NovelToon NovelToon
Sistem Kekayaan Menyiksaku

Sistem Kekayaan Menyiksaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Action
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

Satu lembar uang sepuluh ribu rupiah terakhir di dompet Satria sudah berubah bentuk menjadi gumpalan lecek.
Di depannya, layar mesin ATM berkedip-kedip, menampilkan menu penarikan tunai yang terasa mengejek.

Satria menghela napas berat. Ia menekan tombol "Informasi Saldo". Dia sudah tahu angkanya akan mengenaskan, tapi dia tetap perlu melihatnya untuk memastikan seberapa jauh dia harus menahan lapar minggu ini.

Layar berganti. Angka yang muncul membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.
SALDO REKENING ANDA:
Rp 270
Bukan 270 ribu. Bukan pula 270 juta. Hanya dua ratus tujuh puluh rupiah.

[SISTEM TOTAL KEKAYAAN]
Sisa Waktu: 00:58:42
Target Pengeluaran: Rp 50.000.000,00
Status Saat Ini: Rp 0 / Rp 50.000.000,00
Peringatan: Kegagalan akan mengakibatkan sanksi 'Kemiskinan Absolut' (Saldo dipotong menjadi Rp 27).

“Lima puluh juta. Satu jam."

"Kepala bapak kau ambyar!” umpat Satria,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode: 3

Matahari pagi belum sepenuhnya menembus kaca jendela kamar kos Satria yang buram oleh debu bertahun-tahun, tetapi pintu kayunya sudah digedor dengan kekuatan setara palu godam.

Brak! Brak! Brak!

"Satria! Bangun!"

"Jangan pura-pura mati ya kamu!

"Bayar kosan tiga bulan tunggakan, atau jam dua belas siang ini semua baju kamu saya loakkan!"

Suara melengking itu milik Bu mimi, sang pemilik kos yang memiliki volume suara setara peluit kereta api ekonomi.

Wanita paruh baya bermulut pedas itu berdiri di ambang pintu sambil berkacak pinggang dengan daster motif macan tutul yang legendaris.

Satria mengucek matanya yang masih lengket.

Sisa-sisa kepanikan semalam di minimarket masih membekas di kepalanya, tetapi ketika melihat layar ponselnya yang kini mantap bertengger angka miliaran, rasa kantuknya hilang seketika.

Dia menarik napas dalam-dalam, bersiap menikmati salah satu skenario impian semua anak kos yang teraniaya di dunia ini.

"Bu Mimi, pagi-pagi sudah olahraga vokal," sahut Satria santai seraya membuka pintu.

"Nggak usah banyak alasan!"

"Mana uangnya?

"Total tiga bulan, sejuta lima ratus ribu!"

"Jangan pakai alasan nunggu komisi cair atau nunggu info loker lagi ya!"

Satria meraba saku celana lusuhnya, pura-pura panik.

Detik berikutnya, ponselnya bergetar hebat di dalam genggaman.

Sebuah kotak dialog holografis yang hanya bisa dilihat oleh matanya mendadak melompat keluar dari layar.

[SISTEM TOTAL KEKAYAAN]

Misi Baru Terdeteksi: 'Balas Dendam Sosial Berharga Tinggi'.

Deskripsi: Pemilik kos merendahkan martabat finansial Anda. Balas dengan membelinya.

Tugas: Beli seluruh bangunan kos-kosan ini dalam waktu 30 menit.

Anggaran Disediakan: Rp 1.500.000.000,00 (Satu Setengah Miliar Rupiah).

Aturan Khusus: Anda tidak boleh menawar lebih murah. Anda wajib membelinya dengan harga 20% lebih mahal dari harga pasar asli demi efisiensi foya-foya.

Penalti Gagal: Saldo kembali ke Rp 27 perak.

Satria yang tadinya mau bergaya menyerahkan uang tunai sejuta lima ratus ribu rupiah langsung tersedak ludahnya sendiri.

"Sistem keparat!

"Gua cuma mau bayar uang tunggakan kosan biasa, kenapa malah disuruh beli aset properti?! pikirnya histeris.

Waktu hitung mundur kembali berdetak dari angka 30:00.

"Kok malah bengong?!"

"Mana duitnya?!" bentak Bu Mimi lagi, wajahnya makin mendekat.

Satria buru-buru memasang wajah sombong yang dipaksakan.

"Bu Mimi, uang sejuta lima ratus ribu itu terlalu kecil."

"Bagaimana kalau saya beli saja seluruh gedung kos-kosan dua lantai ini beserta isinya?"

Bu Mimi terdiam sesaat, lalu tawa menggelegar keluar dari mulutnya hingga mengundang perhatian anak-anak kos kamar sebelah yang mulai mengintip dari balik tirai jendela.

"Hahaha! Satria, kamu ini kurang makan jadi gila ya?"

"Beli kosan saya? Pakai apa? Pakai daun singkong?!"

"Saya serius, Bu."

"Berapa Ibu mau jual kosan ini?" Satria melirik ponselnya.

Waktu: 26 menit tersisa.

"Kosan ini lokasinya strategis, dekat kampus. Lantai dua ada sepuluh kamar, lantai bawah ada delapan kamar."

"Harganya satu koma dua miliar rupiah! Kamu punya uang segitu?"

"Kalau punya, saya cium sepatu kamu sekarang juga!" tantang Bu Mimi dengan angkuh.

"Satu koma dua miliar?"

Satria tersenyum meremehkan, mengingat aturan sistem yang mewajibkannya membayar 20% lebih mahal.

"Terlalu murah."

"Penghinaan bagi kelas sosial saya."

"Saya beli seharga satu koma lima miliar rupiah cash, sekarang juga."

"Mana sertifikatnya?"

