"Saat matahari tak bersinar lagi, bagaimana rembulan akan bercahaya"
Begitu halnya yang terjadi pada Naura dan Hasan, belajar ikhlas itulah kata yang ditanamkan keduanya di hati walau sangat berat dalam melaluinya. mampukah bertahan? atau menyerah dengan kenyataan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmania Hasan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takdir si Bujang
CAPTER 14
TAKDIR SI BUJANG
Lain kisah Angga lain juga dua orang yang masih betah membujang. Sore itu Andik yang tak bisa pulang tepat waktu dikarenakan suatu alasan meminta Ilyas menjemput Hanis yang ia sebut sebagai beban hidupnya di kampus. Bukan kenapa ia menyebut demikian, karena mereka tidak benar-benar akur sedangkan orang tua wanita itu mempercayakan putrinya pada Andik.
"Emang kamu kemana kok nggak bisa jemput, Dik? Jangan melimpahkan beban hidup ya, aku nggak sudi?!" tanya Ilyas, enggan mampir kemana-mana.
"Ayolah Bung, ini aku ada acara dadakan! Aku malas bercanda!" sahut Andik dengan nada memohon.
"Ok santai, kabari Hanis takut dianya nungguin kamu pas yang datang aku langsung ditolak!" seru Ilyas, Andik langsung menyetujuinya.
Selepas bicara lewat sambungan telepon Ilyas balik arah menuju kampus Hanis yang bertolak belakang dari arah pulang. Dengan kecepatan normal ia berkendara sembari menikmati sore dan juga khawatir Andik belum menghubungi wanita itu.
Di luar pagar kampus Hanis sudah berdiri menunggu, Boy juga nampak di sana namun Hanis setengah tidak peduli. Apa yang membuatnya tak peduli? Tentu karena laki-laki itu mengajak nongkrong dan ujung-ujungnya pasti dia yang bayar. Ia juga mulai menjaga jarak dari laki-laki itu walau belum memutuskan hubungan. Sebenarnya mereka tak satu kampus namun sore itu ia nekad datang walau Hanis sudah menolaknya dengan mengatakan ia akan dijemput oleh Andik.
Dari jarak tak lumayan jauh Ilyas menangkap sosok Hanis bersama seorang pria yang tak turun dari motor. Mereka terlihat berselisih sehingga Ilyas mempercepat laju motornya khawatir sesuatu tak diinginkan terjadi. Dan benar adanya, Hanis yang tak suka dipaksa akhirnya memutuskannya saat itu juga walau Boy tidak terima.
"Hanis!" panggil Ilyas, ia turun segera dari motor.
"Oh jadi kamu udah dapat yang baru? Pantas minta putus!" sindir Boy.
"Itu tidak ada hubungannya, aku cuma ngerasa nggak cocok aja sama kamu! Lagian ini bukan cowokku!" sahut Hanis berani.
“Ohh benarkah? Bukan karena kepincut yang lain?” sindir Boy.
"Kalo dia mutusin kamu itu artinya ada sesuatu pada dirimu yang bikin dia nggak nyaman," kata Ilyas ikut campur.
"Nggak usah ikut campur! Emang kamu siapa?!" sahut Boy nyolot.
"Aku siapa? Aku kakaknya!" balas Ilyas.
"Yang ini kakak yang kapan hari kakak, punya koleksi berapa kakak?!" sindirnya setengah mencemooh.
"Dia emang kakakku, dan aku tegaskan aku sama kamu nggak ada hubungan lagi!" ucap Hanis tegas.
Tak mungkin bagi Ilyas hanya menjadi penonton membiarkan Hanis adu argumen dengan Boy yang kekeh tak ingin diputus. Hingga akhirnya Boy memilih pergi dari tempat itu setelah Ilyas memperingati laki-laki tersebut. Saat ia tak nampak lagi Ilyas menyeret Hanis, namun hal tak diduga datang.
Seseorang berhijab mengenakan baju batik model tunik; bawahan celana pensil kain warna abu-abu berjalan keluar dari gerbang kampus. Pandangan mereka saling bertemu, sama-sama terpaku tapi tak ada sapaan keluar dari mulut masing-masing. Tangan Ilyas yang masih memegang erat pergelangan tangan Hanis dilepaskan seketika itu. Bola mata Hanis mengikuti tangannya yang terlepas lalu mendongak mengamati dua orang yang masih saling menatap.
"Kakak kenal sama ibu itu?" tanya Hanis rendah.
