bersandar dan memejamkan mata karena pusing langsung terkejut, membuka matanya lebar.
“Mas Kenan? Kenapa kamu ada di sini?”
Belum sempat ia melanjutkan kalimatnya, Kenan langsung menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukan yang sangat erat. Erat seolah takut jika ia melepaskannya, Kinasih akan menghilang begitu saja.
“Nash… syukurlah… syukurlah kamu masih ada di sini…”
Napas Kenan terasa memburu dan tidak teratur, menandakan betapa paniknya ia selama perjalanan tadi.
“Aku takut… aku sangat takut mendengar kabar itu. Aku takut kehilangan kamu dan anak kita.”
Kinasih membeku sejenak, lalu perlahan merasakan getaran tubuh pria itu.
“Mas… aku baik-baik saja, lihatlah.”