Melihat keseriusan di mata Satria dan ketukan jemarinya yang mantap di layar ponsel pintar kelas atas (yang dibelinya dari abang ojek semalam seharga lima belas juta rupiah), nyali Bu Mimi agak menciut.

Satria dengan cepat mengetik di aplikasi perbankannya, meminta nomor rekening Bu Mimi.

"C-coba kirim kalau beneran punya duit..."

gumam Bu Mimi, menyebutkan nomor rekeningnya dengan suara yang tiba-tiba bergetar.

Satria menekan tombol Kirim untuk nominal Rp 1.500.000.000,00.

Ting!

Ponsel jadul Bu Mimi berbunyi nyaring.

Wanita itu buru-buru membuka SMS banking-nya.

Begitu melihat angka saldo yang masuk, matanya melotot hingga hampir melompat dari tempatnya.

Rentetan angka nol di belakang angka lima belas membuat napasnya sesak seketika.

Dia memegang dadanya, lalu menatap Satria seolah melihat makhluk asing berwujud malaikat pencabut kemiskinan.

"S-satu koma lima miliar... beneran masuk..."

bisik Bu Mimi, lututnya lemas hingga dia harus bertumpu pada tiang jemuran kain di koridor.

"Nah, Bu Mimi."

"Sekarang bangunan ini resmi milik saya,"

ujar Satria sambil melipat tangannya di dada. Waktu sistem menunjukkan sisa 15 menit.

"Dan sesuai janji Ibu tadi... silakan cium sepatu saya."

Wajah Bu Mimi memerah padam antara malu, syok, dan tidak percaya.

Namun, demi uang satu koma lima miliar yang sudah aman di rekeningnya, harga dirinya langsung runtuh sejatuh-jatuhnya.

Dia membungkuk dengan canggung, hendak mendekatkan wajahnya ke arah sandal jepit karet milik Satria yang sudah tipis sebelah.

"Eh, eh! Jangan, Bu! Saya bercanda!"

seru Satria buru-buru menarik kakinya ke belakang, merasa jijik sekaligus kasihan melihat mantan ibu kosnya yang super galak itu mendadak jadi sejinak kucing persia.

"Ibu beresin saja surat-suratnya hari ini dengan pengacara saya."

(Padahal Satria belum punya pengacara sama sekali).

Tiba-tiba, sebuah pesan masuk lagi dari sistem di layar ponselnya.

[SISTEM TOTAL KEKAYAAN]

Misi Kedua: BERHASIL.

Bonus Kedigdayaan Sosial: Anda kini berstatus sebagai Bapak Kos.

Tugas Tambahan Langsung: Karena Anda adalah miliarder dermawan yang konyol, bebaskan seluruh biaya sewa untuk semua anak kos di gedung ini selama satu tahun penuh.

Biaya kompensasi pembebasan sewa akan langsung dipotong dari rekening utama Anda sebesar Rp 100.000.000,00 untuk renovasi fasilitas tidak berguna.

Satria memegangi pelipisnya yang mulai berdenyut-denyut.

Belum sempat dia menikmati status barunya sebagai pemilik properti, dia sudah dipaksa melakukan kebijakan sosialis yang merugikan bisnisnya sendiri oleh sistem.

Satria menarik napas dalam-dalam, lalu berteriak keras ke arah koridor kosan yang ramai oleh anak-anak kos yang menonton drama tersebut sejak tadi.

"Pengumuman untuk semuanya! Mulai hari ini, kosan ini resmi saya ambil alih! Dan untuk merayakan hari pertama saya jadi bos di sini, semua kamar GRATIS tidak usah bayar sewa selama satu tahun!"

Keheningan melanda seluruh koridor selama dua detik, sebelum akhirnya ledakan sorak-sorai dari para mahasiswa tingkat akhir yang kelaparan mengguncang seluruh gedung.

Beberapa dari mereka bahkan berlari keluar kamar dan langsung menggotong Satria layaknya seorang pahlawan yang baru saja memenangkan piala dunia.

Di tengah riuhnya sorakan dan lemparan bantal dari para penghuni kos yang bahagia, Satria hanya bisa tersenyum getir menatap sisa saldo miliaran rupiahnya di layar HP.

Dia tahu, ini baru hari pertama, dan sistem ini tidak akan membiarkan hidupnya tenang sekejap pun dari foya-foya jalur panik.

1
BaekTae Byun
masa saldonya kaga nambah nambah
BaekTae Byun
setiap misi nya ngga ada hadiah uang trs kalo uang nya habis gmna
❤️⃟Wᵃf✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ🤎❥␠⃝ ͭ🍁𝓷𝓲ѕ⍣⃝✰
boleh tuh
miilieaa
semangat yaa author
Gege
masih menjalankan misi tanpa ada hadiah ini Thor.. apa sistemnya korslet apa bijimane ini?
Dav Nana: uang yang masuk kesaldo mc, harusnya hadiah dari sistem nya, dia sistem yang kelebihan uang tentu aja hanya bisa memberi uang saja sebagai hadiah, kurang inisiatif beli barang lain nih sistem nya haha
total 1 replies
Gege
piyee kalimat Iki Thor... ga jelas banged..trus biaya denda ini dikasih siapa? kalo MC ga Nerima duitnya..
Dav Nana: uang dendanya dialokasikan buat pasang kaca film kak, biar dari luar gak keliatan daster bu miminya haha, jadi sama aja MC nya rugi karena yang untung kan perusahaan nya dapat keuntungan pemasangan kaca film geratis dari mc
total 1 replies
Gege
menjalankan misi tapi ga dapat hadiah Thor... 🤣
Gege
gaasss 10k kata di luncurkan...bawa santai ringan kocak...jangan dikit dikit mafia..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!