Ilyas tak menjawab ia hendak melangkah mendatanginya saat ojek datang; berhenti tepat di hadapan Indah. Seketika pundaknya merosot, wajah gantengnya juga berubah muram. Sebelum menghilang dari pandangan
keduanya Indah melempar senyum tipis, membuat Ilyas tertegun bahagia. Ia juga membalasnya singkat, pandangan laki-laki itu mengikuti arah motor yang kian menjauh.
"Kakak!" seru Hanis, mengguncang lengan Ilyas.
Ilyas tersadar kembali, mulutnya yang tadi membisu kini cerewet melebihi mulut Andik. Menghujani Hanis pertanyaan sampai-sampai wanita itu bingung yang mana yang akan dia jawab lebih dulu.
"Duh Kakak ini ... Coba nanya itu satu-satu!" sahut Hanis.
"Ok ok sambil jalan kita bahas lagi," ucap Ilyas, kembali menyeret tangan Hanis menuju motor.
Ia tak sabar ingin mengorek informasi dari Hanis, lekas ia menjalankan motor. Dengan kecepatan sedang mereka berdua terlibat obrolan serius, Hanis menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan dengan antusias juga.
"Bener Nis, dia ngajar di sini?!" tanya Ilyas lagi, seakan tak percaya saja dengan jawaban yang diberikan.
"Ya Allah Kak! Iya iya ... Ibu Indah itu asisten dosen di sini, di jurusan farmasi!" jawab Hanis mengulangi perkataan yang sama.
"Nis, carikan info ya dia masih lajang apa sudah punya cowok?!" pinta Ilyas bersemangat. Namun feeling pria itu meyakini Indah masih lajang, teringat dengan obrolan pak Haryono beberapa minggu yang lalu.
"Ngapain diselidiki, sudah tersohor kalo dia itu masih jomblo!" sahut Hanis.
"Bener Nis?!" seru Ilyas memastikan.
"Iya Kak! Tenang entar aku minta nomornya ke anak farmasi!" kata Hanis bersungguh-sungguh.
"Tapi ... Jangan cerita ke Andik ya?!" pinta Ilyas.
"Loh kenapa?" tanya Hanis lekas, ia penasaran penuh.
"Soalnya ... Kita dulu bersaing buat dapatin dia, tapi jadinya nggak ada yang dapat soalnya ditolak semua!" ungkap Ilyas, mengingat kembali perselisihan mereka dulu lantaran memperebutkan hati Indah.
"Tenang Kak, aku di pihak mu ... Biar itu cowok otoriter patah hati!" ucap Hanis penuh emosi.
Tawa Ilyas meledak mendengar ucapan Hanis yang mewakilkan isi hatinya. Hanis lanjut meluapkan emosi sekaligus curhat pada Ilyas, dari semua yang keluar dari mulut wanita itu tak sekalipun Hanis menjunjung Andik.
"Kayaknya kamu ini benci banget sama itu anak? Padahal Andik itu orangnya peduli, juga nyantai bawaannya!" seru Ilyas berpendapat.
"Iya kalo sama orang lain baiknya selangit kalo ke aku, Hanis!" seru Hanis menirukan suara Andik saat menyebut namanya.
Ilyas kembali tertawa, "Masalahnya tanggungjawab dia ke orang tuamu itu yang dijaga, Nis!" bela Ilyas.
"Ya tetap aja, tambah dia ngekang aku ini itu aku rasanya tertantang bikin dia emosi terus!" ungkap Hanis.
"Ya jangan gitulah ... Kasihan dia belum punya cewek entar kena stroke gara-gara darah tinggi terus!" kata Ilyas, menasehati namun dengan cara berbeda.
"Biarain aja, aku suka bikin dia stress biar nggak laku-laku," sahut Hanis masih meluapkan emosi.
"Kalo dia nggak laku-laku kamu harus bertanggungjawab," balas Ilyas.
"Kok malah aku?!" sahut Hanis.
"Kan kamu penyebabnya!" ucap Ilyas.
Obrolan mereka tak terasa bahkan hingga memasuki halaman rumah Hasan, saat menyadari mereka sudah sampai seketika itu mulut keduanya tertutup rapat. Hanis turun lebih dulu dan tak menunggu Ilyas, sikapnya kembali dingin; minim senyum pula. Langkahnya juga lurus menuju kamar bahkan Naura yang duduk di ruang tamu sampai-sampai tak kelihatan.
"Itu anak kenapa jalannya kayak robot," gumam Naura.
Ilyas datang setelahnya bukan Andik, Naura nampak kebingungan ia mengintip ke luar hanya mencari sosok Andik yang tak muncul-muncul.
"Kenapa Mba?" tanya Ilyas keheranan.
"Itu Hanis pulang sendiri apa gimana? Kok Andik nggak muncul-muncul?!" ucap Naura.
"Oh tadi aku yang jemput, Andik masih ada urusan!" sahut Ilyas, berjalan ke kamarnya.
"Emm ... pasti itu anak ngambek," gumam Naura.
Dirasa perlu memberi nasehat Naura pun berjalan menuju kamar Hanis. Sebelum masuk terlebih dulu ia mengetuk pintu sebanyak dua kali. Kemudian memutar gagang pintu dan menyelinap masuk. Kala itu Hanis sedang selonjoran di atas kasur, mendapati Naura datang ia mengubah posisinya menjadi duduk.
“Kakak!” seru Hanis mengawali.
"Hanis, kenapa kok kayaknya ngambek? Kalo ada kesalahan yang dibuat kak Andik mba mewakili dirinya minta maaf. Dia itu sebenarnya orang yang baik, low profil, peduli dan santai orangnya," tutur Naura, mengira Hanis tengah marah karena tak dijemput oleh Andik.
"Iya Kak," sahut Hanis rendah. Dalam hati ia menyadari tampangnya telah menimbulkan kesalahpahaman namun ia tak berniat membetulkan.
Lanjut Naura memberinya nasehat, "Kak Andik keras sama Hanis itu karena ada alasannya, alasannya apa? Dia nggak pengen Hanis salah pergaulan ... Terus niatnya yang datang ke sini buat nuntut ilmu malah tak jadi apa-apa lantaran salah pergaulan, ia memikirkan masa depan Hanis...." imbuh Naura dengan menirukan gaya Hasan walau tak seratus persen sama.
"Kamu tahu, suamiku juga keras pada mereka namun dalam konteks yang benar, dan mereka semua memahaminya! Lihat sekarang dari hasil kesungguhan mereka, kak Ilham mampu mandiri bahkan membiayai kuliah istrinya hingga lulus, kak Ilyas jadi pegawai dan bisa ngasih uang tiap bulan buat orang tuanya di kampung, kak Andik jadi guru ... Dan semoga ia nanti jadi dosen seperti cita-citanya! Nah Hanis nggak boleh kalah sama mereka, kesuksesan itu diraih berkat kesungguhan di samping do’a dari kedua orang tua...." sambung Naura panjang lebar.
Hanis mengangguk, membalasnya dengan dua kata saja, "Iya, Kak...." Tangan Naura meraih tangan Hanis, menggenggamnya erat.
"Kami adalah keluargamu, bukan musuh yang membatasi kebebasan mu ... Karena jika kamu terjatuh hati kami juga terluka, bukan mengolok-olok!" tambahnya lagi.
"Iya Kak, maaf...." sahut Hanis.
"Ya sudah buruan mandi udah mau magrib," ucap Naura sebelum beranjak meninggalkan Hanis seorang diri di kamar.
Menjelang magrib Andik pulang juga, ia melangkah cepat memasuki rumah. Sambil menguluk salam ia berjalan ke ruang keluarga dimana semuanya sedang berkumpul termasuk Hanis. Mereka bertiga menjawab salam Andik, serta menyambutnya kecuali Hanis yang masih bertahan menjaga sikap; menjawab dalam hati.
"Mumpung malam sabtu gimana kalo kita makan di luar? Ajak Ilham juga!" usul Naura.
"Ide diterima," sahut Ilyas, lekas ia berlari ke kamar menghubungi Ilham.
Ilham kala itu baru saja keluar dari kamar mandi, berjalan menuju lemari saat ponsel berdering. Segera ia mengangkatnya, "Iya Yas, ada apa?" ucap Ilham.
"Diajak makan di luar sama Mba, bisa nggak?!" tanya Ilyas sekaligus mengajaknya.
"Ya bisalah, kabari aku dimana tempatnya ya!" jawab Ilham langsung memutuskan.
Selesai bicara dengan Ilyas ponsel itu kembali dilempar ke tempat tidur. Ilham menyadari ketiadaan istrinya di dalam kamar, ia yang tadi berniat memakai baju tak jadi akhirnya. Kakinya melangkah menuju balkon, mengintip keluar sekedar memastikan apakah Veny berada di sana.
Dan sebuah pemandangan dimana istrinya sedang duduk termenung menyayat hati, sesuatu mungkin terjadi tanpa
sepengetahuan Ilham. Dengan langkah cepat Ilham mendatangi, duduk di samping dan meraih pundak Veny.
"Kak, kenapa?" tanyanya, menyeret Veny ke dekapan.
Bukannya menjawab air mata Veny malah tumpah ruah, kecemasan seketika melanda Ilham. Tangan kirinya mengusap lengan Veny, mencoba menenangkan tangisnya yang semakin nyaring terdengar.
"Kakak, kenapa? Ada masalah di tempat kerja?" tanya Ilham, entah firasat hati mengatakan sesuatu telah terjadi di tempat kerja Veny. Mungkin itu masalah komplen, teguran dari atasan atau perselisihan antara teman kerja; semua praduga itu muncul memenuhi kepala Ilham.
"Aku nggak mau kerja lagi, aku mau resign aja...." ungkapnya setelah bisa menata emosi.
"Loh kenapa tiba-tiba mau resign? Kakak kan belum lama yang keterima kerja?!" sahut Ilham, bertambah yakin sesuatu telah terjadi.
Veny bukanlah tipikal pribadi yang mudah cengeng, ia cukup bisa membawa diri dan sulit terpengaruh namun kini tiba-tiba ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan pastilah suatu masalah besar terjadi. Hati Ilham kalut dibuatnya, ia semakin erat mendekap Veny. Memberinya semangat sambil mencoba membuat wanita itu bersuara, berterus terang apa yang sebenarnya terjadi.
"Yang menjadi alasan Kakak mau resign itu apa? Kalo cuma perselisihan antar teman kerja itu biasa, nggak perlu resign! Selesaikan di luar pekerjaan dengan baik!" tegur Ilham menasehati. Veny menggelengkan kepala, Ilham bertambah bingung. Otaknya dituntut berpikir lebih keras, menerka permasalahan apa yang terjadi.
"Kak, coba cerita dong ke aku ... Siapa tahu suamimu ini bisa bantu cari solusi!" pinta Ilham.
"Tapi janji ... Kamu nggak bakal marah?!" ucap Veny terdengar takut.
Ilham mengerutkan dahi, seketika jantungnya berdetak kencang namun ia berusaha senormal mungkin bersikap tak lain agar Veny berterus terang.
"Iya aku janji," ucapnya rendah.
"Aku ... Aku nggak suka sama atasanku...." Ungkap Veny setengah-setengah.
"Loh kenapa?!" tanya Ilham, firasat hati tambah tidak nyaman saja.
"Dia ... Dia suka cari-cari kesempatan dekatin aku, tiba-tiba saja dia datang terus tangannya main nyentuh gitu, aku jijik sama dia!" ungkap Veny berusaha menyelesaikan ceritanya.
Dada Ilham terbakar mendengar cerita itu, ia yang sudah berjanji tidak akan marah sebelumnya namun kini tak mampu menahan emosi itu. Suami mana yang tak akan marah mendengar seseorang berbuat tak pantas pada istrinya?
"Besok senin aku antar Kakak buat resign, aku ingin tahu berani dia nyentuh kamu! Aku pastikan dia kehilangan tangannya!" ujar Ilham menggebu amarahnya.
Veny memeluk erat Ilham, merasa bersalah telah membuat suaminya dipenuhi amarah. Tangisnya yang tadi sudah reda kini meluap lagi, rasa takut juga bayangan Ilham menghajar lelaki itu tak mampu ia kompromi.
"Aku nggak mau kamu di penjara karena ini," ungkap Veny cukup menyentak kesadaran Ilham.
Setidaknya ucapan itu membuat Ilham berpikir lebih jernih lagi, ia mengusap rambut Veny; memejamkan matanya kala membenamkan kepala.
"Besok senin aku antar kamu, berhentilah kerja ... Fokus sama usaha laundry saja biar lebih berkembang," ucapnya tak lagi ada emosi.
"Cepat siap-siap habis sholat kita keluar, nongkrong sama Mba," imbuh Ilham.
Veny melepaskan pelukan, Ilham berangsur bangkit tapi tidak untuk melangkah pergi melainkan mengangkat tubuh Veny dari kursi dipan. Membawanya masuk bahkan mengantarnya sampai ke depan kamar mandi.
"Tambah hari kamu kok tambah berat sih Kak?!" goda Ilham saat menurunkan istrinya.
"Bukan aku yang tambah berat tapi kamu yang semakin tua dan nggak bertenaga," balas Veny menyesak dada Ilham.
"Tua? Anak aja belum punya udah dikatain tua?! Buat saat ini aku biarkan tapi nanti malam jangan harap dapat ampun dariku!" sahut Ilham mengancam.
"Siapa takut!" balas Veny kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
Cepat-cepat Ilham menyambar ponsel di atas kasur, meminta laki-laki itu membawa racikan tempur. Bukan tidak percaya pada kemampuan sendiri tapi Ilham bertekad akan membuatnya menyerah dan kata tak bertenaga itu tak didengar lagi.
Sambil senyum-senyum Andik membalas chat dari Ilham, kemudian menaruh ponsel dan keluar dari kamar. Bergabung dengan mereka yang sudah berada di tempat sholat.
"Kenapa senyum-senyum, Dik? Pasti sudah dapat nomor salah satu perawat rumah sakit ya?!" goda Naura.
"Apa sih Mba?!" sahut Andik tak membantah membuat Hanis penuh curiga, cemas sebenarnya namun ia tak menyadari.
"Kalo nggak dijawab gini tandanya itu benar," lanjut Naura menggoda.
Sebelum menjawab bola mata Andik melirik ke Hanis, dengan sengaja ia membalas godaan Naura. Berniat memancing reaksi Hanis sekaligus meluapkan kekesalannya karena di depan matanya Hanis bersikap baik pada seorang lelaki sewaktu masih di rumah sakit.
"Katanya Mba turut senang kalo akhirnya aku ketemu sama cewek?!" balasnya sengaja.
"Ya ya ... Ya!" seru Naura.
"Bahas soal hati bersambung habis ini, kita sholat dulu!" kata Ilyas mengalihkan. Salatlah mereka berjemaah dan Ilyas bertindak menjadi imam; pengganti Hasan.
Semua sudah siap dan menunggu di luar tepatnya di teras, tinggal Naura saja belum turun. Hanis juga sudah keluar, sebelumnya Andik berpesan untuk mengenakan kerudung dan wanita itu mematuhinya tanpa berdebat ini itu.
"Tumben Mba ini lama ya?! Bukannya ini kebiasaan dandan kalo ada Mas?!" seru Andik, mulai bosan menunggu.
"Tahu, coba kamu jemput!" perintah Ilyas.
"Kok aku? Nis, coba jemput Mba sana! Kamu kan cewek!" perintah Andik.
"Apa hubungannya jemput kakak sama aku cewek?!" sahut Hanis, jelas menolak.
"Ini anak cantik-cantik otaknya melar kayak karet! Kita ini cowok, sungkan kalo ke atas!" balas Andik, memancing amarah.
"Iya ini aku jalan!" sahut Hanis kesal, segera ia bangkit dari duduk lesehannya. Melangkah kesal memasuki rumah namun baru mencapai ruang keluarga terlihat Naura menuruni tangga. Ya, kali ini ia berdandan tak seperti biasanya, riasan lebih tebal serta dress yang dikenakan fashionable. Hanis terpana melihat penampilan Naura yang tak biasa.
"Kakak cantik banget!" pujinya.
"Kamu juga cantik," balas Naura.
Berdua mereka keluar menyusul Andik dan Ilyas yang sudah menunggu lama di teras rumah. Saat dua wanita itu muncul bola mata keduanya mendelik melihat penampilan Naura, sungguh diluar dugaan.
"Mba mau kencan?!" tanya Andik masih terkesima. Naura hanya tersenyum membalasnya.
"Kakak cantik banget ya, nggak dandan aja udah cantik apalagi dandan gini!" puji Hanis lagi.
"Tiru tuh Mba, dandan yang bagus biar cantiknya kelihatan!" sindir Andik sekaligus meledek Hanis yang penampilannya masih terbilang sederhana. Maklum saja dia kan masih anak kos, juga uang jajannya tidak jelas habis untuk apa.
"Ok, kasih aku uang buat dandan! Cantik itu harus modal!" jawab Hanis.
"Uang bulanannya kamu kan lumayan! Kenapa nggak disisakan buat perawatan sama fashion? Baru kalo kamu istriku aku modalin...." balas Andik yang merendah diakhir kalimat.
Naura tak ingin mendengar debat mereka, lekas ia menyeret Hanis menuruni undakan teras. Berjalan menuju garasi yang sudah terbuka lebar, sambil melangkah ia berucap.
"Ikut, mba besok! Aku dandani kamu biar si Andik pangling!" ucap Naura setengah berbisik.
Dalam hati Hanis bersumpah akan membuat laki-laki melihatnya serta menuntut permintaan maaf dari ucapannya yang menyesakkan hati tadi.
Di sepanjang perjalanan Hanis tak lagi banyak bicara, omongan Andik cukup berpengaruh padanya. Laki-laki itu juga merasa bersalah, menyadari omongannya sudah berlebihan dan menyinggung Hanis. Tak jarang ia mencuri pandang pada Hanis yang duduk di belakang bersama Naura.
"Kira-kira Ilham sudah nyampek belum ya?!" seru Naura.
"Mungkin masih di jalan juga Mba," sahut Andik.
Malam itu mereka ke tempat yang pernah di datangi sebelumnya, sebuah food court dengan pemandangan instagram banget, cocok untuk berselfi ria sembari bersantai bersama teman dan keluarga. Mereka berempat sudah tiba di tujuan namun Ilham dan Veny belum sampai.
"Kita tunggu di atas aja sekalian cari tempat yang enak!" usul Ilyas.
Naura bersemangat, ia melangkah cepat dan disusul oleh Ilyas. Andik sengaja melamban langkahnya agar bisa berdampingan dengan Hanis. Diam-diam tangan laki-laki itu meraih tangan Hanis, menyeretnya ke belakang agar sejajar dengannya.
Hanis tak bersuara, ia juga tak menoleh meski kini posisinya berdampingan. Yang di depan asyik dengan pembicaraan mereka dan tak menyadari adegan di belakang.
"Hanis, maafin mas ya?!" ucap Andik meminta maaf.
Hanis tak menggubrisnya, tetap menutup rapat mulut. Sekali lagi Andik bersuara, "Hanis, aku nggak bermaksud," ucapnya tapi tak diteruskan lantaran tiba-tiba Naura menoleh ke belakang.
Spontan Andik bergeser menjauh, langkah kakinya juga dipercepat agar tak beriringan dengan Hanis.
"Ayo buruan pak Bos!" panggil Naura, melambaikan tangannya meminta Andik segera datang.
Setengah berlari Andik mendatangi Naura, sementara Hanis tetap dengan langkah santainya di belakang.
Andik memilih tempat agak pojok, di sana mereka bisa melihat ke bawah ke tempat parkir sembari memeriksa kedatangan Ilham dan Veny. Seorang pelayan datang namun mereka memesan minuman saja, untuk makanan menunggu Ilham dan Veny bergabung.
Tiba-tiba ponsel Naura berdering, sebenarnya memang sudah ia tunggu. Tadi sewaktu ia bersiap-siap Hasan menelfon dan berjanji akan menghubunginya lagi setelah sampai di tempat makan. Hasan juga yang menyuruh Naura berdandan, ia merasa penampilan istrinya terlalu sederhana sehingga ia menegur.
Senyum di wajah Naura terlukis indah, ia menerima panggilan video yang dibuat Hasan. Tangan kanannya melambai penuh suka saat menyapa sang suami.
"Mas!" seru Andik dan Ilyas saat mendengar suara Hasan dan juga wajahnya yang terlihat di layar.
Baik Andik ataupun Ilyas keduanya seketika mendekat, melambaikan tangan mereka menyapa Hasan di sana. Silih berganti mereka bertanya termasuk menanyakan kabar Hasan. Pertanyaan yang paling mereka tunggu jawabannya tak lain kapan Hasan selesai kuliah dan kembali pulang, kumpul bersama seperti dulu.
"Mas, kapan pulangnya? Kita kangen...." tanya Andik, suaranya terdengar sumbang bahkan nyaris meneteskan air mata.
"Ya pas semuanya sudah kelar di sini," jawab Hasan santai.
"Iya kapan selesainya, Mas?" sambung Ilyas bertanya.
"Itu yang nggak bisa dipastikan, tapi setelah semuanya kelar mas langsung balik! Wisudanya nunggu di rumah aja!" jawab Hasan melegakan hati mereka.
"Loh itu siapa yang deketnya Andik? Calonnya ya?!" lanjut Hasan, matanya menangkap sosok Hanis yang duduk bersebelahan dengan Andik.
Naura dan Ilyas tersenyum lebar, berbeda dengan Andik yang malah diam juga Hanis yang menundukkan wajahnya. Naura bersuara, menjawab rasa ingin tahu Hasan sekaligus memperkenalkan Hanis pada suaminya.
"Iya! ini yang aku ceritakan itu ... Adik sekaligus calonnya Andik!" seru Naura semakin menggoda keduanya.
"Iya Mas, benar itu!" sahut Ilyas.
"Jadi nggak sabar mas pengen lekas balik biar bisa hadir di pernikahan mereka berdua!" ujar Hasan kian membuat muka Andik memerah.
Laki-laki itu tak membantah cuma diam saja, ia juga bingung harus menjawab apa terlebih takutnya saat ia bersuara nanti akan menyinggung perasaan Hanis. Saat suasana hangat itu terjalin muncul Ilham dan Veny, mata Andik yang tak sengaja menangkap keduanya, saat itu juga melambaikan tangan dan memanggil mereka.
"Ilham sini buruan!" teriak Andik.
Ilham dan Veny mempercepat langkah kaki mereka mendatangi empat orang yang menghadap ke layar kamera ponsel.
"Wah lagi selfi ria ya?!" serunya begitu mendekat.
"Ini kita lagi ngobrol sama Mas, Ham!" ujar Ilyas memberitahu.
Girangnya hati Ilham, ia cepat-cepat bergabung; mengabaikan Veny sang istri saat itu juga. Dengan sendirinya Veny mengambil posisi sehingga Hanis ikut bergeser bergabung dengan wanita itu.
Asyiknya ngobrol malah mereka lupa untuk memesan makanan hingga bunyi perut Ilyas terdengar tiba-tiba. Sontak mereka tertawa termasuk Hasan, ia pun menyudahi sambungan video call yang ia buat meski belum puas rasanya.
"Adek Sayang, makan yang banyak ya biar pas mas balik pipinya tembem!" seru Hasan sebelum mengakhiri.
"Maksudnya biar aku bundar kayak balon gitu?!" sahut Naura.
Hasan tertawa, "Nanti kalo mas balik masakin mas mie ayam yang enak kayak dulu itu ya, sama nasi goreng, sama penyetan juga!" pinta Hasan.
"Ok, nanti satu meja full masakan kesukaannya Kamu semua terus yang lain nggak boleh nyicipi!" ujar Naura menanggapinya.
Sesaat setelah sambungan berakhir Andik memanggil seorang pelayan wanita untuk memesan makanan, Ilham menggoda pelayanan itu sekedar dicomblangin pada Andik.
"Mbanya cowok yang ini masih single, makanya sengaja manggil tadi biar sekalian kenalan!" ujar Ilham. Hanis melirik ke pelayan wanita memakai seragam biru terang dengan hijab warna abu-abu, ia tersenyum menanggapi candaan Ilham.
"Loh serius ini Mba, dia masih single ... Dik, kasih nomormu, Dik!" lanjut Ilyas membantu Ilham.
Andik tak menanggapi, setengah melotot ia memandang Ilyas. Syukurlah Naura segera menyudahi, ia lebih dulu mengawali memilih makanan. Daftar menu yang satunya ia serahkan pada Ilham agar candaan mereka tak berlanjut.
Segera wanita berseragam itu kembali setelah mencatat semua makanan yang dipesan. Saat obrolan santai tercipta tak sengaja bola mata Naura memperhatikan raut wajah Veny. Tak ada yang salah namun ia terlihat agak sembab matanya meski sudah dipoles dengan bedak.
"Ven, kamu sakit?!" tanyanya dengan maksud lain. Seketika yang lain terdiam, mengarahkan pandangan pada Veny termasuk Hanis yang duduk bersamanya, apalagi Ilham. Ia bisa merasakan dan mengatahui maksud dari pertanyaaan Naura tersebut.
"Nggak Mba," jawabnya singkat.
"Ohh aku pikir sakit .. soalnya mukanya kayak lesu gimana gitu?!" seru Naura memancing Veny bicara termasuk Ilham.
Namun Ilham tak menanggapi, ia malah terkesan mengubah tema pembicaraan tapi Naura tak terpancing. Lanjut ia bertanya lagi, sesuatu mengganjal di hatinya dan ia harus memastikan. Tak apa bicara di depan mereka semua, toh mereka sudah ia anggap satu keluarga.
"Kalian nggak sedang marahan kan?!" tanya Naura langsung, tak bertele-tele.
"Ya nggaklah Mba, kalo marahan sudah pasti ia nggak bakal ikut ke sini!" jawab Ilham segera, memberi klarifikasi.
"Ohh … kalo ada masalah sebaiknya cerita sama kita, siapa tahu kita bisa membantu!" seru Naura masih berlanjut introgasi.
“Iya, Ham! Benar kata Mba!” sahut Ilyas.
Ilham terdiam sejenak, sebelum mengangkat bahunya dan bersuara dengan nada rendah dan datar. Veny sendiri masih setia dengan kebisuan, ia menundukkan wajah manatap kedua tangannya yang bersandar di rebahan.
"Itu Veny mau resign dari kerjanya...." ungkap Ilham.
"Resign?!" seru mereka bertiga, tersentak kaget mendengar pengakuan Ilham.
"Loh kenapa?!" lanjut Andik.
Ilham menghela nafas panjang, kedua kalinya mengangkat bahu memperlihatkan apa yang sedang ia rasakan saat itu. Dengan suara rendah dan datar ia mulai bercerita masalah apa yang sedang dihadapi. Mata Naura terbelalak mendengar cerita itu, seketika ia bergeser mencapai Veny; merangkulnya.
Andik dan Ilyas terdiam, mereka bisa merasakan apa yang dirasakan Ilham, marah pasti ada tak bisa dielakkan lagi.
"Ayo kita patahkan tangan sama kakinya!" seru Andik tiba-tiba.
"Husstt! Mau kalian masuk penjara?!" sahut Naura.
Andik menggeleng rendah, giliran Ilyas yang bersuara memberi masukan. "Kita laporin polisi aja!" ucapnya.
"Nggak ada bukti, Yas!" sahut Ilham menjawabnya.
"Gini kalo menurut aku jangan langsung resign, kita balas dia lewat kelakuan buruknya
dia sendiri!" imbuh Andik.
"Rencananya besok senin aku mau nganterin Veny buat resign!" ungkap Ilham.
"Mba nggak setuju kalo langsung resign, kita buang aja sumber penyakitnya!" ucap Naura berpendapat.
"Caranya Mba?!" tanya Andik.
"Urusan itu serahkan sama David, biar dia kirim itu orang ke Papua sana!" seru Naura yang memiliki rencana di otaknya kini.
Selanjutnya ia meminta foto sekaligus profil dari atasan Veny untuk diserahkan pada David. Lewat sambungan telepon Naura menghubungi David saat itu juga, meminta tolong untuk menyelidiki orang tersebut, mencari sisi buruknya dan mengirim jauh orang tersebut.
"Kalo nggak bisa dihempas yang jauh, sikat saja dia mas David!" seru Naura memberi instruksi.
"Ah gampang itu Mba, soal urusan geser menggeser serahkan sama saya!" sahut David, tak perlu diragukan lagi kemampuannya melobi, jaringan luas memberinya kemudahan.
"Kurang dalam seminggu pasti kalian sudah dapat hasilnya, ditunggu aja!" lanjut David.
"Makasih mas David," sahut Naura dan mengakhiri panggilan.
"Satu masalah anggaplah kelar! So jangan dibuat sedih lagi ya Ven!" seru Naura, Veny memaksakan senyum di wajahnya.
Andik menimpali, "Ajari istrimu beladiri Ham, kalo orang itu berani pegang biar dipelintir tangannya!." Naura seketika mengacungkan dua jempol, cukup bagus ide yang diberikan bahkan Ilyas juga mendukung.
"Benar juga masukan dari kamu, Dik!" seru Ilham.
Setelah pembicaraan serius saatnya bagi mereka menikmati malam lagi, melupakan masalah kehidupan sejenak. Hanya menikmati makan malam dan bercanda seperti biasanya. Veny dan Hanis juga sudah bisa membaur, mereka tak hanya menjadi penonton tapi turut serta menjadi lakon.
Kebersamaan tak bisa diteruskan, mereka bubar dari duduk melingkar mereka setelah makan malam itu dibayar oleh Naura. Sambil terus bercanda mereka turun dari rooftop gedung di lantai dua menuju tempat parkir. Namun saat tangan Andik sudah memegang pintu mobil ia teringat sesuatu. Berlari Andik mendatangi Ilham, ia memberi isyarat pada laki-laki itu. Kemudian diam-diam menyelipkannya ke saku celana Ilham.
“Berapa, Dik?” tanya Ilham berbisik.
“Sudahlah nggak usah nanya soal itu, buat kamu sama Ilyas gratis,” jawab Andik.
Sebelum melangkah pergi ia menepuk pundak Ilham, “Sukses Bro, selamat menikmati malam panjangnya!” ucap Andik, sedikit senyum di wajah.
Ditunggu up nya .... Sehat selalu, semangat thor /Drool/
Lanjutkan dan tuangkan ide kreatifmu Tor ! 😍
sy anti yg nama'a poligami....apalagi yg dipoligami janda muda yg msh bisa melindungi diri sendiri,,,jgn sedikit" mengatas namakan sunnah mengikuti baginda nabi junjungan kita Muhammad SAW...
pak yai pinter yaaaa,,, anak'a sdh janda trus disodorin sama orang yg akhlak'a baik spt hadan,,,, knapa ga dari hasansh bujang aja djodohiin...
jgn karena ingin anak'a bahagia pak yai relaengorbankan perasaan orang lain....
secara tdk lsg hasan sering mengeluhkan kebiasaan naura